Abian tercekat ketika mendapati sang kekasih memakai piyama berwarna merah. Panjangnya hanya sampai sebatas paha, dengan ikatan tali yang dibiarkan terbuka.
Kulit putih yang semakin terlihat terang, membuat kesan seksi dan menggoda di waktu yang bersamaan. Tidak bohong, Ananta terlihat sangat cantik dan sempurna.
Posisi duduk yang berselonjor pada sofa, membuat kaki jenjang Ananta terpampang jelas. Aroma parfum yang sangat kuat, memenuhi apartement Abian sampai rasanya ia bisa pingsan saat itu juga.
Belum lagi ketika maniknya mendapai kedua noktah Ananta yang berwarna merah dan mencuat. Melihatnya, Abian langsung memejamkan mata.
Nafasnya tercekat dan otaknya tak mampu merespon apapun yang ada di hadapannya. Sampai Ananta memilih untuk menurunkan kakinya dari sofa, lalu meremat ujung piyamanya dengan bibir digigit pelan.
”M-Mas Bian…”
Mampus!
Abian justru mendengar panggilan itu seperti sebuah panggilan menggoda dan berbeda dari biasanya. Tubuhnya meremang sebadan-badan. Keringat mengalir deras, sampai kaos yang digunakannya sedikit basah.
”A-Ata jelek ya, Mas Bi—
”CANTIK!”
”L-Lo cantik…” Jawab Abian cepat, dengan sedikit gemetar dan manik memejam rapat.
”Heu, Mas Bian ngomongnya pake lo-gue.”
Aduh!
”M-Mas Bian juga ngga mau liat Ata. Heu, Ata mau ke kamar aja.” Lirihnya sedih, merasa malu karena Abian tidak excited.
SREETT
Tangan kanan Ananta diraih. Berusaha menahan sang kekasih agar tidak pergi. Ananta pun menoleh, menatap Abian yang masih menunduk dengan tubuh kikuk dan mulut terbungkam kaku.
Sontak bibir Ananta kian melengkung sempurna, ketika lagi dan lagi, Abian memilih bungkam.
“Heu… Mas Bi—
”T-TUNGGU DULU! A-ATA CANTIK! CANTIK BANGET!”
”G-GUE GUGUP! S-SEBENTAR! JANGAN NGAMBEK! L-LO BENERAN CANTIK! L-LO I-INDAH BANGET! G-GUE CUMA L-LEMES! G-GUE DEG-DEGAN… GUE—
BRUKK!
”Ata kangen Mas Bian.”
Sukses membuat Abian, merosot ke atas lantai.
Ananta tentu membelalak, ketika memeluk sang kekasih, Abian justru jatuh ke atas lantai. Lantas ia segera duduk di samping yang lebih tua. Lalu menangkup wajah Abian dan menatap lekat dengan sorot khawatir dan perasaan bersalah.
”M-Maaf Mas Bian…” lirihnya, dengan mata berkaca-kaca.
Abian menggeleng cepat. Ini bukan salah Ananta. Memang dirinya saja yang kelewat lemah. Melihat kekasihnya begitu indah saja Abian sampai gugup dan tremor tak mampu banyak merespon.
Sebut saja Abian payah —memang itu faktanya.
”M-Mas Bian… ngga suka ya?” tanya Ananta lagi, dengan sorot penuh harap dan bibir melengkung sempurna.
Abian berusaha menjauhkan jarak wajah keduanya yang cukup dekat. Lantas bersandar pada sofa yang ada di belakangnya. Kakinya ia selonjorkan pada lantai, berusaha menetralkan detak jantungnya yang sangat cepat.
”Mas Bian…” Ananta kembali merengak.
Abian pun memejam. Seraya menampilkan senyum gugup dan nafas sedikit putus-putus.
”Bian s-suka. S-Suka banget! T-Tapi Bian gugup. B-Beneran deg-degan, Say—
”Berarti boleh pangku?”
BENERAN DIBUAT PINGSAN AJA GAPAPA SUMPAH!
Abian langsung membola dan membelalak ketika Ananta naik dan duduk di atas pangkuannya. Dada padat serta perut bersih terawat, langsung menjadi pemandangan Abian yang berhasil membuatnya mematung seketika.
Belum lagi paha mulus Ananta yang terpampang jelas. Demi Tuhan, Abian mengeras sempurna.
”U-Ugh.. M-Mas Bian… B-Burungny—
”Peluk Bian aja!” Potong Abian cepat, karena merasa malu dan tak kuat dengan apa yang akan diucapkan oleh Ananta.
Dengan semburat merah yang menjalar ke telinga. Serta senyuman manis yang tersungging di bibir sintalnya. Ananta langsung melingkarkan kedua tangannya dengan sangat manja, pada leher yang lebih tua.
Membuat tubuh keduanya merapat dan ranum Abian menempel pada bahu Ananta.
”Kangen banget, Mas Bian…” Rengek Ananta, seraya mengusalkan wajahnya pada ceruk leher milik yang lebih tua.
Abian hanya diam, tak membalas dekapan Anata. Bahkan, merespon ucapan sang kekasih saja tidak.
Abian benar-benar mati kutu di tempat.
”Sumpah, Ata wangi banget!” jeritnya dalam benak, sembari menahan tangis saking lemasnya.
”Heuu… Mas Bian, kok ngga bales pelukan Ata?“
”T-Ta…”
”Kenapa, Mas Bian?”
”Gue deg-degan.”
”Deg-degan kenapa? Ata kan ngga ngapa-ngapain.” ucap Ananta bingung.
”T-Ta…”
“Iyaa, Mas Bian?”**
”L-Lo cantik banget.” Lirih Abian, bergetar.
BLUSH!
Ananta langsung mengusalkan wajahnya pada ceruk leher Abian sampai yang lebih tua mendongak dan sedikit menggeliat karena merasa geli luar biasa.
”Cantiknya buat Mas Bian… Kata Om Meta.”
Sukses membuat Abian memejam rapat.
”Mas Bian…”
”Hm?”
”Peluk Ata.”
MAMPUS!
Bukan titah yang buat Abian mengumpat. Melainkan gerakan tangan Ananta yang menuntun jemari Abian untuk melingkar pada pinggang yang lebih muda.
”Ata kangen. Pengen dipeluk Mas Bian. Ata ngga mau aneh-aneh kok, Mas Bian.” Lirihnya, mencoba menjelaskan.
”Maafin Ata ya? Nanti Ata ngga pake ini lagi kalo Mas Bian ngga suk—
”GUE SUKA! SUKA BANGET!” Jawab Abian spontan. Tanpa ada angin dan hujan. Bahkan dirinya sampai merutuki diri sendiri karena begitu berani mengatakan itu dengan sangat lantang.
Ananta lantas memekik senang dan melepas dekapannya agar bisa menatap manik yang lebih tua.
”FUCK!”
Selatan keduanya tergesek karena Ananta bergerak cukup cepat.
”Hihi! Ata cantik ngga Mas Bian? Kata Om Meta warna merah bagus. Jadi, Ata pilih warna merah.” Jelas Ananta, sedikit bangga dan senang.
Ata wangi ngga Mas Bian? Ata beli parfum baru, Ata suka harumnya. Enak, hihi!”
Jangan tanya bagaimana keadaan Abian. Ia hanya bisa meneguk saliva kasar, ketika maniknya dengan jelas disuguhi kedua noktah yang mengeras sempurna.
Ananta yang merasa diperhatikan, jadi sedikit kikuk dan merasa malu sampai tangannya memilih untuk terangkat. Menutup kedua noktahnya yang terpampang sempurna.
DEG
Berhasil mengalihkan pandangan Abian, untuk menatap manik Ananta dengan sorot penuh tanya dan dahi mengernyit heran.
Sedangkan Ananta, terlihat mengulum senyuman dengan salah tingkah yang membuncah di dalam benak.
”Heu, malu.”
Mendengar Ananta mengatakan hal tersebut dengan sangat lembut dan pelan, Abian jadi merasa kewarasannya hilang saat itu juga. Salivanya susah payah ia telan karena nafasnya sedikit tercekat.
Lantas dengan keberanian yang datang secara tiba-tiba, Abian mencengkram pinggang ramping Ananta dengan sangat kuat.
”C-Cantik banget, S-Sayang.”
BLUSSHH!
Ananta malu setengah mati. Jantungnya bertalu dan ia gugup tak karuan. Darahnya berdesir hangat dan senyumnya kian terangkat.
Lantas dengan gerakan malu-malu, Ananta menatap Abian dengan sangat telak.
”M-Mas Bian…”
”H-Hm?” Demi Tuhan, perasaan Abian tidak enak. Apalagi manik Ananta terlihat berbinar dan senyumnya seperti penuh arti yang mencurigakan.
”M-Mas Bian suka?” tanya Ananta, sembari menggenggam kedua tangan Abian yang berada di sisi pinggang rampingnya.
GULP
Anggukan singkat, Abian berikan. Sudah tak mampu untuk menjawab, karena Ananta mulai membawa tangannya untuk naik, dan…
”M-Mas Bian… mau pegang dada Ata ngga?”
DEG
Abian memejam rapat, saat tangannya sudah sempurna mendarat pada dada padat milik yang lebih muda.
Ananta juga ikut memejam. Merasakan friksi luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kakinya sedikit merapat dalam pangkuan Abian. Gugup dan malu sudah tak bisa lagi dipisahkan.
Ananta, benar-benar berani dan tak kenal kata menyerah.
Abian yang sudah kepalang tanggung, memilih untuk menghempaskan seluruh perasaan gugup dan canggung. Di hadapannya, Ananta siap. Maka sudah seharusnya, ia siap.
Lagipula, hanya sebatas menyentuh. Kenapa Abian sampai tremor tak karuan?
Dengan manik yang masih saling memejam rapat, Abian mencoba untuk meremas pelan.
”Ngh!”
Abian membuka mata. Mendapati Ananta menunduk dan menahan desah. Kaki sang kekasih semakin menjepit Abian dalam pangkuan, sedangkan kedua tangan Ananta mencengkram bahunya kuat.
”M-Mas Bian…”
Abian deg-degan mampus. Suara Ananta melirih dan penuh akan desah. Tangannya terus berusaha meremat, meskipun jemarinya sedikit bergetar dan peluh masih mengalir di pelipisnya.
”M-Mas Bian… J-Jangan gemeteran tangannya.” Lirih Ananta, sembari menggenggam kedua tangan Abian, di atas dada padatnya.
”G-Gapapa, pegang aja.” Bisik Ananta sangat malu, dengan pipi merona padam.
Tangan Abian digenggamkan kuat pada dada padatnya, sampai Ananta melenguh dan mendongakkan wajah.
”Ngh… M-Mas Biannh… M-Mashh… Ah!”
Ananta berjengit kaget saat kedua noktahnya dicubit kuat. Sedangkan sang pelaku, langsung menegakkan tubuh yang semula menyandar.
”M-Maaf… B-Bian pikir itu enak. S-Sakit ya? S-Sakit ngga?” Tanya Abian panik, sedangkan Ananta terkikik geli.
Ananta melingkarkan tangan kanannya pada leher Abian, sedangkan tangan kirinya merambat naik menuju noktah sang kekasih yang masih dibalut kaos dan kemeja.
”Mas Bian mau tau rasanya ngga?” Bisik Ananta, tepat di cuping Abian.
”M-Maksudnya?”
Ananta tersenyum gemas. Senang bisa mengerjai Abian. Lantas dengan ilmu amatiran yang ia punya, Ananta dengan jahil mencubit noktah sebelah kiri Abian.
”AHH!
Ananta langsung menatap yang lebih tua. Dengan senyum terpatri indah, dan manik berbinar salah tingkah.
”Sakit ngga, Mas Bian?” Tanya Ananta, seolah mencari validasi dari calon suaminya.
Abian yang baru menyadari Ananta sedang berani-beraninya, semakin kelimpungan. Ia menyukainya, tapi sangat malu untuk mengakuinya.
Ketika Abian baru akan memberi sebuah jawaban, dengan sangat jahil, Ananta meremas dada Abian.
”A-Ah! Sayang…”
Ananta semakin senang. Ekspresi Abian membuat dirinya merasa berhasil membuat sang kekasih merasa nikmat.
Lantas dengan penuh percaya diri, Ananta kembali mengajukan pertanyaan, “Mas Bian… Mau mainin susu Mas Bian, boleh?”**
Mendengarnya, Abian memejam rapat. Itu bukan kalimat yang sangat kotor, tapi kejantanannya di bawah sana semakin dibuat mengeras.
Kepalanya pening dan nafsunya membuncah.
Lantas dengan sangat pasrah, Abian mengangguk dan membiarkan Ananta bermain-main dengan keberaniannya. Abian menyandar pada sofa, dan membirkan Ananta melakukan apapun pada tubuhnya.
”Ata buka baju Mas Bian boleh?”
”J-JANGAN! B-BIAN MALU!”
Ananta terkekeh gemas. Wajah Abian merona padam. Bahkan, alisnya menyatu dan lehernya merah semua.
”Heuu, kenapa Mas Bian gemas?!” Pekik Ananta, sembari mencubit kedua pipi Abian.
CUP!
”Hadiah buat Mas Bian karena ngga jadi ninggalin Ata seminggu.” Bisik Ananta ceria, setelah mendaratkan satu kecupan singkat pada ranum Abian, sebelum menggesek hidung keduanya, hingga Abian memilih untuk memejamkan mata.
Lantas Ananta kembali fokus, pada dada bidang milik Abian.
”Ah!”
Abian melenguh, ketika dadanya diremas kuat. Ananta bermain pada dadanya, persis seperti tadi dirinya bermain pada dada Ananta.
Diremas pelan dan dipijit lembut. Sebelum beralih mencubit noktah dan memilintir gemas.
”N-Ngh.. S-Sayangh…”
”Mau nyusu, boleh?”
Demi Tuhan, Abian sudah tak mampu bertahan lagi.
”HIHI! MAKASIH MAS BIAN!”
Ananta langsung mengangkat kaos Abian hingga kedua noktah yang sudah mengeras, berhasil terlihat oleh maniknya yang berbinar.
Tanpa basa-basi, Ananta langsung mengecup dan mulai mengulum pelan.
”Ah! A-Ata…” Abian terbata, tubuhnya sangat sensitif bahkan cairan precumnya mulai membasahi celana.
”Kenapa, Mas Bian?” Tanya Ananta, sedikit bingung. Karena tubuh Abian, memberi respon sedikit berbeda.
Abian hanya menggeleng, lalu menyentuh tengkuk Ananta agar melakukannya lagi.
”L-Lagi, Ta.”
”Hihi, Mas Bian ketagihan ya?!”
”MALU BANGET ANJING!!!”
”Sini Ata mainin!”
Tidak seperi pria yang diselimuti nafsu, Ananta justru mengulum noktah Abian dengan sangat ceria. Sesapannya sedikit kuat, sedangkan lidahnya bermain serampangan.
Ranumnya bahkan terus tersenyum sumringah. Tanpa peduli ada Abian yang kelojotan dan merasa sangat sensitif sampai klimaksnya terasa diujung batas.
”Slurrphh… Mmphh…”
SIAL! SIAL! SIAL!
Abian tak sanggup. Tubuhnya bergetar hebat dan penisnya terasa seperti ingin mengeluarkan sesuatu.
Dengan gerakan cepat, Abian mencoba menjauhkan wajah Ananta dari dada padatnya.
”U-Udah… U-Udah, Ta.”
”Ngh… Mmph… Syebental lagihmmphh…”
MAMPUS!
Abian tak mampu menghentikan gerakan Ananta, sedangkan perutnya terasa semakin melilit dan tubuhnya menggelinjang hebat.
Dengan rasa malu yang sudah tak tahu lagi apakabarnya, Abian memekik dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
DEG
Ananta membola ketika menyadari Abian mengejang, tapi…
”Mas Bian ngompol?”
BRUKKK!
”GUE MAU BALIK KE AMERIKA ANJING!!!!!”
BRAKKK!