The Day – May 01, 2023

Dua minggu berlalu sejak keduanya terpaksa dipisahkan terlebih dahulu. Hari ini, waktu yang dinanti telah tiba. Hari yang sudah keduanya perjuangkan selama dua tahun; melewati hujan dan badai, manis dan pahit, sehat dan sakit, serta beberapa situasi yang begitu istimewa dan di luar kendali.

Dua cincin yang diletakkan di dekat panggung, menjadi bukti konkret jika sebentar lagi, akan ada pengikatan dua orang lelaki yang disaksikan oleh langit.

Para tamu undangan pun sudah mulai berdatangan sejak pagi, menanti acara utama dengan sepenuh hati.

Suara hiruk piruk para kolega yang turut berbahagia, terdengar saling bersahutan layaknya sebuah doa yang dipanjatkan.

Membuat dua keluarga yang mempunyai acara, saling melempar senyum dengan makna sangat bahagia.

Alunan melodi yang terdengar indah juga ikut meramaikan suasana bahagia di bawah cerahnya suasana kota.

Ditemani hijaunya tumbuhan milik alam semesta, serta harumnya bunga yang terlihat bermekaran, acara penyatuan dua lelaki yang begitu sakral, sebentar lagi akan segera dimulai.


Ananta.

Pria yang lebih muda dari calon tunangannya, kini tengah memejam rapat, dengan tangan mengepal erat serta bibir digigit kuat. Duduknya begitu tegap, wajahnya sedikit pucat. Sedangkan jantungnya berdegub sangat cepat.

Sudah sedaritadi dirinya menatap cermin, tetapi rasa percaya dirinya terus saja berlari-lari. Padahal tadi, ia sudah merasa sangat manis. Tetapi selang beberapa detik, ia justru merasa jauh dari kata cantik.

Huft…

Efek gugup yang melanda hati, cukup membuat Ananta pusing tujuh keliling. Ia tidak pernah menyangka, jika gugupnya akan menghebat seperti ini.

Untung, ia tidak sampai banjir peluh. Sehingga make upnya tidak luntur, pun parfumnya masih menguar harum.

“Sayang, udah siap, nak?”

Pertanyaan kesekian kalinya dan Ananta masih tetap setia menjawab dengan kalimat sama, “A-Ata siap. Tapi jantung Ata, kaya ngga siap.”

Sukses memancing gelak tawa sang bunda yang begitu gemas dengan tingkah putranya.

“Bun, Ata udah ganteng belum? Ata ngga malu-maluin kan?” Tanya Ananta, masih merasa was-was.

Davika pun akhirnya mendekat. Lalu mengajak sang putra untuk bertemu tatap. Ditangkup wajah manis milik Ananta, seraya ditatap lembut penuh akan sayang.

“Anak bunda manis, ganteng, cantik. Ngga kurang dan lebih. Cukup. Cocok banget sama putra kesayangan Bunda. Make upnya natural, pakaiannya ngga kebesaran, Ananta sempurna, Abian pasti suka.”

BLUSHH!

Wajahnya langsung merona padam. Tersipu malu sampai kepalanya memilih untuk menunduk. Ananta tak kuasa menahan gemuruh yang kini menyerangnya secara terus-menerus.

Davika yang melihat tentu mengulum senyum. Diangkat dagu sang putra agar maniknya bertemu, sebelum menarik nafas panjang dan mulai kembali berbicara.

“Ngga kerasa ya? Anak bunda udah besar. Sekarang udah mau tunangan dan ngga lama lagi pasti menikah.”

“Kayanya baru kemarin anak bunda lahir terus nangis karena laper minta susu. Sekarang justru udah dadan manis, siap diikat sama lelaki lain.” Ucap Davika, terdengar lembut, dengan manik yang terlihat berkaca-kaca.

“Sekarang Ata udah mulai buka lembaran baru. Dengan status yang berubah, dan teman hidup yang berbeda. Bukan sama ayah bunda lagi, tapi sekarang sama Abian.”

“Nak, anaknya bunda, kesayangan bunda, separuh dari hidup bunda, bahkan hidup dan matinya bunda—“

“—bahagia terus ya?”

“Bahagia selalu, meskipun sekarang Ata udah ngga tinggal sama ayah dan bunda.”

“Bahagia selalu meskipun sumber bahagia Ata sekarang bukan ayah dan bunda.”

“Bahagia selalu meskipun nanti, dalam perjalanan kalian berdua, bakal tetap ada badai yang nguji hubungan kalian.”

“Bahagia ya, nak? Tolong selalu bahagia.”

“Ata jaga diri baik-baik ya? Karena sekarang bunda udah ngga bisa ngawasin Ata kaya waktu Ata masih kecil.”

“Ata sekarang punya hidup baru, yang menuntut Ata untuk bisa bersikap bijak dan dewasa.”

“Bunda minta maaf ya? Kalo selama ini belum bisa jadi bunda yang baik buat Ata.”

“Satu pesen bunda buat Ata, baik-baik ya sama Abian? Kalo ada masalah, diskusikan. Kalo ada selisih pendapat, bicarakan dengan tenang. Jangan main tangan, jangan bentak-bentak.”

“Kalo ada yang salah, tegur baik-baik. Jangan terus pakai emosi, lebih legowo, sabar, dewasa.”

“Ya, sayang?”

“Bunda selalu berdoa sama Tuhan, semoga Abian orang yang akan jadi pelabuhan terakhir Ata, sampai maut nanti yang memisahkan kalian.”

“Kalo nanti ada hal yang ngga diinginkan, bilang sama bunda ya? Bunda akan selalu siap jadi rumah untuk Ata, apapun dan gimanapun kondisinya.”

“Karena Ata akan selalu jadi anak kesayangan bunda, meskipun sekarang Ata udah terikat sama Abian.”

“Oke, Sayang?”

Ananta tidak karuan, air matanya mengalir deras. Tiap kata yang keluar dari belah bibir sang bunda, seperti menyerang memorinya untuk kembali ke masa lampau. Masa kecil yang begitu indah dan bahagia. Tanpa beban berat yang harus dipikul pundak.

“Sayang, kok malah nangis? Jangan nangis, nak. Sini, peluk bunda aja.”

Keduanya saling mendekap erat, seolah tidak ada hari esok untuk kembali bertemu tatap.

Ada seorang ibu yang menitihkan air mata karena merasa sesak akan melepas anak semata wayangnya. Tapi di satu sisi, ada seorang putra yang juga merasa keberatan ketika akan pergi jauh dari ibunya.

Suasana haru bercampur sendu, kini menguar pekat di antara keduanya. Isak tangis sedih dan bahagia, menyatu tipis, tak mampu dibedakan.

Ananta tahu ini bukanlah momen dirinya akan dinikahi oleh Abian. Tapi, acara pertunangan juga nyatanya mampu membuat dirinya merasa seperti akan dilepas sepenuhnya oleh sang ayah dan bunda.

“Bunda, makasih banyak ya udah ngerawat Ata. Ata minta maaf masih banyak salah sama bunda. Maaf kalo Ata belum bisa bahagiain bunda. Maaf kalo Ata terlalu cepat tumbuh dan sekarang siap untuk memiliki pasangan.”

“Tapi, bunda harus tau, Ata akan selalu jadi bayinya bunda. Ata akan selalu bersikap manja kalo sama bunda.”

“Bunda jangan bosen ya kalo Ata manja terus ke bunda? Soalnya Ata suka disayang bunda. Ata suka diusap-usap bunda, Ata nyaman dipeluk bunda, heuu bundaa… Atanya cengeng hikss…”

“Sayang… kok malah tambah nangis. Cup cup, anak ganteng bunda nanti make up nya luntur loh.”

“Heu, Bunda hikss… Ata sayang bunda hikss…”

“Bunda juga selalu sayang sama Ata. Anak gantengnya bunda.”

“Bunda hikss…”

“Udah ngga boleh nangis. Bentar lagi acaranya mulai, Sayang. Sini bunda rapihin lagi, biar pas ketemu Abian, anak bunda ganteng banget!”

“Heu bunda hikss… jangan godain Ata hikss…”

Davika terkekeh pelan. Meskipun hatinya merasa tidak karuan. Ia bahagia, tapi tak bohong rasanya begitu berat melepas sang putra ke dalam pelukan Abian.

Karena bagaimanapun, Ananta adalah bayinya. Anak kecil di matanya. Putra yang selalu ingin ia rawat, dengan sepenuh hati dan jiwa.

“Bunda hikss… Tetep sayang Ata ya bunda?”

“Bunda ngga akan berhenti sayang sama Ata. Sampai kapanpun, sampai nanti Tuhan sendiri yang ngambil bunda untuk pulang.”

“Heuu bundaa hikss…”


Abian.

Pria yang berusia sangat matang, untuk memiliki sebuah ikatan dalam hubungan. Cukup mapan di bidang pekerjaan, bahkan finansialnya bisa dikatakan baik untuk berani menjadikan Ananta sebagai tunangan.

Saat ini, Abian sedang duduk di depan cermin, dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh dan wajah.

Demi Tuhan, kata gugup dan bergedub, kini sudah tidak mampu mendeskripsikan betapa berdebarnya jantung Abian.

Dirinya terus bergerak gusar. Kepalanya berkali-kali menggeleng pelan. Bahkan, ia belum mengganti pakaian karena menghindari peluh yang terus mengalir deras membasahi tubuhnya.

Segugup itu Abian hingga tanpa sadar tangannya terus dikepal kuat.

Helwa yang sedaritadi sudah berusaha menenangkan pun akhirnya membawa segelas air, agar sang putra tak terlalu memikirkan hal buruk di acara yang sakral ini.

“Bian, minum dulu ya?”

“Ma, aku takut.”

Satu kalimat singkat yang terus terlontar dari belah bibir Abian.

“Takut apa, nak? Ngga ada yang perlu ditakutin. Semuanya baik-baik aja. Ngga perlu berpikir buruk, ya?”

“Ma… aku gugup.”

“Wajar, Sayang. Gapapa, Mama dulu juga gugup. Sini makannya minum dulu, biar rileks.”

Segelas air di tangan, diteguk habis tak bersisa. Sedikit memberi efek tenang, ketika tubuhnya kembali merasa segar.

Abian menoleh pada sang mama. Ditatap lekat wanita paruh baya yang selama ini merawatnya. Lalu ia genggam kedua tangannya, agar hatinya semakin merasa tenang.

“Mama…”

“Gapapa, Sayang. Gugup itu normal. Bian tenang ya? Berdoa aja sama Tuhan, semoga acaranya lancar. Ayah Ananta ngerestuin kalian, dan Ananta mau nerima Abian dengan sepenuh hati.”

“Jangan dipikirin yang jelek-jeleknya. Nanti Bian makin takut dan deg-degan. Oke?”

“Mama, Bian takut. Kenapa Bian takut?” tanya Abian, was-was. Maniknya menampilkan kilatan gugup dan takut.

Helwa menyadari satu hal. Tapi lidahnya seolah kelu tak mampu mengucapkan. Ia hanya takut sang putra semakin berpikir yang tidak-tidak.

Meskipun sebenarnya, tidak ada salahnya untuk membahas hal itu sekarang.

Daripada Abian terus merasa tidak tenang?

“Bian mikirin papa ya, Sayang?”

Deg.

Abian diam. Lidahnya kelu dan ranumnya bungkam. Jantungnya seperti berdetak dan kepalanya terasa pening hingga tak kuasa menatap manik sang mama.

Abian menunduk. Seraya menguatkan genggaman tangan keduanya.

Hatinya merasa sakit, menyadari fakta jika sang papa benar-benar tidak datang di hari ini.

Tidak bohong, Abian kecewa karena sang papa benar-benar tega tidak datang di hari pentingnya. Bahkan, ia mendapat kabar jika sang papa sedang pergi berlibur dengan sekretarisnya.

Menjijikan bukan?

Abian terkekeh sarkas. Pilu dan sakit, melebur menjadi satu. Bulir beningnya seolah enggan, kembali menangisi orang yang tidak pernah menganggap dirinya ada.

Lantas wajah yang semula menunduk dalam, kini ia angkat guna menatap sang mama yang maniknya sudah dipenuhi bulir kristal dan siap untuk diluruhkan.

“Ma—

“Kuat ya? Bian jangan mikirin papa.”

“Mama tau, rasanya sakit. Apalagi hari ini, hari pentingnya Bian.”

“Hari di mana harusnya mama dan papa ada, ngedukung Bian, ngasih restu dan doa, pun turut jadi saksi untuk kebahagian Bian sama Ananta.”

“Tapi papa malah milih pergi sama sekretarisnya.”

“Mama tau itu sakit, tapi mama ngga mau Bian hancur.”

“Jangan mikirin papa ya?”

“Mama minta maaf, karena Bian harus punya figur papa yang kurang baik. Mama juga minta maaf, karena Bian harus ngerasa sakit karena papa, bahkan sampai detik ini.”

Ada jeda yang tercipta, karena Helwa tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Sakit dan perih, menyelimuti hati kecilnya. Karena ia sangat paham, betapa sakitnya diperlakukan seperti ini oleh suaminya.

Helwa memang tidak bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tapi ia bisa mengusahakan agar Abian sedikit lebih tenang dari sebelumnya.

Maka ia kembali menarik nafas panjang untuk melanjutkan kalimatnya yang begitu sederhana.

“Mama ngga bisa ngomong banyak, Mama pun ngga bisa ngelarang Bian ngerasa sakit atas perlakukan Papa.”

“Tapi kalo boleh Mama minta, Bian jangan terpuruk karena hal ini ya?”

“Bian punya Mama, punya Kakak. Bahkan sekarang, Bian punya Ata dan keluarganya.”

“Bian punya banyak orang yang sayang sama Bian, peduli sama Bian, perhatian sama Bian. Tanpa pamrih, tanpa meminta imbalan balik.”

“Mereka tulus sama Bian, ngga kaya papa yang selalu menuntut sesuatu sama Bian.”

“Mama tau, sakitnya ngga bisa langsung hilang. Tapi, Bian mau ya pelan-pelan berdamai?”

“Bukan buat siapa-siapa, apalagi buat Papa. Ini murni buat Bian, supaya Bian ngga terus-terusan inget rasa sakitnya dan bisa hidup damai sama Ananta.”

“Mama sayang sama Bian. Mama ngga mau Bian hidup dalam bayang-bayang sakit hati karena papa.”

“Bian coba ikhlas ya, nak?”

Satu senyuman tulus, Helwa berikan untuk sang putra. Dengan usapan penuh sayang, pada surai hitam Abian.

“Mama…”

“Bahagia ya, nak?”

“Jangan sedih. Jangan mikirin papa. Pikirin kebahagiaan Bian sendiri. Bangun keluarga kecil Bian sendiri.”

“Bian tau rasanya punya papa yang kurang baik. Jadikan contoh ya? Bian harus jadi lelaki yang bertanggung jawab. Terutama sama Ananta dan keluarganya.”

“Jangan disakitin. Jangan pernah berani untuk nyelingkunin Ananta.”

“Sebosan apapun, jangan. Jangan selingkuhin Ata. Masih banyak solusi lain, untuk ngilangin rasa bosan dalam sebuah hubungan.”

“Jangan ngelakuin apa yang pernah papa lakuin ke mama ya, nak?”

“Sakit, Sayang. Hancur hati Mama.”

“Jangan sampai Ata dan anak kamu ikut merasakan. Ya, Sayang?”

Nyatanya, sekuat apapun Abian menahan bulir beningnya, ia tetap tak kuasa. Hatinya terasa begitu sakit. Tapi di satu sisi, ia mengerti.

“Bian sayang mama kan, nak? Jangan jahat sama Ata ya, Sayang?”

“Karena kalo Bian ngelakuin itu ke Ata, yang hancur banyak, Sayang.”

“Bukan cuma Ata, tapi orang tua Ata dan mama pun akan ikut ngerasain hancur.”

“Mama percaya sama Bian. Jangan kecewain Ata ya, Sayang?”

Anggukan cepat Abian berikan berikan. Ditemani isak yang semakin kencang. Secepat mungkin, Abian tarik sang mama agar masuk ke dalam dekapan.

Abian tumpahkan seluruh isaknya, pada wanita terbaik yang selama ini selalu ia banggakan.

“Mama, Bian janji ngga akan selingkuhin Ata. Bian janji, Ma. Bian janji.”

“Bian ngga akan ngelakuin apa yang papa lakuin ke mama. Bian janji, Bian akan selalu inget pesan mama.”

“Makasih ya, Ma. Makasih karena udah jadi figur mama sekaligus papa yang hebat buat Bian. Mama yang dari dulu berjuang mati-matian untuk Bian. Nyekolahin Bian, kerja untuk Bian.”

“Makasih banyak ya, Ma. Makasih banyak.”

“Makasih karena sampai detik ini, Mama ngga pernah capek untuk ngerawat Bian. Sampai Bian sendiri siap untuk memiliki pasangan, Mama selalu di samping Bian dan ngedukung Bian dengan doa-doa Mama.”

“Makasih ya, Ma. Makasih banyak.”

“Bian minta maaf karena masih jauh dari kata baik. Bian masih payah, Bian masih kaya anak kecil dan belum dewasa.”

“Tapi Bian janji, akan selalu berlajar lebih baik ke depannya.”

“Doain Bian ya, Ma?”

Helwa mengangguk, dengan bulir bening yang terus luruh.

“Mama selalu doain, Bian. Bian anak Mama. Bian anaknya Mama hikss..”

“Maa jangan nangis, nanti Bian sedih. Maaf ya? Maaf karena mama harus ngerasa hancur. Bian ngga akan mikirin papa. Tapi Mama juga harus gitu ya?”

“Mama juga berhak bahagia dan bahagianya Mama, itu bukan papa.”

“Kalo Mama siap, Mama boleh cerai dari papa. Bian akan dukung, sangat-sangat mendukung.”

“Tapi ngga perlu dijadiin beban kalau mama emang belum sanggup. Yang penting mama tau, kalo Bian ada di sisi mama. Meskipun Bian nanti punya keluarga, Mama tetep boleh pulang ke rumah Bian. Ya, Ma?”

“Bian hikss…”

“Mama jangan nangis, Bian ngga tega.”

“Mama sayang Bian hikss… Sayang banget.”

“Bian selalu sayang Mama. Sampai kapanpun.”

“Udah Ma, jangan nangis. Bantu Bian siap-siap aja ya? Kayanya acaranya udah mau mulai. Kasian tamu undangan kalo harus ngaret.”

“Mama jangan nangis lagi ya? Nanti cantiknya hilang.” Ucap Abian lembut, seraya menghapus bulir bening sang mama.

“Bian… Mama sayang Bian.”

Abian mengangguk tulus, “Bian juga sayang sama Mama.”

Keduanya tersenyum hangat. Saling berdamai dengan perasaan yang sama-sama terluka.

Di hari ini, biarlah kebahagiaan saja yang menyelimuti hati keduanya. Tanpa harus ada campur rasa sakit yang berhasil membuat sesak.

“Ya udah yuk, Bian ganti baju, biar Mama bantu siap-siap.”

“Ayo, Ma.”