typingcntik

📍Kamar Ananta – 13.57 WIB – 08 Maret 2022


CKLEK

”Mas Bian…”

”Eh udah bangun?”

Abian mendekat ke arah Ananta yang ternyata sudah sempurna terbangun dari lelap. Wajahnya terlihat masih mengantuk khas sekali orang yang bangun tidur.

Diletakkannya sebuah hampers yang tadi dikirimkan oleh Cinta ke atas meja. Sebelum duduk di tepi ranjang dan mulai memberi perhatian pada Ananta.

”Pusing ngga?” tanya Abian, seraya mengusap lembut surai hitam Ananta. Sedangkan yang diberi pertanyaan, menggeleng singkat.

”Mas Bian darimana? Kok pergi?” tanya Ananta. Dengan guratan wajah yang terlihat sedih.

Abian tangkup sebelah pipi sang kekasih, sebelum diberi penjelasan agar Ananta mengerti. “Bian abis ngambil paket makanan. Tadi temen Ata yang namanya Cinta kirim makanan.”**

”Tuh liat, tadi masaknya rame-rame sama temen-temen Ata katanya. Dimakan ya? Bian suapin. Mau?”

Mendengar kata teman, Ananta membola. Nafasnya sedikit tercekat, seperti tidak percaya jika ia masih dianggap teman.

”T-Temen?” tanya Ananta, tak percaya.

**”Iyaa temen. Temen Ata, masa ngga kenal? Yang perempuan ituloh, namanya Cinta. Ata lup—

”Mereka masih inget Ata?”

Sukses membuat Abian mengerti, kemana arah pembicaraan sang kekasih.

”Sini-sini, Ata duduk dulu ya? Biar ngobrolnya enak. Sekalian kita makan siang, terus Ata minum obat. Oke?”

Ananta mengangguk patuh. Lalu membiarkan Abian membantunya untuk duduk. Semula, kewarasannya memang sudah terkumpul penuh. Tapi, ketika mendengar kata teman, Ananta mendadak jadi linglung.

Hatinya seperti tidak percaya. Tapi, ia juga tidak mau berburuk sangka. Dari awal kenal Cinta, perempuan itu memang sangat baik padanya.

Bahkan, tak segan untuk memberikan apa yang Ananta butuhkan. Meskipun harus mengorbankan diri sendiri demi Ananta.

Jujur, Ananta sudah tidak berharap jika mereka mau berteman lagi dengan dirinya. Karena keterbatasan fisik yang dimiliki Ananta, membuat dirinya merasa jika semua temannya pasti akan menjauhinya.

Tapi, Tuhan sepertinya membantah tuduhan Ananta. Karena yang ia lihat sekarang justru…

Sebuah hampers makanan yang dibuat sendiri oleh Cinta dan teman-temannya. Serta isi dari roomchat Abian dengan Cinta yang membahas tentang dirinya. Dimana dalam percakapan itu, Cinta banyak mengatakan hal baik untuknya.

Berhasil membuat bulir bening yang tak dinanti kedatangannya, luruh begitu saja.

”Hey kok malah nangis?” tegur Abian lembut, seraya mengusap bulir bening sang kekasih.

Ananta tersenyum, ketika Abian dengan cekatan menghapus jejak bening yang membasahi pipi gembilnya. Ia tatap obsidian yang lebih tua dengan manik penuh ketulusan serta bulir bening yang menggenang.

Sebelum kemudian menangkup sebelah pipi Abian, dan mengusapnya penuh sayang.

”Ata gapapa Mas Bian… Ata cuma lagi terharu karena temen-temen Ata masih inget sama Ata.” jelas Ananta, dengan senyum dan tangis yang terbit secara bersamaan.

”Ata pikir, mereka bakal jauhin Ata karena kekurangan Ata. Ternyata Ata salah. Ngga semua orang jahat dan memandang orang lain dari fisiknya.”

”Hehe, Ata seneng banget Mas Bian.” Ungkapnya, dengan bibir sedikit bergetar dan bulir kristal yang kian mengalir deras.

Abian tersenyum, seraya terus membersihkan wajah manis lelakinya dari bulir bening yang mengalir deras. ”Cantiknya kalo senyum. Kalo nangisnya karena bahagia, gapapa. Bian ngga akan larang.”

”Seneng banget yaa temennya pada baik? Bian juga tadi nangis liat temen Ata banyak yang sayang sama Ata.” Ucap Abian lembut, berusaha mengimbangi suasana yang mendadak sendu.

”Bukan cuma Bian ternyata yang sayang sama Ata. Temen-temen Ata juga masih sayang sama Ata. Makannya Ata ngga boleh sedih lagi. Harus senyum.” Telunjuk Abian bergerak, menarik sudut bibir sang kekasih agar terangkat.

Ananta sontak terkekeh pelan. Ketika Abian berbicara layaknya seorang anak kecil yang sedang bercerita.

”Mau ketemu temen-temen ngga, Sayang?” Tanya Abian hati-hati. Khawatir sang kekasih belum mau bertemu banyak orang.

Ananta pun menarik nafas panjang. Sebelum menghapus sisa jejak bulir bening di pipinya. Lalu menjawab pertanyaan pria di hadapannya.

”Kalo tunggu sebentar lagi boleh? Ata… Ata masih harus nyiapin diri. A-Ata belum berani ketemu orang lain selain Ayah, Bunda, sama Mas Bian.”

”B-Boleh ngga, Mas Bian?” tanya Ananta, takut-takut.

Abian tentu langsung mengangguk. Lalu mencubit gemas ujung hidung milik yang lebih muda. ”Boleh dong! Masa ngga boleh.”

”Nanti Bian kasih tau Cinta kalo Ata masih pengen istirahat sendiri dulu. Oke? Ngga perlu dipikirin, mereka pasti ngerti. Yang penting sekarang Ata makan terus minum obat, terus nanti Bian pakein salep buat bekas luka di muka Ata. Yaa?” Tawar Abian, dengan nada bicara yang sangat ceria. Seraya mengambil hampers dari teman Ananta.

”Sini kita buka hampersnyaa. Bian bantuin yaa?”

Ananta mengangguk. Sembari terus menatap wajah Abian yang sangat antusias karena diberi izin untuk pertama kalinya, kembali menyuapi dirinya.

Binar ketulusan yang Abian tampilkan, juga bisa ditangkap oleh Ananta sepenuhnya.

Bagaimana guratan wajah Abian yang ikut merasa bahagia ketika teman-temannya masih memberi perhatian. Senyum manis yang tak lelah Abian tampilkan agar dirinya merasa tenang. Serta tatapan mata yang tidak pernah berbohong jika Abian sangat mencintai Ananta.

Dalam diamnya, Ananta menangis sangat kencang. Ia tak kuasa diperlakukan sangat baik dan dilingkup oleh banyak cinta. Hatinya tidak mampu menerima itu semua sampai yang bisa ia keluarkan hanya bulir bening sebagai pelampiasan bahagia.

Hari ini, Abian kembali merawat Ananta.

Mulai dari menyuapi Ananta makan. Menyiapkan obat dan membantu Ananta meminumnya. Membantu Ananta mengganti pakaian dan kaus kaki karena Ananta merasa gerah.

Dan yang terakhir, Abian memberikan pahanya untuk tempat Ananta bersandar. Sembari mendengarkan segala macam celotehan Ananta dan juga mengoles salep untuk bekas luka Ananta.

Jika Ananta ditanya, apa itu definisi bahagia.

Maka ini, bahagia yang Ananta selalu damba.

Berbagi cerita sembari tidur di paha Abian. Seraya terus ditatap lekat dan diusap surai hitamnya.


Ananta memang hanya butuh hal sederhana untuk tetap bertahan dan bangkit dari keterpurukan. Mulai dari perhatian kecil sampai perhatian besar.

Lukanya memang belum sembuh total. Tapi perhatian kecil yang selalu Ananta dapatkan, berhasil membuat lukanya pudar perlahan-lahan.

Untuk itu, jangan sakiti lagi Ananta sekecil apapun celah itu terbuka. Karena tawa dari si manis bergigi kelinci yang kini tengah kembali berceloteh ria, begitu sulit dikembalikan jika hatinya harus merasa hancur untuk yang kedua kalinya.

Semesta, cukup ya lukanya?

📍Kamar Ananta – 13.57 WIB – 08 Maret 2022


CKLEK

”Mas Bian…”

”Eh udah bangun?”

Abian mendekat ke arah Ananta yang ternyata sudah sempurna terbangun dari lelap. Wajahnya terlihat masih mengantuk khas sekali orang yang bangun tidur.

Diletakkannya sebuah hampers yang tadi dikirimkan oleh Cinta ke atas meja. Sebelum duduk di tepi ranjang dan mulai memberi perhatian pada Ananta.

”Pusing ngga?” tanya Abian, seraya mengusap lembut surai hitam Ananta. Sedangkan yang diberi pertanyaan, menggeleng singkat.

”Mas Bian darimana? Kok pergi?” tanya Ananta. Dengan guratan wajah yang terlihat sedih.

Abian tangkup sebelah pipi sang kekasih, sebelum diberi penjelasan agar Ananta mengerti. “Bian abis ngambil paket makanan. Tadi temen Ata yang namanya Cinta kirim makanan.”

”Tuh liat, tadi masaknya rame-rame sama temen-temen Ata katanya. Dimakan ya? Bian suapin. Mau?”

Mendengar kata teman, Ananta membola. Nafasnya sedikit tercekat, seperti tidak percaya jika ia masih dianggap teman.

”T-Temen?” tanya Ananta, tak percaya.

**”Iyaa temen. Temen Ata, masa ngga kenal? Yang perempuan ituloh, namanya Cinta. Ata lup—

”Mereka masih inget Ata?”

Sukses membuat Abian mengerti, kemana arah pembicaraan sang kekasih.

”Sini-sini, Ata duduk dulu ya? Biar ngobrolnya enak. Sekalian kita makan siang, terus Ata minum obat. Oke?”

Ananta mengangguk patuh. Lalu membiarkan Abian membantunya untuk duduk. Semula, kewarasannya memang sudah terkumpul penuh. Tapi, ketika mendengar kata teman, Ananta mendadak jadi linglung.

Hatinya seperti tidak percaya. Tapi, ia juga tidak mau berburuk sangka. Dari awal kenal Cinta, perempuan itu memang sangat baik padanya.

Bahkan, tak segan untuk memberikan apa yang Ananta butuhkan. Meskipun harus mengorbankan diri sendiri demi Ananta.

Jujur, Ananta sudah tidak berharap jika mereka mau berteman lagi dengan dirinya. Karena keterbatasan fisik yang dimiliki Ananta, membuat dirinya merasa jika semua temannya pasti akan menjauhinya.

Tapi, Tuhan sepertinya membantah tuduhan Ananta. Karena yang ia lihat sekarang justru…

Sebuah hampers makanan yang dibuat sendiri oleh Cinta dan teman-temannya. Serta isi dari roomchat Abian dengan Cinta yang membahas tentang dirinya. Dimana dalam percakapan itu, Cinta banyak mengatakan hal baik untuknya.

Berhasil membuat bulir bening yang tak dinanti kedatangannya, luruh begitu saja.

”Hey kok malah nangis?” tegur Abian lembut, seraya mengusap bulir bening sang kekasih.

Ananta tersenyum, ketika Abian dengan cekatan menghapus jejak bening yang membasahi pipi gembilnya. Ia tatap obsidian yang lebih tua dengan manik penuh ketulusan serta bulir bening yang menggenang.

Sebelum kemudian menangkup sebelah pipi Abian, dan mengusapnya penuh sayang.

”Ata gapapa Mas Bian… Ata cuma lagi terharu karena temen-temen Ata masih inget sama Ata.” jelas Ananta, dengan senyum dan tangis yang terbit secara bersamaan.

”Ata pikir, mereka bakal jauhin Ata karena kekurangan Ata. Ternyata Ata salah. Ngga semua orang jahat dan memandang orang lain dari fisiknya.”

”Hehe, Ata seneng banget Mas Bian.” Ungkapnya, dengan bibir sedikit bergetar dan bulir kristal yang kian mengalir deras.

Abian tersenyum, seraya terus membersihkan wajah manis lelakinya dari bulir bening yang mengalir deras. ”Cantiknya kalo senyum. Kalo nangisnya karena bahagia, gapapa. Bian ngga akan larang.”

”Seneng banget yaa temennya pada baik? Bian juga tadi nangis liat temen Ata banyak yang sayang sama Ata.” Ucap Abian lembut, berusaha mengimbangi suasana yang mendadak sendu.

”Bukan cuma Bian ternyata yang sayang sama Ata. Temen-temen Ata juga masih sayang sama Ata. Makannya Ata ngga boleh sedih lagi. Harus senyum.” Telunjuk Abian bergerak, menarik sudut bibir sang kekasih agar terangkat.

Ananta sontak terkekeh pelan. Ketika Abian berbicara layaknya seorang anak kecil yang sedang bercerita.

”Mau ketemu temen-temen ngga, Sayang?” Tanya Abian hati-hati. Khawatir sang kekasih belum mau bertemu banyak orang.

Ananta pun menarik nafas panjang. Sebelum menghapus sisa jejak bulir bening di pipinya. Lalu menjawab pertanyaan pria di hadapannya.

”Kalo tunggu sebentar lagi boleh? Ata… Ata masih harus nyiapin diri. A-Ata belum berani ketemu orang lain selain Ayah, Bunda, sama Mas Bian.”

”B-Boleh ngga, Mas Bian?” tanya Ananta, takut-takut.

Abian tentu langsung mengangguk. Lalu mencubit gemas ujung hidung milik yang lebih muda. ”Boleh dong! Masa ngga boleh.”

”Nanti Bian kasih tau Cinta kalo Ata masih pengen istirahat sendiri dulu. Oke? Ngga perlu dipikirin, mereka pasti ngerti. Yang penting sekarang Ata makan terus minum obat, terus nanti Bian pakein salep buat bekas luka di muka Ata. Yaa?” Tawar Abian, dengan nada bicara yang sangat ceria. Seraya mengambil hampers dari teman Ananta.

”Sini kita buka hampersnyaa. Bian bantuin yaa?”

Ananta mengangguk. Sembari terus menatap wajah Abian yang sangat antusias karena diberi izin untuk pertama kalinya, kembali menyuapi dirinya.

Binar ketulusan yang Abian tampilkan, juga bisa ditangkap oleh Ananta sepenuhnya.

Bagaimana guratan wajah Abian yang ikut merasa bahagia ketika teman-temannya masih memberi perhatian. Senyum manis yang tak lelah Abian tampilkan agar dirinya merasa tenang. Serta tatapan mata yang tidak pernah berbohong jika Abian sangat mencintai Ananta.

Dalam diamnya, Ananta menangis sangat kencang. Ia tak kuasa diperlakukan sangat baik dan dilingkup oleh banyak cinta. Hatinya tidak mampu menerima itu semua sampai yang bisa ia keluarkan hanya bulir bening sebagai pelampiasan bahagia.

Hari ini, Abian kembali merawat Ananta.

Mulai dari menyuapi Ananta makan. Menyiapkan obat dan membantu Ananta meminumnya. Membantu Ananta mengganti pakaian dan kaus kaki karena Ananta merasa gerah.

Dan yang terakhir, Abian memberikan pahanya untuk tempat Ananta bersandar. Sembari mendengarkan segala macam celotehan Ananta dan juga mengoles salep untuk bekas luka Ananta.

Jika Ananta ditanya, apa itu definisi bahagia.

Maka ini, bahagia yang Ananta selalu damba.

Berbagi cerita sembari tidur di paha Abian. Seraya terus ditatap lekat dan diusap surai hitamnya.


Ananta memang hanya butuh hal sederhana untuk tetap bertahan dan bangkit dari keterpurukan. Mulai dari perhatian kecil sampai perhatian besar.

Lukanya memang belum sembuh total. Tapi perhatian kecil yang selalu Ananta dapatkan, berhasil membuat lukanya pudar perlahan-lahan.

Untuk itu, jangan sakiti lagi Ananta sekecil apapun celah itu terbuka. Karena tawa dari si manis bergigi kelinci yang kini tengah kembali berceloteh ria, begitu sulit dikembalikan jika hatinya harus merasa hancur untuk yang kedua kalinya.

Semesta, cukup ya lukanya?

📍Kamar Ananta – 13.57 WIB – 08 Maret 2022


CKLEK

”Mas Bian…”

”Eh udah bangun?”

Abian mendekat ke arah Ananta yang ternyata sudah sempurna terbangun dari lelap. Wajahnya terlihat masih mengantuk khas sekali orang yang bangun tidur.

Diletakkannya sebuah hampers yang tadi dikirimkan oleh Cinta ke atas meja. Sebelum duduk di tepi ranjang dan mulai memberi perhatian pada Ananta.

”Pusing ngga?” tanya Abian, seraya mengusap lembut surai hitam Ananta. Sedangkan yang diberi pertanyaan, menggeleng singkat.

”Mas Bian darimana? Kok pergi?” tanya Ananta. Dengan guratan wajah yang terlihat sedih.

Abian tangkup sebelah pipi sang kekasih, sebelum diberi penjelasan agar Ananta mengerti. “Bian abis ngambil paket makanan. Tadi temen Ata yang namanya Cinta kirim makanan.”

”Tuh liat, tadi masaknya rame-rame sama temen-temen Ata katanya. Dimakan ya? Bian suapin. Mau?”

Mendengar kata teman, Ananta membola. Nafasnya sedikit tercekat, seperti tidak percaya jika ia masih dianggap teman.

”T-Temen?” tanya Ananta, tak percaya.

”Iyaa temen. Temen Ata, masa ngga kenal? Yang perempuan ituloh, namanya Cinta. Ata lup—

”Mereka masih inget Ata?”

Sukses membuat Abian mengerti, kemana arah pembicaraan sang kekasih.

”Sini-sini, Ata duduk dulu ya? Biar ngobrolnya enak. Sekalian kita makan siang, terus Ata minum obat. Oke?”

Ananta mengangguk patuh. Lalu membiarkan Abian membantunya untuk duduk. Semula, kewarasannya memang sudah terkumpul penuh. Tapi, ketika mendengar kata teman, Ananta mendadak jadi linglung.

Hatinya seperti tidak percaya. Tapi, ia juga tidak mau berburuk sangka. Dari awal kenal Cinta, perempuan itu memang sangat baik padanya.

Bahkan, tak segan untuk memberikan apa yang Ananta butuhkan. Meskipun harus mengorbankan diri sendiri demi Ananta.

Jujur, Ananta sudah tidak berharap jika mereka mau berteman lagi dengan dirinya. Karena keterbatasan fisik yang dimiliki Ananta, membuat dirinya merasa jika semua temannya pasti akan menjauhinya.

Tapi, Tuhan sepertinya membantah tuduhan Ananta. Karena yang ia lihat sekarang justru…

Sebuah hampers makanan yang dibuat sendiri oleh Cinta dan teman-temannya. Serta isi dari roomchat Abian dengan Cinta yang membahas tentang dirinya. Dimana dalam percakapan itu, Cinta banyak mengatakan hal baik untuknya.

Berhasil membuat bulir bening yang tak dinanti kedatangannya, luruh begitu saja.

”Hey kok malah nangis?” tegur Abian lembut, seraya mengusap bulir bening sang kekasih.

Ananta tersenyum, ketika Abian dengan cekatan menghapus jejak bening yang membasahi pipi gembilnya. Ia tatap obsidian yang lebih tua dengan manik penuh ketulusan serta bulir bening yang menggenang.

Sebelum kemudian menangkup sebelah pipi Abian, dan mengusapnya penuh sayang.

”Ata gapapa Mas Bian… Ata cuma lagi terharu karena temen-temen Ata masih inget sama Ata.” jelas Ananta, dengan senyum dan tangis yang terbit secara bersamaan.

”Ata pikir, mereka bakal jauhin Ata karena kekurangan Ata. Ternyata Ata salah. Ngga semua orang jahat dan memandang orang lain dari fisiknya.”

”Hehe, Ata seneng banget Mas Bian.” Ungkapnya, dengan bibir sedikit bergetar dan bulir kristal yang kian mengalir deras.

Abian tersenyum, seraya terus membersihkan wajah manis lelakinya dari bulir bening yang mengalir deras. ”Cantiknya kalo senyum. Kalo nangisnya karena bahagia, gapapa. Bian ngga akan larang.”

”Seneng banget yaa temennya pada baik? Bian juga tadi nangis liat temen Ata banyak yang sayang sama Ata.” Ucap Abian lembut, berusaha mengimbangi suasana yang mendadak sendu.

”Bukan cuma Bian ternyata yang sayang sama Ata. Temen-temen Ata juga masih sayang sama Ata. Makannya Ata ngga boleh sedih lagi. Harus senyum.” Telunjuk Abian bergerak, menarik sudut bibir sang kekasih agar terangkat.

Ananta sontak terkekeh pelan. Ketika Abian berbicara layaknya seorang anak kecil yang sedang bercerita.

”Mau ketemu temen-temen ngga, Sayang?” Tanya Abian hati-hati. Khawatir sang kekasih belum mau bertemu banyak orang.

Ananta pun menarik nafas panjang. Sebelum menghapus sisa jejak bulir bening di pipinya. Lalu menjawab pertanyaan pria di hadapannya.

”Kalo tunggu sebentar lagi boleh? Ata… Ata masih harus nyiapin diri. A-Ata belum berani ketemu orang lain selain Ayah, Bunda, sama Mas Bian.”

”B-Boleh ngga, Mas Bian?” tanya Ananta, takut-takut.

Abian tentu langsung mengangguk. Lalu mencubit gemas ujung hidung milik yang lebih muda. ”Boleh dong! Masa ngga boleh.”

”Nanti Bian kasih tau Cinta kalo Ata masih pengen istirahat sendiri dulu. Oke? Ngga perlu dipikirin, mereka pasti ngerti. Yang penting sekarang Ata makan terus minum obat, terus nanti Bian pakein salep buat bekas luka di muka Ata. Yaa?” Tawar Abian, dengan nada bicara yang sangat ceria. Seraya mengambil hampers dari teman Ananta.

”Sini kita buka hampersnyaa. Bian bantuin yaa?”

Ananta mengangguk. Sembari terus menatap wajah Abian yang sangat antusias karena diberi izin untuk pertama kalinya, kembali menyuapi dirinya.

Binar ketulusan yang Abian tampilkan, juga bisa ditangkap oleh Ananta sepenuhnya.

Bagaimana guratan wajah Abian yang ikut merasa bahagia ketika teman-temannya masih memberi perhatian. Senyum manis yang tak lelah Abian tampilkan agar dirinya merasa tenang. Serta tatapan mata yang tidak pernah berbohong jika Abian sangat mencintai Ananta.

Dalam diamnya, Ananta menangis sangat kencang. Ia tak kuasa diperlakukan sangat baik dan dilingkup oleh banyak cinta. Hatinya tidak mampu menerima itu semua sampai yang bisa ia keluarkan hanya bulir bening sebagai pelampiasan bahagia.

Hari ini, Abian kembali merawat Ananta.

Mulai dari menyuapi Ananta makan. Menyiapkan obat dan membantu Ananta meminumnya. Membantu Ananta mengganti pakaian dan kaus kaki karena Ananta merasa gerah.

Dan yang terakhir, Abian memberikan pahanya untuk tempat Ananta bersandar. Sembari mendengarkan segala macam celotehan Ananta dan juga mengoles salep untuk bekas luka Ananta.

Jika Ananta ditanya, apa itu definisi bahagia.

Maka ini, bahagia yang Ananta selalu damba.

Berbagi cerita sembari tidur di paha Abian. Seraya terus ditatap lekat dan diusap surai hitamnya.


Ananta memang hanya butuh hal sederhana untuk tetap bertahan dan bangkit dari keterpurukan. Mulai dari perhatian kecil sampai perhatian besar.

Lukanya memang belum sembuh total. Tapi perhatian kecil yang selalu Ananta dapatkan, berhasil membuat lukanya pudar perlahan-lahan.

Untuk itu, jangan sakiti lagi Ananta sekecil apapun celah itu terbuka. Karena tawa dari si manis bergigi kelinci yang kini tengah kembali berceloteh ria, begitu sulit dikembalikan jika hatinya harus merasa hancur untuk yang kedua kalinya.

Semesta, cukup ya lukanya?

📍Kamar Ananta – 13.57 WIB – 08 Maret 2022


CKLEK

”Mas Bian…”

”Eh udah bangun?”

Abian mendekat ke arah Ananta yang ternyata sudah sempurna terbangun dari lelap. Wajahnya terlihat masih mengantuk khas sekali orang yang bangun tidur.

Diletakkannya sebuah hampers yang tadi dikirimkan oleh Cinta ke atas meja. Sebelum duduk di tepi ranjang dan mulai memberi perhatian pada Ananta.

”Pusing ngga?” tanya Abian, seraya mengusap lembut surai hitam Ananta. Sedangkan yang diberi pertanyaan, menggeleng singkat.

”Mas Bian darimana? Kok pergi?” tanya Ananta. Dengan guratan wajah yang terlihat sedih.

Abian tangkup sebelah pipi sang kekasih, sebelum diberi penjelasan agar Ananta mengerti. “Bian abis ngambil paket makanan. Tadi temen Ata yang namanya Cinta kirim makanan.”

”Tuh liat, tadi masaknya rame-rame sama temen-temen Ata katanya. Dimakan ya? Bian suapin. Mau?”

Mendengar kata teman, Ananta membola. Nafasnya sedikit tercekat, seperti tidak percaya jika ia masih dianggap teman.

”T-Temen?” tanya Ananta, tak percaya.

”Iyaa temen. Temen Ata, masa ngga kenal? Yang perempuan ituloh, namanya Cinta. Ata lup—

”Mereka masih inget Ata?”

Sukses membuat Abian mengerti, kemana arah pembicaraan sang kekasih.

”Sini-sini, Ata duduk dulu ya? Biar ngobrolnya enak. Sekalian kita makan siang, terus Ata minum obat. Oke?”

Ananta mengangguk patuh. Lalu membiarkan Abian membantunya untuk duduk. Semula, kewarasannya memang sudah terkumpul penuh. Tapi, ketika mendengar kata teman, Ananta mendadak jadi linglung.

Hatinya seperti tidak percaya. Tapi, ia juga tidak mau berburuk sangka. Dari awal kenal Cinta, perempuan itu memang sangat baik padanya.

Bahkan, tak segan untuk memberikan apa yang Ananta butuhkan. Meskipun harus mengorbankan diri sendiri demi Ananta.

Jujur, Ananta sudah tidak berharap jika mereka mau berteman lagi dengan dirinya. Karena keterbatasan fisik yang dimiliki Ananta, membuat dirinya merasa jika semua temannya pasti akan menjauhinya.

Tapi, Tuhan sepertinya membantah tuduhan Ananta. Karena yang ia lihat sekarang justru…

Sebuah hampers makanan yang dibuat sendiri oleh Cinta dan teman-temannya. Serta isi dari roomchat Abian dengan Cinta yang membahas tentang dirinya. Dimana dalam percakapan itu, Cinta banyak mengatakan hal baik untuknya.

Berhasil membuat bulir bening yang tak dinanti kedatangannya, luruh begitu saja.

”Hey kok malah nangis?” tegur Abian lembut, seraya mengusap bulir bening sang kekasih.

Ananta tersenyum, ketika Abian dengan cekatan menghapus jejak bening yang membasahi pipi gembilnya. Ia tatap obsidian yang lebih tua dengan manik penuh ketulusan serta bulir bening yang menggenang.

Sebelum kemudian menangkup sebelah pipi Abian, dan mengusapnya penuh sayang.

”Ata gapapa Mas Bian… Ata cuma lagi terharu karena temen-temen Ata masih inget sama Ata.” jelas Ananta, dengan senyum dan tangis yang terbit secara bersamaan.

”Ata pikir, mereka bakal jauhin Ata karena kekurangan Ata. Ternyata Ata salah. Ngga semua orang jahat dan memandang orang lain dari fisiknya.”

”Hehe, Ata seneng banget Mas Bian.” Ungkapnya, dengan bibir sedikit bergetar dan bulir kristal yang kian mengalir deras.

Abian tersenyum, seraya terus membersihkan wajah manis lelakinya dari bulir bening yang mengalir deras. ”Cantiknya kalo senyum. Kalo nangisnya karena bahagia, gapapa. Bian ngga akan larang.”

”Seneng banget yaa temennya pada baik? Bian juga tadi nangis liat temen Ata banyak yang sayang sama Ata.” Ucap Abian lembut, berusaha mengimbangi suasana yang mendadak sendu.

”Bukan cuma Bian ternyata yang sayang sama Ata. Temen-temen Ata juga masih sayang sama Ata. Makannya Ata ngga boleh sedih lagi. Harus senyum.” Telunjuk Abian bergerak, menarik sudut bibir sang kekasih agar terangkat.

Ananta sontak terkekeh pelan. Ketika Abian berbicara layaknya seorang anak kecil yang sedang bercerita.

”Mau ketemu temen-temen ngga, Sayang?” Tanya Abian hati-hati. Khawatir sang kekasih belum mau bertemu banyak orang.

Ananta pun menarik nafas panjang. Sebelum menghapus sisa jejak bulir bening di pipinya. Lalu menjawab pertanyaan pria di hadapannya.

”Kalo tunggu sebentar lagi boleh? Ata… Ata masih harus nyiapin diri. A-Ata belum berani ketemu orang lain selain Ayah, Bunda, sama Mas Bian.”

”B-Boleh ngga, Mas Bian?” tanya Ananta, takut-takut.

Abian tentu langsung mengangguk. Lalu mencubit gemas ujung hidung milik yang lebih muda. ”Boleh dong! Masa ngga boleh.”

”Nanti Bian kasih tau Cinta kalo Ata masih pengen istirahat sendiri dulu. Oke? Ngga perlu dipikirin, mereka pasti ngerti. Yang penting sekarang Ata makan terus minum obat, terus nanti Bian pakein salep buat bekas luka di muka Ata. Yaa?” Tawar Abian, dengan nada bicara yang sangat ceria. Seraya mengambil hampers dari teman Ananta.

”Sini kita buka hampersnyaa. Bian bantuin yaa?”

Ananta mengangguk. Sembari terus menatap wajah Abian yang sangat antusias karena diberi izin untuk pertama kalinya, kembali menyuapi dirinya.

Binar ketulusan yang Abian tampilkan, juga bisa ditangkap oleh Ananta sepenuhnya.

Bagaimana guratan wajah Abian yang ikut merasa bahagia ketika teman-temannya masih memberi perhatian. Senyum manis yang tak lelah Abian tampilkan agar dirinya merasa tenang. Serta tatapan mata yang tidak pernah berbohong jika Abian sangat mencintai Ananta.

Dalam diamnya, Ananta menangis sangat kencang. Ia tak kuasa diperlakukan sangat baik dan dilingkupi oleh banyak cinta. Hatinya tidak mampu menerima itu semua sampai yang bisa ia keluarkan hanya bulir bening sebagai pelampiasan bahagia.

Hari ini, Abian kembali merawat Ananta.

Mulai dari menyuapi Ananta makan. Menyiapkan obat dan membantu Ananta meminumnya. Membantu Ananta mengganti pakaian dan kaus kaki karena Ananta merasa gerah.

Dan yang terakhir, Abian memberikan pahanya untuk tempat Ananta bersandar. Sembari mendengarkan segala macam celotehan Ananta dan juga mengoles salep untuk bekas luka Ananta.

Jika Ananta ditanya, apa itu definisi bahagia.

Maka ini, bahagia yang Ananta selalu damba.

Berbagi cerita sembari tidur di paha Abian. Seraya terus ditatap lekat dan diusap surai hitamnya.


Ananta memang hanya butuh hal sederhana untuk tetap bertahan dan bangkit dari keterpurukan. Mulai dari perhatian kecil sampai perhatian besar.

Lukanya memang belum sembuh total. Tapi perhatian kecil yang selalu Ananta dapatkan, berhasil membuat lukanya pudar perlahan-lahan.

Untuk itu, jangan sakiti lagi Ananta sekecil apapun celah itu terbuka. Karena tawa dari si manis bergigi kelinci yang kini tengah kembali berceloteh ria, begitu sulit dikembalikan jika hatinya harus merasa hancur untuk yang kedua kalinya.

Semesta, cukup ya lukanya?

Abian tercekat ketika mendapati sang kekasih memakai piyama berwarna merah. Panjangnya hanya sampai sebatas paha, dengan ikatan tali yang dibiarkan terbuka.

Kulit putih yang semakin terlihat terang, membuat kesan seksi dan menggoda di waktu yang bersamaan. Tidak bohong, Ananta terlihat sangat cantik dan sempurna.

Posisi duduk yang berselonjor pada sofa, membuat kaki jenjang Ananta terpampang jelas. Aroma parfum yang sangat kuat, memenuhi apartement Abian sampai rasanya ia bisa pingsan saat itu juga.

Belum lagi ketika maniknya mendapai kedua noktah Ananta yang berwarna merah dan mencuat. Melihatnya, Abian langsung memejamkan mata.

Nafasnya tercekat dan otaknya tak mampu merespon apapun yang ada di hadapannya. Sampai Ananta memilih untuk menurunkan kakinya dari sofa, lalu meremat ujung piyamanya dengan bibir digigit pelan.

”M-Mas Bian…”

Mampus!

Abian justru mendengar panggilan itu seperti sebuah panggilan menggoda dan berbeda dari biasanya. Tubuhnya meremang sebadan-badan. Keringat mengalir deras, sampai kaos yang digunakannya sedikit basah.

”A-Ata jelek ya, Mas Bi—

”CANTIK!”

”L-Lo cantik…” Jawab Abian cepat, dengan sedikit gemetar dan manik memejam rapat.

”Heu, Mas Bian ngomongnya pake lo-gue.”

Aduh!

”M-Mas Bian juga ngga mau liat Ata. Heu, Ata mau ke kamar aja.” Lirihnya sedih, merasa malu karena Abian tidak excited.

SREETT

Tangan kanan Ananta diraih. Berusaha menahan sang kekasih agar tidak pergi. Ananta pun menoleh, menatap Abian yang masih menunduk dengan tubuh kikuk dan mulut terbungkam kaku.

Sontak bibir Ananta kian melengkung sempurna, ketika lagi dan lagi, Abian memilih bungkam.

“Heu… Mas Bi—

”T-TUNGGU DULU! A-ATA CANTIK! CANTIK BANGET!”

”G-GUE GUGUP! S-SEBENTAR! JANGAN NGAMBEK! L-LO BENERAN CANTIK! L-LO I-INDAH BANGET! G-GUE CUMA L-LEMES! G-GUE DEG-DEGAN… GUE—

BRUKK!

”Ata kangen Mas Bian.

Sukses membuat Abian, merosot ke atas lantai.

Ananta tentu membelalak, ketika memeluk sang kekasih, Abian justru jatuh ke atas lantai. Lantas ia segera duduk di samping yang lebih tua. Lalu menangkup wajah Abian dan menatap lekat dengan sorot khawatir dan perasaan bersalah.

”M-Maaf Mas Bian…” lirihnya, dengan mata berkaca-kaca.

Abian menggeleng cepat. Ini bukan salah Ananta. Memang dirinya saja yang kelewat lemah. Melihat kekasihnya begitu indah saja Abian sampai gugup dan tremor tak mampu banyak merespon.

Sebut saja Abian payah —memang itu faktanya.

”M-Mas Bian… ngga suka ya?” tanya Ananta lagi, dengan sorot penuh harap dan bibir melengkung sempurna.

Abian berusaha menjauhkan jarak wajah keduanya yang cukup dekat. Lantas bersandar pada sofa yang ada di belakangnya. Kakinya ia selonjorkan pada lantai, berusaha menetralkan detak jantungnya yang sangat cepat.

”Mas Bian…” Ananta kembali merengak.

Abian pun memejam. Seraya menampilkan senyum gugup dan nafas sedikit putus-putus.

”Bian s-suka. S-Suka banget! T-Tapi Bian gugup. B-Beneran deg-degan, Say—

”Berarti boleh pangku?”

BENERAN DIBUAT PINGSAN AJA GAPAPA SUMPAH!

Abian langsung membola dan membelalak ketika Ananta naik dan duduk di atas pangkuannya. Dada padat serta perut bersih terawat, langsung menjadi pemandangan Abian yang berhasil membuatnya mematung seketika.

Belum lagi paha mulus Ananta yang terpampang jelas. Demi Tuhan, Abian mengeras sempurna.

”U-Ugh.. M-Mas Bian… B-Burungny—

”Peluk Bian aja!” Potong Abian cepat, karena merasa malu dan tak kuat dengan apa yang akan diucapkan oleh Ananta.

Dengan semburat merah yang menjalar ke telinga. Serta senyuman manis yang tersungging di bibir sintalnya. Ananta langsung melingkarkan kedua tangannya dengan sangat manja, pada leher yang lebih tua.

Membuat tubuh keduanya merapat dan ranum Abian menempel pada bahu Ananta.

”Kangen banget, Mas Bian…” Rengek Ananta, seraya mengusalkan wajahnya pada ceruk leher milik yang lebih tua.

Abian hanya diam, tak membalas dekapan Anata. Bahkan, merespon ucapan sang kekasih saja tidak.

Abian benar-benar mati kutu di tempat.

”Sumpah, Ata wangi banget!” jeritnya dalam benak, sembari menahan tangis saking lemasnya.

”Heuu… Mas Bian, kok ngga bales pelukan Ata?“

”T-Ta…”

”Kenapa, Mas Bian?”

”Gue deg-degan.”

”Deg-degan kenapa? Ata kan ngga ngapa-ngapain.” ucap Ananta bingung.

”T-Ta…”

“Iyaa, Mas Bian?”**

”L-Lo cantik banget.” Lirih Abian, bergetar.

BLUSH!

Ananta langsung mengusalkan wajahnya pada ceruk leher Abian sampai yang lebih tua mendongak dan sedikit menggeliat karena merasa geli luar biasa.

”Cantiknya buat Mas Bian… Kata Om Meta.”

Sukses membuat Abian memejam rapat.

”Mas Bian…”

”Hm?”

”Peluk Ata.”

MAMPUS!

Bukan titah yang buat Abian mengumpat. Melainkan gerakan tangan Ananta yang menuntun jemari Abian untuk melingkar pada pinggang yang lebih muda.

”Ata kangen. Pengen dipeluk Mas Bian. Ata ngga mau aneh-aneh kok, Mas Bian.” Lirihnya, mencoba menjelaskan.

”Maafin Ata ya? Nanti Ata ngga pake ini lagi kalo Mas Bian ngga suk—

”GUE SUKA! SUKA BANGET!” Jawab Abian spontan. Tanpa ada angin dan hujan. Bahkan dirinya sampai merutuki diri sendiri karena begitu berani mengatakan itu dengan sangat lantang.

Ananta lantas memekik senang dan melepas dekapannya agar bisa menatap manik yang lebih tua.

”FUCK!”

Selatan keduanya tergesek karena Ananta bergerak cukup cepat.

”Hihi! Ata cantik ngga Mas Bian? Kata Om Meta warna merah bagus. Jadi, Ata pilih warna merah.” Jelas Ananta, sedikit bangga dan senang.

Ata wangi ngga Mas Bian? Ata beli parfum baru, Ata suka harumnya. Enak, hihi!”

Jangan tanya bagaimana keadaan Abian. Ia hanya bisa meneguk saliva kasar, ketika maniknya dengan jelas disuguhi kedua noktah yang mengeras sempurna.

Ananta yang merasa diperhatikan, jadi sedikit kikuk dan merasa malu sampai tangannya memilih untuk terangkat. Menutup kedua noktahnya yang terpampang sempurna.

DEG

Berhasil mengalihkan pandangan Abian, untuk menatap manik Ananta dengan sorot penuh tanya dan dahi mengernyit heran.

Sedangkan Ananta, terlihat mengulum senyuman dengan salah tingkah yang membuncah di dalam benak.

”Heu, malu.”

Mendengar Ananta mengatakan hal tersebut dengan sangat lembut dan pelan, Abian jadi merasa kewarasannya hilang saat itu juga. Salivanya susah payah ia telan karena nafasnya sedikit tercekat.

Lantas dengan keberanian yang datang secara tiba-tiba, Abian mencengkram pinggang ramping Ananta dengan sangat kuat.

”C-Cantik banget, S-Sayang.”

BLUSSHH!

Ananta malu setengah mati. Jantungnya bertalu dan ia gugup tak karuan. Darahnya berdesir hangat dan senyumnya kian terangkat.

Lantas dengan gerakan malu-malu, Ananta menatap Abian dengan sangat telak.

”M-Mas Bian…”

”H-Hm?” Demi Tuhan, perasaan Abian tidak enak. Apalagi manik Ananta terlihat berbinar dan senyumnya seperti penuh arti yang mencurigakan.

”M-Mas Bian suka?” tanya Ananta, sembari menggenggam kedua tangan Abian yang berada di sisi pinggang rampingnya.

GULP

Anggukan singkat, Abian berikan. Sudah tak mampu untuk menjawab, karena Ananta mulai membawa tangannya untuk naik, dan…

”M-Mas Bian… mau pegang dada Ata ngga?”

DEG

Abian memejam rapat, saat tangannya sudah sempurna mendarat pada dada padat milik yang lebih muda.

Ananta juga ikut memejam. Merasakan friksi luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kakinya sedikit merapat dalam pangkuan Abian. Gugup dan malu sudah tak bisa lagi dipisahkan.

Ananta, benar-benar berani dan tak kenal kata menyerah.

Abian yang sudah kepalang tanggung, memilih untuk menghempaskan seluruh perasaan gugup dan canggung. Di hadapannya, Ananta siap. Maka sudah seharusnya, ia siap.

Lagipula, hanya sebatas menyentuh. Kenapa Abian sampai tremor tak karuan?

Dengan manik yang masih saling memejam rapat, Abian mencoba untuk meremas pelan.

”Ngh!”

Abian membuka mata. Mendapati Ananta menunduk dan menahan desah. Kaki sang kekasih semakin menjepit Abian dalam pangkuan, sedangkan kedua tangan Ananta mencengkram bahunya kuat.

”M-Mas Bian…”

Abian deg-degan mampus. Suara Ananta melirih dan penuh akan desah. Tangannya terus berusaha meremat, meskipun jemarinya sedikit bergetar dan peluh masih mengalir di pelipisnya.

”M-Mas Bian… J-Jangan gemeteran tangannya.” Lirih Ananta, sembari menggenggam kedua tangan Abian, di atas dada padatnya.

”G-Gapapa, pegang aja.” Bisik Ananta sangat malu, dengan pipi merona padam.

Tangan Abian digenggamkan kuat pada dada padatnya, sampai Ananta melenguh dan mendongakkan wajah.

”Ngh… M-Mas Biannh… M-Mashh… Ah!”

Ananta berjengit kaget saat kedua noktahnya dicubit kuat. Sedangkan sang pelaku, langsung menegakkan tubuh yang semula menyandar.

”M-Maaf… B-Bian pikir itu enak. S-Sakit ya? S-Sakit ngga?” Tanya Abian panik, sedangkan Ananta terkikik geli.

Ananta melingkarkan tangan kanannya pada leher Abian, sedangkan tangan kirinya merambat naik menuju noktah sang kekasih yang masih dibalut kaos dan kemeja.

”Mas Bian mau tau rasanya ngga?” Bisik Ananta, tepat di cuping Abian.

”M-Maksudnya?”

Ananta tersenyum gemas. Senang bisa mengerjai Abian. Lantas dengan ilmu amatiran yang ia punya, Ananta dengan jahil mencubit noktah sebelah kiri Abian.

”AHH!

Ananta langsung menatap yang lebih tua. Dengan senyum terpatri indah, dan manik berbinar salah tingkah.

”Sakit ngga, Mas Bian?” Tanya Ananta, seolah mencari validasi dari calon suaminya.

Abian yang baru menyadari Ananta sedang berani-beraninya, semakin kelimpungan. Ia menyukainya, tapi sangat malu untuk mengakuinya.

Ketika Abian baru akan memberi sebuah jawaban, dengan sangat jahil, Ananta meremas dada Abian.

”A-Ah! Sayang…”

Ananta semakin senang. Ekspresi Abian membuat dirinya merasa berhasil membuat sang kekasih merasa nikmat.

Lantas dengan penuh percaya diri, Ananta kembali mengajukan pertanyaan, “Mas Bian… Mau mainin susu Mas Bian, boleh?”**

Mendengarnya, Abian memejam rapat. Itu bukan kalimat yang sangat kotor, tapi kejantanannya di bawah sana semakin dibuat mengeras.

Kepalanya pening dan nafsunya membuncah.

Lantas dengan sangat pasrah, Abian mengangguk dan membiarkan Ananta bermain-main dengan keberaniannya. Abian menyandar pada sofa, dan membirkan Ananta melakukan apapun pada tubuhnya.

”Ata buka baju Mas Bian boleh?”

”J-JANGAN! B-BIAN MALU!”

Ananta terkekeh gemas. Wajah Abian merona padam. Bahkan, alisnya menyatu dan lehernya merah semua.

”Heuu, kenapa Mas Bian gemas?!” Pekik Ananta, sembari mencubit kedua pipi Abian.

CUP!

”Hadiah buat Mas Bian karena ngga jadi ninggalin Ata seminggu.” Bisik Ananta ceria, setelah mendaratkan satu kecupan singkat pada ranum Abian, sebelum menggesek hidung keduanya, hingga Abian memilih untuk memejamkan mata.

Lantas Ananta kembali fokus, pada dada bidang milik Abian.

”Ah!”

Abian melenguh, ketika dadanya diremas kuat. Ananta bermain pada dadanya, persis seperti tadi dirinya bermain pada dada Ananta.

Diremas pelan dan dipijit lembut. Sebelum beralih mencubit noktah dan memilintir gemas.

”N-Ngh.. S-Sayangh…”

”Mau nyusu, boleh?”

Demi Tuhan, Abian sudah tak mampu bertahan lagi.

”HIHI! MAKASIH MAS BIAN!”

Ananta langsung mengangkat kaos Abian hingga kedua noktah yang sudah mengeras, berhasil terlihat oleh maniknya yang berbinar.

Tanpa basa-basi, Ananta langsung mengecup dan mulai mengulum pelan.

”Ah! A-Ata…” Abian terbata, tubuhnya sangat sensitif bahkan cairan precumnya mulai membasahi celana.

”Kenapa, Mas Bian?” Tanya Ananta, sedikit bingung. Karena tubuh Abian, memberi respon sedikit berbeda.

Abian hanya menggeleng, lalu menyentuh tengkuk Ananta agar melakukannya lagi.

”L-Lagi, Ta.”

”Hihi, Mas Bian ketagihan ya?!”

”MALU BANGET ANJING!!!”

”Sini Ata mainin!”

Tidak seperi pria yang diselimuti nafsu, Ananta justru mengulum noktah Abian dengan sangat ceria. Sesapannya sedikit kuat, sedangkan lidahnya bermain serampangan.

Ranumnya bahkan terus tersenyum sumringah. Tanpa peduli ada Abian yang kelojotan dan merasa sangat sensitif sampai klimaksnya terasa diujung batas.

”Slurrphh… Mmphh…”

SIAL! SIAL! SIAL!

Abian tak sanggup. Tubuhnya bergetar hebat dan penisnya terasa seperti ingin mengeluarkan sesuatu.

Dengan gerakan cepat, Abian mencoba menjauhkan wajah Ananta dari dada padatnya.

”U-Udah… U-Udah, Ta.”

”Ngh… Mmph… Syebental lagihmmphh…”

MAMPUS!

Abian tak mampu menghentikan gerakan Ananta, sedangkan perutnya terasa semakin melilit dan tubuhnya menggelinjang hebat.

Dengan rasa malu yang sudah tak tahu lagi apakabarnya, Abian memekik dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

DEG

Ananta membola ketika menyadari Abian mengejang, tapi…

”Mas Bian ngompol?”

BRUKKK!

”GUE MAU BALIK KE AMERIKA ANJING!!!!!”

BRAKKK!

📍Mansion Pradana – 09. 48 WIB


Waktu menunjukkan pukul sepuluh kurang. Mentari masih begitu teduh memancarkan sinarnya. Bahkan, cuaca hari ini bisa dikatakan sejuk dan tidak panas. Membuat putra dan putri dari Pradana yang memang sudah memiliki rencana untuk bermain bersama, jadi bisa merealisasikannya sekarang.

”Kak Aga ayo berangkat.” Ajak Luna, yang kini sudah menggenggam erat tangan si kecil dan tangan sang kakak tertua.

”Pamit dulu sama ayah dan papi.”

Bright yang sedang duduk di atas sofa, lantas tersenyum manis dan mempersilahkan putra-putrinya untuk mendekat. Begitupun dengan Metawin yang dengan sigap mendekap satu-persatu anaknya seraya membubuhi kecupan singkat.

”Ayah…” panggil si kecil, dengan tubuh yang kini duduk di atas pangkuan sang ayah.

CUP

Satu kecupan singkat, mendarat pada kening putra bungsunya. Lantas dengan penuh sayang, ditangkup kedua pipi si kecil, lalu ditatap lekat dan diberi senyuman tampan.

”Nanti mainnya jangan jauh-jauh ya? Kalo Adek ngerasa ngga nyaman atau takut sama sesuatu, langsung peluk Kak Aga atau Kak Ian. Ya, Sayang?” Ucap Bright mengingatkan, lantaran sang putra masih sedikit terngiang dengan kejadian pembulian beberapa bulan silam.

Niel pun mengangguk paham, ”Ayah… Nanti di sana ngga ada orang jahat ‘kan?”

”Nanti kalo ada yang jahat, sama Kaka Aga dipukul, biar ngga berani sentuh adek. Jangan takut ya?” Bright lagi-lagi berusaha memberikan pengertian. Sampai si kecil akhirnya mengangguk dan memberi satu kecupan singkat, sebagai sebuah salam perpisahan.

Keempatnya berpamitan secara bersamaan. Luna dan Ian juga tak lupa untuk menyalami kedua orang tuanya.

”Luna nanti hati-hati ya biar ngga jatuh? Inget kulitnya sensitif.” Ucap Metawin mengingatkan, dan anggukan pelan diberikan sebagai jawaban.

”Ian berangkat ya, ayah, papi.” Pamit Kak Ian, sopan.

”Titip adek ya, Kak.” Ucap Bright lembut, seraya mengusap tengkuk sang putra.

Ian mengangguk paham, lantas dengan sigap menggendong tubuh Niel dan mengajaknya keluar bersama Luna. Lebih dulu menuju mobil karena Kak Aga akan sedikit berbicara dengan kedua orang tuanya.

Setelah yakin ketiga putranya keluar, Bright pun bangkit dan mencengkram lembut bahu milik putra tertuanya.

Wajah yang semula terlihat sangat tegas dan berwibawa, kini sedikit terlihat cengengsan seperti tak punya dosa. Bahkan, Bright dan Metawin terlihat menggaruk tengkuknya yang tak gatal akibat rasa malu datang menyeruk.

Malu, tapi ya… mau.

”Nanti chat Aga kalo udah selesai.” Pinta Aga, agar hal yang tidak diinginkan bisa diantisipasi.

Mendengar penuturan sang putra, Metawin pun mengangguk senang. Lantas, dengan begitu manja, ia raih tangan kanan sang putra lalu diberi usapan penuh sayang.

”Kak Agaaa…”

Nah, Aga sedikit meremang. Sang papi jika sudah memanggil dengan nada manja seperti ini pasti karena permintaannya aneh-aneh dan sedikit membuatnya resah.

Lantas dengan ekspresi wajah yang terlihat tenang, Aga bertanya melalui gerakan isyarat pada wajahnya.

”Hehe… I-Itu… Pulangnya sore aja ya?”

Sukses membuat Aga meringis canggung dengan mata memejam dan tangan terangkat guna mengusap tengkuknya yang tidak gatal.

”Papi pengen main sampe sore.”

Cukup.

Aga menaikkan tangannya dan membentuk isyarat stop pada sang papi. Ketika tak ada lagi yang berbicara, Aga dengan cepat membuka matanya dan mengangguk paham.

Ia berikan jempolnya pada sang papi yang kini tersenyum senang. Sedangkan Bright hanya diam karena sedang menahan malu karena ya… siapa yang tidak malu coba?

”Aga berangkat sekarang, biar itu… bisa lama.” Pamit Aga, karena tak sanggup lagi melihat kedua orang tuanya yang seperti dimabuk oleh asmara.

”Hati-hati, Ayah titip adek.” Anggukan paham diberikan sebagai jawaban. Sebelum dirinya pamit dan beranjak keluar.

Namun, sebelum Aga benar-benar keluar, ia sempat menghentikan langkahnya untuk sekedar berbicara singkat.

”Pake pengaman, Aga ngga mau punya adek lagi.”

BLUSHHH!


BRUKKK!

Tubuh Bright yang terbalut kemeja hitam dengan tiga kancing teratas terbuka, serta celana bahan berwarna hitam dan arloji di tangan kirinya, membuat Metawin tidak tahan untuk segera mendorong sang suami agar terduduk di atas sofa.

Masih di ruang keluarga, tapi keduanya sudah tidak tahan. Lebih tepatnya, Metawin yang tak kuasa jika harus beranjak menuju kamarnya di lantai tiga.

Sudah hampir dua minggu keduanya tidak saling menjamah, akibat sang putra yang akhir-akhir ini selalu meminta untuk tidur bersama.

Alhasil, ketika hari libur tiba, Bright meminta Aga untuk mengajak adik-adiknya jalan-jalan.

Kemana saja, asal pergi dulu dari rumah.

Beruntung, Aga mengerti dan paham maksud dari kedua orang tuanya. Ia juga tidak keberatan karena bagaimanapun itu kebutuhan mereka. Aga sudah dewasa dan cukup usia untuk memaklumi kebutuhan seksual antar pria dewasa yang bahkan sudah menikah.

Maka, Bright dan Metawin tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.

ZRETT…

Metawin langsung melepas sabuk yang melingkar pada pinggang pria tampannya. Ia sudah tidak tahan dan gerakannya sedikit tergesa. Sedangkan Bright, kali ini memilih untuk banyak diam.

Karena Metawin mengatakan ingin mendominasi dalam permain.

Let’s see?

CUP

Satu kecupan singkat mendarat pada bagian celana Bright yang mengembung di bawah sana. Sebelum membawa tubuhnya untuk duduk di atas pangkuan sang suami yang begitu gagah.

”Ngh… Gede, Mas.” Ucap Metawin, ketika belahan sintalnya berhasil menggesek selatan sang suami yang ereksi hebat.

Lantas dengan nafsu yang sudah berada di ambang batas, Metawin langsung melepas satu-persatu kancing kemeja Bright hingga tubuh kekar dan dada bidang milik yang lebih tua, terpampang jelas.

”CUP”

Metawin mengecup dada Bright dengan sangat sensual. Maniknya terus menatap sang suami tanpa terputus, hingga Bright membalas dengan seringai nakal.

Tangan kekar Bright yang menganggur, beranjak naik untuk meremas bokong kesukaannya. Sebelum mengusap sensual lubang berkedut si manis yang masih tertutup sehelai pakaian.

*“Ah!”**

Satu desahan lolos, dan tubuhnya menggeliat. Maniknya memejam dan tangannya mencengkram bahu Bright sangat erat. Semakin tak tahan untuk segera menjamah tubuh gagah Bright di hadapannya, hingga dipenuhi bercak merah dan dibuat mengkilap oleh saliva.

GULP

”Mau ngapain, hm?” Tanya Bright, berpura-pura tak paham. Dengan tatapan seduktif, dan bibir bawah dijilat nakal.

Kebal dengan tatapan nakal Bright, Metawin langsung menghempas kemeja Bright ke atas lantai dengan pipi merona padam. Bahkan, seulas senyuman cantik, tersungging di bibir mungilnya.

CUP

”Mas Bii, mau nenen.” Bisik Metawin nakal, setelah mengecup cuping sang suami yang memerah.

Bright pun menampilkan seringai nakal, lalu dengan begitu tampan, mengangguk singkat.

”Sampe bengkak bisa, hm?” Tak kalah menggoda, Bright membalas dengan berbisik rendah.

Metawin pun semakin semangat, lantas dengan penuh percaya diri, ia mengangguk paham.

”Meta sedot sampe bengkak.”

SLURRPHH

**”Ngh…”

Bright melenguh ketika Metawin memberikan satu sesapan kuat dan singkat pada ceruk lehernya yang masih seputih kanvas. Sebelum memperhatikan si manis yang berlutut dan mensejajarkan wajahnya dengan dada bidang milik Bright yang begitu menggoda.

Dimainkan puting kecoklatan milik pria dengan marga Pradana, sebelum Metawin jilat dengan begitu nakal.

SLURRPHH

Bright memejam, ketika putingnya disesap sangat kuat. Tangannya beranjak turun, berusaha mencengkram pinggang ramping Metawin sebagai pelampiasan nikmat.

”SLURRPHH”

”Shh… Sayang.”

Metawin mulai memejam, menikmati setiap gerakan lidahnya pada puting yang lebih tua. Disesap bergantian antara kanan dan kiri. Seraya dicubit dengan kedua jari.

Bright tentu melenguh pelan. Menikmati bagaimana Metawin yang mulai bergerak liar. Permainannya dalam urusan ranjang pun sudah berkembang. Lebih berani dan binal, apalagi jika dalam kondisi lama tak saling menjamah.

Metawin akan kalap dan bergerak sesukanya.

Seperti saat ini, ketika puting Bright sudah disesap sampai memerah, Metawin memilih kembali bangkit dan menduduki paha kekar Bright.

Tanpa melepas kedua tangan yang kini asik meremat dada bidang sang suami, dan gerakan tubuh yang mulai memberi grinding.

”Nghh… Mas Bii… Enaak… Gede banget kontolnya.”

PLAKK!!

”Ah! Lagihh… Mau ditampar lagih… Nghh…”

Bright langsung merengkuh pinggang Metawin erat. Wajahnya tenggelam pada dada padat si manis, lalu menggesekkan hidungnya di sana.

Membuat Metawin yang merasa geli luar biasa, mengalihkan kedua tangannya untuk melingkar manja pada bahu yang lebih tua.

Lantas dengan begitu cekatan, Metawin buka kancing kemejanya, dengan bantuan satu tangan.

”Ayo nenen, Massh… Nenen ke Met— AH!”

SLURRPHH.

Bright langsung memberikan sesapan kuat persis seperti musafir yang kehausan. Kedua matanya memejam dengan gerakan lidah yang semakin lihai. Dikulum dan di gigit kecil, sampai Metawin mengerang dan menggeliat.

Tubuh bagian bawah keduanya, kian bergesek cepat lantaran Metawin tak bisa diam ketika dua noktah kemerahannya, dimainkan dengan cukup kuat.

”Shh… Nghh Ah! Masshh… Perih, ugh. Enak ahh! Kangennn… Kangenn dikenyot nghhh… Mas Bii… Ah!”

Semakin membuat Bright terpancing untuk menyesap kuat. Diremas dada padat si manis yang belum terjamah oleh lidah. Sembari menggigit kecil puting yang sudah berada di dalam mulutnya.

Sedangkan Metawin kian bergerak gusar, dengan kedua tangan meremat surai hitam Bright sedikit kasar.

”Nghh… Ah! Udahh sshh… Mas Bii udahh… Mau ngewe… Ngga kuaathh… Ngh! Pengen ngewe, Masshh…”

Gerakan Metawin dalam memberi grinding semakin tak kenal aturan. Bergerak maju dan mundur seolah kenikmatannya sudah berada diujung batas.

Mengerti lelakinya tak akan berhenti untuk menyesap kedua noktahnya, Metawin pun berusaha menjauhkan wajah Bright sebentar.

Ditangkup kedua pipi yang lebih tua. Sebelum diserang dengan cumbuan menggebu dan penuh akan tuntutan.

CUP

Metawin memimpin cumbuan. Ia langsung melumat rakus bibir sintal Bright yang sangat menggoda. Sedangkan Bright yang menerima, menyeringai dalam pagutan. Dengan kedua tangan yang kini nyaman meremas bongkahan sintal milik si manis di atas pangkuannya.

Suara pertemuan lidah yang sedikit berisik, membuat wajah keduanya semakin bergerak miring. Menikah bertahun-tahun, membuat keduanya mudah sekali lepas kendali, ketika sedang memuaskan tubuh dari lawan masing-masing.

”Mphhh… Nghh…”

Desahan Metawin mengalun indah. Seiring dengan gerakan menyesap yang semakin kuat. Bibir bawah Bright sudah berubah menjadi sedikit bengkak, karena dominasi sepenuhnya sedang direbut oleh yang lebih muda.

Bright mengalah, sebelum nanti mengambil alih dan membuat Metawin hanya bisa mendesah.

PWAHHH

Metawin terengah. Bibirnya memerah dan mengkilap oleh saliva. Terasa sedikit perih tapi enak. Membuatnya tak tahan lagi untuk beringsut ke bawah dan melepas celana yang menutupi kejantanan milik lelakinya.

ZRETT

”Gede aaa. Mau nyepong, Mas Bii.” Rengek Metawin manja, seraya menggenggam penis Bright yang tak pernah gagal membuat Metawin takjub dan terlena.

Sejenak, Bright menunduk. Mengangkat dagu yang lebih muda untuk mempertemukan manik keduanya barang sesaat.

CUP

Dikecup singkat ranum yang lebih muda, sebelum menampilkan seringai menggoda dan tatapan sangat nakal.

”Sepong yang enak bisa?” anggukan tentu diberikan oleh yang lebih muda. Dengan bibir tersenyum sumringah sampai garis yang membentuk bulan sabit terlihat di manik si manis.

”Meta sepong sampe keluar spermanya boleh?” Bisik Metawin, balas menantang. Bahkan, hidungnya ia gesekkan pada hidung Bright di hadapannya.

Bright tersenyum puas. Ia suka Metawin yang binal dan liar. Diusap tengkuk sang suami sebagai apresiasi bangga. Sebelum dikecup keningnya dan dipersilahkan untuk bermain dengan penisnya.

”Harus sampe keluar. Baru Mas ewe, oke?”

Mendengarnya tepat di depan telinga, membuat Metawin sedikit meremang. Wajahnya jadi merona padam, apalagi ketika Bright memilih untuk menyandar pada kepala sofa dan menatap telak ke arahnya.

Seketika kikuk itu menjalar dan Metawin sedikit canggung untuk kembali bergerak liar.

Bagaimanapun, Metawin tetap pria pemalu yang menggemaskan.

Liarnya hanya sesaat, bahkan terkesan amatiran dan serampangan.

Tapi hal itu, cukup membuat Bright merasa sangat terangsang.

”Do it, Sayang.”

CUP

Diawali dengan kecupan pada kepala penis Bright. Lalu beranjak untuk mengecupi seluruh permukaan batang berurat milik yang lebih tua.

Dijilat dengan sangat sensual, dari puncak hingga ke pangkal. Semuanya Metawin lakukan dengan sangat perlahan, seraya memejam dan menikmati sebanyak itu penis lelakinya yang sangat gagah perkasa.

”Sshh…” Bright mendesis, ketika ujung lidah Metawin menyapu bersih.

”Kangen… Kangen kontol Mas Bii.” Ucapnya nakal, seraya memijat naik turun batang penis Bright yang dihiasi urat.

CUP

Metawin kembali mengecup sekilas, sebelum memasukkannya ke dalam goa hangat yang hanya mampu menampung seperempat dari ukuran penis Bright.

Seperti biasa, kejantanan sang suami selalu tidak mampu masuk seluruhnya. Ukurannya terlalu besar untuk mulut Metawin yang mungil.

Tapi hal itu tidak mengurangi rasa nikmat yang diterima oleh Bright. Karena buktinya, yang lebih tua tetap memejam dan mendongakkan wajah ketika dengan sangat nakal, si manis menggelitik lubang kencingnya.

”Sshh… Sayanghh… Geli, Ahh…”

Sudah lama bersama, Bright tak lagi malu untuk mengeluarkan desah. Semakin santai dan rileks ketika Metawin sedang memuaskannya.

Metawin yang mendengar erangan berserta desah dari belah bibir Bright, langsung tersenyum penuh kemenangan. Ia coba memasukkan setengah dari ukuran penis Bright, meskipun hasilnya sangat mentok dan membuatnya tersedak.

”Ghookkk… Mmphh nghh…”

”Fuck!” Bright mengumpat lirih.

Bulir bening tanpa sengaja mengalir, membasahi pipi Metawin akibat sodokan penis yang terlalu besar. Meskipun demikian, Metawin suka.

Metawin langsung menggerakkan wajahnya maju dan mundur, seraya terus memainkan lidahnya hingga sang suami sedikit menggelinjang.

Tangan kanannya juga tak tinggal diam, ia memijat bagian batang penis Bright yang belum berhasil terjamah oleh mulutnya.

Disesap kuat seolah sperma Bright akan segera keluar. Lalu dipijiat nikmat agar sang suami semakin terangsang.

”Sayanghhh… Ah! Deeper!”

Bright mulai menekan tengkuk Metawin agar memperdalam permainan mulutnya. Membuat si manis yang mengerti harus berbuat apa, sontak mencoba untuk melakukan deepthroat meskipun ia yakin akan tersedak.

Kedua tangannya mencengkram paha Bright sebagai tumpuan. Metawin pun menarik nafas panjang, dan setelah merasa yakin, Metawin mencoba menatap obsidian sang suami di hadapannya.

Ditatapnya netra Bright yang sangat tajam dan nakal, sebelum kembali memejam dan mulai memasukkan penis Bright sedalam yang ia bisa.

”GHOOKKKKKK!”

”FUCK!”

Bright langsung menegak. Metawin benar-benar membuat penis besarnya seolah hilang ditelan goa. Kepalanya sampai terasa pening karena Metawin menahan posisi itu untuk beberapa saat. Rasa hangat langsung menjalar, diikuti dengan rasa geli karena lidah Metawin sedikit bermain-main.

”Tahan, Sayanghhh… Ahh… Enak bangethh! Ngh…”

Merasa limitnya mencapai batas, Metawin menepuk paha kekar Bright. Meminta sang suami agar menyudahi sesi deepthroat, karena mual mulai menjalar.

”PWAAHH”

Metawin terengah dan matanya memerah. Air liur terlihat membentang, dengan bibir Metawin yang sedikit membengkak.

Penis Bright masih terus dipijat, Metawin tetap ingin kejantanan Bright mengeras sempurna. Sesaat mencari pasokan udara, sebelum kembali mengulum dan menyesap penis milik lelakinya.

”Ahh! Sshh… Mulut kamu enak, Sayanghh… Sshhh… Ah!”

”Faster, Baby.”

Metawin mengangguk, semakin membuat tubuh Bright jadi menegak. Si manis yang sudah tidak tahan ingin digempur lubangnya, segera menyesap kuat kepala penis lelakinya.

Dimainkan lubang kencingnya, lalu dijilat menyeluruh hingga ke pangkal. Membuat Bright yang merasakan jadi menggelinjang geli sebelum dibuat kaget karena kembali diberi deepthroat.

”AH! Ngilu sshhh… Sayanghhh, Ah!”

Metawin tak peduli, ia kian mempercepat gerakan kepalanya sampai pinggul Bright tak mampu lagi untuk sekedar diam. 
Dicengkram lembut sisi kanan dan kiri kepala Metawin, sebelum Bright mulai menggerakkan pinggulnya dan menghentak sedalam yang ia mau.

”GHHOOKK MPHHH… NGHHHH…”

Metawin ikut terlena dan sedikit kelimpungan. Air matanya mengalir deras, karena sebuah respon alamiah. Salivanya mulai membasahi dagu dan tak sedikit mengenai pipinya.

Bright sedikit serampangan dalam mengentak, membuat Metawin sedikit merasa mual tapi tetap mendapat nikmat.

”Bentar lagihh… Nghh… Yang kenceng, Sayanghh…” Desis Bright yang penisnya mulai membesar.

Metawin bisa merasakan mulutnya kian terasa sesak. Ia pun berkali-kali tersedak karena precum sang suami mulai keluar dan bercampur dengan saliva.

Yakin sang suami siap untuk menumpahkan spermanya, Metawin dengan sisa kekuatannya, menyesap dengan sangat kuat. Seraya terus berusaha menggerakkan lidahnya, meskipun terasa sedikit susah.

”FUCK!“

Perut Bright melilit hebat dan cairan spermanya keluar memenuhi goa hangat yang lebih muda.

Tubuh Bright sedikit bergetar dan maniknya memejam rapat karena nikmat yang mendera begitu banyak.

Tangannya dengan impulsif mengusap surai hitam Metawin sembari terus mengeluar masukkan penisnya. Menyelesaikan klimaks yang masih terus keluar di dalam mulut suaminya.

”Pwahh hhh… Masshh…”

Metawin terengah. Mulutnya memerah dan membengkak. Air matanya membasahi pipi dan bercampur dengan saliva.

Bright pun menarik Metawin agar naik ke dalam pangkuan. Dibersihkan dengan sangat lembut bibir sintal suaminya, sebelum dibubuhi kecupan ringan penuh akan sayang.

”Hhh.. Enak… Kontolnya enak, Masss… Ayo ngewe! Mau ngewe! Kangen, Masssh…” Metawin kembali merengek, sembari menggerakkan tubuhnya maju dan mundur.

Bright yang sedang mengambil minum di atas meja nakas, sedikit meringis karena penisnya bergesekkan langsung dengan piyama Metawin.

”Shh.. Sayang. Stop dulu, minum dulu sebentar.”

”Ngga mau nghh.. Mau ngewe! Udah kenyang minum sperma. Ayo ngewe! Mas Bii ngewe… Ayoo aaaaa.”

Bright memejam. Sedikit pening mendengar untaian kotor yang lebih muda. Ia rengkuh pinggang ramping suaminya agar mau diam. Sebelum ditatap lekat dan dikecup singkat.

”Minum dulu sebentar. Biar ngga enek.” Ucap Bright, karena ia sadar spermanya tadi keluar banyak.

Tidak ingin membuat Bright semakin bawel, Metawin langsung meneguk segelas air yang disodorkan. Tak butuh waktu lama hingga gelas itu kosong, Metawin dengan segera kembali merengek meminta untuk digagahi.

”Mas Bii nghh.. Ayoo! Mau ngewe… Mas Bii ay—

TING!

Metawin menoleh, ponsel Bright berbunyi. Tanda pesan masuk di siang hari. Ia pun menatap sang suami, lalu dengan segera meraih ponsel Bright dan melihat siapa yang menghubungi.

”Bian ngechat. Bales nanti aja, mau ngewe dulu, Mass…” Rengek Metawin sembari mengarahkan ponselnya, menunjukkan isi pesan dari keponakannya.

Bright sebenarnya mau membalas, tapi Metawin dengan sigap mendorong tubuh Bright hingga merebah di atas sofa.

Metawin genggam satu tangan Bright, lalu memfoto sekali untuk dikirimkan pada Bian. Setelahnya?

BRUK

Ponsel Bright dihempas ke atas lantai. Masa bodoh akan rusak, Metawin bisa membelinya lagi. Sekarang ia mau digagahi dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.

Termasuk Abian —keponakannya.

Lantas dengan nafsu yang begitu menggebu, Metawin mempoloskan dirinya. Lalu melepas celana Bright yang masih bertengger di atas lutut.

Keduanya polos, dengan penis sama-sama mengacung.

Metawin kembali beranjak, duduk di atas paha sang suami yang cukup kekar. Diusap sensual dada bidang Bright sampai ke perutnya, sebelum kembali menggesek selatan keduanya yang sudah sama-sama ereksi sempurna.

”Ugh.. Enak nghh… Sshh Ah! Mas Bii enak nghh…”

Metawin terus mendesah, dengan kedua tangan yang meremat kuat dada suaminya. Sedangkan Bright di bawah, menumpu kepala dengan kedua tangan. Maniknya menatap Metawin yang bergerak liar dengan sudut bibir terangkat puas. Ringisannya sesekali terdengar, tapi tak jarang Bright menahan karena ini belum seberapa.

”Mau ngewe nghh.. Mau… Ahh… Mas Bii…”

PLAK!

”Ah!”

”Masukin sendiri.”

Metawin mengangguk, karena memang itu juga menjadi keinginannya. Lantas dengan segera, ia membungkuk. Memijat kejantanan sang suami, sebelum meludahinya agar basah dan tidak membuat penetrasinya sakit.

Sukses membuat Bright mengernyit heran, ”Sayang, pake lubricant.” Titah Bright, mutlak.

”Hnghh… Lubricantnya di kamar. Meta ngga mau ambil… Gini aja, mau langsung ngewe.” Rengek Metawin, yang kembali naik dan mulai menggesekkan kepala penis Bright pada pintu analnya.

Belum sempat Bright menahan agar sang suami tidak langsung memasukkan kejantananya, Metawin sudah lebih dulu melesakkan kepala penisnya hingga keduanya sama-sama mengerang akibat nikmat yang terlalu banyak.

BLESS

”AH!”

”Ngh!”

Metawin meringis, lubangnya kembali terasa sempit hanya karena dua minggu tak dimasuki. Bibir bawahnya pun ia gigit, rasanya seperti pertama kali bermain.

”Masshh… Nghh… Mainin puting Meta, nghh… Masshh.”

Bright langsung mengabulkannya, karena Metawin meringis kesakitan. ”Shh… Sayang… Pelan aja gapapa. Jangan dihenta—

JLEBBB!”

”AHH!”

”FUCK!”

Metawin mendongak. Sedikit merutuk dalam benak karena dirinya tak sabaran. Alhasil, lututnya kini bergetar dan tak mampu untuk bergerak. Kepala penis Bright menghantam telak prostatnya. Membuat nikmat itu langsung mendera dan tubuhnya terasa lemas seketika.

Bright yang merasakan cengkraman kuat dari lubang Metawin juga ikut mendesis nikmat. Maniknya memejam barang sesaat, sebelum mencengkram pinggang ramping Metawin dengan sangat kuat.

”Jangan dihentak! Meta aja ssshh… Meta mau goyang sendiri, Mas Bii diem ngh…”

Metawin menolak. Tidak ingin dihentak oleh sang suami dari bawah. Ia ingin menunjukkan skillnya dalam memberi goyangan. Metawin sudah banyak menonton dan belajar, hari ini, ia ingin membuktikannya.

”Meta kuaat… Nghh… Mas Bii diem aja… Meta udah belajar… Sshhh aahh… Mas Bii gede banget kontolnya… Ahhh.”

Bright tersenyum bangga. Karena sampai detik ini, Metawin selalu puas dengan penisnya. Tak ada kata bosan, justru sang suami semakin gencar meminta untuk dimasuki dengan serampangan.

Seperti hari ini, ketika Bright melihat wajah si manis yang dipenuhi nikmat. Perasaan bangga dan senang, langsung menyelimuti hati kecilnya. Lantas dengan seringainya, Bright mengangguk paham. Membiarkan Metawin menunjukkan apa yang ingin ditunjukkan. Sedangkan dirinya diam dan menikmati saja.

”Aahhh…. Sshh… Kontolnya gede, Mas Bii…” Ringis Metawin, ketika mulai menaikkan tubuhnya dan beranjak untuk kembali melesakkan penis yang lebih tua.

Guratan urat di sepanjang batang penis Bright, menggesek dinding analnya hingga desahan tak mampu untuk diredam. Maniknya memejam dan wajahnya mendongak.

Jemarinya tanpa sadar meremas kuat dada bidang Bright, melampiaskan nikmat yang terlampau banyak. Hingga lututnya kembali bergetar, ketika prostatnya terhantam.

JLEB!

”A-Ahh! Masshh…. Ah!”

Metawin menggeleng tak karuan, pahanya bergetar dan nafasnya terengah. Penis Bright tak pernah gagal membuatnya terlena.

Terasa sangat gagah, keras, dan berurat.

Rasa sakit pada lubangnya juga perlahan melebur sempurna. Lantas Metawin menyamankan posisi, sebelum bergerak teratur memainkan kejantanannya suaminya.

JLEBBB!

”Ahh! Enakk! Nghhh… Ahh Mas Bii… Dalem banget… Ugh, enak banget sshh…”

Bright mendesis, ketika Metawin mulai bergerak konstan. Penisnya terus tenggelam, seolah menghilang pada goa sempit yang lebih hangat. Dinding anal Metawin terus berusaha memeluk erat kejantanannya. Seolah tak rela jika keluar barang sejenak.

”Enak! Kontol Mas Biih punya Meta! Nghh… Enak bangeetthh Ahhh! Kangeennnh… Kangen ngewe!”

Metawin mulai berbicara kotor. Menyulut api nafsu di antara keduanya. Gerakannya juga mulai serampangan. Tusukannya terkesan lebih dalam dan brutal. 
Ritmenya begitu cepat sampai Bright mulai sedikit kewalahan. Nikmatnya berbondong-bondong dan perutnya terasa mulai melilit kuat.

”Mashhh nghh… Ah! Enak ngga? Ahh… Ah… Masshhh… Jawab Meta! Enak nggaa -Ah!”

”Sshh… Cepetin, Sayanghh…”

”Cepetin lagi.”

PLAKKK!

”Ughh… Lagihh… Tampar lagih, Masshh…”

PLAAAKK!

JLEEBBB!

”AHHHHH! G-GEMETERAN MASSHHH… A-A..AH… M-MASHHH…”

Metawin menghentikan gerakannya. Bright tiba-tiba menghentak dari bawah saat tubuhnya beranjak turun. Sontak sodokannya jadi semakin kuat dan kaki Metawin bergetar hebat.

Kepalanya menunduk dalam, dan tangannya mengepal kuat. Hingga tak lama, tubuhnya kembali menegak dengan isak yang mulai terdengar memenuhi ruangan.

”ENAKK HIKSS… ENAKK DISODOK KENCENGHHH AHH! MAININ PUTING META MASSHHH… AYOO AHHH!”

”NANTI META GOYANGIN NGHH AH! AH! MASSHH…” Metawin menuntun tangan Bright agar segera memainkan dada padatnya. Sebelum bergerak konstan untuk mengejar pelepasan yang sudah berada di ujung mata.

”Ughh… Mas Biih… Bantuinn… Ahhh! Bantuin kaya tadii nghh… Masshhh…”

Metawin merengek, karena semakin lama tubuhnya terasa lelah. Alhasil, hentaknya tidak terlalu kuat dan prostatnya tidak terlalu dihantam telak.

”Tadi katanya mau nghh main sendiri, kenapa minta bantuin, hm?” Tanya Bright, berniat untuk menggoda.

Sedangkan Metawin yang sudah tidak tahan, segera membungkuk dan memeluk Bright erat. Ia gigit leher yang lebih tua sampai meninggalkan bekas merah sangat kentara.

”Ah! Sayangh…”

”PELIT! NGHH… MAS BII GA MAU GENJOT LUBANG META! SEBEL! ISH KESEL, PENGEN MAR— AHHH!”

JLEEEBBB!

Slurrrthhh

Perut Metawin langsung melilit, spermanya menyembur dan tubuhnya mengejang nikmat. Maniknya memejam rapat, tak kuasa ketika tanpa ada aba-aba, Bright menggenjot lubangnya kuat.

Pelepasan yang sudah di ujung mata, sukses dikeluarkan hanya dengan bantuan satu sodokan dalam.

Tapi, Bright tidak hanya akan memuaskan Metawin. Alhasil, ia tidak berhenti meskipun tahu sang suami sedang mengeluarkan cairannya.

Dipeluk erat tubuh Metawin yang bergetar, sebelum kembali digenjot kuat sampai sang suami terisak kencang.

JLEEBBB!!

”AAHHHH! MAS BII HIKSSS… DALEM BANGETHHH AHH! NGILU… SHH ENAAKK HIKSSS…”

”MAS BII AH! AH! IYAAHH NGHHH… DISITU AHHH!”

”MAS BII HIKSS KONTOLNYA ENAK TERUS SSHHH AH! GENJOT TERUSSHH… NGHH NGILU HIKSSS… AHH!”

JLEEBB!

”AAHHHHH!”

Metawin sedikit menjambak rambut Bright karena sang suami menghentak tak kira-kira. Sangat dalam sampai rasanya Metawin terbang ke langit semesta. Maniknya dipenuhi bintang dan rasanya sangat puas.

Isaknya terus saja terdengar selama Bright belum berhenti menggempur lubangnya.

Metawin hanya mampu terus mendesah ketika Bright tak kunjung mendapat pelepasannya. Bahkan kini, penisnya sudah kembali mengeras.

Lantas ia mencoba untuk menegakkan tubuhnya dan bertumpu pada perut berotot milik yang lebih tua.

”Ngh hikss… Genjot lagihhh… Ah! Bareng sama Meta sshh… Mas Bii hikss… Mas Bii kontolnya enak banget! Ah! Meta lemes aaahhh…”

Bright mendesis ketika tubuh Metawin ikut bergerak berlawanan arah. Ia pun bangkit dan mengubah posisi menjadi duduk. Didekap erat tubuh sang suami yang terlonjak sembari dilumat habis dada padatnya.

Sukses membuat Metawin semakin kelimpungan dan kewalahan.

JLEEBBB!

”AHHHH!”

PLAKKK!

”Gerakin ngh, Sayanghh.. Ayo.”

”Lemesshh hiksss… Mas Bii jangan nenen sshhh… Ah! Ngga kuaathh.. Mas Biii Ahhhh!”

Bright melepas lumatannya pada noktah Metawin. Ia cengkram pinggang ramping sang suami, lalu kembali fokus untuk menghentak.

Keduanya berpacu dengan waktu. Gerakannya begitu serampangan dan sangat cepat. Tubuhnya bermandikan peluh dan wajahnya saling memerah.

Bright kembali mengerang ketika penisnya mulai membesar. Pinggulnya jadi semakin bergerak cepat karena pelepasannya akan segera sampai.

Maniknya menatap kedua noktah Metawin yang mencuat, lantas dengan sangat gemas, ia sesap begitu kuat.

”AHHHH!”

”MASHH NGHHH… KONTOLNYA AHH! MAKIN GEDE UGHH MAS BIIIIH PUTING META!”

”AHH HIKSSS… NGGA KUAT HIKSS… MAS BII NGGA KUAT HIKSSS… MAU DIGENJOT LEBIH DALEM NGHH… MAS BIIIH AHH! MAS BII GENJOT…”

”MASS HIKS.. MAS BII PENGEN DIGENJ—

BRUKK!!

Bright segera mengubah posisi menjadi mengungkung Metawin. Tanpa basa-basi, penisnya kembali dilesakkan. Tubuhnya juga langsung memeluk Metawin erat. Lalu dengan nafsu yang sudah memuncak, pinggulnya bergerak untuk menghentak lebih dalam.

JLEEBBBB!

”AHHHH!”

Metawin sampai tersentak. Kepalanya mendongak sehingga membuat leher jenjangnya yang belum terjamah, menarik perhatian Bright.

Sembari terus menghentak dalam, Bright menyesap kuat di satu titik ceruk leher Metawin. Bermaksud meninggalkan bekas, sebelum beranjak menjilat dan mengulum cuping si manis.

”MASHH HIKSS… MAU KELUAR NGHH… GELII AH!! TELINGA META SHHH… AHHHH…”

”KONTOLNYA ENAK BANGETHH HIKSS… ENAAKK HIKSSS… MAU KELUAR —AH! MAS BII MAU KELUAR NGHHH…”

”AHHHHH!”

”Fuck!”

JLEEBBB*

”AHHHH!”*

Metawin kembali mengejang, ketika pelepasannya sampai untuk yang kedua. Perutnya melilit dan nafasnya begitu terengah. Tapi di atasnya, Bright tak kunjung berhenti untuk bergerak.

Dekapan keduanya terlepas. Bright membawa kedua kaki Metawin agar tersampir pada bahunya. Sebelum kembali menghentak untuk mengejar pelepasan Bright.

”AHHH! MASSHHH… NGILU AHH!”

”S-Sebentar nghh.. Ahh…”

”DALEM BANGETTHH NGHHH HIKSSS… KONTOLNYA MAKIN GEDE —AHHH!”

”MASSHH AAHHHH…*

Tubuh Metawin terus tersentak. Tangannya berusaha mencengkram sofa sebagai pelampiasan nikmat. Penis Bright semakin membesar dan precum mulai terasa mengalir di lubang hangatnya.

Hentakan demi hentakan terus diberikan, hingga tak lama, Bright sampai pada pelepasannya yang kedua.

Bersamaan dengan pelepasan Metawin yang ketiga.

JLEBBBBBB!!

”AHHHHH!”

”Ahh!”

Tubuh keduanya mengejang. Kaki Metawin bergetar hebat. Sperma Bright menyembur cukup banyak pada lubang Metawin dan beberapa terlihat mengalir keluar.

Sperma Metawin keluar membasahi perutnya. Bercampur dengan peluh yang membanjiri tubuhnya.

Lantas dengan gerakan lembut, Bright membuka lebar kaki Metawin. Dibersihkan sperma yang mengotori perut rata Metawin dengan kemeja miliknya. Sebelum didekap erat dan dikecupi lehernya.

**”Mas Bii capek hhh… Capek bangethh…” Keluh Metawin, seraya memeluk erat tubuh sang suami.

CUP

Bright mengecup cuping Metawin. Ia mengakui jika permainan kali ini begitu panas. Terasa melelahkan tapi nikmatnya luar biasa.

Mungkin karena sudah lama tidak melakukan, jadi hari ini seperti dipuas-puaskan.

”Sakit banget ngga?” Tanya Bright lembut, sembari mengusap surai hitam Metawin.

”Tadi pas pertama perih… Lubang Meta sempit lagi, Mas Bii…” rengek Metawin sebal.

”Enak, Sayang.”

CUP

”Ish mesum!”

”Suka tapi ‘kan?” kekeh Bright seraya menatap Metawin yang wajahnya banjir oleh peluh.

”Huum suka. Enak… Kontol Mas Enak. Meta suka digenjot pake kon—

CUP

”Kebiasaan ngomong jorok terus.” Potong Bright cepat, seraya mencubit gemas ujung hidung Metawin. Sedangkan Metawin, hanya tersenyum malu dengan wajah yang kian merona semu.

Diusap lembut surai hitam Metawin, lalu sedikit dibersihkan wajahnya dari keringat. Kecupan kupu-kupu juga diberikan, sebelum kembali untuk saling melumat.

”Nghh…” Metawin melenguh, ketika lidahnya disesap kuat.

Langit-langit mulutnya terasa digelitik manja, sebelum kembali beranjak menyesap bibir sintalnya. Kedua tangan Metawin jadi terangkat, melingkar manja pada leher yang lebih tua.

Keduanya larut dalam pagutan. Sampai Bright memilih untuk kembali memasukkan penisnya yang setengah tegang.

”NGHH!”

”Lagi ngga?” Bisik Bright, setelah pagutan keduanya terlepas.

Metawin yang ditanya dengan tatapan menggoda serta senyuman nakal, sontak mengulum senyuman salah tingkah. Namun, tetap saja kepalanya mengangguk cepat.

Lantas hal itu membuat Bright tersenyum senang. Ia pun kembali meraup bibir sintal si manis, seraya menghentak kuat.

JLEBBB!

”MMPHHH… PWAHH.. HHH AHH.. NGGA MAU DICIUM NGHH… MAU NGEDESAH!” rengek Metawin yang langsung melepas pagutan secara sepihak.

Bright pun menyeringai, suka melihat Metawin jika sudah kelabakan. Ia pun mengabulkan, tubuhnya bangkit dan fokus memberikan hentakan kuat.

”NGHH AHHH!” Metawin mengerang, ketika prostatnya dihantam telak.

”Shh… Enak banget, Sayanghh..”

”HUUM AHH! ENAAKHHH SSHH… MAS BII KONTOLNYA ENAAK… AH!”

PLAKK! PLAKK! PLAKKK!

Berkali-kali paha Metawin diberi tamparan, berulang kali pula sang suami mendesah kencang.

”NGHH AHHH! MAS BII HIKSSS… LAGIHH AH! GENJOT LAGII…”

”Sempit banget shhh… Fuck!”

”AHHHH!”

”Ketatin nghh, Sayanghh..”

Metawin menggeleng heboh. Ia tak kuasa mengetatkan lubangnya karena hentakan sang suami terasa sangat dalam. Boro-boro mengeratkan jepitan, bisa bernafas dan mendesah saja Metawin bersyukur dalam benak.

Kedua kakinya kini bergetar, perutnya terasa kembali melilit padahal lubangnya baru dikerjai sebentar. Begitu sensitif sampai pelepasannya cepat sekali datang.

”MASHH A-AMPUNN HIKSSS… KELUAR AHH! MAU KELUARR NGHHH… MASSHHHHH…”

”Sensitif bangeth, hm?”

”MASSHH AHH! DALEM BANGET! M-MAU KELUAR NGHH… MAU KELU— AAAAHHHHH!”

JLEEEBBBB

SLURRRTTTHH

Tubuh Metawin kembali mengejang. Tangannya mengepal kuat dan kakinya bergetar hebat. Spermanya membasahi perut dan sedikit mengenai sofa.

Wajahnya merona padam dengan bibir sedikit bengkak. Desahannya masih mengalun indah dan lubangnya menjepit penis Bright kuat.

Sukses membuat Bright hilang kendali dan mengubah posisi Metawin jadi menungging.

PLAKKK!

*”Nghh Masshh.. Seben— AHHH!”**

BLESSSS

Tahu sang suami begitu sensitif, Bright mencoba bermain pelan. Ia gerakan penisnya dengan perasaan, sampai pelepasan Metawin selesai untuk dikeluarkan.

”Udah, hm?” Tanya Bright, seraya mengecupi punggung cantik milik suaminya.

”U-Udah nghh… Mashh.. Kencengin, genjot lagi, Ah! Ayo.. Genjot Meta lag— AHHH!”

Mendengar permintaan Metawin, Bright tentu mengabulkannya. Pinggulnya kembali bergerak cepat dan sangat dalam. Tubuh Metawin tersentak ke depan sampai tak lama mulai terlihat lemas.

Bokongnya semakin terangkat tinggi karena bantal di hadapan Metawin digunakan wajahnya untuk bersembunyi.

Semakin membuat Bright semangat dalam menggempur lubang si manis.

JLEBBB!

”NGHH AHH!“

”Sshh.. Masih sempit! Enak bangetthh.. Meta paling enak ngh… Lubang Meta paling enak.”

PLAKKK!

Sukses membuat Metawin, meremang sebadan-badan. Bright jarang berbicara seperti itu. Tapi jika pujiannya sudah mulai terlontar jelas, itu artinya nafsu Bright sedang berada di puncak.

Libidonya lebih meningkat dari biasanya, sampai Bright sendiri tak mampu mengendalikannya. Hal itu, tentu membuat Metawin merinding dan meremang sebadan-badan.

Karena suara Bright akan terdengar sangat seksi, tapi penuh kelembutan di waktu yang bersamaan.

JLEBBBB

”AHHH!”

Kembali disadarkan setelah terlena oleh pujian yang lebih tua. Merasa penis sang suami mulai membesar, Metawin pun berusaha mengetakan lubangnya semampu yang ia bisa.

”SSHH FUCK! SAYANGHH, AHHH…”

Metawin tersenyum penuh kemenangan. Bright memekik karena lubangnya menjepit penis Bright lebih erat. Bahkan, genjotannya terasa kian dipercepat.

Perut Metawin rasanya kembali ngilu dan spermanya siap untuk keluar.

PLAKKK!

”Taa nghh.. Kamu sempit bangethh.. Ahh.. Sayanghh.”

”MAU KELUAR NGHHH… MAU KELUAR LAGIHH.. MASSHHH AHHH!”*

”TERLALU CEPETT NGHHH NGGA BISAA AHHH… META NGGA KUAATHHH MASSHH…”

**Sshh ahh.. Keluarin nghh… Keluarin semua, Sayaanghhh…” Titah Bright yang temponya kian serampangan.

Metawin pun jadi semakin menggeliat tak karuan. Demi Tuhan, tubuhnya terasa sangat lemas dan precumnya keluar mengotori sofa.

Lantas saat lubangnya mendapat tiga sodokan kuat, perutnya langsung melilit tapi Metawin justru memekik. Karena ia justru mengeluarkan air mani, yang mana hal itu selalu membuat Bright menyeringai dan merasa bangga luar biasa.

Alhasil?

JLEEBBBB

”A-AAHH MASSHHH.”

”Cantik bangetthh Meta kalo sampe pipis… Shh.. Ahhh!” 
Bright selalu suka Metawin yang kelojotan hingga mengeluarkan air kencing. Bright suka melihat tubuh Metawin gemetar karena ulahnya.

Dan ia juga suka, melihat Metawin kembali sampai pada pelepasannya akibat hentakan kuat dari penis gagahnya.

”M-META KELU— AHHHHH!”

PLAAKKK!

”Fuck!”

Bright tak mampu bertahan lebih lama. Spermanya ikut keluar tapi tak membuat tubuhnya berhenti untuk menghentak.

Ia terus menggenjot Metawin yang masih berusaha menyelesaikan pelepasannya. Begitupun pelepasannya, yang masih berusaha dikeluarkan pada lubang Metawin.

”Shhh Ahh…”

”MASSHH AHHH.. NGILU NGHHH ENAAKK AHHH! MASSHHH”

”Bentar lagi, ngh..”

Bright menarik Metawin agar menegak. Didekap tubuh sang suami dengan sangat erat. Lalu dicubit kuat kedua noktahnya, sampai Metawin terlihat membusungkan dada karena terlalu nikmat.

Posisi penyatuan seperti ini, membuat penis Bright semakin intens menjamah lubang sang suami yang berkedut hebat.

”Mashh nghh.. Ahh! Enaak nghhh… Jilat leher Meta nghhh Ah! Dadanya sshhh… Mas Biiih Meta lemes sshhh Ah!”

Bright belum puas, ia masih masih terus menggenjot sembari meremat dada padat Metawin dan menyesap leher jenjangnya.

”Sshh.. Masshh Biii… Ayo sekali lagih nghh… Aahhh! Tapi yang nghhh.. Cepet, AHHH!”

”As you wish, Sayang.”

CUP

Bright benar-benar mengabulkannya. Tetap dengan posisi seperti itu, pinggulnya kembali bergerak cepat.

Kedua tangannya memilin dan mencubit kedua noktah Metawin, sementara ranumnya terus menyesap tengkuk si manis.

Metawin yang diberondong kenikmatan bertubi-tubi, tak sanggup bertahan lama. Penisnya kembali mengeluarkan precum karena lubangnya sangat sensitif dan nikmatnya kali ini terlalu banyak.

Metawin kelojotan dan kakinya bergetar hebat. Lubangnya mengetat membuat Bright di belakang mendesis pelan.

”AAMPUN HIKSSS… TERLALU ENAAKK HIKSSS… JANGAN AHH! JANGAN DIMAININ SEMUA NGHHHH MASSSHHH…”

”KONTOL MASHH NGHHHH… KONTOL MASS TAMBAH GEDE… NGGA BISAA HIKSS.. KEBANYAKAN ENAKNYA NGHHH.. MASSHH!”

”Sshh… Sayanghh ahh.”

”META MAU KELUAR SSHHH AHHHH! MAU KELUAR! META MAU KELUAR NGHHHH…. MASSHHH!!”

JLEEBBB

”AAHHHHH!”

”SHH FUCK!”

Tubuh keduanya mengejang hebat. Metawin mendongak dan dadanya membusung ke depan. Tubuhnya sudah lemas bukan makn tak mampu lagi untuk bertahan. Begitupun Bright yang lelah luar biasa.

Keduanya ambruk dan saling menindih di atas sofa. Beruntung sofa di ruang keluarga besar. Bahkan cukup luas sampai keduanya tak perlu merasa kesempitan ketika melakukan penyatuan berkali-kali hingga melemas.

”Nghh, Mashh.” Lenguh Metawin karena penis Bright masih menancap pada lubangnya. Bahkan, jadi lebih terasa tertekan dalam menyentuh prostatnya.

”Keluarin nghh… Masshh… Nanti Meta mau lagi.” Ucap Metawin, mengantisipasi.

Sedangkan Bright yang mendengar, terkekeh pelan. Ia kecup pipi Metawin yang merona. Sebelum mengusakkan hidungnya pada tengkuk yang lebih muda.

”Kalo mau lagi, main lagi.” Bisik Bright nakal yang berhasil membuat Metawin membelalak.

”IIII MAS BII!”

”Haha.”

Bright selalu suka menggoda suaminya. Karena Metawin akan terlihat sangat menggemaskan dengan alis menyatu dan bibir mempout lucu.

Lantas ia memilih untuk beristirahat barang sejenak, seraya mengubah posisi menjadi menyamping dengan Metawin yang membelakanginya..

Lagi-lagi, tanpa melepas penyatuan keduanya.

Bright dekap erat tubuh Metawin yang berada di hadapannya. Seraya terus mengecup tengkuk sang suami dan bermain pada noktahnya.

”Nghhh…”

Metawin kembali mengerang. Ketika Bright tak henti-hentinya memberikan rangsangan.

Titik sensitifnya terus saja dijamah. Hingga penisnya kembali tegang dan keinginan untuk digagahi menyelimuti hati kecilnya.

Demi apapun, Metawin merutuki dirinya yang mudah sekali terangsang oleh sentuhan Bright.

”Tegang lagi, hm?” goda Bright yang merasakan jika lubang sang suami kembali berkedut hebat.

Metawin memejamkan matanya, ketika Bright semakin berani meremas kuat dada padatnya. Bahkan, cuping telinganya mulai dikulum dan disesap.

Jika sudah begini, siapa yang akan tahan?

”Lagi nghh… Mau lagih… Massh lagih.. Genjot Meta lagihh.. Sshh ahhh! Enaak nghh… Genjot, Masshhh.”

Di belakang, Bright terkekeh pelan. Suaminya kembali meminta diisi, meskipun sudah keluar berkali-kali.

Bright mengangguk, karena penisnya pun sudah kembali menegang di dalam lubang Metawin. Lantas tanpa menunggu lagi, Bright kembali bergerak. Menumbuk titik si manis, tapi kali ini dengan permainan yang lebih lembut, tidak sekasar tadi.

BLESS

”Nghhh… Masshhh…”

”Pelan aja ya? Nikmatin… Enak, hm?”

”Huum! Enak bangeethhh sshh Ah! Kontol Mas enak nghh… Uratnya kerasa sshhh… Ahhhh… Pelan tetep enak nghh…”

”Prostat Meta ughh… Masshhh…”

Bright menyeringai puas. Sangat puas malah. Ia selalu suka mendengar pujian dari belah bibir Metawin ketika sedang bercinta.

Rasanya, jadi lebih merangsang dan menggoda.

Lantas sebagai bentuk apresiasi, Bright memainkan noktah si manis. Lidahnya juga tak tinggal diam, ia terus menyesap dan meninggalkan banyak bekas merah tanda kepemilikan biologis.

Tidak memusingkan putra dan putri kecilnya yang mungkin akan bertanya perihal leher Metawin yang memerah, Bright kali ini sedikit ingin lebih memanjakan sang suami yang sudah lama tidak ia jamah.

”Nghh.. Mas Biii Ahhh… Enaak nghh…”

”Genjot lagii ssshh… Sodok Masss, Meta pengen digenjot…”

BLESSSS

”Aahhhh…. Enaaakk nghh… Kontol Mas enakk hikss… Enak bangeethhh huhu… Meta keenakan sshhh.. Masshhh…”

”Jepit, Sayangh. Ketatin, nghh…”

”Ayo genjot, nghhh… Mau keluar… Pengen digenjot! Mas Bii genjot, ayoo genjot kontolnya.. Nghhh, Massshhh…”

JLEEBBB

”AH!”

Keduanya kembali larut dengan pergumulan panas yang berubah menjadi liar. Tak ada lagi kelembutan seperti semula, karena Metawin ingin digenjot dengan sedikit kasar agar prostatnya terhantam telak.

Bright tidak keberatan, bahkan ia juga menyukainya.

Maka pinggulnya kini bergerak konstan. Menumbuk titik terdalam Metawin sampai kaki si manis kembali terasa bergetar.

”MASHH NGHHH… MAU KELUAR AAHHH! MASSHH SAYANGHHH… MAS SAYANGGG MAU KELUAR AHHH!“

”Bareng sshh… Ketatin, Ah!”

Metawin mengabulkannya. Lubangnya kian menyempit dan membuat Bright semakin bergerak liar. Genjotannya kian di perdalam, sampai bunyi pertemuan antar paha dan bokong Metawin, terdengar keras.

”NGGA KUAAAT AHHHH! BENERAN LEMESS NGHHH MASSHHHH… MAU KELUARR NGHHH —AHHHHH!”

Metawin sampai untuk yang kesekian kalinya. Lubangnya berkontraksi hebat dan membuat Bright kelimpungan karena penisnya semakin dijepit kuat.

”Sshhhh, Sayaanghh..”

”UDAH MASSHHH… CAPEK AHH! MASSHH! KONTOLNYA GEDE BANGETHH AHH.. MASSH BIII NGHHH AAH!”

”Sayanghh sshh… Mas —Ah!”

Bright mengejang dengan sperma yang kembali memenuhi lubang si manis. Terasa sangat hangat dan membuat Metawin memejam rapat.

Nafas keduanya terengah bukan main akibat permainan panas yang luar biasa.

Pinggang Metawin terasa seperti remuk karena terus digenjot tanpa mengenal lelah. Sedangkan Bright, seluruh tubuhnya terasa pegal.

”Sshh hhh… Capek hhh… Capek bangethh nghhh…”

Metawin melemas. Bokongnya segera menjauh dari penis Bright atau dirinya akan kembali digempur dan tubuhnya semakin terasa remuk tidak karuan.

Bright yang melihat Metawin was-was, jadi terkekeh pelan.

”Gemes banget, hm.” Ucap Bright, seraya mengecup pipi yang lebih muda.

Metawin pun membalik tubuhnya jadi menghadap Bright. Ia lingkarkan kedua tangannya pada leher yang lebih tua. Sebelum bermanja-manja dengan mengusalkan wajahnya pada dada bidang lelakinya.

”Capek ya?”

”Mas Bii.. Meta lemes nghh… Nanti kalo ngga bisa jalan gimana?” Cicit Metawin, manja.

”Mas gendong nanti kalo ngga bisa jalan.”

”Hnghh, Masss…” Rengek Metawin, semakin manja.

”Apa, Sayang?” Tanya Bright lembut.

Metawin pun mendekatkan ranumnya pada telinga Bright. Dikecup singkat cuping yang lebih tua, sebelum dibisikkan sesuatu yang berhasil membuat Bright gemas tak tertahankan.

”Mas Bii kontolnya enak, gede! Meta suka!”

PLAKKK!

”Ah! Hnghh, Mas Biiiiiiiiiiii.”

”Salah siapa ngomongnya jorok terus, hm? Godain Mas terus, hm? Nakal ya suami Mas sekarang? Nakal banget ini nakal?”

”AAAA GELI AA HAHAH… LEHER META… MAS BII GELI HAHA…”

”Godain Mas terus, hm? Mau dikelitikin ya? Sini Mas kelitikin.”

”AA HAHA AMPUN.. MAS BII GELI HAHAA… UDAAAAHHHHH…” Rengek Metawin manja, dengan gelak tawa yang terdengar renyah.

Bright pun ikut mengulum senyuman, ia senang melihat suaminya tertawa lepas dan bahagia dengan candaan sederhana.

Lantas Bright dekap dengan erat tubuh Metawin yang tak tertutup sehelai benang. Seraya dibubuhi banyak kecupan, pada puncak kepalanya.

”Makasih ya, Sayang? Maaf kalo Mas terlalu kasar. Nanti kalo Meta butuh sesuatu, bilang Mas ya? Mas bakal cuti dulu buat ngerawat Meta.” Ucap Bright, penuh perhatian.

”Iii Mas Bii… Meta gapapa. Ngga perlu sampe cuti, Meta beneran gapapa.” Jawab Metawin, seraya mengusap pipi Bright yang sedikit lengket karena keringat.

”Harus cuti. Mas harus selalu tanggung jawab setelah main sama Meta dan Meta ngga boleh nolak. Karena Mas sayang Meta. Sayaang banget. Mas ngga mau Meta kenapa-kenapa.”

Mendengarnya, Metawin tersenyum haru.

Belasan tahun menikah dengan Bright, sama sekali tak membuat kebiasaan sang suami berubah. Ia masih sama. Lelakinya yang persis seperti dulu. Pria yang akan selalu merawatnya dari hal terkecil sampai hal paling penting.

Tidak pernah menyepelekan sesuatu, meskipun Bright sebenarnya tahu jika Metawin tidak kenapa-kenapa.

Tapi, itulah spesialnya seorang Mr. Pradana.

Selalu mampu membuat Metawin merasa seperti raja, meskipun pernikahan keduanya sudah tak lagi baru seperti beberapa tahun silam.

”Mandi sekarang ngga? Mas gendong ke kamar ya?” Tawar Bright, mengantisipasi jika putra-putrinya pulang lebih cepat.

Namun Metawin, memilih diam. Jemarinnya beranjak turun, menyentuh kembali penis Bright yang sebenarnya sudah tidak menegang.

”Mas…”

DEG

Bright mengerjap, sedikit was-was jika Metawin kembali meminta. Apalagi kini si manis mulai mendekatkan wajah, dan berhenti tepat di depan telinganya.

CUP

Dikecup singkat. Lalu diberi jilatan nakal. Metawin menggesekkan hidungnya barang sesaat, sebelum mulai berbisik hingga Bright berhasil dibuat meremang.

”Karena Mas Bii baik, main lagi sama Meta mau?” Sangat seduktif dan terdengar begitu nakal.

”Meta yang bakal muasin Mas Bii.”

”Kemaren, Mas Bii minta di kolam renang kan?”

DEG

”Ayo di kolam renang.” Bisik Metawin rendah.

Sukses membuat Bright, meremang sebadan-badan.

”Ayo, Mas sayang. Mumpung anak-anak belum pulang. Lubang Meta masih kuat.”

Mendengarnya, Bright memejam rapat.

”S-Sayang—

”Ya udah di sini aja.”

BLESSS

”A-Ah”

”Ayo genjot Meta.”

Demi Tuhan, Bright benar-benar tak tahu harus merespon apa.

”Ya udah, Meta yang gerak.”

JLEEBBB

Selamat tinggal kewarasan.

—End.

Udehhh… Ketagihan bener lo pada 😭😭😭

📍 Kamar Abian – 13.03 WIB


Melewatkan waktu makan siang, Ananta langsung kembali tersenyum sumringah ketika mendapati Abian berkata mau belajar menyentuh tubuhnya. Perasaannya seketika membuncah, semburat merah juga langsung menghiasi wajah. Bibirnya terangkat cantik, dengan mata yang terlihat membentuk bulan sabit.

Siapapun yang melihatnya, pasti akan mengakui, jika Ananta terlihat begitu manis. Bahkan Abian, sampai berhasil dibuat tidak mengedip sama sekali.

Dengan semangat yang membara dalam hati, Ananta langsung bangkit dan mengungkung tubuh sang kekasih. Kedua lututnya berdiri di samping kanan dan kiri. Sedangkan piyamanya yang terbuka, memperlihatkan lekuk tubuh si manis.

Kulitnya begitu putih dan bersih. Dadanya terlihat padat dan cantik. Sedangkan pinggangnya, sangat ramping. Belum lagi paha Ananta yang terlihat mulus dan seksi.

Sukses membuat Abian meneguk saliva susah payah dan nafasnya tercekat di tenggorokan.

Melihat Ananta perlahan duduk di atas perut kekarnya, Abian meremas sprei sangat kuat. Jantungnya bertalu dan darahnya berdesir hangat. Peluh kembali membasahi pelipis dan wajahnya langsung berubah pucat.

Demi Tuhan, Abian payah!

“Mas Biaan...” suara Ananta berubah menjadi begitu menggemaskan. Terlihat malu-malu dengan wajah yang menunduk.

Abian yang dipanggil pun ngeblank dan tak mampu untuk bersuara. Bisa bernafas dan bertahan sadar saja rasanya sudah Puji Tuhan.

Maka dengan perasaan yang membuncah, Ananta segera membungkukkan tubuh dan menindih Abian dengan sempurna.

DEG

Abian langsung memejam. Mengumpat sebanyak-banyaknya di dalam benak, ketika tubuh ramping Ananta menempel sempurna pada tubuhnya.

Deru nafas Ananta yang menyapu leher jenjang Abian, berhasil membuat sang pemilik apart meremang. Bahkan, nafasnya sampai di tahan agar perasaan gugup dalam hatinya, tidak kembali mengacaukan keduanya.

“Mas Bian coba sekarang peluk Ata.” Bisik Ananta, tepat di cuping yang lebih tua.

“P-Peluk?”

“Huum! Ayo peluk. Peluk Ata, tangannya peluk pinggang Ata. Kata Om Meta, kalo pelukan kaya gini, Ata peluk leher Mas Bian, Mas Bian peluk pinggang Ata.” Jelas Ananta, terlihat seperti sangat paham akan ajaran dari Metawin.

Abian kembali dibuat terdiam seribu bahasa. Demi Tuhan ini tidak semudah yang ia bayangkan. Bahkan, sekedar pelukan saja rasanya begitu susah.

Abian mau nangis aja!

“Mas Bian kok diem? Sini tangannya, peluk Ata.”

DEG

Abian memejam rapat, bibir bawahnya digigit kuat. Tubuhnya mendadak kaku tepat ketika Ananta menuntun kedua tangannya agar memeluk pinggang ramping yang lebih muda.

Abian sungguhan ingin kabur!

Masalahnya... Ananta melingkarkan tangan Abian pada pinggang Ananta, saat piyama yang digunakan si manis sudah tersingkap seluruhnya.

Alhasil, Abian langsung menyentuh pinggang mulus yang lebih muda.

“TUHAN PLEASE, PLEASE, PLEASE, BIKIN GUE PINGSAN SEKARANG!”

“GUE NGGA MAU NGOMPOL LAGI, PLEASE! PERUT GUE GELIIIIIII!!!”

“Mas Bian, jangan gemeteran tangannya. Kok kaya mau disunat sih? Gemeteran banget, kulit Ata lembut kok.”

“TUHAN, APA GA KASIHAN SAMA HAMBA-MU INI?!!! GUE BENERAN TREMOR DEMI TUHAN!”

DEG

“Nah, peluk Ata kaya gini ya? Sekarang Ata yang peluk Mas Bian! Belajar pelukan dulu ya Mas Bian? Biar nanti pas pegang susu Ata tangan Mas Bian ngga kaya lagi disetrum, gemeteran. Hehehe.”

“FUCK! MALU ANJING!!!!!!!”

“Ah!”

“Eh, Mas Bian kenapa?”

“TITIT LO KENA TITIT GUE ANJING!! CUKUP, PLEASE! JANGAN GERAK HIKS!”

“Mas Bian...”

“E-Eh... o-oh, i-iya, a-anu, gapapa. H-He-he, g-gapapa, Ta.” Jawab Abian, persis seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.

“Ata peluk Mas Bian ya?” Izin Ananta, dengan suara yang begitu semangat.

Apa daya, Abian hanya mampu untuk mengangguk pasrah, karena ranumnya tak lagi mampu untuk mengeluarkan suara.

“YEAY! AYO PELUKAN!”

Ananta dengan begitu mahir, melingkarkan kedua tangannya pada leher yang lebih tua. Jemarinya yang begitu lentik, mengusap rambut Abian dengan sangat sensual. Sedangkan wajahnya, mulai bersembunyi pada ceruk milik lelakinya.

“Wangi... Mas Bian wangi..” Lirih Ananta, seraya menggesek lembut hidungnya pada leher yang lebih tua.

Sukses membuat Abian meremang sebadan-badan.

Tidak cukup sampai di sana, Ananta juga memberi satu kecupan singkat pada leher milik Abian.

CUP

DEG

Abian menegang.

Tidak hanya satu, Ananta kini memberikan kecup bertubi-tubi. Seolah ingin menjamah seluruhnya, meskipun gerakannya masih sedikit amatian.

“T-Ta...” dengan nafas tercekat dan bibir pucat, Abian memanggil sang kekasih diiringi suara bergetar.

“Mas Bian jangan diem aja, coba elus-elus pinggang Ata.”

Mampus!

Abian diam begini saja peluhnya banjir, ini malah disuruh acara elus-elus. Kali ini beneran gapapa dibikin pingsan aja.

Abian ngga akan marah sumpah!

“Mas Bian... kok ngga mau? Pinggang Ata jelek ya?”

“DEMI TUHAN INI KAGA ADA YANG MAU NOLONG GUE APA?!”

Abian diam memejamkan mata. Jangan ditanya seberapa kacau keadaan sang pemilik apart. Sudah tidak karuan karena bernafas saja Abian susah payah.

“Mas Bian kalo ngga mau janga dipaksa, gapapa kok. Mas Bian tidur sendiri aja ya.”

GUSTI!

SRET

BRUKKK!

DEG

“ANJINGGGGGGGGGGGGG!”

“O-Oh, Mas Bian maunya pegang susu Ata ya?”

DEG

Abian mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. Berniat menahan Ananta agar tidak pergi, ia justru menarik tubuh Ananta dan langsung menggenggam erat dada padat milik sang kekasih.

Tubuh Ananta didekap dari belakang, dan tubuh keduanya merapat sempurna.

“Hihi, Ata pikir Mas Bian ngga mau pegang susu Ata. Ternyata semangat!”

“KAGA BEGITU BOCIL, ANJIR!”

“Sini, Mas Bian. Pijat dada Ata!”

Senyum si manis sudah kembali tersungging. Terlampau senang karena Abian mau menyentuh tubuhnya dengan segenap hati. Tak tahu saja ia, jika Abian di belakang mati-matian menahan diri. Apalagi kini kedua tangan Ananta menggenggam erat jemari Abian. Seolah membantu Abian dalam memainkan dada padatnya.

“Mas Bian, pijat lagi kaya gini.”

Demi apapun, sudah tidak ada lagi kata yang mampu untuk menjelaskan keadaan Abian. Karena tepat ketika Ananta menuntun tangannya untuk memijat dada si manis, Abian melemas.

“Ngh... Mas Bian... Mas Bian geli, l-lagi nghh... mau diteken lagi.”

Mampus! Mampus! Mampus!

Abian tak mampu berkutik ketika Ananta semakin asik memainkan dadanya dengan jemari panjang milik Abian. Mulai dari kegiatan meremas hingga mencubit puting. Dari yang awalnya hanya erangan sampai berganti jadi mendesah.

Sedangkan Abian hanya mampu diam.

Tak berkutik.

Mematung.

Tercekat.

Dan yang terakhir...

DEG

“MAS BIAN KOK NGOMPOL LAGI?!!!!”

Selamat tinggal harga diri.

Abian dan Ananta mengambil posisi duduk berhadapan di atas kasur. Maniknya saling menatap dengan perasaan masing-masing yang susah dijelaskan. Keduanya merasa senang karena hari pertunangan semakin dekat, tapi di sisi lain, sedikit terganggu dengan finansial yang belum dibicarakan.

Abian pun cukup deg-degan, karena ini salah satu faktor sensitif dalam sebuah hubungan. Tapi, daripada tidak jujur, lebih baik terbuka dari sekarang ‘kan?

“Mas Bian kok mukanya tegang?”

Wajah polos dengan mata membulat lucu, berhasil membuat Abian semakin gugup. Ananta bertanya tanpa tahu jika dirinya bingung setengah mampus.

Tapi ya… bodo amat deh. Semakin dipikir malah semakin pusing. Toh niat Abian baik, semoga Ananta mau ngerti.

“Mas Bian kenapa? Mas Bian sakit? Kok diem aja?”

“Em… Ata…” Panggil Abian, takut-takut.

“Kenapa, Mas Bian?”

“Itu, Bian mau ngomong sesuatu.” Ucap Abian seraya mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin.

Ananta sedikit mengernyit, bingung dengan sikap Abian. Kenapa tiba-tiba kaya orang bingung? Ananta kan ngga ngapa-ngapain?

“Mas Bian mau ngomong apa? Kok mukanya gitu?”

Abian pun menghela nafas panjang, meyakinkan diri untuk yang terakhir kali, sebelum mulai menatap yakin ke arah sang kekasih.

“Ata.”

“Iya, kenapa Mas Bian?”

“Bian mau ngomongin masalah acara tunangan, boleh?”

“Boleh, Mas Bian mau ngomong apa?”

“Ata.”

“Heu manggil nama Ata teru—

“Kalo Bian cuma punya tabungan 3M buat bikin acara tunangan, Ata marah ngga?”

“Tapi Ata juga punya tabungan buat tunangan, Mas Bian.” Jawab Ananta, dengan nada yang enak didengar.

“T-Tabungan?”

“Huum! Ata punya tabungan!” Sangat ceria dan antusias.

Abian yang mendengar, semakin gugup tidak karuan. Peluhnya sampai menetes membasahi wajah. Memang tidak ada yang salah mengenai Ananta yang juga punya tabungan untuk acara pertunangan.

Tapi, kenapa dirinya semakin merasa gugup?

Takut-takut, Abian tatap manik Ananta yang terlihat cantik karena pantulan cahaya. Sebelum akhirnya berani bertanya dengan begitu sopan.

“A-Ata punya tabungan berapa buat tunangan?”

“ATA PUNYA TABUNGAN 7 MILIAR! YEAAY!”

Deg.

Dua minggu berlalu sejak keduanya terpaksa dipisahkan terlebih dahulu. Hari ini, waktu yang dinanti telah tiba. Hari yang sudah keduanya perjuangkan selama dua tahun; melewati hujan dan badai, manis dan pahit, sehat dan sakit, serta beberapa situasi yang begitu istimewa dan di luar kendali.

Dua cincin yang diletakkan di dekat panggung, menjadi bukti konkret jika sebentar lagi, akan ada pengikatan dua orang lelaki yang disaksikan oleh langit.

Para tamu undangan pun sudah mulai berdatangan sejak pagi, menanti acara utama dengan sepenuh hati.

Suara hiruk piruk para kolega yang turut berbahagia, terdengar saling bersahutan layaknya sebuah doa yang dipanjatkan.

Membuat dua keluarga yang mempunyai acara, saling melempar senyum dengan makna sangat bahagia.

Alunan melodi yang terdengar indah juga ikut meramaikan suasana bahagia di bawah cerahnya suasana kota.

Ditemani hijaunya tumbuhan milik alam semesta, serta harumnya bunga yang terlihat bermekaran, acara penyatuan dua lelaki yang begitu sakral, sebentar lagi akan segera dimulai.


Ananta.

Pria yang lebih muda dari calon tunangannya, kini tengah memejam rapat, dengan tangan mengepal erat serta bibir digigit kuat. Duduknya begitu tegap, wajahnya sedikit pucat. Sedangkan jantungnya berdegub sangat cepat.

Sudah sedaritadi dirinya menatap cermin, tetapi rasa percaya dirinya terus saja berlari-lari. Padahal tadi, ia sudah merasa sangat manis. Tetapi selang beberapa detik, ia justru merasa jauh dari kata cantik.

Huft…

Efek gugup yang melanda hati, cukup membuat Ananta pusing tujuh keliling. Ia tidak pernah menyangka, jika gugupnya akan menghebat seperti ini.

Untung, ia tidak sampai banjir peluh. Sehingga make upnya tidak luntur, pun parfumnya masih menguar harum.

“Sayang, udah siap, nak?”

Pertanyaan kesekian kalinya dan Ananta masih tetap setia menjawab dengan kalimat sama, “A-Ata siap. Tapi jantung Ata, kaya ngga siap.”

Sukses memancing gelak tawa sang bunda yang begitu gemas dengan tingkah putranya.

“Bun, Ata udah ganteng belum? Ata ngga malu-maluin kan?” Tanya Ananta, masih merasa was-was.

Davika pun akhirnya mendekat. Lalu mengajak sang putra untuk bertemu tatap. Ditangkup wajah manis milik Ananta, seraya ditatap lembut penuh akan sayang.

“Anak bunda manis, ganteng, cantik. Ngga kurang dan lebih. Cukup. Cocok banget sama putra kesayangan Bunda. Make upnya natural, pakaiannya ngga kebesaran, Ananta sempurna, Abian pasti suka.”

BLUSHH!

Wajahnya langsung merona padam. Tersipu malu sampai kepalanya memilih untuk menunduk. Ananta tak kuasa menahan gemuruh yang kini menyerangnya secara terus-menerus.

Davika yang melihat tentu mengulum senyum. Diangkat dagu sang putra agar maniknya bertemu, sebelum menarik nafas panjang dan mulai kembali berbicara.

“Ngga kerasa ya? Anak bunda udah besar. Sekarang udah mau tunangan dan ngga lama lagi pasti menikah.”

“Kayanya baru kemarin anak bunda lahir terus nangis karena laper minta susu. Sekarang justru udah dadan manis, siap diikat sama lelaki lain.” Ucap Davika, terdengar lembut, dengan manik yang terlihat berkaca-kaca.

“Sekarang Ata udah mulai buka lembaran baru. Dengan status yang berubah, dan teman hidup yang berbeda. Bukan sama ayah bunda lagi, tapi sekarang sama Abian.”

“Nak, anaknya bunda, kesayangan bunda, separuh dari hidup bunda, bahkan hidup dan matinya bunda—“

“—bahagia terus ya?”

“Bahagia selalu, meskipun sekarang Ata udah ngga tinggal sama ayah dan bunda.”

“Bahagia selalu meskipun sumber bahagia Ata sekarang bukan ayah dan bunda.”

“Bahagia selalu meskipun nanti, dalam perjalanan kalian berdua, bakal tetap ada badai yang nguji hubungan kalian.”

“Bahagia ya, nak? Tolong selalu bahagia.”

“Ata jaga diri baik-baik ya? Karena sekarang bunda udah ngga bisa ngawasin Ata kaya waktu Ata masih kecil.”

“Ata sekarang punya hidup baru, yang menuntut Ata untuk bisa bersikap bijak dan dewasa.”

“Bunda minta maaf ya? Kalo selama ini belum bisa jadi bunda yang baik buat Ata.”

“Satu pesen bunda buat Ata, baik-baik ya sama Abian? Kalo ada masalah, diskusikan. Kalo ada selisih pendapat, bicarakan dengan tenang. Jangan main tangan, jangan bentak-bentak.”

“Kalo ada yang salah, tegur baik-baik. Jangan terus pakai emosi, lebih legowo, sabar, dewasa.”

“Ya, sayang?”

“Bunda selalu berdoa sama Tuhan, semoga Abian orang yang akan jadi pelabuhan terakhir Ata, sampai maut nanti yang memisahkan kalian.”

“Kalo nanti ada hal yang ngga diinginkan, bilang sama bunda ya? Bunda akan selalu siap jadi rumah untuk Ata, apapun dan gimanapun kondisinya.”

“Karena Ata akan selalu jadi anak kesayangan bunda, meskipun sekarang Ata udah terikat sama Abian.”

“Oke, Sayang?”

Ananta tidak karuan, air matanya mengalir deras. Tiap kata yang keluar dari belah bibir sang bunda, seperti menyerang memorinya untuk kembali ke masa lampau. Masa kecil yang begitu indah dan bahagia. Tanpa beban berat yang harus dipikul pundak.

“Sayang, kok malah nangis? Jangan nangis, nak. Sini, peluk bunda aja.”

Keduanya saling mendekap erat, seolah tidak ada hari esok untuk kembali bertemu tatap.

Ada seorang ibu yang menitihkan air mata karena merasa sesak akan melepas anak semata wayangnya. Tapi di satu sisi, ada seorang putra yang juga merasa keberatan ketika akan pergi jauh dari ibunya.

Suasana haru bercampur sendu, kini menguar pekat di antara keduanya. Isak tangis sedih dan bahagia, menyatu tipis, tak mampu dibedakan.

Ananta tahu ini bukanlah momen dirinya akan dinikahi oleh Abian. Tapi, acara pertunangan juga nyatanya mampu membuat dirinya merasa seperti akan dilepas sepenuhnya oleh sang ayah dan bunda.

“Bunda, makasih banyak ya udah ngerawat Ata. Ata minta maaf masih banyak salah sama bunda. Maaf kalo Ata belum bisa bahagiain bunda. Maaf kalo Ata terlalu cepat tumbuh dan sekarang siap untuk memiliki pasangan.”

“Tapi, bunda harus tau, Ata akan selalu jadi bayinya bunda. Ata akan selalu bersikap manja kalo sama bunda.”

“Bunda jangan bosen ya kalo Ata manja terus ke bunda? Soalnya Ata suka disayang bunda. Ata suka diusap-usap bunda, Ata nyaman dipeluk bunda, heuu bundaa… Atanya cengeng hikss…”

“Sayang… kok malah tambah nangis. Cup cup, anak ganteng bunda nanti make up nya luntur loh.”

“Heu, Bunda hikss… Ata sayang bunda hikss…”

“Bunda juga selalu sayang sama Ata. Anak gantengnya bunda.”

“Bunda hikss…”

“Udah ngga boleh nangis. Bentar lagi acaranya mulai, Sayang. Sini bunda rapihin lagi, biar pas ketemu Abian, anak bunda ganteng banget!”

“Heu bunda hikss… jangan godain Ata hikss…”

Davika terkekeh pelan. Meskipun hatinya merasa tidak karuan. Ia bahagia, tapi tak bohong rasanya begitu berat melepas sang putra ke dalam pelukan Abian.

Karena bagaimanapun, Ananta adalah bayinya. Anak kecil di matanya. Putra yang selalu ingin ia rawat, dengan sepenuh hati dan jiwa.

“Bunda hikss… Tetep sayang Ata ya bunda?”

“Bunda ngga akan berhenti sayang sama Ata. Sampai kapanpun, sampai nanti Tuhan sendiri yang ngambil bunda untuk pulang.”

“Heuu bundaa hikss…”


Abian.

Pria yang berusia sangat matang, untuk memiliki sebuah ikatan dalam hubungan. Cukup mapan di bidang pekerjaan, bahkan finansialnya bisa dikatakan baik untuk berani menjadikan Ananta sebagai tunangan.

Saat ini, Abian sedang duduk di depan cermin, dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh dan wajah.

Demi Tuhan, kata gugup dan bergedub, kini sudah tidak mampu mendeskripsikan betapa berdebarnya jantung Abian.

Dirinya terus bergerak gusar. Kepalanya berkali-kali menggeleng pelan. Bahkan, ia belum mengganti pakaian karena menghindari peluh yang terus mengalir deras membasahi tubuhnya.

Segugup itu Abian hingga tanpa sadar tangannya terus dikepal kuat.

Helwa yang sedaritadi sudah berusaha menenangkan pun akhirnya membawa segelas air, agar sang putra tak terlalu memikirkan hal buruk di acara yang sakral ini.

“Bian, minum dulu ya?”

“Ma, aku takut.”

Satu kalimat singkat yang terus terlontar dari belah bibir Abian.

“Takut apa, nak? Ngga ada yang perlu ditakutin. Semuanya baik-baik aja. Ngga perlu berpikir buruk, ya?”

“Ma… aku gugup.”

“Wajar, Sayang. Gapapa, Mama dulu juga gugup. Sini makannya minum dulu, biar rileks.”

Segelas air di tangan, diteguk habis tak bersisa. Sedikit memberi efek tenang, ketika tubuhnya kembali merasa segar.

Abian menoleh pada sang mama. Ditatap lekat wanita paruh baya yang selama ini merawatnya. Lalu ia genggam kedua tangannya, agar hatinya semakin merasa tenang.

“Mama…”

“Gapapa, Sayang. Gugup itu normal. Bian tenang ya? Berdoa aja sama Tuhan, semoga acaranya lancar. Ayah Ananta ngerestuin kalian, dan Ananta mau nerima Abian dengan sepenuh hati.”

“Jangan dipikirin yang jelek-jeleknya. Nanti Bian makin takut dan deg-degan. Oke?”

“Mama, Bian takut. Kenapa Bian takut?” tanya Abian, was-was. Maniknya menampilkan kilatan gugup dan takut.

Helwa menyadari satu hal. Tapi lidahnya seolah kelu tak mampu mengucapkan. Ia hanya takut sang putra semakin berpikir yang tidak-tidak.

Meskipun sebenarnya, tidak ada salahnya untuk membahas hal itu sekarang.

Daripada Abian terus merasa tidak tenang?

“Bian mikirin papa ya, Sayang?”

Deg.

Abian diam. Lidahnya kelu dan ranumnya bungkam. Jantungnya seperti berdetak dan kepalanya terasa pening hingga tak kuasa menatap manik sang mama.

Abian menunduk. Seraya menguatkan genggaman tangan keduanya.

Hatinya merasa sakit, menyadari fakta jika sang papa benar-benar tidak datang di hari ini.

Tidak bohong, Abian kecewa karena sang papa benar-benar tega tidak datang di hari pentingnya. Bahkan, ia mendapat kabar jika sang papa sedang pergi berlibur dengan sekretarisnya.

Menjijikan bukan?

Abian terkekeh sarkas. Pilu dan sakit, melebur menjadi satu. Bulir beningnya seolah enggan, kembali menangisi orang yang tidak pernah menganggap dirinya ada.

Lantas wajah yang semula menunduk dalam, kini ia angkat guna menatap sang mama yang maniknya sudah dipenuhi bulir kristal dan siap untuk diluruhkan.

“Ma—

“Kuat ya? Bian jangan mikirin papa.”

“Mama tau, rasanya sakit. Apalagi hari ini, hari pentingnya Bian.”

“Hari di mana harusnya mama dan papa ada, ngedukung Bian, ngasih restu dan doa, pun turut jadi saksi untuk kebahagian Bian sama Ananta.”

“Tapi papa malah milih pergi sama sekretarisnya.”

“Mama tau itu sakit, tapi mama ngga mau Bian hancur.”

“Jangan mikirin papa ya?”

“Mama minta maaf, karena Bian harus punya figur papa yang kurang baik. Mama juga minta maaf, karena Bian harus ngerasa sakit karena papa, bahkan sampai detik ini.”

Ada jeda yang tercipta, karena Helwa tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Sakit dan perih, menyelimuti hati kecilnya. Karena ia sangat paham, betapa sakitnya diperlakukan seperti ini oleh suaminya.

Helwa memang tidak bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tapi ia bisa mengusahakan agar Abian sedikit lebih tenang dari sebelumnya.

Maka ia kembali menarik nafas panjang untuk melanjutkan kalimatnya yang begitu sederhana.

“Mama ngga bisa ngomong banyak, Mama pun ngga bisa ngelarang Bian ngerasa sakit atas perlakukan Papa.”

“Tapi kalo boleh Mama minta, Bian jangan terpuruk karena hal ini ya?”

“Bian punya Mama, punya Kakak. Bahkan sekarang, Bian punya Ata dan keluarganya.”

“Bian punya banyak orang yang sayang sama Bian, peduli sama Bian, perhatian sama Bian. Tanpa pamrih, tanpa meminta imbalan balik.”

“Mereka tulus sama Bian, ngga kaya papa yang selalu menuntut sesuatu sama Bian.”

“Mama tau, sakitnya ngga bisa langsung hilang. Tapi, Bian mau ya pelan-pelan berdamai?”

“Bukan buat siapa-siapa, apalagi buat Papa. Ini murni buat Bian, supaya Bian ngga terus-terusan inget rasa sakitnya dan bisa hidup damai sama Ananta.”

“Mama sayang sama Bian. Mama ngga mau Bian hidup dalam bayang-bayang sakit hati karena papa.”

“Bian coba ikhlas ya, nak?”

Satu senyuman tulus, Helwa berikan untuk sang putra. Dengan usapan penuh sayang, pada surai hitam Abian.

“Mama…”

“Bahagia ya, nak?”

“Jangan sedih. Jangan mikirin papa. Pikirin kebahagiaan Bian sendiri. Bangun keluarga kecil Bian sendiri.”

“Bian tau rasanya punya papa yang kurang baik. Jadikan contoh ya? Bian harus jadi lelaki yang bertanggung jawab. Terutama sama Ananta dan keluarganya.”

“Jangan disakitin. Jangan pernah berani untuk nyelingkunin Ananta.”

“Sebosan apapun, jangan. Jangan selingkuhin Ata. Masih banyak solusi lain, untuk ngilangin rasa bosan dalam sebuah hubungan.”

“Jangan ngelakuin apa yang pernah papa lakuin ke mama ya, nak?”

“Sakit, Sayang. Hancur hati Mama.”

“Jangan sampai Ata dan anak kamu ikut merasakan. Ya, Sayang?”

Nyatanya, sekuat apapun Abian menahan bulir beningnya, ia tetap tak kuasa. Hatinya terasa begitu sakit. Tapi di satu sisi, ia mengerti.

“Bian sayang mama kan, nak? Jangan jahat sama Ata ya, Sayang?”

“Karena kalo Bian ngelakuin itu ke Ata, yang hancur banyak, Sayang.”

“Bukan cuma Ata, tapi orang tua Ata dan mama pun akan ikut ngerasain hancur.”

“Mama percaya sama Bian. Jangan kecewain Ata ya, Sayang?”

Anggukan cepat Abian berikan berikan. Ditemani isak yang semakin kencang. Secepat mungkin, Abian tarik sang mama agar masuk ke dalam dekapan.

Abian tumpahkan seluruh isaknya, pada wanita terbaik yang selama ini selalu ia banggakan.

“Mama, Bian janji ngga akan selingkuhin Ata. Bian janji, Ma. Bian janji.”

“Bian ngga akan ngelakuin apa yang papa lakuin ke mama. Bian janji, Bian akan selalu inget pesan mama.”

“Makasih ya, Ma. Makasih karena udah jadi figur mama sekaligus papa yang hebat buat Bian. Mama yang dari dulu berjuang mati-matian untuk Bian. Nyekolahin Bian, kerja untuk Bian.”

“Makasih banyak ya, Ma. Makasih banyak.”

“Makasih karena sampai detik ini, Mama ngga pernah capek untuk ngerawat Bian. Sampai Bian sendiri siap untuk memiliki pasangan, Mama selalu di samping Bian dan ngedukung Bian dengan doa-doa Mama.”

“Makasih ya, Ma. Makasih banyak.”

“Bian minta maaf karena masih jauh dari kata baik. Bian masih payah, Bian masih kaya anak kecil dan belum dewasa.”

“Tapi Bian janji, akan selalu berlajar lebih baik ke depannya.”

“Doain Bian ya, Ma?”

Helwa mengangguk, dengan bulir bening yang terus luruh.

“Mama selalu doain, Bian. Bian anak Mama. Bian anaknya Mama hikss..”

“Maa jangan nangis, nanti Bian sedih. Maaf ya? Maaf karena mama harus ngerasa hancur. Bian ngga akan mikirin papa. Tapi Mama juga harus gitu ya?”

“Mama juga berhak bahagia dan bahagianya Mama, itu bukan papa.”

“Kalo Mama siap, Mama boleh cerai dari papa. Bian akan dukung, sangat-sangat mendukung.”

“Tapi ngga perlu dijadiin beban kalau mama emang belum sanggup. Yang penting mama tau, kalo Bian ada di sisi mama. Meskipun Bian nanti punya keluarga, Mama tetep boleh pulang ke rumah Bian. Ya, Ma?”

“Bian hikss…”

“Mama jangan nangis, Bian ngga tega.”

“Mama sayang Bian hikss… Sayang banget.”

“Bian selalu sayang Mama. Sampai kapanpun.”

“Udah Ma, jangan nangis. Bantu Bian siap-siap aja ya? Kayanya acaranya udah mau mulai. Kasian tamu undangan kalo harus ngaret.”

“Mama jangan nangis lagi ya? Nanti cantiknya hilang.” Ucap Abian lembut, seraya menghapus bulir bening sang mama.

“Bian… Mama sayang Bian.”

Abian mengangguk tulus, “Bian juga sayang sama Mama.”

Keduanya tersenyum hangat. Saling berdamai dengan perasaan yang sama-sama terluka.

Di hari ini, biarlah kebahagiaan saja yang menyelimuti hati keduanya. Tanpa harus ada campur rasa sakit yang berhasil membuat sesak.

“Ya udah yuk, Bian ganti baju, biar Mama bantu siap-siap.”

“Ayo, Ma.”

Dua minggu berlalu sejak keduanya terpaksa dipisahkan terlebih dahulu. Hari ini, waktu yang dinanti telah tiba. Hari yang sudah keduanya perjuangkan selama dua tahun; melewati hujan dan badai, manis dan pahit, sehat dan sakit, serta beberapa situasi yang begitu istimewa dan di luar kendali.

Dua cincin yang diletakkan di dekat panggung, menjadi bukti konkret jika sebentar lagi, akan ada pengikatan dua orang lelaki yang disaksikan oleh langit.

Para tamu undangan pun sudah mulai berdatangan sejak pagi, menanti acara utama dengan sepenuh hati.

Suara hiruk piruk para kolega yang turut berbahagia, terdengar saling bersahutan layaknya sebuah doa yang dipanjatkan.

Membuat dua keluarga yang mempunyai acara, saling melempar senyum dengan makna sangat bahagia.

Alunan melodi yang terdengar indah juga ikut meramaikan suasana bahagia di bawah cerahnya suasana kota.

Ditemani hijaunya tumbuhan milik alam semesta, serta harumnya bunga yang terlihat bermekaran, acara penyatuan dua lelaki yang begitu sakral, sebentar lagi akan segera dimulai.


Ananta.

Pria yang lebih muda dari calon tunangannya, kini tengah memejam rapat, dengan tangan mengepal erat serta bibir digigit kuat. Duduknya begitu tegap, wajahnya sedikit pucat. Sedangkan jantungnya berdegub sangat cepat.

Sudah sedaritadi dirinya menatap cermin, tetapi rasa percaya dirinya terus saja berlari-lari. Padahal tadi, ia sudah merasa sangat manis. Tetapi selang beberapa detik, ia justru merasa jauh dari kata cantik.

Huft…

Efek gugup yang melanda hati, cukup membuat Ananta pusing tujuh keliling. Ia tidak pernah menyangka, jika gugupnya akan menghebat seperti ini.

Untung, ia tidak sampai banjir peluh. Sehingga make upnya tidak luntur, pun parfumnya masih menguar harum.

“Sayang, udah siap, nak?”

Pertanyaan kesekian kalinya dan Ananta masih tetap setia menjawab dengan kalimat sama, “A-Ata siap. Tapi jantung Ata, kaya ngga siap.”

Sukses memancing gelak tawa sang bunda yang begitu gemas dengan tingkah putranya.

“Bun, Ata udah ganteng belum? Ata ngga malu-maluin kan?” Tanya Ananta, masih merasa was-was.

Davika pun akhirnya mendekat. Lalu mengajak sang putra untuk bertemu tatap. Ditangkup wajah manis milik Ananta, seraya ditatap lembut penuh akan sayang.

“Anak bunda manis, ganteng, cantik. Ngga kurang dan lebih. Cukup. Cocok banget sama putra kesayangan Bunda. Make upnya natural, pakaiannya ngga kebesaran, Ananta sempurna, Abian pasti suka.”

BLUSHH!

Wajahnya langsung merona padam. Tersipu malu sampai kepalanya memilih untuk menunduk. Ananta tak kuasa menahan gemuruh yang kini menyerangnya secara terus-menerus.

Davika yang melihat tentu mengulum senyum. Diangkat dagu sang putra agar maniknya bertemu, sebelum menarik nafas panjang dan mulai kembali berbicara.

“Ngga kerasa ya? Anak bunda udah besar. Sekarang udah mau tunangan dan ngga lama lagi pasti menikah.”

“Kayanya baru kemarin anak bunda lahir terus nangis karena laper minta susu. Sekarang justru udah dadan manis, siap diikat sama lelaki lain.” Ucap Davika, terdengar lembut, dengan manik yang terlihat berkaca-kaca.

“Sekarang Ata udah mulai buka lembaran baru. Dengan status yang berubah, dan teman hidup yang berbeda. Bukan sama ayah bunda lagi, tapi sekarang sama Abian.”

“Nak, anaknya bunda, kesayangan bunda, separuh dari hidup bunda, bahkan hidup dan matinya bunda—“

“—bahagia terus ya?”

“Bahagia selalu, meskipun sekarang Ata udah ngga tinggal sama ayah dan bunda.”

“Bahagia selalu meskipun sumber bahagia Ata sekarang bukan ayah dan bunda.”

“Bahagia selalu meskipun nanti, dalam perjalanan kalian berdua, bakal tetap ada badai yang nguji hubungan kalian.”

“Bahagia ya, nak? Tolong selalu bahagia.”

“Ata jaga diri baik-baik ya? Karena sekarang bunda udah ngga bisa ngawasin Ata kaya waktu Ata masih kecil.”

“Ata sekarang punya hidup baru, yang menuntut Ata untuk bisa bersikap bijak dan dewasa.”

“Bunda minta maaf ya? Kalo selama ini belum bisa jadi bunda yang baik buat Ata.”

“Satu pesen bunda buat Ata, baik-baik ya sama Abian? Kalo ada masalah, diskusikan. Kalo ada selisih pendapat, bicarakan dengan tenang. Jangan main tangan, jangan bentak-bentak.”

“Kalo ada yang salah, tegur baik-baik. Jangan terus pakai emosi, lebih legowo, sabar, dewasa.”

“Ya, sayang?”

“Bunda selalu berdoa sama Tuhan, semoga Abian orang yang akan jadi pelabuhan terakhir Ata, sampai maut nanti yang memisahkan kalian.”

“Kalo nanti ada hal yang ngga diinginkan, bilang sama bunda ya? Bunda akan selalu siap jadi rumah untuk Ata, apapun dan gimanapun kondisinya.”

“Karena Ata akan selalu jadi anak kesayangan bunda, meskipun sekarang Ata udah terikat sama Abian.”

“Oke, Sayang?”

Ananta tidak karuan, air matanya mengalir deras. Tiap kata yang keluar dari belah bibir sang bunda, seperti menyerang memorinya untuk kembali ke masa lampau. Masa kecil yang begitu indah dan bahagia. Tanpa beban berat yang harus dipikul pundak.

“Sayang, kok malah nangis? Jangan nangis, nak. Sini, peluk bunda aja.”

Keduanya saling mendekap erat, seolah tidak ada hari esok untuk kembali bertemu tatap.

Ada seorang ibu yang menitihkan air mata karena merasa sesak akan melepas anak semata wayangnya. Tapi di satu sisi, ada seorang putra yang juga merasa keberatan ketika akan pergi jauh dari ibunya.

Suasana haru bercampur sendu, kini menguar pekat di antara keduanya. Isak tangis sedih dan bahagia, menyatu tipis, tak mampu dibedakan.

Ananta tahu ini bukanlah momen dirinya akan dinikahi oleh Abian. Tapi, acara pertunangan juga nyatanya mampu membuat dirinya merasa seperti akan dilepas sepenuhnya oleh sang ayah dan bunda.

“Bunda, makasih banyak ya udah ngerawat Ata. Ata minta maaf masih banyak salah sama bunda. Maaf kalo Ata belum bisa bahagiain bunda. Maaf kalo Ata terlalu cepat tumbuh dan sekarang siap untuk memiliki pasangan.”

“Tapi, bunda harus tau, Ata akan selalu jadi bayinya bunda. Ata akan selalu bersikap manja kalo sama bunda.”

“Bunda jangan bosen ya kalo Ata manja terus ke bunda? Soalnya Ata suka disayang bunda. Ata suka diusap-usap bunda, Ata nyaman dipeluk bunda, heuu bundaa… Atanya cengeng hikss…”

“Sayang… kok malah tambah nangis. Cup cup, anak ganteng bunda nanti make up nya luntur loh.”

“Heu, Bunda hikss… Ata sayang bunda hikss…”

“Bunda juga selalu sayang sama Ata. Anak gantengnya bunda.”

“Bunda hikss…”

“Udah ngga boleh nangis. Bentar lagi acaranya mulai, Sayang. Sini bunda rapihin lagi, biar pas ketemu Abian, anak bunda ganteng banget!”

“Heu bunda hikss… jangan godain Ata hikss…”

Davika terkekeh pelan. Meskipun hatinya merasa tidak karuan. Ia bahagia, tapi tak bohong rasanya begitu berat melepas sang putra ke dalam pelukan Abian.

Karena bagaimanapun, Ananta adalah bayinya. Anak kecil di matanya. Putra yang selalu ingin ia rawat, dengan sepenuh hati dan jiwa.

“Bunda hikss… Tetep sayang Ata ya bunda?”

“Bunda ngga akan berhenti sayang sama Ata. Sampai kapanpun, sampai nanti Tuhan sendiri yang ngambil bunda untuk pulang.”

“Heuu bundaa hikss…”


Abian.

Pria yang berusia sangat matang, untuk memiliki sebuah ikatan dalam hubungan. Cukup mapan di bidang pekerjaan, bahkan finansialnya bisa dikatakan baik untuk berani menjadikan Ananta sebagai tunangan.

Saat ini, Abian sedang duduk di depan cermin, dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh dan wajah.

Demi Tuhan, kata gugup dan bergedub, kini sudah tidak mampu mendeskripsikan betapa berdebarnya jantung Abian.

Dirinya terus bergerak gusar. Kepalanya berkali-kali menggeleng pelan. Bahkan, ia belum mengganti pakaian karena menghindari peluh yang terus mengalir deras membasahi tubuhnya.

Segugup itu Abian hingga tanpa sadar tangannya terus dikepal kuat.

Helwa yang sedaritadi sudah berusaha menenangkan pun akhirnya membawa segelas air, agar sang putra tak terlalu memikirkan hal buruk di acara yang sakral ini.

“Bian, minum dulu ya?”

“Ma, aku takut.”

Satu kalimat singkat yang terus terlontar dari belah bibir Abian.

“Takut apa, nak? Ngga ada yang perlu ditakutin. Semuanya baik-baik aja. Ngga perlu berpikir buruk, ya?”

“Ma… aku gugup.”

“Wajar, Sayang. Gapapa, Mama dulu juga gugup. Sini makannya minum dulu, biar rileks.”

Segelas air di tangan, diteguk habis tak bersisa. Sedikit memberi efek tenang, ketika tubuhnya kembali merasa segar.

Abian menoleh pada sang mama. Ditatap lekat wanita paruh baya yang selama ini merawatnya. Lalu ia genggam kedua tangannya, agar hatinya semakin merasa tenang.

“Mama…”

“Gapapa, Sayang. Gugup itu normal. Bian tenang ya? Berdoa aja sama Tuhan, semoga acaranya lancar. Ayah Ananta ngerestuin kalian, dan Ananta mau nerima Abian dengan sepenuh hati.”

“Jangan dipikirin yang jelek-jeleknya. Nanti Bian makin takut dan deg-degan. Oke?”

“Mama, Bian takut. Kenapa Bian takut?” tanya Abian, was-was. Maniknya menampilkan kilatan gugup dan takut.

Helwa menyadari satu hal. Tapi lidahnya seolah kelu tak mampu mengucapkan. Ia hanya takut sang putra semakin berpikir yang tidak-tidak.

Meskipun sebenarnya, tidak ada salahnya untuk membahas hal itu sekarang.

Daripada Abian terus merasa tidak tenang?

“Bian mikirin papa ya, Sayang?”

Deg.

Abian diam. Lidahnya kelu dan ranumnya bungkam. Jantungnya seperti berhenti untuk berdetak dan kepalanya terasa pening hingga tak kuasa menatap manik sang mama.

Abian menunduk. Seraya menguatkan genggaman tangan keduanya.

Hatinya merasa sakit, menyadari fakta jika sang papa benar-benar tidak datang di hari ini.

Tidak bohong, Abian kecewa karena sang papa benar-benar tega tidak datang di hari pentingnya. Bahkan, ia mendapat kabar jika sang papa sedang pergi berlibur dengan sekretarisnya.

Menjijikan bukan?

Abian terkekeh sarkas. Pilu dan sakit, melebur menjadi satu. Bulir beningnya seolah enggan, kembali menangisi orang yang tidak pernah menganggap dirinya ada.

Lantas wajah yang semula menunduk dalam, kini ia angkat guna menatap sang mama yang maniknya sudah dipenuhi bulir kristal dan siap untuk diluruhkan.

“Ma—

“Kuat ya? Bian jangan mikirin papa.”

“Mama tau, rasanya sakit. Apalagi hari ini, hari pentingnya Bian.”

“Hari di mana harusnya mama dan papa ada, ngedukung Bian, ngasih restu dan doa, pun turut jadi saksi untuk kebahagian Bian sama Ananta.”

“Tapi papa malah milih pergi sama sekretarisnya.”

“Mama tau itu sakit, tapi mama ngga mau Bian hancur.”

“Jangan mikirin papa ya?”

“Mama minta maaf, karena Bian harus punya figur papa yang kurang baik. Mama juga minta maaf, karena Bian harus ngerasa sakit karena papa, bahkan sampai detik ini.”

Ada jeda yang tercipta, karena Helwa tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Sakit dan perih, menyelimuti hati kecilnya. Karena ia sangat paham, betapa sakitnya diperlakukan seperti ini oleh suaminya.

Helwa memang tidak bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tapi ia bisa mengusahakan agar Abian sedikit lebih tenang dari sebelumnya.

Maka ia kembali menarik nafas panjang untuk melanjutkan kalimatnya yang begitu sederhana.

“Mama ngga bisa ngomong banyak, Mama pun ngga bisa ngelarang Bian ngerasa sakit atas perlakukan Papa.”

“Tapi kalo boleh Mama minta, Bian jangan terpuruk karena hal ini ya?”

“Bian punya Mama, punya Kakak. Bahkan sekarang, Bian punya Ata dan keluarganya.”

“Bian punya banyak orang yang sayang sama Bian, peduli sama Bian, perhatian sama Bian. Tanpa pamrih, tanpa meminta imbalan balik.”

“Mereka tulus sama Bian, ngga kaya papa yang selalu menuntut sesuatu sama Bian.”

“Mama tau, sakitnya ngga bisa langsung hilang. Tapi, Bian mau ya pelan-pelan berdamai?”

“Bukan buat siapa-siapa, apalagi buat Papa. Ini murni buat Bian, supaya Bian ngga terus-terusan inget rasa sakitnya dan bisa hidup damai sama Ananta.”

“Mama sayang sama Bian. Mama ngga mau Bian hidup dalam bayang-bayang sakit hati karena papa.”

“Bian coba ikhlas ya, nak?”

Satu senyuman tulus, Helwa berikan untuk sang putra. Dengan usapan penuh sayang, pada surai hitam Abian.

“Mama…”

“Bahagia ya, nak?”

“Jangan sedih. Jangan mikirin papa. Pikirin kebahagiaan Bian sendiri. Bangun keluarga kecil Bian sendiri.”

“Bian tau rasanya punya papa yang kurang baik. Jadikan contoh ya? Bian harus jadi lelaki yang bertanggung jawab. Terutama sama Ananta dan keluarganya.”

“Jangan disakitin. Jangan pernah berani untuk nyelingkunin Ananta.”

“Sebosan apapun, jangan. Jangan selingkuhin Ata. Masih banyak solusi lain, untuk ngilangin rasa bosan dalam sebuah hubungan.”

“Jangan ngelakuin apa yang pernah papa lakuin ke mama ya, nak?”

“Sakit, Sayang. Hancur hati Mama.”

“Jangan sampai Ata dan anak kamu ikut merasakan. Ya, Sayang?”

Nyatanya, sekuat apapun Abian menahan bulir beningnya, ia tetap tak kuasa. Hatinya terasa begitu sakit. Tapi di satu sisi, ia mengerti.

“Bian sayang mama kan, nak? Jangan jahat sama Ata ya, Sayang?”

“Karena kalo Bian ngelakuin itu ke Ata, yang hancur banyak, Sayang.”

“Bukan cuma Ata, tapi orang tua Ata dan mama pun akan ikut ngerasain hancur.”

“Mama percaya sama Bian. Jangan kecewain Ata ya, Sayang?”

Anggukan cepat Abian berikan berikan. Ditemani isak yang semakin kencang. Secepat mungkin, Abian tarik sang mama agar masuk ke dalam dekapan.

Abian tumpahkan seluruh isaknya, pada wanita terbaik yang selama ini selalu ia banggakan.

“Mama, Bian janji ngga akan selingkuhin Ata. Bian janji, Ma. Bian janji.”

“Bian ngga akan ngelakuin apa yang papa lakuin ke mama. Bian janji, Bian akan selalu inget pesan mama.”

“Makasih ya, Ma. Makasih karena udah jadi figur mama sekaligus papa yang hebat buat Bian. Mama yang dari dulu berjuang mati-matian untuk Bian. Nyekolahin Bian, kerja untuk Bian.”

“Makasih banyak ya, Ma. Makasih banyak.”

“Makasih karena sampai detik ini, Mama ngga pernah capek untuk ngerawat Bian. Sampai Bian sendiri siap untuk memiliki pasangan, Mama selalu di samping Bian dan ngedukung Bian dengan doa-doa Mama.”

“Makasih ya, Ma. Makasih banyak.”

“Bian minta maaf karena masih jauh dari kata baik. Bian masih payah, Bian masih kaya anak kecil dan belum dewasa.”

“Tapi Bian janji, akan selalu berlajar lebih baik ke depannya.”

“Doain Bian ya, Ma?”

Helwa mengangguk, dengan bulir bening yang terus luruh.

“Mama selalu doain, Bian. Bian anak Mama. Bian anaknya Mama hikss..”

“Maa jangan nangis, nanti Bian sedih. Maaf ya? Maaf karena mama harus ngerasa hancur. Bian ngga akan mikirin papa. Tapi Mama juga harus gitu ya?”

“Mama juga berhak bahagia dan bahagianya Mama, itu bukan papa.”

“Kalo Mama siap, Mama boleh cerai dari papa. Bian akan dukung, sangat-sangat mendukung.”

“Tapi ngga perlu dijadiin beban kalau mama emang belum sanggup. Yang penting mama tau, kalo Bian ada di sisi mama. Meskipun Bian nanti punya keluarga, Mama tetep boleh pulang ke rumah Bian. Ya, Ma?”

“Bian hikss…”

“Mama jangan nangis, Bian ngga tega.”

“Mama sayang Bian hikss… Sayang banget.”

“Bian selalu sayang Mama. Sampai kapanpun.”

“Udah Ma, jangan nangis. Bantu Bian siap-siap aja ya? Kayanya acaranya udah mau mulai. Kasian tamu undangan kalo harus ngaret.”

“Mama jangan nangis lagi ya? Nanti cantiknya hilang.” Ucap Abian lembut, seraya menghapus bulir bening sang mama.

“Bian… Mama sayang Bian.”

Abian mengangguk tulus, “Bian juga sayang sama Mama.”

Keduanya tersenyum hangat. Saling berdamai dengan perasaan yang sama-sama terluka.

Di hari ini, biarlah kebahagiaan saja yang menyelimuti hati keduanya. Tanpa harus ada campur rasa sakit yang berhasil membuat sesak.

“Ya udah yuk, Bian ganti baju, biar Mama bantu siap-siap.”

“Ayo, Ma.”