📍Kamar Ananta – 13.57 WIB – 08 Maret 2022


CKLEK

”Mas Bian…”

”Eh udah bangun?”

Abian mendekat ke arah Ananta yang ternyata sudah sempurna terbangun dari lelap. Wajahnya terlihat masih mengantuk khas sekali orang yang bangun tidur.

Diletakkannya sebuah hampers yang tadi dikirimkan oleh Cinta ke atas meja. Sebelum duduk di tepi ranjang dan mulai memberi perhatian pada Ananta.

”Pusing ngga?” tanya Abian, seraya mengusap lembut surai hitam Ananta. Sedangkan yang diberi pertanyaan, menggeleng singkat.

”Mas Bian darimana? Kok pergi?” tanya Ananta. Dengan guratan wajah yang terlihat sedih.

Abian tangkup sebelah pipi sang kekasih, sebelum diberi penjelasan agar Ananta mengerti. “Bian abis ngambil paket makanan. Tadi temen Ata yang namanya Cinta kirim makanan.”

”Tuh liat, tadi masaknya rame-rame sama temen-temen Ata katanya. Dimakan ya? Bian suapin. Mau?”

Mendengar kata teman, Ananta membola. Nafasnya sedikit tercekat, seperti tidak percaya jika ia masih dianggap teman.

”T-Temen?” tanya Ananta, tak percaya.

”Iyaa temen. Temen Ata, masa ngga kenal? Yang perempuan ituloh, namanya Cinta. Ata lup—

”Mereka masih inget Ata?”

Sukses membuat Abian mengerti, kemana arah pembicaraan sang kekasih.

”Sini-sini, Ata duduk dulu ya? Biar ngobrolnya enak. Sekalian kita makan siang, terus Ata minum obat. Oke?”

Ananta mengangguk patuh. Lalu membiarkan Abian membantunya untuk duduk. Semula, kewarasannya memang sudah terkumpul penuh. Tapi, ketika mendengar kata teman, Ananta mendadak jadi linglung.

Hatinya seperti tidak percaya. Tapi, ia juga tidak mau berburuk sangka. Dari awal kenal Cinta, perempuan itu memang sangat baik padanya.

Bahkan, tak segan untuk memberikan apa yang Ananta butuhkan. Meskipun harus mengorbankan diri sendiri demi Ananta.

Jujur, Ananta sudah tidak berharap jika mereka mau berteman lagi dengan dirinya. Karena keterbatasan fisik yang dimiliki Ananta, membuat dirinya merasa jika semua temannya pasti akan menjauhinya.

Tapi, Tuhan sepertinya membantah tuduhan Ananta. Karena yang ia lihat sekarang justru…

Sebuah hampers makanan yang dibuat sendiri oleh Cinta dan teman-temannya. Serta isi dari roomchat Abian dengan Cinta yang membahas tentang dirinya. Dimana dalam percakapan itu, Cinta banyak mengatakan hal baik untuknya.

Berhasil membuat bulir bening yang tak dinanti kedatangannya, luruh begitu saja.

”Hey kok malah nangis?” tegur Abian lembut, seraya mengusap bulir bening sang kekasih.

Ananta tersenyum, ketika Abian dengan cekatan menghapus jejak bening yang membasahi pipi gembilnya. Ia tatap obsidian yang lebih tua dengan manik penuh ketulusan serta bulir bening yang menggenang.

Sebelum kemudian menangkup sebelah pipi Abian, dan mengusapnya penuh sayang.

”Ata gapapa Mas Bian… Ata cuma lagi terharu karena temen-temen Ata masih inget sama Ata.” jelas Ananta, dengan senyum dan tangis yang terbit secara bersamaan.

”Ata pikir, mereka bakal jauhin Ata karena kekurangan Ata. Ternyata Ata salah. Ngga semua orang jahat dan memandang orang lain dari fisiknya.”

”Hehe, Ata seneng banget Mas Bian.” Ungkapnya, dengan bibir sedikit bergetar dan bulir kristal yang kian mengalir deras.

Abian tersenyum, seraya terus membersihkan wajah manis lelakinya dari bulir bening yang mengalir deras. ”Cantiknya kalo senyum. Kalo nangisnya karena bahagia, gapapa. Bian ngga akan larang.”

”Seneng banget yaa temennya pada baik? Bian juga tadi nangis liat temen Ata banyak yang sayang sama Ata.” Ucap Abian lembut, berusaha mengimbangi suasana yang mendadak sendu.

”Bukan cuma Bian ternyata yang sayang sama Ata. Temen-temen Ata juga masih sayang sama Ata. Makannya Ata ngga boleh sedih lagi. Harus senyum.” Telunjuk Abian bergerak, menarik sudut bibir sang kekasih agar terangkat.

Ananta sontak terkekeh pelan. Ketika Abian berbicara layaknya seorang anak kecil yang sedang bercerita.

”Mau ketemu temen-temen ngga, Sayang?” Tanya Abian hati-hati. Khawatir sang kekasih belum mau bertemu banyak orang.

Ananta pun menarik nafas panjang. Sebelum menghapus sisa jejak bulir bening di pipinya. Lalu menjawab pertanyaan pria di hadapannya.

”Kalo tunggu sebentar lagi boleh? Ata… Ata masih harus nyiapin diri. A-Ata belum berani ketemu orang lain selain Ayah, Bunda, sama Mas Bian.”

”B-Boleh ngga, Mas Bian?” tanya Ananta, takut-takut.

Abian tentu langsung mengangguk. Lalu mencubit gemas ujung hidung milik yang lebih muda. ”Boleh dong! Masa ngga boleh.”

”Nanti Bian kasih tau Cinta kalo Ata masih pengen istirahat sendiri dulu. Oke? Ngga perlu dipikirin, mereka pasti ngerti. Yang penting sekarang Ata makan terus minum obat, terus nanti Bian pakein salep buat bekas luka di muka Ata. Yaa?” Tawar Abian, dengan nada bicara yang sangat ceria. Seraya mengambil hampers dari teman Ananta.

”Sini kita buka hampersnyaa. Bian bantuin yaa?”

Ananta mengangguk. Sembari terus menatap wajah Abian yang sangat antusias karena diberi izin untuk pertama kalinya, kembali menyuapi dirinya.

Binar ketulusan yang Abian tampilkan, juga bisa ditangkap oleh Ananta sepenuhnya.

Bagaimana guratan wajah Abian yang ikut merasa bahagia ketika teman-temannya masih memberi perhatian. Senyum manis yang tak lelah Abian tampilkan agar dirinya merasa tenang. Serta tatapan mata yang tidak pernah berbohong jika Abian sangat mencintai Ananta.

Dalam diamnya, Ananta menangis sangat kencang. Ia tak kuasa diperlakukan sangat baik dan dilingkup oleh banyak cinta. Hatinya tidak mampu menerima itu semua sampai yang bisa ia keluarkan hanya bulir bening sebagai pelampiasan bahagia.

Hari ini, Abian kembali merawat Ananta.

Mulai dari menyuapi Ananta makan. Menyiapkan obat dan membantu Ananta meminumnya. Membantu Ananta mengganti pakaian dan kaus kaki karena Ananta merasa gerah.

Dan yang terakhir, Abian memberikan pahanya untuk tempat Ananta bersandar. Sembari mendengarkan segala macam celotehan Ananta dan juga mengoles salep untuk bekas luka Ananta.

Jika Ananta ditanya, apa itu definisi bahagia.

Maka ini, bahagia yang Ananta selalu damba.

Berbagi cerita sembari tidur di paha Abian. Seraya terus ditatap lekat dan diusap surai hitamnya.


Ananta memang hanya butuh hal sederhana untuk tetap bertahan dan bangkit dari keterpurukan. Mulai dari perhatian kecil sampai perhatian besar.

Lukanya memang belum sembuh total. Tapi perhatian kecil yang selalu Ananta dapatkan, berhasil membuat lukanya pudar perlahan-lahan.

Untuk itu, jangan sakiti lagi Ananta sekecil apapun celah itu terbuka. Karena tawa dari si manis bergigi kelinci yang kini tengah kembali berceloteh ria, begitu sulit dikembalikan jika hatinya harus merasa hancur untuk yang kedua kalinya.

Semesta, cukup ya lukanya?