📍Mansion Pradana – 09. 48 WIB
Waktu menunjukkan pukul sepuluh kurang. Mentari masih begitu teduh memancarkan sinarnya. Bahkan, cuaca hari ini bisa dikatakan sejuk dan tidak panas. Membuat putra dan putri dari Pradana yang memang sudah memiliki rencana untuk bermain bersama, jadi bisa merealisasikannya sekarang.
”Kak Aga ayo berangkat.” Ajak Luna, yang kini sudah menggenggam erat tangan si kecil dan tangan sang kakak tertua.
”Pamit dulu sama ayah dan papi.”
Bright yang sedang duduk di atas sofa, lantas tersenyum manis dan mempersilahkan putra-putrinya untuk mendekat. Begitupun dengan Metawin yang dengan sigap mendekap satu-persatu anaknya seraya membubuhi kecupan singkat.
”Ayah…” panggil si kecil, dengan tubuh yang kini duduk di atas pangkuan sang ayah.
CUP
Satu kecupan singkat, mendarat pada kening putra bungsunya. Lantas dengan penuh sayang, ditangkup kedua pipi si kecil, lalu ditatap lekat dan diberi senyuman tampan.
”Nanti mainnya jangan jauh-jauh ya? Kalo Adek ngerasa ngga nyaman atau takut sama sesuatu, langsung peluk Kak Aga atau Kak Ian. Ya, Sayang?” Ucap Bright mengingatkan, lantaran sang putra masih sedikit terngiang dengan kejadian pembulian beberapa bulan silam.
Niel pun mengangguk paham, ”Ayah… Nanti di sana ngga ada orang jahat ‘kan?”
”Nanti kalo ada yang jahat, sama Kaka Aga dipukul, biar ngga berani sentuh adek. Jangan takut ya?” Bright lagi-lagi berusaha memberikan pengertian. Sampai si kecil akhirnya mengangguk dan memberi satu kecupan singkat, sebagai sebuah salam perpisahan.
Keempatnya berpamitan secara bersamaan. Luna dan Ian juga tak lupa untuk menyalami kedua orang tuanya.
”Luna nanti hati-hati ya biar ngga jatuh? Inget kulitnya sensitif.” Ucap Metawin mengingatkan, dan anggukan pelan diberikan sebagai jawaban.
”Ian berangkat ya, ayah, papi.” Pamit Kak Ian, sopan.
”Titip adek ya, Kak.” Ucap Bright lembut, seraya mengusap tengkuk sang putra.
Ian mengangguk paham, lantas dengan sigap menggendong tubuh Niel dan mengajaknya keluar bersama Luna. Lebih dulu menuju mobil karena Kak Aga akan sedikit berbicara dengan kedua orang tuanya.
Setelah yakin ketiga putranya keluar, Bright pun bangkit dan mencengkram lembut bahu milik putra tertuanya.
Wajah yang semula terlihat sangat tegas dan berwibawa, kini sedikit terlihat cengengsan seperti tak punya dosa. Bahkan, Bright dan Metawin terlihat menggaruk tengkuknya yang tak gatal akibat rasa malu datang menyeruk.
Malu, tapi ya… mau.
”Nanti chat Aga kalo udah selesai.” Pinta Aga, agar hal yang tidak diinginkan bisa diantisipasi.
Mendengar penuturan sang putra, Metawin pun mengangguk senang. Lantas, dengan begitu manja, ia raih tangan kanan sang putra lalu diberi usapan penuh sayang.
”Kak Agaaa…”
Nah, Aga sedikit meremang. Sang papi jika sudah memanggil dengan nada manja seperti ini pasti karena permintaannya aneh-aneh dan sedikit membuatnya resah.
Lantas dengan ekspresi wajah yang terlihat tenang, Aga bertanya melalui gerakan isyarat pada wajahnya.
”Hehe… I-Itu… Pulangnya sore aja ya?”
Sukses membuat Aga meringis canggung dengan mata memejam dan tangan terangkat guna mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
”Papi pengen main sampe sore.”
Cukup.
Aga menaikkan tangannya dan membentuk isyarat stop pada sang papi. Ketika tak ada lagi yang berbicara, Aga dengan cepat membuka matanya dan mengangguk paham.
Ia berikan jempolnya pada sang papi yang kini tersenyum senang. Sedangkan Bright hanya diam karena sedang menahan malu karena ya… siapa yang tidak malu coba?
”Aga berangkat sekarang, biar itu… bisa lama.” Pamit Aga, karena tak sanggup lagi melihat kedua orang tuanya yang seperti dimabuk oleh asmara.
”Hati-hati, Ayah titip adek.” Anggukan paham diberikan sebagai jawaban. Sebelum dirinya pamit dan beranjak keluar.
Namun, sebelum Aga benar-benar keluar, ia sempat menghentikan langkahnya untuk sekedar berbicara singkat.
”Pake pengaman, Aga ngga mau punya adek lagi.”
BLUSHHH!
BRUKKK!
Tubuh Bright yang terbalut kemeja hitam dengan tiga kancing teratas terbuka, serta celana bahan berwarna hitam dan arloji di tangan kirinya, membuat Metawin tidak tahan untuk segera mendorong sang suami agar terduduk di atas sofa.
Masih di ruang keluarga, tapi keduanya sudah tidak tahan. Lebih tepatnya, Metawin yang tak kuasa jika harus beranjak menuju kamarnya di lantai tiga.
Sudah hampir dua minggu keduanya tidak saling menjamah, akibat sang putra yang akhir-akhir ini selalu meminta untuk tidur bersama.
Alhasil, ketika hari libur tiba, Bright meminta Aga untuk mengajak adik-adiknya jalan-jalan.
Kemana saja, asal pergi dulu dari rumah.
Beruntung, Aga mengerti dan paham maksud dari kedua orang tuanya. Ia juga tidak keberatan karena bagaimanapun itu kebutuhan mereka. Aga sudah dewasa dan cukup usia untuk memaklumi kebutuhan seksual antar pria dewasa yang bahkan sudah menikah.
Maka, Bright dan Metawin tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
ZRETT…
Metawin langsung melepas sabuk yang melingkar pada pinggang pria tampannya. Ia sudah tidak tahan dan gerakannya sedikit tergesa. Sedangkan Bright, kali ini memilih untuk banyak diam.
Karena Metawin mengatakan ingin mendominasi dalam permain.
Let’s see?
CUP
Satu kecupan singkat mendarat pada bagian celana Bright yang mengembung di bawah sana. Sebelum membawa tubuhnya untuk duduk di atas pangkuan sang suami yang begitu gagah.
”Ngh… Gede, Mas.” Ucap Metawin, ketika belahan sintalnya berhasil menggesek selatan sang suami yang ereksi hebat.
Lantas dengan nafsu yang sudah berada di ambang batas, Metawin langsung melepas satu-persatu kancing kemeja Bright hingga tubuh kekar dan dada bidang milik yang lebih tua, terpampang jelas.
”CUP”
Metawin mengecup dada Bright dengan sangat sensual. Maniknya terus menatap sang suami tanpa terputus, hingga Bright membalas dengan seringai nakal.
Tangan kekar Bright yang menganggur, beranjak naik untuk meremas bokong kesukaannya. Sebelum mengusap sensual lubang berkedut si manis yang masih tertutup sehelai pakaian.
*“Ah!”**
Satu desahan lolos, dan tubuhnya menggeliat. Maniknya memejam dan tangannya mencengkram bahu Bright sangat erat. Semakin tak tahan untuk segera menjamah tubuh gagah Bright di hadapannya, hingga dipenuhi bercak merah dan dibuat mengkilap oleh saliva.
GULP
”Mau ngapain, hm?” Tanya Bright, berpura-pura tak paham. Dengan tatapan seduktif, dan bibir bawah dijilat nakal.
Kebal dengan tatapan nakal Bright, Metawin langsung menghempas kemeja Bright ke atas lantai dengan pipi merona padam. Bahkan, seulas senyuman cantik, tersungging di bibir mungilnya.
CUP
”Mas Bii, mau nenen.” Bisik Metawin nakal, setelah mengecup cuping sang suami yang memerah.
Bright pun menampilkan seringai nakal, lalu dengan begitu tampan, mengangguk singkat.
”Sampe bengkak bisa, hm?” Tak kalah menggoda, Bright membalas dengan berbisik rendah.
Metawin pun semakin semangat, lantas dengan penuh percaya diri, ia mengangguk paham.
”Meta sedot sampe bengkak.”
SLURRPHH
**”Ngh…”
Bright melenguh ketika Metawin memberikan satu sesapan kuat dan singkat pada ceruk lehernya yang masih seputih kanvas. Sebelum memperhatikan si manis yang berlutut dan mensejajarkan wajahnya dengan dada bidang milik Bright yang begitu menggoda.
Dimainkan puting kecoklatan milik pria dengan marga Pradana, sebelum Metawin jilat dengan begitu nakal.
SLURRPHH
Bright memejam, ketika putingnya disesap sangat kuat. Tangannya beranjak turun, berusaha mencengkram pinggang ramping Metawin sebagai pelampiasan nikmat.
”SLURRPHH”
”Shh… Sayang.”
Metawin mulai memejam, menikmati setiap gerakan lidahnya pada puting yang lebih tua. Disesap bergantian antara kanan dan kiri. Seraya dicubit dengan kedua jari.
Bright tentu melenguh pelan. Menikmati bagaimana Metawin yang mulai bergerak liar. Permainannya dalam urusan ranjang pun sudah berkembang. Lebih berani dan binal, apalagi jika dalam kondisi lama tak saling menjamah.
Metawin akan kalap dan bergerak sesukanya.
Seperti saat ini, ketika puting Bright sudah disesap sampai memerah, Metawin memilih kembali bangkit dan menduduki paha kekar Bright.
Tanpa melepas kedua tangan yang kini asik meremat dada bidang sang suami, dan gerakan tubuh yang mulai memberi grinding.
”Nghh… Mas Bii… Enaak… Gede banget kontolnya.”
PLAKK!!
”Ah! Lagihh… Mau ditampar lagih… Nghh…”
Bright langsung merengkuh pinggang Metawin erat. Wajahnya tenggelam pada dada padat si manis, lalu menggesekkan hidungnya di sana.
Membuat Metawin yang merasa geli luar biasa, mengalihkan kedua tangannya untuk melingkar manja pada bahu yang lebih tua.
Lantas dengan begitu cekatan, Metawin buka kancing kemejanya, dengan bantuan satu tangan.
”Ayo nenen, Massh… Nenen ke Met— AH!”
SLURRPHH.
Bright langsung memberikan sesapan kuat persis seperti musafir yang kehausan. Kedua matanya memejam dengan gerakan lidah yang semakin lihai. Dikulum dan di gigit kecil, sampai Metawin mengerang dan menggeliat.
Tubuh bagian bawah keduanya, kian bergesek cepat lantaran Metawin tak bisa diam ketika dua noktah kemerahannya, dimainkan dengan cukup kuat.
”Shh… Nghh Ah! Masshh… Perih, ugh. Enak ahh! Kangennn… Kangenn dikenyot nghhh… Mas Bii… Ah!”
Semakin membuat Bright terpancing untuk menyesap kuat. Diremas dada padat si manis yang belum terjamah oleh lidah. Sembari menggigit kecil puting yang sudah berada di dalam mulutnya.
Sedangkan Metawin kian bergerak gusar, dengan kedua tangan meremat surai hitam Bright sedikit kasar.
”Nghh… Ah! Udahh sshh… Mas Bii udahh… Mau ngewe… Ngga kuaathh… Ngh! Pengen ngewe, Masshh…”
Gerakan Metawin dalam memberi grinding semakin tak kenal aturan. Bergerak maju dan mundur seolah kenikmatannya sudah berada diujung batas.
Mengerti lelakinya tak akan berhenti untuk menyesap kedua noktahnya, Metawin pun berusaha menjauhkan wajah Bright sebentar.
Ditangkup kedua pipi yang lebih tua. Sebelum diserang dengan cumbuan menggebu dan penuh akan tuntutan.
CUP
Metawin memimpin cumbuan. Ia langsung melumat rakus bibir sintal Bright yang sangat menggoda. Sedangkan Bright yang menerima, menyeringai dalam pagutan. Dengan kedua tangan yang kini nyaman meremas bongkahan sintal milik si manis di atas pangkuannya.
Suara pertemuan lidah yang sedikit berisik, membuat wajah keduanya semakin bergerak miring. Menikah bertahun-tahun, membuat keduanya mudah sekali lepas kendali, ketika sedang memuaskan tubuh dari lawan masing-masing.
”Mphhh… Nghh…”
Desahan Metawin mengalun indah. Seiring dengan gerakan menyesap yang semakin kuat. Bibir bawah Bright sudah berubah menjadi sedikit bengkak, karena dominasi sepenuhnya sedang direbut oleh yang lebih muda.
Bright mengalah, sebelum nanti mengambil alih dan membuat Metawin hanya bisa mendesah.
PWAHHH
Metawin terengah. Bibirnya memerah dan mengkilap oleh saliva. Terasa sedikit perih tapi enak. Membuatnya tak tahan lagi untuk beringsut ke bawah dan melepas celana yang menutupi kejantanan milik lelakinya.
ZRETT
”Gede aaa. Mau nyepong, Mas Bii.” Rengek Metawin manja, seraya menggenggam penis Bright yang tak pernah gagal membuat Metawin takjub dan terlena.
Sejenak, Bright menunduk. Mengangkat dagu yang lebih muda untuk mempertemukan manik keduanya barang sesaat.
CUP
Dikecup singkat ranum yang lebih muda, sebelum menampilkan seringai menggoda dan tatapan sangat nakal.
”Sepong yang enak bisa?” anggukan tentu diberikan oleh yang lebih muda. Dengan bibir tersenyum sumringah sampai garis yang membentuk bulan sabit terlihat di manik si manis.
”Meta sepong sampe keluar spermanya boleh?” Bisik Metawin, balas menantang. Bahkan, hidungnya ia gesekkan pada hidung Bright di hadapannya.
Bright tersenyum puas. Ia suka Metawin yang binal dan liar. Diusap tengkuk sang suami sebagai apresiasi bangga. Sebelum dikecup keningnya dan dipersilahkan untuk bermain dengan penisnya.
”Harus sampe keluar. Baru Mas ewe, oke?”
Mendengarnya tepat di depan telinga, membuat Metawin sedikit meremang. Wajahnya jadi merona padam, apalagi ketika Bright memilih untuk menyandar pada kepala sofa dan menatap telak ke arahnya.
Seketika kikuk itu menjalar dan Metawin sedikit canggung untuk kembali bergerak liar.
Bagaimanapun, Metawin tetap pria pemalu yang menggemaskan.
Liarnya hanya sesaat, bahkan terkesan amatiran dan serampangan.
Tapi hal itu, cukup membuat Bright merasa sangat terangsang.
”Do it, Sayang.”
CUP
Diawali dengan kecupan pada kepala penis Bright. Lalu beranjak untuk mengecupi seluruh permukaan batang berurat milik yang lebih tua.
Dijilat dengan sangat sensual, dari puncak hingga ke pangkal. Semuanya Metawin lakukan dengan sangat perlahan, seraya memejam dan menikmati sebanyak itu penis lelakinya yang sangat gagah perkasa.
”Sshh…” Bright mendesis, ketika ujung lidah Metawin menyapu bersih.
”Kangen… Kangen kontol Mas Bii.” Ucapnya nakal, seraya memijat naik turun batang penis Bright yang dihiasi urat.
CUP
Metawin kembali mengecup sekilas, sebelum memasukkannya ke dalam goa hangat yang hanya mampu menampung seperempat dari ukuran penis Bright.
Seperti biasa, kejantanan sang suami selalu tidak mampu masuk seluruhnya. Ukurannya terlalu besar untuk mulut Metawin yang mungil.
Tapi hal itu tidak mengurangi rasa nikmat yang diterima oleh Bright. Karena buktinya, yang lebih tua tetap memejam dan mendongakkan wajah ketika dengan sangat nakal, si manis menggelitik lubang kencingnya.
”Sshh… Sayanghh… Geli, Ahh…”
Sudah lama bersama, Bright tak lagi malu untuk mengeluarkan desah. Semakin santai dan rileks ketika Metawin sedang memuaskannya.
Metawin yang mendengar erangan berserta desah dari belah bibir Bright, langsung tersenyum penuh kemenangan. Ia coba memasukkan setengah dari ukuran penis Bright, meskipun hasilnya sangat mentok dan membuatnya tersedak.
”Ghookkk… Mmphh nghh…”
”Fuck!” Bright mengumpat lirih.
Bulir bening tanpa sengaja mengalir, membasahi pipi Metawin akibat sodokan penis yang terlalu besar. Meskipun demikian, Metawin suka.
Metawin langsung menggerakkan wajahnya maju dan mundur, seraya terus memainkan lidahnya hingga sang suami sedikit menggelinjang.
Tangan kanannya juga tak tinggal diam, ia memijat bagian batang penis Bright yang belum berhasil terjamah oleh mulutnya.
Disesap kuat seolah sperma Bright akan segera keluar. Lalu dipijiat nikmat agar sang suami semakin terangsang.
”Sayanghhh… Ah! Deeper!”
Bright mulai menekan tengkuk Metawin agar memperdalam permainan mulutnya. Membuat si manis yang mengerti harus berbuat apa, sontak mencoba untuk melakukan deepthroat meskipun ia yakin akan tersedak.
Kedua tangannya mencengkram paha Bright sebagai tumpuan. Metawin pun menarik nafas panjang, dan setelah merasa yakin, Metawin mencoba menatap obsidian sang suami di hadapannya.
Ditatapnya netra Bright yang sangat tajam dan nakal, sebelum kembali memejam dan mulai memasukkan penis Bright sedalam yang ia bisa.
”GHOOKKKKKK!”
”FUCK!”
Bright langsung menegak. Metawin benar-benar membuat penis besarnya seolah hilang ditelan goa. Kepalanya sampai terasa pening karena Metawin menahan posisi itu untuk beberapa saat. Rasa hangat langsung menjalar, diikuti dengan rasa geli karena lidah Metawin sedikit bermain-main.
”Tahan, Sayanghhh… Ahh… Enak bangethh! Ngh…”
Merasa limitnya mencapai batas, Metawin menepuk paha kekar Bright. Meminta sang suami agar menyudahi sesi deepthroat, karena mual mulai menjalar.
”PWAAHH”
Metawin terengah dan matanya memerah. Air liur terlihat membentang, dengan bibir Metawin yang sedikit membengkak.
Penis Bright masih terus dipijat, Metawin tetap ingin kejantanan Bright mengeras sempurna. Sesaat mencari pasokan udara, sebelum kembali mengulum dan menyesap penis milik lelakinya.
”Ahh! Sshh… Mulut kamu enak, Sayanghh… Sshhh… Ah!”
”Faster, Baby.”
Metawin mengangguk, semakin membuat tubuh Bright jadi menegak. Si manis yang sudah tidak tahan ingin digempur lubangnya, segera menyesap kuat kepala penis lelakinya.
Dimainkan lubang kencingnya, lalu dijilat menyeluruh hingga ke pangkal. Membuat Bright yang merasakan jadi menggelinjang geli sebelum dibuat kaget karena kembali diberi deepthroat.
”AH! Ngilu sshhh… Sayanghhh, Ah!”
Metawin tak peduli, ia kian mempercepat gerakan kepalanya sampai pinggul Bright tak mampu lagi untuk sekedar diam. Dicengkram lembut sisi kanan dan kiri kepala Metawin, sebelum Bright mulai menggerakkan pinggulnya dan menghentak sedalam yang ia mau.
”GHHOOKK MPHHH… NGHHHH…”
Metawin ikut terlena dan sedikit kelimpungan. Air matanya mengalir deras, karena sebuah respon alamiah. Salivanya mulai membasahi dagu dan tak sedikit mengenai pipinya.
Bright sedikit serampangan dalam mengentak, membuat Metawin sedikit merasa mual tapi tetap mendapat nikmat.
”Bentar lagihh… Nghh… Yang kenceng, Sayanghh…” Desis Bright yang penisnya mulai membesar.
Metawin bisa merasakan mulutnya kian terasa sesak. Ia pun berkali-kali tersedak karena precum sang suami mulai keluar dan bercampur dengan saliva.
Yakin sang suami siap untuk menumpahkan spermanya, Metawin dengan sisa kekuatannya, menyesap dengan sangat kuat. Seraya terus berusaha menggerakkan lidahnya, meskipun terasa sedikit susah.
”FUCK!“
Perut Bright melilit hebat dan cairan spermanya keluar memenuhi goa hangat yang lebih muda.
Tubuh Bright sedikit bergetar dan maniknya memejam rapat karena nikmat yang mendera begitu banyak.
Tangannya dengan impulsif mengusap surai hitam Metawin sembari terus mengeluar masukkan penisnya. Menyelesaikan klimaks yang masih terus keluar di dalam mulut suaminya.
”Pwahh hhh… Masshh…”
Metawin terengah. Mulutnya memerah dan membengkak. Air matanya membasahi pipi dan bercampur dengan saliva.
Bright pun menarik Metawin agar naik ke dalam pangkuan. Dibersihkan dengan sangat lembut bibir sintal suaminya, sebelum dibubuhi kecupan ringan penuh akan sayang.
”Hhh.. Enak… Kontolnya enak, Masss… Ayo ngewe! Mau ngewe! Kangen, Masssh…” Metawin kembali merengek, sembari menggerakkan tubuhnya maju dan mundur.
Bright yang sedang mengambil minum di atas meja nakas, sedikit meringis karena penisnya bergesekkan langsung dengan piyama Metawin.
”Shh.. Sayang. Stop dulu, minum dulu sebentar.”
”Ngga mau nghh.. Mau ngewe! Udah kenyang minum sperma. Ayo ngewe! Mas Bii ngewe… Ayoo aaaaa.”
Bright memejam. Sedikit pening mendengar untaian kotor yang lebih muda. Ia rengkuh pinggang ramping suaminya agar mau diam. Sebelum ditatap lekat dan dikecup singkat.
”Minum dulu sebentar. Biar ngga enek.” Ucap Bright, karena ia sadar spermanya tadi keluar banyak.
Tidak ingin membuat Bright semakin bawel, Metawin langsung meneguk segelas air yang disodorkan. Tak butuh waktu lama hingga gelas itu kosong, Metawin dengan segera kembali merengek meminta untuk digagahi.
”Mas Bii nghh.. Ayoo! Mau ngewe… Mas Bii ay—
TING!
Metawin menoleh, ponsel Bright berbunyi. Tanda pesan masuk di siang hari. Ia pun menatap sang suami, lalu dengan segera meraih ponsel Bright dan melihat siapa yang menghubungi.
”Bian ngechat. Bales nanti aja, mau ngewe dulu, Mass…” Rengek Metawin sembari mengarahkan ponselnya, menunjukkan isi pesan dari keponakannya.
Bright sebenarnya mau membalas, tapi Metawin dengan sigap mendorong tubuh Bright hingga merebah di atas sofa.
Metawin genggam satu tangan Bright, lalu memfoto sekali untuk dikirimkan pada Bian. Setelahnya?
BRUK
Ponsel Bright dihempas ke atas lantai. Masa bodoh akan rusak, Metawin bisa membelinya lagi. Sekarang ia mau digagahi dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Termasuk Abian —keponakannya.
Lantas dengan nafsu yang begitu menggebu, Metawin mempoloskan dirinya. Lalu melepas celana Bright yang masih bertengger di atas lutut.
Keduanya polos, dengan penis sama-sama mengacung.
Metawin kembali beranjak, duduk di atas paha sang suami yang cukup kekar. Diusap sensual dada bidang Bright sampai ke perutnya, sebelum kembali menggesek selatan keduanya yang sudah sama-sama ereksi sempurna.
”Ugh.. Enak nghh… Sshh Ah! Mas Bii enak nghh…”
Metawin terus mendesah, dengan kedua tangan yang meremat kuat dada suaminya. Sedangkan Bright di bawah, menumpu kepala dengan kedua tangan. Maniknya menatap Metawin yang bergerak liar dengan sudut bibir terangkat puas. Ringisannya sesekali terdengar, tapi tak jarang Bright menahan karena ini belum seberapa.
”Mau ngewe nghh.. Mau… Ahh… Mas Bii…”
PLAK!
”Ah!”
”Masukin sendiri.”
Metawin mengangguk, karena memang itu juga menjadi keinginannya. Lantas dengan segera, ia membungkuk. Memijat kejantanan sang suami, sebelum meludahinya agar basah dan tidak membuat penetrasinya sakit.
Sukses membuat Bright mengernyit heran, ”Sayang, pake lubricant.” Titah Bright, mutlak.
”Hnghh… Lubricantnya di kamar. Meta ngga mau ambil… Gini aja, mau langsung ngewe.” Rengek Metawin, yang kembali naik dan mulai menggesekkan kepala penis Bright pada pintu analnya.
Belum sempat Bright menahan agar sang suami tidak langsung memasukkan kejantananya, Metawin sudah lebih dulu melesakkan kepala penisnya hingga keduanya sama-sama mengerang akibat nikmat yang terlalu banyak.
BLESS
”AH!”
”Ngh!”
Metawin meringis, lubangnya kembali terasa sempit hanya karena dua minggu tak dimasuki. Bibir bawahnya pun ia gigit, rasanya seperti pertama kali bermain.
”Masshh… Nghh… Mainin puting Meta, nghh… Masshh.”
Bright langsung mengabulkannya, karena Metawin meringis kesakitan. ”Shh… Sayang… Pelan aja gapapa. Jangan dihenta—
JLEBBB!”
”AHH!”
”FUCK!”
Metawin mendongak. Sedikit merutuk dalam benak karena dirinya tak sabaran. Alhasil, lututnya kini bergetar dan tak mampu untuk bergerak. Kepala penis Bright menghantam telak prostatnya. Membuat nikmat itu langsung mendera dan tubuhnya terasa lemas seketika.
Bright yang merasakan cengkraman kuat dari lubang Metawin juga ikut mendesis nikmat. Maniknya memejam barang sesaat, sebelum mencengkram pinggang ramping Metawin dengan sangat kuat.
”Jangan dihentak! Meta aja ssshh… Meta mau goyang sendiri, Mas Bii diem ngh…”
Metawin menolak. Tidak ingin dihentak oleh sang suami dari bawah. Ia ingin menunjukkan skillnya dalam memberi goyangan. Metawin sudah banyak menonton dan belajar, hari ini, ia ingin membuktikannya.
”Meta kuaat… Nghh… Mas Bii diem aja… Meta udah belajar… Sshhh aahh… Mas Bii gede banget kontolnya… Ahhh.”
Bright tersenyum bangga. Karena sampai detik ini, Metawin selalu puas dengan penisnya. Tak ada kata bosan, justru sang suami semakin gencar meminta untuk dimasuki dengan serampangan.
Seperti hari ini, ketika Bright melihat wajah si manis yang dipenuhi nikmat. Perasaan bangga dan senang, langsung menyelimuti hati kecilnya. Lantas dengan seringainya, Bright mengangguk paham. Membiarkan Metawin menunjukkan apa yang ingin ditunjukkan. Sedangkan dirinya diam dan menikmati saja.
”Aahhh…. Sshh… Kontolnya gede, Mas Bii…” Ringis Metawin, ketika mulai menaikkan tubuhnya dan beranjak untuk kembali melesakkan penis yang lebih tua.
Guratan urat di sepanjang batang penis Bright, menggesek dinding analnya hingga desahan tak mampu untuk diredam. Maniknya memejam dan wajahnya mendongak.
Jemarinya tanpa sadar meremas kuat dada bidang Bright, melampiaskan nikmat yang terlampau banyak. Hingga lututnya kembali bergetar, ketika prostatnya terhantam.
JLEB!
”A-Ahh! Masshh…. Ah!”
Metawin menggeleng tak karuan, pahanya bergetar dan nafasnya terengah. Penis Bright tak pernah gagal membuatnya terlena.
Terasa sangat gagah, keras, dan berurat.
Rasa sakit pada lubangnya juga perlahan melebur sempurna. Lantas Metawin menyamankan posisi, sebelum bergerak teratur memainkan kejantanannya suaminya.
JLEBBB!
”Ahh! Enakk! Nghhh… Ahh Mas Bii… Dalem banget… Ugh, enak banget sshh…”
Bright mendesis, ketika Metawin mulai bergerak konstan. Penisnya terus tenggelam, seolah menghilang pada goa sempit yang lebih hangat. Dinding anal Metawin terus berusaha memeluk erat kejantanannya. Seolah tak rela jika keluar barang sejenak.
”Enak! Kontol Mas Biih punya Meta! Nghh… Enak bangeetthh Ahhh! Kangeennnh… Kangen ngewe!”
Metawin mulai berbicara kotor. Menyulut api nafsu di antara keduanya. Gerakannya juga mulai serampangan. Tusukannya terkesan lebih dalam dan brutal. Ritmenya begitu cepat sampai Bright mulai sedikit kewalahan. Nikmatnya berbondong-bondong dan perutnya terasa mulai melilit kuat.
”Mashhh nghh… Ah! Enak ngga? Ahh… Ah… Masshhh… Jawab Meta! Enak nggaa -Ah!”
”Sshh… Cepetin, Sayanghh…”
”Cepetin lagi.”
PLAKKK!
”Ughh… Lagihh… Tampar lagih, Masshh…”
PLAAAKK!
JLEEBBB!
”AHHHHH! G-GEMETERAN MASSHHH… A-A..AH… M-MASHHH…”
Metawin menghentikan gerakannya. Bright tiba-tiba menghentak dari bawah saat tubuhnya beranjak turun. Sontak sodokannya jadi semakin kuat dan kaki Metawin bergetar hebat.
Kepalanya menunduk dalam, dan tangannya mengepal kuat. Hingga tak lama, tubuhnya kembali menegak dengan isak yang mulai terdengar memenuhi ruangan.
”ENAKK HIKSS… ENAKK DISODOK KENCENGHHH AHH! MAININ PUTING META MASSHHH… AYOO AHHH!”
”NANTI META GOYANGIN NGHH AH! AH! MASSHH…” Metawin menuntun tangan Bright agar segera memainkan dada padatnya. Sebelum bergerak konstan untuk mengejar pelepasan yang sudah berada di ujung mata.
”Ughh… Mas Biih… Bantuinn… Ahhh! Bantuin kaya tadii nghh… Masshhh…”
Metawin merengek, karena semakin lama tubuhnya terasa lelah. Alhasil, hentaknya tidak terlalu kuat dan prostatnya tidak terlalu dihantam telak.
”Tadi katanya mau nghh main sendiri, kenapa minta bantuin, hm?” Tanya Bright, berniat untuk menggoda.
Sedangkan Metawin yang sudah tidak tahan, segera membungkuk dan memeluk Bright erat. Ia gigit leher yang lebih tua sampai meninggalkan bekas merah sangat kentara.
”Ah! Sayangh…”
”PELIT! NGHH… MAS BII GA MAU GENJOT LUBANG META! SEBEL! ISH KESEL, PENGEN MAR— AHHH!”
JLEEEBBB!
Slurrrthhh
Perut Metawin langsung melilit, spermanya menyembur dan tubuhnya mengejang nikmat. Maniknya memejam rapat, tak kuasa ketika tanpa ada aba-aba, Bright menggenjot lubangnya kuat.
Pelepasan yang sudah di ujung mata, sukses dikeluarkan hanya dengan bantuan satu sodokan dalam.
Tapi, Bright tidak hanya akan memuaskan Metawin. Alhasil, ia tidak berhenti meskipun tahu sang suami sedang mengeluarkan cairannya.
Dipeluk erat tubuh Metawin yang bergetar, sebelum kembali digenjot kuat sampai sang suami terisak kencang.
JLEEBBB!!
”AAHHHH! MAS BII HIKSSS… DALEM BANGETHHH AHH! NGILU… SHH ENAAKK HIKSSS…”
”MAS BII AH! AH! IYAAHH NGHHH… DISITU AHHH!”
”MAS BII HIKSS KONTOLNYA ENAK TERUS SSHHH AH! GENJOT TERUSSHH… NGHH NGILU HIKSSS… AHH!”
JLEEBB!
”AAHHHHH!”
Metawin sedikit menjambak rambut Bright karena sang suami menghentak tak kira-kira. Sangat dalam sampai rasanya Metawin terbang ke langit semesta. Maniknya dipenuhi bintang dan rasanya sangat puas.
Isaknya terus saja terdengar selama Bright belum berhenti menggempur lubangnya.
Metawin hanya mampu terus mendesah ketika Bright tak kunjung mendapat pelepasannya. Bahkan kini, penisnya sudah kembali mengeras.
Lantas ia mencoba untuk menegakkan tubuhnya dan bertumpu pada perut berotot milik yang lebih tua.
”Ngh hikss… Genjot lagihhh… Ah! Bareng sama Meta sshh… Mas Bii hikss… Mas Bii kontolnya enak banget! Ah! Meta lemes aaahhh…”
Bright mendesis ketika tubuh Metawin ikut bergerak berlawanan arah. Ia pun bangkit dan mengubah posisi menjadi duduk. Didekap erat tubuh sang suami yang terlonjak sembari dilumat habis dada padatnya.
Sukses membuat Metawin semakin kelimpungan dan kewalahan.
JLEEBBB!
”AHHHH!”
PLAKKK!
”Gerakin ngh, Sayanghh.. Ayo.”
”Lemesshh hiksss… Mas Bii jangan nenen sshhh… Ah! Ngga kuaathh.. Mas Biii Ahhhh!”
Bright melepas lumatannya pada noktah Metawin. Ia cengkram pinggang ramping sang suami, lalu kembali fokus untuk menghentak.
Keduanya berpacu dengan waktu. Gerakannya begitu serampangan dan sangat cepat. Tubuhnya bermandikan peluh dan wajahnya saling memerah.
Bright kembali mengerang ketika penisnya mulai membesar. Pinggulnya jadi semakin bergerak cepat karena pelepasannya akan segera sampai.
Maniknya menatap kedua noktah Metawin yang mencuat, lantas dengan sangat gemas, ia sesap begitu kuat.
”AHHHH!”
”MASHH NGHHH… KONTOLNYA AHH! MAKIN GEDE UGHH MAS BIIIIH PUTING META!”
”AHH HIKSSS… NGGA KUAT HIKSS… MAS BII NGGA KUAT HIKSSS… MAU DIGENJOT LEBIH DALEM NGHH… MAS BIIIH AHH! MAS BII GENJOT…”
”MASS HIKS.. MAS BII PENGEN DIGENJ—
BRUKK!!
Bright segera mengubah posisi menjadi mengungkung Metawin. Tanpa basa-basi, penisnya kembali dilesakkan. Tubuhnya juga langsung memeluk Metawin erat. Lalu dengan nafsu yang sudah memuncak, pinggulnya bergerak untuk menghentak lebih dalam.
JLEEBBBB!
”AHHHH!”
Metawin sampai tersentak. Kepalanya mendongak sehingga membuat leher jenjangnya yang belum terjamah, menarik perhatian Bright.
Sembari terus menghentak dalam, Bright menyesap kuat di satu titik ceruk leher Metawin. Bermaksud meninggalkan bekas, sebelum beranjak menjilat dan mengulum cuping si manis.
”MASHH HIKSS… MAU KELUAR NGHH… GELII AH!! TELINGA META SHHH… AHHHH…”
”KONTOLNYA ENAK BANGETHH HIKSS… ENAAKK HIKSSS… MAU KELUAR —AH! MAS BII MAU KELUAR NGHHH…”
”AHHHHH!”
”Fuck!”
JLEEBBB*
”AHHHH!”*
Metawin kembali mengejang, ketika pelepasannya sampai untuk yang kedua. Perutnya melilit dan nafasnya begitu terengah. Tapi di atasnya, Bright tak kunjung berhenti untuk bergerak.
Dekapan keduanya terlepas. Bright membawa kedua kaki Metawin agar tersampir pada bahunya. Sebelum kembali menghentak untuk mengejar pelepasan Bright.
”AHHH! MASSHHH… NGILU AHH!”
”S-Sebentar nghh.. Ahh…”
”DALEM BANGETTHH NGHHH HIKSSS… KONTOLNYA MAKIN GEDE —AHHH!”
”MASSHH AAHHHH…*
Tubuh Metawin terus tersentak. Tangannya berusaha mencengkram sofa sebagai pelampiasan nikmat. Penis Bright semakin membesar dan precum mulai terasa mengalir di lubang hangatnya.
Hentakan demi hentakan terus diberikan, hingga tak lama, Bright sampai pada pelepasannya yang kedua.
Bersamaan dengan pelepasan Metawin yang ketiga.
JLEBBBBBB!!
”AHHHHH!”
”Ahh!”
Tubuh keduanya mengejang. Kaki Metawin bergetar hebat. Sperma Bright menyembur cukup banyak pada lubang Metawin dan beberapa terlihat mengalir keluar.
Sperma Metawin keluar membasahi perutnya. Bercampur dengan peluh yang membanjiri tubuhnya.
Lantas dengan gerakan lembut, Bright membuka lebar kaki Metawin. Dibersihkan sperma yang mengotori perut rata Metawin dengan kemeja miliknya. Sebelum didekap erat dan dikecupi lehernya.
**”Mas Bii capek hhh… Capek bangethh…” Keluh Metawin, seraya memeluk erat tubuh sang suami.
CUP
Bright mengecup cuping Metawin. Ia mengakui jika permainan kali ini begitu panas. Terasa melelahkan tapi nikmatnya luar biasa.
Mungkin karena sudah lama tidak melakukan, jadi hari ini seperti dipuas-puaskan.
”Sakit banget ngga?” Tanya Bright lembut, sembari mengusap surai hitam Metawin.
”Tadi pas pertama perih… Lubang Meta sempit lagi, Mas Bii…” rengek Metawin sebal.
”Enak, Sayang.”
CUP
”Ish mesum!”
”Suka tapi ‘kan?” kekeh Bright seraya menatap Metawin yang wajahnya banjir oleh peluh.
”Huum suka. Enak… Kontol Mas Enak. Meta suka digenjot pake kon—
CUP
”Kebiasaan ngomong jorok terus.” Potong Bright cepat, seraya mencubit gemas ujung hidung Metawin. Sedangkan Metawin, hanya tersenyum malu dengan wajah yang kian merona semu.
Diusap lembut surai hitam Metawin, lalu sedikit dibersihkan wajahnya dari keringat. Kecupan kupu-kupu juga diberikan, sebelum kembali untuk saling melumat.
”Nghh…” Metawin melenguh, ketika lidahnya disesap kuat.
Langit-langit mulutnya terasa digelitik manja, sebelum kembali beranjak menyesap bibir sintalnya. Kedua tangan Metawin jadi terangkat, melingkar manja pada leher yang lebih tua.
Keduanya larut dalam pagutan. Sampai Bright memilih untuk kembali memasukkan penisnya yang setengah tegang.
”NGHH!”
”Lagi ngga?” Bisik Bright, setelah pagutan keduanya terlepas.
Metawin yang ditanya dengan tatapan menggoda serta senyuman nakal, sontak mengulum senyuman salah tingkah. Namun, tetap saja kepalanya mengangguk cepat.
Lantas hal itu membuat Bright tersenyum senang. Ia pun kembali meraup bibir sintal si manis, seraya menghentak kuat.
JLEBBB!
”MMPHHH… PWAHH.. HHH AHH.. NGGA MAU DICIUM NGHH… MAU NGEDESAH!” rengek Metawin yang langsung melepas pagutan secara sepihak.
Bright pun menyeringai, suka melihat Metawin jika sudah kelabakan. Ia pun mengabulkan, tubuhnya bangkit dan fokus memberikan hentakan kuat.
”NGHH AHHH!” Metawin mengerang, ketika prostatnya dihantam telak.
”Shh… Enak banget, Sayanghh..”
”HUUM AHH! ENAAKHHH SSHH… MAS BII KONTOLNYA ENAAK… AH!”
PLAKK! PLAKK! PLAKKK!
Berkali-kali paha Metawin diberi tamparan, berulang kali pula sang suami mendesah kencang.
”NGHH AHHH! MAS BII HIKSSS… LAGIHH AH! GENJOT LAGII…”
”Sempit banget shhh… Fuck!”
”AHHHH!”
”Ketatin nghh, Sayanghh..”
Metawin menggeleng heboh. Ia tak kuasa mengetatkan lubangnya karena hentakan sang suami terasa sangat dalam. Boro-boro mengeratkan jepitan, bisa bernafas dan mendesah saja Metawin bersyukur dalam benak.
Kedua kakinya kini bergetar, perutnya terasa kembali melilit padahal lubangnya baru dikerjai sebentar. Begitu sensitif sampai pelepasannya cepat sekali datang.
”MASHH A-AMPUNN HIKSSS… KELUAR AHH! MAU KELUARR NGHHH… MASSHHHHH…”
”Sensitif bangeth, hm?”
”MASSHH AHH! DALEM BANGET! M-MAU KELUAR NGHH… MAU KELU— AAAAHHHHH!”
JLEEEBBBB
SLURRRTTTHH
Tubuh Metawin kembali mengejang. Tangannya mengepal kuat dan kakinya bergetar hebat. Spermanya membasahi perut dan sedikit mengenai sofa.
Wajahnya merona padam dengan bibir sedikit bengkak. Desahannya masih mengalun indah dan lubangnya menjepit penis Bright kuat.
Sukses membuat Bright hilang kendali dan mengubah posisi Metawin jadi menungging.
PLAKKK!
*”Nghh Masshh.. Seben— AHHH!”**
BLESSSS
Tahu sang suami begitu sensitif, Bright mencoba bermain pelan. Ia gerakan penisnya dengan perasaan, sampai pelepasan Metawin selesai untuk dikeluarkan.
”Udah, hm?” Tanya Bright, seraya mengecupi punggung cantik milik suaminya.
”U-Udah nghh… Mashh.. Kencengin, genjot lagi, Ah! Ayo.. Genjot Meta lag— AHHH!”
Mendengar permintaan Metawin, Bright tentu mengabulkannya. Pinggulnya kembali bergerak cepat dan sangat dalam. Tubuh Metawin tersentak ke depan sampai tak lama mulai terlihat lemas.
Bokongnya semakin terangkat tinggi karena bantal di hadapan Metawin digunakan wajahnya untuk bersembunyi.
Semakin membuat Bright semangat dalam menggempur lubang si manis.
JLEBBB!
”NGHH AHH!“
”Sshh.. Masih sempit! Enak bangetthh.. Meta paling enak ngh… Lubang Meta paling enak.”
PLAKKK!
Sukses membuat Metawin, meremang sebadan-badan. Bright jarang berbicara seperti itu. Tapi jika pujiannya sudah mulai terlontar jelas, itu artinya nafsu Bright sedang berada di puncak.
Libidonya lebih meningkat dari biasanya, sampai Bright sendiri tak mampu mengendalikannya. Hal itu, tentu membuat Metawin merinding dan meremang sebadan-badan.
Karena suara Bright akan terdengar sangat seksi, tapi penuh kelembutan di waktu yang bersamaan.
JLEBBBB
”AHHH!”
Kembali disadarkan setelah terlena oleh pujian yang lebih tua. Merasa penis sang suami mulai membesar, Metawin pun berusaha mengetakan lubangnya semampu yang ia bisa.
”SSHH FUCK! SAYANGHH, AHHH…”
Metawin tersenyum penuh kemenangan. Bright memekik karena lubangnya menjepit penis Bright lebih erat. Bahkan, genjotannya terasa kian dipercepat.
Perut Metawin rasanya kembali ngilu dan spermanya siap untuk keluar.
PLAKKK!
”Taa nghh.. Kamu sempit bangethh.. Ahh.. Sayanghh.”
”MAU KELUAR NGHHH… MAU KELUAR LAGIHH.. MASSHHH AHHH!”*
”TERLALU CEPETT NGHHH NGGA BISAA AHHH… META NGGA KUAATHHH MASSHH…”
**Sshh ahh.. Keluarin nghh… Keluarin semua, Sayaanghhh…” Titah Bright yang temponya kian serampangan.
Metawin pun jadi semakin menggeliat tak karuan. Demi Tuhan, tubuhnya terasa sangat lemas dan precumnya keluar mengotori sofa.
Lantas saat lubangnya mendapat tiga sodokan kuat, perutnya langsung melilit tapi Metawin justru memekik. Karena ia justru mengeluarkan air mani, yang mana hal itu selalu membuat Bright menyeringai dan merasa bangga luar biasa.
Alhasil?
JLEEBBBB
”A-AAHH MASSHHH.”
”Cantik bangetthh Meta kalo sampe pipis… Shh.. Ahhh!” Bright selalu suka Metawin yang kelojotan hingga mengeluarkan air kencing. Bright suka melihat tubuh Metawin gemetar karena ulahnya.
Dan ia juga suka, melihat Metawin kembali sampai pada pelepasannya akibat hentakan kuat dari penis gagahnya.
”M-META KELU— AHHHHH!”
PLAAKKK!
”Fuck!”
Bright tak mampu bertahan lebih lama. Spermanya ikut keluar tapi tak membuat tubuhnya berhenti untuk menghentak.
Ia terus menggenjot Metawin yang masih berusaha menyelesaikan pelepasannya. Begitupun pelepasannya, yang masih berusaha dikeluarkan pada lubang Metawin.
”Shhh Ahh…”
”MASSHH AHHH.. NGILU NGHHH ENAAKK AHHH! MASSHHH”
”Bentar lagi, ngh..”
Bright menarik Metawin agar menegak. Didekap tubuh sang suami dengan sangat erat. Lalu dicubit kuat kedua noktahnya, sampai Metawin terlihat membusungkan dada karena terlalu nikmat.
Posisi penyatuan seperti ini, membuat penis Bright semakin intens menjamah lubang sang suami yang berkedut hebat.
”Mashh nghh.. Ahh! Enaak nghhh… Jilat leher Meta nghhh Ah! Dadanya sshhh… Mas Biiih Meta lemes sshhh Ah!”
Bright belum puas, ia masih masih terus menggenjot sembari meremat dada padat Metawin dan menyesap leher jenjangnya.
”Sshh.. Masshh Biii… Ayo sekali lagih nghh… Aahhh! Tapi yang nghhh.. Cepet, AHHH!”
”As you wish, Sayang.”
CUP
Bright benar-benar mengabulkannya. Tetap dengan posisi seperti itu, pinggulnya kembali bergerak cepat.
Kedua tangannya memilin dan mencubit kedua noktah Metawin, sementara ranumnya terus menyesap tengkuk si manis.
Metawin yang diberondong kenikmatan bertubi-tubi, tak sanggup bertahan lama. Penisnya kembali mengeluarkan precum karena lubangnya sangat sensitif dan nikmatnya kali ini terlalu banyak.
Metawin kelojotan dan kakinya bergetar hebat. Lubangnya mengetat membuat Bright di belakang mendesis pelan.
”AAMPUN HIKSSS… TERLALU ENAAKK HIKSSS… JANGAN AHH! JANGAN DIMAININ SEMUA NGHHHH MASSSHHH…”
”KONTOL MASHH NGHHHH… KONTOL MASS TAMBAH GEDE… NGGA BISAA HIKSS.. KEBANYAKAN ENAKNYA NGHHH.. MASSHH!”
”Sshh… Sayanghh ahh.”
”META MAU KELUAR SSHHH AHHHH! MAU KELUAR! META MAU KELUAR NGHHHH…. MASSHHH!!”
JLEEBBB
”AAHHHHH!”
”SHH FUCK!”
Tubuh keduanya mengejang hebat. Metawin mendongak dan dadanya membusung ke depan. Tubuhnya sudah lemas bukan makn tak mampu lagi untuk bertahan. Begitupun Bright yang lelah luar biasa.
Keduanya ambruk dan saling menindih di atas sofa. Beruntung sofa di ruang keluarga besar. Bahkan cukup luas sampai keduanya tak perlu merasa kesempitan ketika melakukan penyatuan berkali-kali hingga melemas.
”Nghh, Mashh.” Lenguh Metawin karena penis Bright masih menancap pada lubangnya. Bahkan, jadi lebih terasa tertekan dalam menyentuh prostatnya.
”Keluarin nghh… Masshh… Nanti Meta mau lagi.” Ucap Metawin, mengantisipasi.
Sedangkan Bright yang mendengar, terkekeh pelan. Ia kecup pipi Metawin yang merona. Sebelum mengusakkan hidungnya pada tengkuk yang lebih muda.
”Kalo mau lagi, main lagi.” Bisik Bright nakal yang berhasil membuat Metawin membelalak.
”IIII MAS BII!”
”Haha.”
Bright selalu suka menggoda suaminya. Karena Metawin akan terlihat sangat menggemaskan dengan alis menyatu dan bibir mempout lucu.
Lantas ia memilih untuk beristirahat barang sejenak, seraya mengubah posisi menjadi menyamping dengan Metawin yang membelakanginya..
Lagi-lagi, tanpa melepas penyatuan keduanya.
Bright dekap erat tubuh Metawin yang berada di hadapannya. Seraya terus mengecup tengkuk sang suami dan bermain pada noktahnya.
”Nghhh…”
Metawin kembali mengerang. Ketika Bright tak henti-hentinya memberikan rangsangan.
Titik sensitifnya terus saja dijamah. Hingga penisnya kembali tegang dan keinginan untuk digagahi menyelimuti hati kecilnya.
Demi apapun, Metawin merutuki dirinya yang mudah sekali terangsang oleh sentuhan Bright.
”Tegang lagi, hm?” goda Bright yang merasakan jika lubang sang suami kembali berkedut hebat.
Metawin memejamkan matanya, ketika Bright semakin berani meremas kuat dada padatnya. Bahkan, cuping telinganya mulai dikulum dan disesap.
Jika sudah begini, siapa yang akan tahan?
”Lagi nghh… Mau lagih… Massh lagih.. Genjot Meta lagihh.. Sshh ahhh! Enaak nghh… Genjot, Masshhh.”
Di belakang, Bright terkekeh pelan. Suaminya kembali meminta diisi, meskipun sudah keluar berkali-kali.
Bright mengangguk, karena penisnya pun sudah kembali menegang di dalam lubang Metawin. Lantas tanpa menunggu lagi, Bright kembali bergerak. Menumbuk titik si manis, tapi kali ini dengan permainan yang lebih lembut, tidak sekasar tadi.
BLESS
”Nghhh… Masshhh…”
”Pelan aja ya? Nikmatin… Enak, hm?”
”Huum! Enak bangeethhh sshh Ah! Kontol Mas enak nghh… Uratnya kerasa sshhh… Ahhhh… Pelan tetep enak nghh…”
”Prostat Meta ughh… Masshhh…”
Bright menyeringai puas. Sangat puas malah. Ia selalu suka mendengar pujian dari belah bibir Metawin ketika sedang bercinta.
Rasanya, jadi lebih merangsang dan menggoda.
Lantas sebagai bentuk apresiasi, Bright memainkan noktah si manis. Lidahnya juga tak tinggal diam, ia terus menyesap dan meninggalkan banyak bekas merah tanda kepemilikan biologis.
Tidak memusingkan putra dan putri kecilnya yang mungkin akan bertanya perihal leher Metawin yang memerah, Bright kali ini sedikit ingin lebih memanjakan sang suami yang sudah lama tidak ia jamah.
”Nghh.. Mas Biii Ahhh… Enaak nghh…”
”Genjot lagii ssshh… Sodok Masss, Meta pengen digenjot…”
BLESSSS
”Aahhhh…. Enaaakk nghh… Kontol Mas enakk hikss… Enak bangeethhh huhu… Meta keenakan sshhh.. Masshhh…”
”Jepit, Sayangh. Ketatin, nghh…”
”Ayo genjot, nghhh… Mau keluar… Pengen digenjot! Mas Bii genjot, ayoo genjot kontolnya.. Nghhh, Massshhh…”
JLEEBBB
”AH!”
Keduanya kembali larut dengan pergumulan panas yang berubah menjadi liar. Tak ada lagi kelembutan seperti semula, karena Metawin ingin digenjot dengan sedikit kasar agar prostatnya terhantam telak.
Bright tidak keberatan, bahkan ia juga menyukainya.
Maka pinggulnya kini bergerak konstan. Menumbuk titik terdalam Metawin sampai kaki si manis kembali terasa bergetar.
”MASHH NGHHH… MAU KELUAR AAHHH! MASSHH SAYANGHHH… MAS SAYANGGG MAU KELUAR AHHH!“
”Bareng sshh… Ketatin, Ah!”
Metawin mengabulkannya. Lubangnya kian menyempit dan membuat Bright semakin bergerak liar. Genjotannya kian di perdalam, sampai bunyi pertemuan antar paha dan bokong Metawin, terdengar keras.
”NGGA KUAAAT AHHHH! BENERAN LEMESS NGHHH MASSHHHH… MAU KELUARR NGHHH —AHHHHH!”
Metawin sampai untuk yang kesekian kalinya. Lubangnya berkontraksi hebat dan membuat Bright kelimpungan karena penisnya semakin dijepit kuat.
”Sshhhh, Sayaanghh..”
”UDAH MASSHHH… CAPEK AHH! MASSHH! KONTOLNYA GEDE BANGETHH AHH.. MASSH BIII NGHHH AAH!”
”Sayanghh sshh… Mas —Ah!”
Bright mengejang dengan sperma yang kembali memenuhi lubang si manis. Terasa sangat hangat dan membuat Metawin memejam rapat.
Nafas keduanya terengah bukan main akibat permainan panas yang luar biasa.
Pinggang Metawin terasa seperti remuk karena terus digenjot tanpa mengenal lelah. Sedangkan Bright, seluruh tubuhnya terasa pegal.
”Sshh hhh… Capek hhh… Capek bangethh nghhh…”
Metawin melemas. Bokongnya segera menjauh dari penis Bright atau dirinya akan kembali digempur dan tubuhnya semakin terasa remuk tidak karuan.
Bright yang melihat Metawin was-was, jadi terkekeh pelan.
”Gemes banget, hm.” Ucap Bright, seraya mengecup pipi yang lebih muda.
Metawin pun membalik tubuhnya jadi menghadap Bright. Ia lingkarkan kedua tangannya pada leher yang lebih tua. Sebelum bermanja-manja dengan mengusalkan wajahnya pada dada bidang lelakinya.
”Capek ya?”
”Mas Bii.. Meta lemes nghh… Nanti kalo ngga bisa jalan gimana?” Cicit Metawin, manja.
”Mas gendong nanti kalo ngga bisa jalan.”
”Hnghh, Masss…” Rengek Metawin, semakin manja.
”Apa, Sayang?” Tanya Bright lembut.
Metawin pun mendekatkan ranumnya pada telinga Bright. Dikecup singkat cuping yang lebih tua, sebelum dibisikkan sesuatu yang berhasil membuat Bright gemas tak tertahankan.
”Mas Bii kontolnya enak, gede! Meta suka!”
PLAKKK!
”Ah! Hnghh, Mas Biiiiiiiiiiii.”
”Salah siapa ngomongnya jorok terus, hm? Godain Mas terus, hm? Nakal ya suami Mas sekarang? Nakal banget ini nakal?”
”AAAA GELI AA HAHAH… LEHER META… MAS BII GELI HAHA…”
”Godain Mas terus, hm? Mau dikelitikin ya? Sini Mas kelitikin.”
”AA HAHA AMPUN.. MAS BII GELI HAHAA… UDAAAAHHHHH…” Rengek Metawin manja, dengan gelak tawa yang terdengar renyah.
Bright pun ikut mengulum senyuman, ia senang melihat suaminya tertawa lepas dan bahagia dengan candaan sederhana.
Lantas Bright dekap dengan erat tubuh Metawin yang tak tertutup sehelai benang. Seraya dibubuhi banyak kecupan, pada puncak kepalanya.
”Makasih ya, Sayang? Maaf kalo Mas terlalu kasar. Nanti kalo Meta butuh sesuatu, bilang Mas ya? Mas bakal cuti dulu buat ngerawat Meta.” Ucap Bright, penuh perhatian.
”Iii Mas Bii… Meta gapapa. Ngga perlu sampe cuti, Meta beneran gapapa.” Jawab Metawin, seraya mengusap pipi Bright yang sedikit lengket karena keringat.
”Harus cuti. Mas harus selalu tanggung jawab setelah main sama Meta dan Meta ngga boleh nolak. Karena Mas sayang Meta. Sayaang banget. Mas ngga mau Meta kenapa-kenapa.”
Mendengarnya, Metawin tersenyum haru.
Belasan tahun menikah dengan Bright, sama sekali tak membuat kebiasaan sang suami berubah. Ia masih sama. Lelakinya yang persis seperti dulu. Pria yang akan selalu merawatnya dari hal terkecil sampai hal paling penting.
Tidak pernah menyepelekan sesuatu, meskipun Bright sebenarnya tahu jika Metawin tidak kenapa-kenapa.
Tapi, itulah spesialnya seorang Mr. Pradana.
Selalu mampu membuat Metawin merasa seperti raja, meskipun pernikahan keduanya sudah tak lagi baru seperti beberapa tahun silam.
”Mandi sekarang ngga? Mas gendong ke kamar ya?” Tawar Bright, mengantisipasi jika putra-putrinya pulang lebih cepat.
Namun Metawin, memilih diam. Jemarinnya beranjak turun, menyentuh kembali penis Bright yang sebenarnya sudah tidak menegang.
”Mas…”
DEG
Bright mengerjap, sedikit was-was jika Metawin kembali meminta. Apalagi kini si manis mulai mendekatkan wajah, dan berhenti tepat di depan telinganya.
CUP
Dikecup singkat. Lalu diberi jilatan nakal. Metawin menggesekkan hidungnya barang sesaat, sebelum mulai berbisik hingga Bright berhasil dibuat meremang.
”Karena Mas Bii baik, main lagi sama Meta mau?” Sangat seduktif dan terdengar begitu nakal.
”Meta yang bakal muasin Mas Bii.”
”Kemaren, Mas Bii minta di kolam renang kan?”
DEG
”Ayo di kolam renang.” Bisik Metawin rendah.
Sukses membuat Bright, meremang sebadan-badan.
”Ayo, Mas sayang. Mumpung anak-anak belum pulang. Lubang Meta masih kuat.”
Mendengarnya, Bright memejam rapat.
”S-Sayang—
”Ya udah di sini aja.”
BLESSS
”A-Ah”
”Ayo genjot Meta.”
Demi Tuhan, Bright benar-benar tak tahu harus merespon apa.
”Ya udah, Meta yang gerak.”
JLEEBBB
Selamat tinggal kewarasan.
—End.
Udehhh… Ketagihan bener lo pada 😭😭😭