📍 Kamar Abian – 13.03 WIB
Melewatkan waktu makan siang, Ananta langsung kembali tersenyum sumringah ketika mendapati Abian berkata mau belajar menyentuh tubuhnya. Perasaannya seketika membuncah, semburat merah juga langsung menghiasi wajah. Bibirnya terangkat cantik, dengan mata yang terlihat membentuk bulan sabit.
Siapapun yang melihatnya, pasti akan mengakui, jika Ananta terlihat begitu manis. Bahkan Abian, sampai berhasil dibuat tidak mengedip sama sekali.
Dengan semangat yang membara dalam hati, Ananta langsung bangkit dan mengungkung tubuh sang kekasih. Kedua lututnya berdiri di samping kanan dan kiri. Sedangkan piyamanya yang terbuka, memperlihatkan lekuk tubuh si manis.
Kulitnya begitu putih dan bersih. Dadanya terlihat padat dan cantik. Sedangkan pinggangnya, sangat ramping. Belum lagi paha Ananta yang terlihat mulus dan seksi.
Sukses membuat Abian meneguk saliva susah payah dan nafasnya tercekat di tenggorokan.
Melihat Ananta perlahan duduk di atas perut kekarnya, Abian meremas sprei sangat kuat. Jantungnya bertalu dan darahnya berdesir hangat. Peluh kembali membasahi pelipis dan wajahnya langsung berubah pucat.
Demi Tuhan, Abian payah!
“Mas Biaan...” suara Ananta berubah menjadi begitu menggemaskan. Terlihat malu-malu dengan wajah yang menunduk.
Abian yang dipanggil pun ngeblank dan tak mampu untuk bersuara. Bisa bernafas dan bertahan sadar saja rasanya sudah Puji Tuhan.
Maka dengan perasaan yang membuncah, Ananta segera membungkukkan tubuh dan menindih Abian dengan sempurna.
DEG
Abian langsung memejam. Mengumpat sebanyak-banyaknya di dalam benak, ketika tubuh ramping Ananta menempel sempurna pada tubuhnya.
Deru nafas Ananta yang menyapu leher jenjang Abian, berhasil membuat sang pemilik apart meremang. Bahkan, nafasnya sampai di tahan agar perasaan gugup dalam hatinya, tidak kembali mengacaukan keduanya.
“Mas Bian coba sekarang peluk Ata.” Bisik Ananta, tepat di cuping yang lebih tua.
“P-Peluk?”
“Huum! Ayo peluk. Peluk Ata, tangannya peluk pinggang Ata. Kata Om Meta, kalo pelukan kaya gini, Ata peluk leher Mas Bian, Mas Bian peluk pinggang Ata.” Jelas Ananta, terlihat seperti sangat paham akan ajaran dari Metawin.
Abian kembali dibuat terdiam seribu bahasa. Demi Tuhan ini tidak semudah yang ia bayangkan. Bahkan, sekedar pelukan saja rasanya begitu susah.
Abian mau nangis aja!
“Mas Bian kok diem? Sini tangannya, peluk Ata.”
DEG
Abian memejam rapat, bibir bawahnya digigit kuat. Tubuhnya mendadak kaku tepat ketika Ananta menuntun kedua tangannya agar memeluk pinggang ramping yang lebih muda.
Abian sungguhan ingin kabur!
Masalahnya... Ananta melingkarkan tangan Abian pada pinggang Ananta, saat piyama yang digunakan si manis sudah tersingkap seluruhnya.
Alhasil, Abian langsung menyentuh pinggang mulus yang lebih muda.
“TUHAN PLEASE, PLEASE, PLEASE, BIKIN GUE PINGSAN SEKARANG!”
“GUE NGGA MAU NGOMPOL LAGI, PLEASE! PERUT GUE GELIIIIIII!!!”
“Mas Bian, jangan gemeteran tangannya. Kok kaya mau disunat sih? Gemeteran banget, kulit Ata lembut kok.”
“TUHAN, APA GA KASIHAN SAMA HAMBA-MU INI?!!! GUE BENERAN TREMOR DEMI TUHAN!”
DEG
“Nah, peluk Ata kaya gini ya? Sekarang Ata yang peluk Mas Bian! Belajar pelukan dulu ya Mas Bian? Biar nanti pas pegang susu Ata tangan Mas Bian ngga kaya lagi disetrum, gemeteran. Hehehe.”
“FUCK! MALU ANJING!!!!!!!”
“Ah!”
“Eh, Mas Bian kenapa?”
“TITIT LO KENA TITIT GUE ANJING!! CUKUP, PLEASE! JANGAN GERAK HIKS!”
“Mas Bian...”
“E-Eh... o-oh, i-iya, a-anu, gapapa. H-He-he, g-gapapa, Ta.” Jawab Abian, persis seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
“Ata peluk Mas Bian ya?” Izin Ananta, dengan suara yang begitu semangat.
Apa daya, Abian hanya mampu untuk mengangguk pasrah, karena ranumnya tak lagi mampu untuk mengeluarkan suara.
“YEAY! AYO PELUKAN!”
Ananta dengan begitu mahir, melingkarkan kedua tangannya pada leher yang lebih tua. Jemarinya yang begitu lentik, mengusap rambut Abian dengan sangat sensual. Sedangkan wajahnya, mulai bersembunyi pada ceruk milik lelakinya.
“Wangi... Mas Bian wangi..” Lirih Ananta, seraya menggesek lembut hidungnya pada leher yang lebih tua.
Sukses membuat Abian meremang sebadan-badan.
Tidak cukup sampai di sana, Ananta juga memberi satu kecupan singkat pada leher milik Abian.
CUP
DEG
Abian menegang.
Tidak hanya satu, Ananta kini memberikan kecup bertubi-tubi. Seolah ingin menjamah seluruhnya, meskipun gerakannya masih sedikit amatian.
“T-Ta...” dengan nafas tercekat dan bibir pucat, Abian memanggil sang kekasih diiringi suara bergetar.
“Mas Bian jangan diem aja, coba elus-elus pinggang Ata.”
Mampus!
Abian diam begini saja peluhnya banjir, ini malah disuruh acara elus-elus. Kali ini beneran gapapa dibikin pingsan aja.
Abian ngga akan marah sumpah!
“Mas Bian... kok ngga mau? Pinggang Ata jelek ya?”
“DEMI TUHAN INI KAGA ADA YANG MAU NOLONG GUE APA?!”
Abian diam memejamkan mata. Jangan ditanya seberapa kacau keadaan sang pemilik apart. Sudah tidak karuan karena bernafas saja Abian susah payah.
“Mas Bian kalo ngga mau janga dipaksa, gapapa kok. Mas Bian tidur sendiri aja ya.”
GUSTI!
SRET
BRUKKK!
DEG
“ANJINGGGGGGGGGGGGG!”
“O-Oh, Mas Bian maunya pegang susu Ata ya?”
DEG
Abian mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. Berniat menahan Ananta agar tidak pergi, ia justru menarik tubuh Ananta dan langsung menggenggam erat dada padat milik sang kekasih.
Tubuh Ananta didekap dari belakang, dan tubuh keduanya merapat sempurna.
“Hihi, Ata pikir Mas Bian ngga mau pegang susu Ata. Ternyata semangat!”
“KAGA BEGITU BOCIL, ANJIR!”
“Sini, Mas Bian. Pijat dada Ata!”
Senyum si manis sudah kembali tersungging. Terlampau senang karena Abian mau menyentuh tubuhnya dengan segenap hati. Tak tahu saja ia, jika Abian di belakang mati-matian menahan diri. Apalagi kini kedua tangan Ananta menggenggam erat jemari Abian. Seolah membantu Abian dalam memainkan dada padatnya.
“Mas Bian, pijat lagi kaya gini.”
Demi apapun, sudah tidak ada lagi kata yang mampu untuk menjelaskan keadaan Abian. Karena tepat ketika Ananta menuntun tangannya untuk memijat dada si manis, Abian melemas.
“Ngh... Mas Bian... Mas Bian geli, l-lagi nghh... mau diteken lagi.”
Mampus! Mampus! Mampus!
Abian tak mampu berkutik ketika Ananta semakin asik memainkan dadanya dengan jemari panjang milik Abian. Mulai dari kegiatan meremas hingga mencubit puting. Dari yang awalnya hanya erangan sampai berganti jadi mendesah.
Sedangkan Abian hanya mampu diam.
Tak berkutik.
Mematung.
Tercekat.
Dan yang terakhir...
DEG
“MAS BIAN KOK NGOMPOL LAGI?!!!!”
Selamat tinggal harga diri.