Apartement Mile

Ia tahu, mereka hanya sekedar berteman dekat. Tetapi, ketika ia melihat sang kekasih terus merapalkan penyesalan akibat perasaan yang selama ini tidak berusaha dibalas, bolehkan jika ia juga merasa terluka?

IKHSAN SATYA NUGRAHA · TAK-MAMPU-PERGI-SAMMY-SIMORANGKIR-COVER-BY-ALDHI_xLDj6TfOjhA.mp3

Tiga hari berlalu sejak kepergian Boy, Apo masih sulit diajak berbicara. Bahkan, pria itu banyak diam, seperti seseorang yang kehilangan separuh jiwa. Apo memang kembali tinggal di apart calon tunangannya. Hanya saja... ia sama sekali tidak menganggap ada, presensi Mile yang selama ini selalu berusaha untuk menguatkannya.

“Sayang, saya udah nyiapin makan malam. Kita makan ya? Baby Girl juga kayanya udah laper. Yuk?” Satu tangan digunakan untuk menggendong Baby Girl, satu tangan lagi Mile ulurkan untuk mengajak si manis beranjak ke meja makan.

“Hm...” Hanya dehaman singkat, uluran tangan Mile bahkan tidak diterima. Sebab pria itu langsung beranjak, meninggalkan keduanya.

Lagi-lagi, Mile tersenyum hambar.

“Hari ini saya masakin kamu steak, kamu suka?” Hanya anggukan kecil, tanpa ada sorot mata balasan. Tapi, Mile tidak pernah menyerah untuk sekedar mengajak Apo untuk berbicara.

“Besok saya libur, kamu mau makan es krim di tempat yang pernah saya ajak dulu ngga? Katanya di sana ada menu bar—

“Besok aku mau ke makam Kak Boy.” Lagi. Kekasihnya mau ke makam Kak Boy lagi.

“Saya temenin ya—

“Ngga perlu. Aku bisa sendiri.”

Nafsu makan hilang, Mile kini hanya mampu mengangguk kecil, dengan senyum paksa yang terus berusaha ia sungging.

“Daddy.. Daddaa... mam... mamam... Dadda mam...” Tangan mungil itu terulur memberi sepotong kentang, dengan binar lugu, seolah ikut merasakan jika sang Dadda sedang tidak baik-baik saja.

“Makasih, Baby.”

Namun, hanya itu respon yang diberikan oleh Apo, sebelum pria itu kembali fokus menyantap makanannya. Buru-buru menghabiskan, sebab Apo sudah ingin kembali ke dalam kamar. Tidur dan berusaha melupakan semuanya.

“Aku ke kamar dulu.”

Terluka.

Mile bahkan sudah tidak tahu harus mendefinisikan perasaannya seperti apa lagi. Selama ini, ia selalu berusaha mengerti jika sang kekasih memang masih dalam suasana duka dan berkabung. Namun, mendapati presensinya sama sekali tidak berarti, tak bohong jika ia ikut merasa sakit. Jangankan dianggap ada, berharap Apo mau menatap matanya saja kini menjadi sebuah keinginan yang terasa sangat mustahil untuk didapatkan.

Diam-diam, ia jadi merapal tanpa sadar, “Kalo saya jadi teman dekat kamu aja. Kamu, mau liat saya lagi ngga?

Huft... Helaan nafas kecewa itu kembali berhembus berat, Mile menyandarkan punggung, seraya menatap kosong ke arah seorang anak di hadapannya.

“Daddy... mam... mamam Daddy mamam...” Jemari mungil itu kini membawa sepotong daging untuk diusapkan. Baby Girl tahu, sang Daddy kembali terlihat berkaca-kaca.

“Makasih ya, Baby Girl? Kamu anak baik. Maaf ya kalo akhir-akhir ini Dadda jarang ngobrol sama kamu. Baby Girl ngga marah, kan?”

Hanya ada senyuman lugu, dengan sorot polos dan tingkah sangat lucu. Mungkin, jika tidak ada Baby Girl, Mile benar-benar berada di titik putus asa untuk terus menguatkan sang kekasih. Sebab kini ia hanya dipandang sebelah mata.

“Udah selesai makannya, sekarang kita tidur ya? Dadda pasti udah nunggu Baby, oke?” Senyuman manis tersungging, Baby Girl terlihat antusias saat dibawa kembali menuju kamar.

“Daddy huggie! Mawu huggie huggie... Daddaaa...” Anak itu mengguncang tubuh Apo tanpa tenaga, menjadikan pemiliknya menoleh, lalu segera merengkuh tubuh mungil anak perempuan itu dan mengajak masuk ke dalam dekap.

Mile menyusul, ia membaringkan tubuh di samping yang lebih muda. Punggung rapuh Apo kembali menjadi pemandangannya, tanpa ada kehangatan ataupun sekedar kenyamanan, seperti sebelumnya.

“Saya... boleh peluk?” Izin yang selalu dilontarkan setiap malam, dan anggukan kecil pasti selalu diberikan.

Tangannya ia lingkarkan pada tubuh yang lebih muda. Seraya membawa ranumnya untuk mendekat, pada cuping telinga calon tunangannya.

“Saya minta maaf kalo belum bisa bikin kamu ngerasa bahagia. Saya minta maaf, kalo usaha saya bikin kamu ngerasa tenang masih gagal kaya malam sebelumnya.”

“Kamu mungkin bosen denger saya terus ngomong kaya gini. Tapi...

“Jangan pernah milih untuk pergi, ya?”

“Karena saya mungkin bakal lebih ngerasa terluka, kalo saya harus kehilangan kamu untuk yang kedua kali.”

Dekapan kian dieratkan, bulir bening sudah meluruh sedaritadi dari manik yang lebih tua. “Saya sayang sama kamu.”

“Jangan pergi, ya?”