Janji yang dilangitkan.
Kedua keluarga sudah duduk di tempat yang disediakan. Posisinya saling berhadapan, dengan ruang kosong yang berada di tengah-tengah.
Tamu undangan pun sudah menempati kursinya masing-masing. Dengan binar bahagia serta sorot mata penuh antusias.
Bisik-bisik dukungan yang diberikan untuk Abian, semakin membuat pria itu mengepalkan tangan begitu kuat. Jantungnya bertalu cepat, gugup setengah mati sampai wajahnya terlihat sedikit pucat.
Abian tidak sabar menunggu Ananta keluar, tapi di satu sisi, ia tak kuasa menahan gemuruh di dalam dada. Membuat Bright yang ada di sebelah kanan Abian, terkekeh pelan.
“Rileks, Bian.” Ucap Bright menenangkan, seraya menepuk paha Abian, bermaksud memberi dukungan.
“Gue deg-degan, Mas. Sumpah!” Jawab Abian, seraya memejamkan mata.
“Tarik nafas, tenang. Anggap lagi lamaran berdua. Rileks aja rileks. Kalo tegang nanti salah ngomong, malah ngga direstuin.”
“ANJIR LO MALAH NAKUTIN!” Cebik Abian, terdengar setengah berbisik. Sedangkan sang pelaku, hanya terkikik geli.
Abian menunduk dan memejam. Menanti sang kekasih datang ke tengah-tengah mereka. Hingga tidak lama dari waktu Abian merapal singkat, suara hiruk piruk tamu undangan yang terkesima, berhasil membuat Abian mendongakkan wajah.
Deg.
Abian bungkam.
Lidahnya kelu dan jantungnya bertalu-talu.
Darahnya berdesir hangat, sedangkan hatinya bergemuruh hebat.
Matanya terkunci pada satu titik, tepat pada wajah sang kekasih yang terlihat sangat —cantik.
Gulp.
Abian terkesima, melihat Ananta duduk dengan begitu indah. Riasan wajah sang kekasih terlihat natural dan pakaian yang digunakan Ananta pun terlihat sangat sempurna. Ditambah kedua pipi Ananta yang memerah serta senyum manis yang tersungging lebar.
Melihat Ananta dari jarak yang tidak terlalu dekat, membuat Abian jadi merasa salah tingkah.
Apalagi, ketika ia mendapai bibir cherry sang kekasih yang begitu lembab. Abian merasa… ah apasih?!
Tidak berbeda jauh dengan Abian yang menampilkan sorot kagum, Ananta di tempatnya pun merasa demikian.
Abian dengan setelan suit yang begitu indah, serta senyum tampan yang menghiasi wajahnya. Membuat penampilan pria itu terlihat berbeda dari biasanya.
Tak pelak, Ananta jadi semakin tersenyum sumringah dan tak sabar untuk segera menjadi tunangan dari pria bernama Abian.
Senyum malu-malu terbit bersamaan, seiring dengan tubuh keduanya yang kini bangkit dan beranjak untuk saling mendekat.
Abian didampingi Bright.
Ananta didampingi oleh ayahnya.
Keduanya bertemu di tengah-tengah. Dengan wajah saling menunduk. Terlihat tersipu malu, persis seperti remaja baru. Membuat Bright dan Ayah Ananta yang melihat, terkekeh lucu.
Sang MC pun mempersilahkan keduanya untuk saling meminta izin. Di depan banyaknya para saksi pun di bawah langit semesta yang begitu cantik.
Bright usap lembut punggung Abian sebagai bentuk dukungan agar keponakannya tidak terlalu gugup. Sebelum membiarkan Abian meminta izin terlebih dahulu.
Gulp.
Nafas Abian tercekat, ketika langkahnya membawa diri untuk menghadap Ayah Ananta. Maniknya berusaha menatap tegas, seolah memberitahu jika dirinya begitu siap. Dengan saliva yang ditelan susah payah, Abian meyakinkan diri untuk mulai bersuara.
“Selamat pagi, Ayah.” Senyum tulus mulai terbit, meski hatinya menjerit-jerit.
“Pagi, Nak Bian.“
“Em… Sebelum Bian meminta izin, Bian mau ngucapin banyak terimakasih karena Ayah berkenan hadir untuk mendampingin Ananta di hari yang sangat penting ini.”
“Mungkin ini terlihat seperti sebuah kewajiban pada umumnya. Tapi bagi Bian, ini lebih dari sekedar kewajiban.”
“Papa Bian ngga bisa hadir dan Bian minta maaf untuk ketidaknyamanannya. Terlepas dari apapun yang terjadi, tanpa mengurangi rasa hormat Bian ke Ayah, Bian didampingi Mas Bright sebagai wali Bian untuk meminta izin.”
“Bian minta maaf ya, Ayah?”
Manik Abian terasa mulai memanas. Tapi sebisa mungkin, ia menahannya. Apalagi, Ayah Ananta terlihat menampilkan senyuman tulus, seolah memberitahu dirinya jika itu bukan suatu hal yang perlu diurus.
Ayah Ananta paham dan ia sudah menerima dengan lapang.
“Gapapa, Nak. Ayah maafkan.”
Lega.
Meskipun rasa itu langsung berganti menjadi sesak.
Namun, Abian langsung kembali menampilkan senyum tampannya. Lalu menatap penuh keyakinan pada sosok ayah dari calon tunangannya.
“Ayah… Boleh Bian minta izin sebentar?”
Suasana mendadak hening. Para hadirin seolah ikut menanti. Membuat Abian yang merasakan perubahan atmosfer, menjadi semakin salting.
“Boleh, Nak. Silahkan.”
Huft… Abian menghela nafas panjang seraya meninggalkan gugup di dalam dada.
“Ayah, di sini, Bian, Abian Gautama Kalingga. Berdiri di depan para saksi dan langsung disaksikan oleh langit, meminta izin dengan segenap hati untuk menjadikan putra ayah, satu-satunya anak ayah, untuk menjadi tunangan Bian yang kelak akan Bian nikahi dan Bian jadikan sebagai bagian dari keluarga Bian.”
“Dengan penuh tanggung jawab, Bian meminta izin untuk memiliki Ananta, sebagai pasangan Bian, teman hidup Bian, dan rumah Bian, tempat Bian akan selalu berpulang.”
“Dengan sebuah janji untuk tidak akan menyakiti, melakukan kekerasan, dan semua sikap buruk yang tidak seharusnya dilakukan.”
“Dan yang terpenting, Bian berjanji, sampai tua nanti, Bian ngga akan pernah berani untuk menyelingkuhi Ananta.”
“Kalau hal itu sampai terjadi, Bian akan nerima seluruh konsekuensi yang ayah kasih. Termasuk, kalau Ananta memilih untuk pergi.”
“Tapi, sebelum itu terjadi, Bian janji, akan sebaik mungkin memperlakukan Ananta layaknya seorang raja. Bian akan berusaha sebisa mungkin, untuk tidak menyakiti Ananta baik secara fisik maupun batin, termasuk untuk ngga menyelingkuhi.”
“Bian akan berusaha untuk memberi dan menghidupi Ananta dengan baik, tanpa kurang dan berlebih.”
“Bian akan berusaha lebih dewasa, ketika dalam perjalanannya, kita berdua dihadapkan oleh badai lagi.”
“Sekali lagi, Bian janji. Bian ngga akan menyakiti Ananta dan ngga akan buat ayah kecewa karena sudah memberi restu dan izin.”
“Kalau ayah berkenan dan mau memberi izin…
…boleh Ananta Bian ikat jadi tunangan Bian yang kelak akan Bian nikahi?”
Satu kalimat terakhir berhasil diucap, kini giliran nafasnya yang kembali tercekat. Ayah Ananta terlihat menunduk seraya menyunggikan senyuman. Sedangkan kepalanya terlihat mengangguk seperti baru selesai mencerna seluruh perkataannya.
Keringat panas dingin menyerang Abian yang kini hanya bisa berharap cemas, semoga Ayah Ananta memberi restu atas niat baiknya.
“Bian…”
“I-Iya, Ayah.”
“Boleh ayah bertanya tentang satu hal?”
Mampus!
Abian betul-betul tidak tenang. Tenggorokannya semakin terasa kering sedangkan peluh terasa terus mengalir. “B-Boleh, Ayah. Ayah boleh nanya apapun ke Bian.”
Ayah Ananta, terlihat mengangguk paham.
“Kalo suatu hari nanti, anak ayah sakit dan beberapa hal yang tidak diinginkan terjadi, entah itu fisiknya ngga sempurna lagi ataupun sesuatu dalam diri anak ayah ada yang hilang dan ngga mungkin kembali lagi.”
“Bian mau tetap nerima anak ayah?”
“MAU!”
Begitu semangat dan penuh keyakinan.
“Bian udah pernah ada di masa itu dan Bian ngga pernah berniat sekalipun pergi ninggalin Ananta. Apapun kondisi dan situasi Ananta di kemudian hari, Abian janji ngga akan pernah pergi ninggalin anak ayah.”
“Bian janji dan Ayah boleh pegang kata-kata Bian. Bian bersedia tanda tangan di atas hitam dan putih, kalaupun itu diperlukan supaya ayah yakin kalo Bian ngga pernah main-main untuk memiliki Ananta.”
“Bian akan selalu sayang dan cinta, meskipun nanti fisik Ananta berubah. Karena Bian sayang Ananta bukan semata-mata cuma karena fisiknya aja. Bian sayang tulus, dengan seluruh yang ada di diri Ananta.”
“Bian serius dan ngga main-main akan hal itu.”
Ananta memejam, mendengar setiap untaian yang keluar dari belah bibir pria tampannya. Hatinya berdesir hangat, bahkan matanya terasa memanas, siap menumpahkan isak.
Sedangkan Bright dan ayah Ananta yang mendengar, terlihat mengangguk paham seraya mengulum senyuman.
“Kalo kamu berani nyakitin bahkan ninggalin Ata, boleh ayah minta seluruh harta kamu dipindah alih ke atas nama anak ayah? Apalagi kalo nanti kalian memiliki anak, boleh seluruhnya jadi milik anak ayah?”
“BOLEH!”
“Apapun konsekuensinya, Bian akan terima.”
“Kamu ngga mandang ayah matre?”
“Ngga. Karena meskipun seluruh harta Bian dikasih untuk Ata, Bian tau hal itu ngga akan cukup untuk ngegantiin rasa sakit yang Ananta rasain kalo Bian berani kurang ajar sama anak ayah.”
“Lagipula, Bian tau ayah lebih kaya dari Bian. Ngga ada terbesit pikiran kalo ayah matre meskipun ayah mengajukan syarat demikian.”
Mendengarnya, Ayah Ananta tersenyum begitu menenangkan. Tubuhnya di bawa maju satu langkah, seraya membawa tangan kirinya untuk menepuk bahu Abian.
“Jaga anak ayah, ya? Ayah percaya sama Bian.”
“Tolong jaga anak ayah, persis saat kamu ngejaga Ananta kemarin waktu anak ayah lagi sakit. Sampai tua nanti, terus begitu ya? Jangan berubah, jangan sakitin anak ayah. Ya?”
Abian tercekat.
Bulir beningnya menetes satu persatu membasahi wajah.
Dengan lidah kelu dan tatapan tidak percaya, Abian mengangguk. Menyanggupi seluruh ucapan Ayah Ananta yang baru saja dilontarkan.
“Ayah izinin kamu mengikat Ananta untuk jadi tunangan kamu. Jaga baik-baik ya?”
Tes.
“P-Pasti… P-Pasti Bian jaga ayah.” Jawab Abian terbata-bata, karena maniknya sudah tak kuasa untuk menahan laju air matanya.
Ayah Ananta pun kembali memundurkan tubuhnya. Lalu membiarkan Ananta maju, untuk menghadap ke arah Bright sebagai wali dari Abian.
“Om Bright…” terdengar menggemaskan hingga para tamu yang hadir terkekeh pelan. Suaranya berbanding terbalik dengan Abian yang tadi begitu gugup dan serius, seperti takut akan ditolak.
“Hm?”
Ananta menunduk, tersipu malu hingga pipinya merona semu. Jemarinya saling bertaut gemas sedangkan bibirnya tersenyum lebar.
Sangat menggemaskan!
“Om Bright, Ata mau minta izin buat jadiin Mas Bian sebagai tunangan Ata. Ata juga mau minta izin untuk dibolehin jadi pendamping hidupnya Mas Bian.”
“Ata mau jadi teman hidup Mas Bian yang bakal nemenin Mas Bian disaat senang dan sedih, sakit dan susah, miskin dan kaya, dan suasana apapun yang harus ngehampirin Mas Bian dan Ata di masa depan.”
“Ata janji bakal memperlakukan Mas Bian dengan baik. Ata ngga akan semena-mena dan Ata akan berusaha untuk ngga nyakitin Mas Bian secara fisik maupun batin.”
“Heu itu, Ata juga ngga akan godain sama ledekin Mas Bian. Ata bakal sayang-sayang terus, soalnya Mas Bian lucu.”
Sukses mengundang tawa bagi para insan yang mendengarnya, termasuk Abian.
“Ata boleh kan Om, jadi tunangannya Mas Bian?”
Bright tersenyum simpul. Bahkan, ketika sedang meminta izin, Ananta masih terlihat begitu lucu. Tidak salah jika Abian bucin setengah mampus.
Dirinya jadi dejavu.
Seperti melihat figur dirinya dan Meta di lain tubuh.
Bright pun mengangguk, seraya menarik nafas panjang, seolah siap untuk memberi jawaban.
“Saya boleh nanya?”
“Huum! Boleh! Ata bisa jawab pertanyaan apapun, ayo tanya Ata!”
Lagi-lagi, kegemasan Ananta berhasil mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang.
Bright pun mencoba menatap serius pria di hadapannya. Dengan senyuman tipis dan guratan tegas, Bright bawah tubuhnya untuk sedikit mendekat, sebelum bertanya singkat lewat satu tarikan nafas.
“Kalau Abian buat salah, gimana sikap Ata?”
“Ata bakal lihat dulu, salahnya apa. Kalo kesalahan Mas Bian masih bisa dimaafin, Ata pasti maafin Mas Bian.”
“Selingkuh?”
“Ngga mau. Ata ngga mau diselingkuhin. Kalo Mas Bian selingkuh, Ata bakal langsung minta pisah. Meskipun Ata kelak bisa maafin, tapi Ata ngga akan mau kembali.”
“Soalnya selingkuh itu penyakit, kalo udah berani nyoba sekali, pasti nanti ada yang kedua kali, dan seterusnya.”
“EMANG MAS BIAN MAU SELINGKUHIN ATA?!”
“ENGGA! ENAK AJA!”
“KOK NGOMONGIN SELINGKUHAN TERUS?!”
“IIIIII ITU MAH MAS BRIGHT!”
“HEUU PASTI MAS BIAN!”
“KOK JADI GUE YANG SALAH?????”
Pecah gelak tawa para tamu undangan ketika melihat dua insan di hadapannya ribut-ribut gemas.
Bright yang tadinya sudah sangat serius pun akhirnya menunduk dan terkekeh pelan. Ia sebenarnya paham, tanpa diberi pertanyaan, mereka sejatinya mengerti apa yang seharusnya tidak dilakukan.
Karena jika meneliti lebih jauh, hubungan keduanya sudah jauh dari kata erat. Berbagai macam badai sudah dilewati bersama-sama, meskipun tidak menutup kemungkinan akan ada badai lebih besar di masa depan.
Tapi, Bright percaya, mereka berdua pasti bisa mengatasi dengan baik permasalahan dari hubungan keduanya.
Lantas tak ingin terlalu berlama-lama, Bright mengangkat tangan kanannya, untuk menepuk bahu Ananta, lalu mengangguk membolehkan seraya menampilkan senyum tulus khas dari seorang Pradana.
“Saya izinkan.”
“YEAAAYYY!!! ATA JADI TUNANGAN MAS BIAAAN!”
“Hahaha.”
Gelak tawa langsung terdengar riuh memeriahkan pekikan Ananta yang begitu kencang dan ceria. Pria itu bahkan sampai melompat gemas saking senangnya.
Sedangkan Abian yang mendengar, merasa jika lututnya melemas total. Maniknya memanas dan jantungnya langsung merasa lega.
Sangat berbanding terbalik persis seperti siang dan malam.
Ananta yang melihat Abian memegang kedua lutut karena merasa lemas tak karuan, memiih mendekat lalu menghamburkan diri dalam pelukan yang lebih tua.
BRUKKK!
“YEAAAYY!! SEKARANG INI JADI TUNANGAN ATAAA!”
Sukses membuat Abian, meneteskan air mata. Kedua tangannya langsung terangkat, membalas dekapan yang lebih muda tak kalah erat.
“TUNANGAN ATA! MAS BIAN TUNANGAN ATAAA!! YEAAY!!!”
Kembali memancing gelak tawa semua insan yang menghadiri acara keduanya. Begitupun Abian yang semakin lama mulai terkekeh karena begitu gemas.
“Heuu Mas Bian kok diem aja? Ngga seneng ya?” Tanya Ananta dengan bibir mengerucut seraya melepas dekapan keduanya.
“Seneng, Sayaang.”
“Heu, Mas Bian ngga teriak!”
“Tapi kan Bian seneeengggg…”
“Ngga mau! Pokoknya harus teriak! Ayo teriak sama Ata!”
“YEAY KITA UDAH TUNA— Heuu Mas Bian ngga mau teriak sama Ata!”
“AYO! AYO TERIAK AYO!”
Sukses membuat Ananta kembali tersenyum sumringah. Ia pun menggenggam kedua tangan Abian, lalu mulai berhitung memberi aba-aba.
1
2
3
“YEAAAY KITA UDAH TUNANGAAAANNNNN!!!”
End.