typingcntik

Masa bodoh dengan Abian yang auranya tiba-tiba sangat menyeramkan. Hari ini, yang KTP tahu hanya satu, Abian menjadi miliknya.

Ia pun dengan segera beranjak ke atas ranjang. Dengan kaki yang kembali dibuka lebar. Bersiap untuk memberikan show terbaik untuk pria tampan di hadapannya.

Ya meskipun sangat seram, Abian benar-benar terlihat tampan. KTP bahkan jauh lebih bersedia digempur sampai tak bisa jalan, daripada harus melewati momen dirinya bersetubuh manja dengan sang pujaan hati di hadapannya hanya karena aura yang menyeramkan.

KTP memulai dengan mengulum telunjuknya, begitu nakal dan kelewat jalang. Setelah dirasa basah, ia memulai untuk memasukkannya ke dalam lubang yang…

Bright tau ada sesuatu yang bisa menjelaskan jika KTP benar-benar sering dipakai oleh orang banyak.

Pria yang dikenal sebagai Pradana, hanya berdiri dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Matanya menatap lurus, tapi sama sekali tidak terganggu.

Apa Bright terangsang? Tidak sama sekali.

Justru ia merasa mual, dan sangat ingin segera pergi.

KTP yang sudah terbuai dengan rangsangannya sendiri. Lama-lama memejamkan mata. Wajahnya kian terlihat seperti jalang dan kakinya semakin mengangkang lebar.

Sudah tidak peduli pada Bright yang kini mulai menampilkan gerak-gerik menyeramkan. KTP hanya tau, ”Sss, Ahh… Masshh nghh, enaak…”

Bodoh memang.

Bright mengambil langkah, satu persatu seiring dengan wajahnya yang kian terlihat suram. Aroma parfum yang dipakai oleh Bright, berhasil membuat KTP kembali membuka matanya.

DEG

KTP menghentikan gerakannya ketika Abian berada tepat di hadapan wajahnya. Bukan, bukan karena Abian mendekat.

Tetapi matanya… KTP mendadak takut melihatnya.

”M-Mas…”

”Lanjutin, Sayang.”

Demi Tuhan, KTP tidak tahu apa maksud Abian. Tapi, rasa bagaimana nafsunya sudah menutup mata dan hatinya, membuat KTP tidak peduli dan kembali merangsang lubangnya.

Dengan tiga jari.

Matanya kembali memejam. Lidahnya terjulur dengan desahan laknat yang memenuhi ruangan. Kakinya mengangkang sangat lebar. Belum lagi tiga jarinya yang bergerak sangat cepat.

Bright mual melihatnya.

Dalam pejamnya, KTP bisa merasakan jika Abian mulai mendekat. Terpaan nafasnya menyapu cuping telinga. Hingga saat sudut bibirnya terangkat karena senang, Abian justru mengeluarkan satu kalimat yang berhasil membuatnya membelalak tak terima.

**”You really are a whore, Bitch.”

Hanya satu kalimat. Tapi cara bagaimana Abian bersuara, berhasil membuatnya sakit hingga ke titik paling terjaga.

”Already straddled for how many people, hm?”

”M-Mas…” tanpa sadar, tangannya mengepal kuat. Jemari yang semula tertanam dalam lubangnya, ia keluarkan lalu langsung meremat sprei dengan sangat kencang.

”Don't you feel disgusted at all?” bisiknya, penuh penekanan.

”Even when you're pregnant, you're implanting sperm from multiple men.”

”Don't you feel dirty?”

PLAKKK!

”MAKSUD LO NGOMONG GITU APA?!”

Satu tamparan mendarat sempurna pada pipi mulus milik Pradana. Menimbulkan rona merah dan kekehan sarkas yang terdengar merendahkan.

Sedangkan pria yang menampar, terlihat mengeluarkan air mata tanpa sadar. Tangannya meremat sprei sangat kuat. Terlihat marah dan kecewa.

”Why? You feel?” tanya Bright, dengan tangan terangkat, membelai pipi KTP yang sudah banjir oleh air mata.

”LO BRENGSEK!”

”Brengsek?” tanya Bright, dengan satu alis terangkat.

”Kalo gue brengsek…” ada jeda pada kalimatnya, seiring dengan jemari Bright yang turun ke daerah tulang selangka.

”Lo apa, Bangsat?” wajahnya datar, suaranya rendah, tetapi matanya —membunuh telak.

”LO —Nghh… M-Ma…ss…”

Bright mencekik kuat, leher KTP.

Tidak ada lagi kata main-main. Wajah Bright berubah drastis. Matanya melebihi tajamnya manik seekor elang. Ranumnya menyeringai menyeramkan. Tangannya sampai bergetar saking kuatnya mencekik KTP yang kini kelabakan sampai wajahnya memerah padam.

”Sakit, hm?” Tanya Bright, santai.

Sedangkan KTP di hadapannya, sudah sampai mengeluarkan air mata saking tak tahan dengan cengkeraman kuat dari tangan kekar Bright pada lehernya.

Bright yang semula sedikit menunduk, mulai menegak. Ia angkat leher KTP hingga pria itu berdiri sempurna.

Ditatap tajam seolah siap untuk membunuh mangsanya, sebelum memberi tamparan cukup keras, karena tadi berani menyentuh tubuhnya.

PLAKKK!

BRUKKK!

KTP jatuh tersungkur dalam keadaan telanjang bulat. Lehernya memerah bekas tangan Bright, sedangkan sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah. Irisnya terlihat ketakutan dengan air mata mengalir deras.

KTP benar-benar ingin kabur meski dalam keadaan tanpa busana.

Bright mendekat, seraya menyibakkan rambutnya ke belakang. Bahkan, dalam kondisi seperti ini, masih saja tebar pesona.

Ia bawa tubuhnya agar bisa sejajar dengan pria di hadapannya, seraya membawa tangan kekarnya untuk mencengkeram kuat dagu yang lebih muda.

”Kenapa nangis, hm?” tanya Bright, dingin.

KTP yang diperlakukan kasar, tentu hendak menjauhkan tangan Bright dari dagunya. Namun, apa daya, dirinya yang berniat menepis tangan pria di hadapannya, justru mendapat satu jambakan kuat hingga ringisannya terdengar nyaring memenuhi ruangan.

”AH!”

”M-Mas…”

”Mas? Who are you calling Mas, hm?”

”M-Mas… S-Sakit…”

”Oh, dijambak sakit?”

”BRENGSEK!”

Sebisa mungkin KTP membuat wajahnya terlihat memelas. Agar Abian di hadapannya mau melepas jambakan yang teramat kuat hingga dirinya merasa pusing tak karuan.

”M-Mas… Please… S-Sakit hikss…”

”Mau dilepas?”

”L-Lepas, Mas hikss… S-Sakit hikss…”

”Buat Ananta bangun, dan sehat lagi kaya semula.”

DEG

”If you can't, then i can't let you go.”

KTP memejamkan mata ketika mendengar penuturan dari pria yang lebih tua. Emosinya membuncah. Dadanya bergemuruh hebat. Tangannya mengepal kuat, dengan bibir bergetar karena tak terima.

Lagi-lagi, Ananta yang dibela.

Dengan kekuatan yang hadir karena dendam di hatinya, secepat kilat KTP melayangkan satu bogeman mentah, tepat di pipi sebelah kanan milik Bright.

BUGH!

Lalu ia duduk, tepat di atas perut Bright dengan berlinang air mata.

”LO PIKIR GUE BAKAL NGALAH GITU AJA BIAN?!”

”NGGA! LO SAMA ANJINGNYA KAYA ORANG-ORANG! LO CUMA BELAIN ATA!!! LO NGGA PERNAH TAU RASANYA JADI GUE!!! LO NGGA PERNAH TAU BIAN!!! NGGA PERNAH!!!”

”Hm, lagian… siapa yang mau ngerasain jadi jalang?”

BUGH!

**”LO DIEM YA ANJING!!! LO KESINI CUMA MAU NGEWE SAMA GUE!!! BUKAN MAU BACOT DAN NYALAHIN GUE!!!” Pekiknya tak terima, seraya berusaha melucuti Abian di bawahnya.

Tapi, sayang beribu sayang, KTP terlalu gegabah hingga berhasil membangunkan singa dalam diri Brighrt secara sempurna.

Secepat kilat, ia tampar wajah KTP dengan lebih keras dari sebelumnya. Sampai darah dari sudut bibir KTP, mengalir cukup banyak.

PLAKKK!

Bright bangkit, mencekik KTP lalu menghempaskannya ke atas ranjang. Ia cengkeram kuat lehernya, seraya diberi tatapan membunuh hingga KTP memohon ampun untuk dilepaskan.

”Can't you guess who i am, hm?”

”Do you really think that i am Abian?”

Sukses membuat KTP terdiam barang sesaat.

”I am Bright. Mr. Pradana.”

DEG

Mendengarnya, KTP lemas seketika. Matanya terkejut bukan main. Bahkan kali ini ia berusaha sekuat tenaga kabur dari seorang pria bermarga Pradana.

No.

Jika dirinya berhasil tertangkap oleh Pradana, semuanya hancur.

KTP hancur.

Pradana pasti akan menghukumnya.

Bukan, bukan membawa ke jalur meja hijau.

Bright pasti akan menggunakan cara lain agar dirinya merasa dihukum oleh semesta.

Namun, sayang seribu sayang. Kekuatannya tak bisa mengalahkan satu tangan Bright yang kini masih mencengkeram lehernya —bahkan semakin kuat.

Jangankan kabur, bernafas saja KTP susah. Saliva sampai keluar membasahi pipinya, karena tak sanggup dengan siksaan dari pria seram di hadapannya.

”You know? I'm a sadistic man.”

”If Abian still has feelings to hurt you, then i don't at all, KTP.” Ucapnya, santai. Seraya menatap remeh, ke arah KTP yang mati-matian memohon agar tak disakiti terlalu jauh.

Bahkan, tangannya terangkat, mengusap perut ratanya, seolah mencari keringanan karena dirinya sedang mengandung seorang anak.

Tapi, Bright tahu.

Sudah sedari lama, KTP keguguran.

Lagipula, janin mana yang bisa bertahan jika KTP melayani banyak pria lebih dari empat orang dalam waktu sehari penuh?

Seandainya ada, apa kau bisa membayangkannya, hm?

Maka yang dilakukan Bright sekarang adalah tertawa sarkas. Puas membuat KTP tak mampu berbuat apa-apa, selain memohon untuk dilepaskan.

”Ngapain ngusap perut, hm? Kan udah keguguran.”

Sukses membuat KTP kian ketakutan.

”Bahkan, udah ga bisa hamil lagi ya?” sindirnya, sarkas.

”Glad to hear that the child was not born from the womb of someone like you.” ucapnya, sangat telak.

Berhasil menusukkan banyak belati pada hati KTP yang kini, perlahan melemaskan diri karena hatinya lebih tak sanggup mendengar untaian kata yang terus terlontar dari belah bibir Tuan Pradana.

”But, it's really sad to hear the news that you have HIV.”

”In fact, your body is more than dirty, KTP.”

”Hiks… Lepas hikss… Lepas…”

Bright melepaskannya. Membiarkan KTP meringkuk memeluk tubuhnya. Ia menangis sehancur-hancurnya.

Bright, pria yang baru ia temui hari ini. Justru menjadi satu-satunya pria yang berhasil membuatnya kembali merasa hina.

Bukan.

Bukan karena dirinya disetubuhi secara brutal.

Bukan karena dirinya dipakai beramai-ramai.

Bukan juga karena dirinya disewa untuk direndahkan sepuasnya.

Tapi justru hanya karena sebuah perkataan, yang kembali membuatnya sadar, dirinya sudah lebih dari sebuah kata hina.

KTP, hancur sejadi-jadinya.

”I know you're hurt. But sorry, I'm not the type of person who easily melts just because of tears.” tandas Bright final, sebelum melemparkan sebuah setelan pakaian, ke arah wajah KTP dengan cukup kasar.

”Pake. Sekarang.”

KTP tentu menggeleng cepat, berusaha tidak memakai karena ia tidak mau diberi hukuman. Dirinya berpikir jika telanjang, Bright pasti tidak bisa bergerak lebih.

Tapi, sekali lagi, Bright sedang berdiri tanpa perasaan.

Sudut bibirnya lantas terangkat, terkekeh remeh dan merendahkan. Ia pun merendahkan tubuhnya, menatap telak ke arah KTP, lalu menjambaknya agar mau terduduk dengan baik.

”Kamu pikir saya ngga berani?” tanya Bright, mengintimidasi.

”Yaudah, ngga usah dipake. Telanjang aja. Kali aja kamu mau main sama anak buah saya.” kekehnya, sarkas.

Bright pun melirik ke arah ereksi pria sialan di hadapannya, “Masih turn on, hm? Saya kasih waktu tiga puluh menit, cukup?”**

”Setelah itu, ikut saya.”

”Karena setiap tindakan kamu, berhak dapet reward dari saya.” tandasnya final.

Sukses membuat KTP membelalak dengan tubuh bergetar hebat.

Bright pun beranjak, menjauhi tubuh KTP yang membuatnya muak. Ia pandangi sekali lagi dengan tatapan remeh dan merendahkan. 
Sebelum akhirnya membalik tubuh dan pergi dengan kedua tangan di dalam saku celana.

Namun, saat langkahnya baru sampai ke depan pintu apartement KTP, Bright menghentikan langkahnya.

Pria itu sedikit menoleh ke belakang, seraya menyeringai sangat kejam.

”Orang pertama yang bakal ngehukum kamu. Suami saya.”

”Karena kamu lancang menyentuh saya.”

”Ngga parah kok, paling ditampar sampe puas.” Ucapnya, santai.

Setelahnya, Bright pergi.

Berhasil membuat KTP semakin panik tidak karuan. Ia tahu, Pradana selalu kejam ketika menyelesaikan sebuah masalah. Demi Tuhan, KTP ketakutan.

Setelah Bright pergi meninggalkan KTP sendirian, pria itu kelimpungan bukan main dan berusaha meminta bantuan.

Tapi, sekali lagi, keberuntungan KTP sudah mencapai limitnya. Karena begitu Bright pergi meninggalkannya, para bodyguard Pradana masuk dan mengintimidasi lewat tatapan.

”BRIGHT BRENGSEK!!!!!”*

Masa bodoh dengan Abian yang auranya tiba-tiba sangat menyeramkan. Hari ini, yang KTP tahu hanya satu, Abian menjadi miliknya.

Ia pun dengan segera beranjak ke atas ranjang. Dengan kaki yang kembali dibuka lebar. Bersiap untuk memberikan show terbaik untuk pria tampan di hadapannya.

Ya meskipun sangat seram, Abian benar-benar terlihat tampan. KTP bahkan jauh lebih bersedia digempur sampai tak bisa jalan, daripada harus melewati momen dirinya bersetubuh manja dengan sang pujaan hati di hadapannya hanya karena aura yang menyeramkan.

KTP memulai dengan mengulum telunjuknya, begitu nakal dan kelewat jalang. Setelah dirasa basah, ia memulai untuk memasukkannya ke dalam lubang yang…

Bright tau ada sesuatu yang bisa menjelaskan jika KTP benar-benar sering dipakai oleh orang banyak.

Pria yang dikenal sebagai Pradana, hanya berdiri dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Matanya menatap lurus, tapi sama sekali tidak terganggu.

Apa Bright terangsang? Tidak sama sekali.

Justru ia merasa mual, dan sangat ingin segera pergi.

KTP yang sudah terbuai dengan rangsangannya sendiri. Lama-lama memejamkan mata. Wajahnya kian terlihat seperti jalang dan kakinya semakin mengangkang lebar.

Sudah tidak peduli pada Bright yang kini mulai menampilkan gerak-gerik menyeramkan. KTP hanya tau, ”Sss, Ahh… Masshh nghh, enaak…”

Bodoh memang.

Bright mengambil langkah, satu persatu seiring dengan wajahnya yang kian terlihat suram. Aroma parfum yang dipakai oleh Bright, berhasil membuat KTP kembali membuka matanya.

DEG

KTP menghentikan gerakannya ketika Abian berada tepat di hadapan wajahnya. Bukan, bukan karena Abian mendekat.

Tetapi matanya… KTP mendadak takut melihatnya.

”M-Mas…”

”Lanjutin, Sayang.”

Demi Tuhan, KTP tidak tahu apa maksud Abian. Tapi, rasa bagaimana nafsunya sudah menutup mata dan hatinya, membuat KTP tidak peduli dan kembali merangsang lubangnya.

Dengan tiga jari.

Matanya kembali memejam. Lidahnya terjulur dengan desahan laknat yang memenuhi ruangan. Kakinya mengangkang sangat lebar. Belum lagi tiga jarinya yang bergerak sangat cepat.

Bright mual melihatnya.

Dalam pejamnya, KTP bisa merasakan jika Abian mulai mendekat. Terpaan nafasnya menyapu cuping telinga. Hingga saat sudut bibirnya terangkat karena senang, Abian justru mengeluarkan satu kalimat yang berhasil membuatnya membelalak tak terima.

”You really are a whore, Bitch.”

Hanya satu kalimat. Tapi cara bagaimana Abian bersuara, berhasil membuatnya sakit hingga ke titik paling terjaga.

”Already straddled for how many people, hm?”

”M-Mas…” tanpa sadar, tangannya mengepal kuat. Jemari yang semula tertanam dalam lubangnya, ia keluarkan lalu langsung meremat sprei dengan sangat kencang.

”Don't you feel disgusted at all?” bisiknya, penuh penekanan.

”Even when you're pregnant, you're implanting sperm from multiple men.”

”Don't you feel dirty?”

PLAKKK!

”MAKSUD LO NGOMONG GITU APA?!”

Satu tamparan mendarat sempurna pada pipi mulus milik Pradana. Menimbulkan rona merah dan kekehan sarkas yang terdengar merendahkan.

Sedangkan pria yang menampar, terlihat mengeluarkan air mata tanpa sadar. Tangannya meremat sprei sangat kuat. Terlihat marah dan kecewa.

”Why? You feel?” tanya Bright, dengan tangan terangkat, membelai pipi KTP yang sudah banjir oleh air mata.

”LO BRENGSEK!”

”Brengsek?” tanya Bright, dengan satu alis terangkat.

”Kalo gue brengsek…” ada jeda pada kalimatnya, seiring dengan jemari Bright yang turun ke daerah tulang selangka.

”Lo apa, Bangsat?” wajahnya datar, suaranya rendah, tetapi matanya —membunuh telak.

”LO —Nghh… M-Ma…ss…”

Bright mencekik kuat, leher KTP.

Tidak ada lagi kata main-main. Wajah Bright berubah drastis. Matanya melebihi tajamnya manik seekor elang. Ranumnya menyeringai menyeramkan. Tangannya sampai bergetar saking kuatnya mencekik KTP yang kini kelabakan sampai wajahnya memerah padam.

”Sakit, hm?” Tanya Bright, santai.

Sedangkan KTP di hadapannya, sudah sampai mengeluarkan air mata saking tak tahan dengan cengkeraman kuat dari tangan kekar Bright pada lehernya.

Bright yang semula sedikit menunduk, mulai menegak. Ia angkat leher KTP hingga pria itu berdiri sempurna.

Ditatap tajam seolah siap untuk membunuh mangsanya, sebelum memberi tamparan cukup keras, karena tadi berani menyentuh tubuhnya.

PLAKKK!

BRUKKK!

KTP jatuh tersungkur dalam keadaan telanjang bulat. Lehernya memerah bekas tangan Bright, sedangkan sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah. Irisnya terlihat ketakutan dengan air mata mengalir deras.

KTP benar-benar ingin kabur meski dalam keadaan tanpa busana.

Bright mendekat, seraya menyibakkan rambutnya ke belakang. Bahkan, dalam kondisi seperti ini, masih saja tebar pesona.

Ia bawa tubuhnya agar bisa sejajar dengan pria di hadapannya, seraya membawa tangan kekarnya untuk mencengkeram kuat dagu yang lebih muda.

”Kenapa nangis, hm?” tanya Bright, dingin.

KTP yang diperlakukan kasar, tentu hendak menjauhkan tangan Bright dari dagunya. Namun, apa daya, dirinya yang berniat menepis tangan pria di hadapannya, justru mendapat satu jambakan kuat hingga ringisannya terdengar nyaring memenuhi ruangan.

”AH!”

”M-Mas…”

”Mas? Who are you calling Mas, hm?”

”M-Mas… S-Sakit…”

”Oh, dijambak sakit?”

”BRENGSEK!”

Sebisa mungkin KTP membuat wajahnya terlihat memelas. Agar Abian di hadapannya mau melepas jambakan yang teramat kuat hingga dirinya merasa pusing tak karuan.

”M-Mas… Please… S-Sakit hikss…”

”Mau dilepas?”

”L-Lepas, Mas hikss… S-Sakit hikss…”

”Buat Ananta bangun, dan sehat lagi kaya semula.”

DEG

”If you can't, then i can't let you go.”

KTP memejamkan mata ketika mendengar penuturan dari pria yang lebih tua. Emosinya membuncah. Dadanya bergemuruh hebat. Tangannya mengepal kuat, dengan bibir bergetar karena tak terima.

Lagi-lagi, Ananta yang dibela.

Dengan kekuatan yang hadir karena dendam di hatinya, secepat kilat KTP melayangkan satu bogeman mentah, tepat di pipi sebelah kanan milik Bright.

BUGH!

Lalu ia duduk, tepat di atas perut Bright dengan berlinang air mata.

”LO PIKIR GUE BAKAL NGALAH GITU AJA BIAN?!”

”NGGA! LO SAMA ANJINGNYA KAYA ORANG-ORANG! LO CUMA BELAIN ATA!!! LO NGGA PERNAH TAU RASANYA JADI GUE!!! LO NGGA PERNAH TAU BIAN!!! NGGA PERNAH!!!”

”Hm, lagian… siapa yang mau ngerasain jadi jalang?”

BUGH!

**”LO DIEM YA ANJING!!! LO KESINI CUMA MAU NGEWE SAMA GUE!!! BUKAN MAU BACOT DAN NYALAHIN GUE!!!” Pekiknya tak terima, seraya berusaha melucuti Abian di bawahnya.

Tapi, sayang beribu sayang, KTP terlalu gegabah hingga berhasil membangunkan singa dalam diri Brighrt secara sempurna.

Secepat kilat, ia tampar wajah KTP dengan lebih keras dari sebelumnya. Sampai darah dari sudut bibir KTP, mengalir cukup banyak.

PLAKKK!

Bright bangkit, mencekik KTP lalu menghempaskannya ke atas ranjang. Ia cengkeram kuat lehernya, seraya diberi tatapan membunuh hingga KTP memohon ampun untuk dilepaskan.

”Can't you guess who i am, hm?”

”Do you really think that i am Abian?”

Sukses membuat KTP terdiam barang sesaat.

”I am Bright. Mr. Pradana.”

DEG

Mendengarnya, KTP lemas seketika. Matanya terkejut bukan main. Bahkan kali ini ia berusaha sekuat tenaga kabur dari seorang pria bermarga Pradana.

No.

Jika dirinya berhasil tertangkap oleh Pradana, semuanya hancur.

KTP hancur.

Pradana pasti akan menghukumnya.

Bukan, bukan membawa ke jalur meja hijau.

Bright pasti akan menggunakan cara lain agar dirinya merasa dihukum oleh semesta.

Namun, sayang seribu sayang. Kekuatannya tak bisa mengalahkan satu tangan Bright yang kini masih mencengkeram lehernya —bahkan semakin kuat.

Jangankan kabur, bernafas saja KTP susah. Saliva sampai keluar membasahi pipinya, karena tak sanggup dengan siksaan dari pria seram di hadapannya.

”You know? I'm a sadistic man.”

”If Abian still has feelings to hurt you, then i don't at all, KTP.” Ucapnya, santai. Seraya menatap remeh, ke arah KTP yang mati-matian memohon agar tak disakiti terlalu jauh.

Bahkan, tangannya terangkat, mengusap perut ratanya, seolah mencari keringanan karena dirinya sedang mengandung seorang anak.

Tapi, Bright tahu.

Sudah sedari lama, KTP keguguran.

Lagipula, janin mana yang bisa bertahan jika KTP melayani banyak pria lebih dari empat orang dalam waktu sehari penuh?

Seandainya ada, apa kau bisa membayangkannya, hm?

Maka yang dilakukan Bright sekarang adalah tertawa sarkas. Puas membuat KTP tak mampu berbuat apa-apa, selain memohon untuk dilepaskan.

”Ngapain ngusap perut, hm? Kan udah keguguran.”

Sukses membuat KTP kian ketakutan.

”Bahkan, udah ga bisa hamil lagi ya?” sindirnya, sarkas.

”Glad to hear that the child was not born from the womb of someone like you.” ucapnya, sangat telak.

Berhasil menusukkan banyak belati pada hati KTP yang kini, perlahan melemaskan diri karena hatinya lebih tak sanggup mendengar untaian kata yang terus terlontar dari belah bibir Tuan Pradana.

”But, it's really sad to hear the news that you have HIV.”

”In fact, your body is more than dirty, KTP.”

”Hiks… Lepas hikss… Lepas…”

Bright melepaskannya. Membiarkan KTP meringkuk memeluk tubuhnya. Ia menangis sehancur-hancurnya.

Bright, pria yang baru ia temui hari ini. Justru menjadi satu-satunya pria yang berhasil membuatnya kembali merasa hina.

Bukan.

Bukan karena dirinya disetubuhi secara brutal.

Bukan karena dirinya dipakai beramai-ramai.

Bukan juga karena dirinya disewa untuk direndahkan sepuasnya.

Tapi justru hanya karena sebuah perkataan, yang kembali membuatnya sadar, dirinya sudah lebih dari sebuah kata hina.

KTP, hancur sejadi-jadinya.

”I know you're hurt. But sorry, I'm not the type of person who easily melts just because of tears.” tandas Bright final, sebelum melemparkan sebuah setelan pakaian, ke arah wajah KTP dengan cukup kasar.

”Pake. Sekarang.”

KTP tentu menggeleng cepat, berusaha tidak memakai karena ia tidak mau diberi hukuman. Dirinya berpikir jika telanjang, Bright pasti tidak bisa bergerak lebih.

Tapi, sekali lagi, Bright sedang berdiri tanpa perasaan.

Sudut bibirnya lantas terangkat, terkekeh remeh dan merendahkan. Ia pun merendahkan tubuhnya, menatap telak ke arah KTP, lalu menjambaknya agar mau terduduk dengan baik.

”Kamu pikir saya ngga berani?” tanya Bright, mengintimidasi.

”Yaudah, ngga usah dipake. Telanjang aja. Kali aja kamu mau main sama anak buah saya.” kekehnya, sarkas.

Bright pun melirik ke arah ereksi pria sialan di hadapannya, “Masih turn on, hm? Saya kasih waktu tiga puluh menit, cukup?”**

”Setelah itu, ikut saya.”

”Karena setiap tindakan kamu, berhak dapet reward dari saya.” tandasnya final.

Sukses membuat KTP membelalak dengan tubuh bergetar hebat.

Bright pun beranjak, menjauhi tubuh KTP yang membuatnya muak. Ia pandangi sekali lagi dengan tatapan remeh dan merendahkan. 
Sebelum akhirnya membalik tubuh dan pergi dengan kedua tangan di dalam saku celana.

Namun, saat langkahnya baru sampai ke depan pintu apartement KTP, Bright menghentikan langkahnya.

Pria itu sedikit menoleh ke belakang, seraya menyeringai sangat kejam.

”Orang pertama yang bakal ngehukum kamu. Suami saya.”

”Karena kamu lancang menyentuh saya.”

”Ngga parah kok, paling ditampar sampe puas.” Ucapnya, santai.

Setelahnya, Bright pergi.

Berhasil membuat KTP semakin panik tidak karuan. Ia tahu, Pradana selalu kejam ketika menyelesaikan sebuah masalah. Demi Tuhan, KTP ketakutan.

Setelah Bright pergi meninggalkan KTP sendirian, pria itu kelimpungan bukan main dan berusaha meminta bantuan.

Tapi, sekali lagi, keberuntungan KTP sudah mencapai limitnya. Karena begitu Bright pergi meninggalkannya, para bodyguard Pradana masuk dan mengintimidasi lewat tatapan.

”BRIGHT BRENGSEK!!!!!”*

Masa bodoh dengan Abian yang auranya tiba-tiba sangat menyeramkan. Hari ini, yang KTP tahu hanya satu, Abian menjadi miliknya.

Ia pun dengan segera beranjak ke atas ranjang. Dengan kaki yang kembali dibuka lebar. Bersiap untuk memberikan show terbaik untuk pria tampan di hadapannya.

Ya meskipun sangat seram, Abian benar-benar terlihat tampan. KTP bahkan jauh lebih bersedia digempur sampai tak bisa jalan, daripada harus melewati momen dirinya bersetubuh manja dengan sang pujaan hati di hadapannya hanya karena aura yang menyeramkan.

KTP memulai dengan mengulum telunjuknya, begitu nakal dan kelewat jalang. Setelah dirasa basah, ia memulai untuk memasukkannya ke dalam lubang yang…

Bright tau ada sesuatu yang bisa menjelaskan jika KTP benar-benar sering dipakai oleh orang banyak.

Pria yang dikenal sebagai Pradana, hanya berdiri dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Matanya menatap lurus, tapi sama sekali tidak terganggu.

Apa Bright terangsang? Tidak sama sekali.

Justru ia merasa mual, dan sangat ingin segera pergi.

KTP yang sudah terbuai dengan rangsangannya sendiri. Lama-lama memejamkan mata. Wajahnya kian terlihat seperti jalang dan kakinya semakin mengangkang lebar.

Sudah tidak peduli pada Bright yang kini mulai menampilkan gerak-gerik menyeramkan. KTP hanya tau, ”Sss, Ahh… Masshh nghh, enaak…”

Bodoh memang.

Bright mengambil langkah, satu persatu seiring dengan wajahnya yang kian terlihat suram. Aroma parfum yang dipakai oleh Bright, berhasil membuat KTP kembali membuka matanya.

DEG

KTP menghentikan gerakannya ketika Abian berada tepat di hadapan wajahnya. Bukan, bukan karena Abian mendekat.

Tetapi matanya… KTP mendadak takut melihatnya.

”M-Mas…”

”Lanjutin, Sayang.”

Demi Tuhan, KTP tidak tahu apa maksud Abian. Tapi, rasa bagaimana nafsunya sudah menutup mata dan hatinya, membuat KTP tidak peduli dan kembali merangsang lubangnya.

Dengan tiga jari.

Matanya kembali memejam. Lidahnya terjulur dengan desahan laknat yang memenuhi ruangan. Kakinya mengangkang sangat lebar. Belum lagi tiga jarinya yang bergerak sangat cepat.

Bright mual melihatnya.

Dalam pejamnya, KTP bisa merasakan jika Abian mulai mendekat. Terpaan nafasnya menyapu cuping telinga. Hingga saat sudut bibirnya terangkat karena senang, Abian justru mengeluarkan satu kalimat yang berhasil membuatnya membelalak tak terima.

”You really are a whore, Bitch.”

Hanya satu kalimat. Tapi cara bagaimana Abian bersuara, berhasil membuatnya sakit hingga ke titik paling terjaga.

”Already straddled for how many people, hm?”

”M-Mas…” tanpa sadar, tangannya mengepal kuat. Jemari yang semula tertanam dalam lubangnya, ia keluarkan lalu langsung meremat sprei dengan sangat kencang.

”Don't you feel disgusted at all?” bisiknya, penuh penekanan.

”Even when you're pregnant, you're implanting sperm from multiple men.”

”Don't you feel dirty?”

PLAKKK!

”MAKSUD LO NGOMONG GITU APA?!”

Satu tamparan mendarat sempurna pada pipi mulus milik Pradana. Menimbulkan rona merah dan kekehan sarkas yang terdengar merendahkan.

Sedangkan pria yang menampar, terlihat mengeluarkan air mata tanpa sadar. Tangannya meremat sprei sangat kuat. Terlihat marah dan kecewa.

”Why? You feel?” tanya Bright, dengan tangan terangkat, membelai pipi KTP yang sudah banjir oleh air mata.

”LO BRENGSEK!”

”Brengsek?” tanya Bright, dengan satu alis terangkat.

”Kalo gue brengsek…” ada jeda pada kalimatnya, seiring dengan jemari Bright yang turun ke daerah tulang selangka.

”Lo apa, Bangsat?” wajahnya datar, suaranya rendah, tetapi matanya —membunuh telak.

”LO —Nghh… M-Ma…ss…”

Bright mencekik kuat, leher KTP.

Tidak ada lagi kata main-main. Wajah Bright berubah drastis. Matanya melebihi tajamnya manik seekor elang. Ranumnya menyeringai menyeramkan. Tangannya sampai bergetar saking kuatnya mencekik KTP yang kini kelabakan sampai wajahnya memerah padam.

”Sakit, hm?” Tanya Bright, santai.

Sedangkan KTP di hadapannya, sudah sampai mengeluarkan air mata saking tak tahan dengan cengkeraman kuat dari tangan kekar Bright pada lehernya.

Bright yang semula sedikit menunduk, mulai menegak. Ia angkat leher KTP hingga pria itu berdiri sempurna.

Ditatap tajam seolah siap untuk membunuh mangsanya, sebelum memberi tamparan cukup keras, karena tadi berani menyentuh tubuhnya.

PLAKKK!

BRUKKK!

KTP jatuh tersungkur dalam keadaan telanjang bulat. Lehernya memerah bekas tangan Bright, sedangkan sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah. Irisnya terlihat ketakutan dengan air mata mengalir deras.

KTP benar-benar ingin kabur meski dalam keadaan tanpa busana.

Bright mendekat, seraya menyibakkan rambutnya ke belakang. Bahkan, dalam kondisi seperti ini, masih saja tebar pesona.

Ia bawa tubuhnya agar bisa sejajar dengan pria di hadapannya, seraya membawa tangan kekarnya untuk mencengkeram kuat dagu yang lebih muda.

”Kenapa nangis, hm?” tanya Bright, dingin.

KTP yang diperlakukan kasar, tentu hendak menjauhkan tangan Bright dari dagunya. Namun, apa daya, dirinya yang berniat menepis tangan pria di hadapannya, justru mendapat satu jambakan kuat hingga ringisannya terdengar nyaring memenuhi ruangan.

”AH!”

”M-Mas…”

”Mas? Who are you calling Mas, hm?”

”M-Mas… S-Sakit…”

”Oh, dijambak sakit?”

”BRENGSEK!”

Sebisa mungkin KTP membuat wajahnya terlihat memelas. Agar Abian di hadapannya mau melepas jambakan yang teramat kuat hingga dirinya merasa pusing tak karuan.

”M-Mas… Please… S-Sakit hikss…”

”Mau dilepas?”

”L-Lepas, Mas hikss… S-Sakit hikss…”

”Buat Ananta bangun, dan sehat lagi kaya semula.”

DEG

”If you can't, then i can't let you go.”

KTP memejamkan mata ketika mendengar penuturan dari pria yang lebih tua. Emosinya membuncah. Dadanya bergemuruh hebat. Tangannya mengepal kuat, dengan bibir bergetar karena tak terima.

Lagi-lagi, Ananta yang dibela.

Dengan kekuatan yang hadir karena dendam di hatinya, secepat kilat KTP melayangkan satu bogeman mentah, tepat di pipi sebelah kanan milik Bright.

BUGH!

Lalu ia duduk, tepat di atas perut Bright dengan berlinang air mata.

”LO PIKIR GUE BAKAL NGALAH GITU AJA BIAN?!”

”NGGA! LO SAMA ANJINGNYA KAYA ORANG-ORANG! LO CUMA BELAIN ATA!!! LO NGGA PERNAH TAU RASANYA JADI GUE!!! LO NGGA PERNAH TAU BIAN!!! NGGA PERNAH!!!”

”Hm, lagian… siapa yang mau ngerasain jadi jalang?”

BUGH!

”LO DIEM YA ANJING!!! LO KESINI CUMA MAU NGEWE SAMA GUE!!! BUKAN MAU BACOT DAN NYALAHIN GUE!!!” Pekiknya tak terima, seraya berusaha melucuti Abian di bawahnya.

Tapi, sayang beribu sayang, KTP terlalu gegabah hingga berhasil membangunkan singa dalam diri Brighrt secara sempurna.

Secepat kilat, ia tampar wajah KTP dengan lebih keras dari sebelumnya. Sampai darah dari sudut bibir KTP, mengalir cukup banyak.

PLAKKK!

Bright bangkit, mencekik KTP lalu menghempaskannya ke atas ranjang. Ia cengkeram kuat lehernya, seraya diberi tatapan membunuh hingga KTP memohon ampun untuk dilepaskan.

”Can't you guess who i am, hm?”

”Do you really think that i am Abian?”

Sukses membuat KTP terdiam barang sesaat.

”I am Bright. Mr. Pradana.”

DEG

Mendengarnya, KTP lemas seketika. Matanya terkejut bukan main. Bahkan kali ini ia berusaha sekuat tenaga kabur dari seorang pria bermarga Pradana.

No.

Jika dirinya berhasil tertangkap oleh Pradana, semuanya hancur.

KTP hancur.

Pradana pasti akan menghukumnya.

Bukan, bukan membawa ke jalur meja hijau.

Bright pasti akan menggunakan cara lain agar dirinya merasa dihukum oleh semesta.

Namun, sayang seribu sayang. Kekuatannya tak bisa mengalahkan satu tangan Bright yang kini masih mencengkeram lehernya —bahkan semakin kuat.

Jangankan kabur, bernafas saja KTP susah. Saliva sampai keluar membasahi pipinya, karena tak sanggup dengan siksaan dari pria seram di hadapannya.

”You know? I'm a sadistic man.”

”If Abian still has feelings to hurt you, then i don't at all, KTP.” Ucapnya, santai. Seraya menatap remeh, ke arah KTP yang mati-matian memohon agar tak disakiti terlalu jauh.

Bahkan, tangannya terangkat, mengusap perut ratanya, seolah mencari keringanan karena dirinya sedang mengandung seorang anak.

Tapi, Bright tahu.

Sudah sedari lama, KTP keguguran.

Lagipula, janin mana yang bisa bertahan jika KTP melayani banyak pria lebih dari empat orang dalam waktu sehari penuh?

Seandainya ada, apa kau bisa membayangkannya, hm?

Maka yang dilakukan Bright sekarang adalah tertawa sarkas. Puas membuat KTP tak mampu berbuat apa-apa, selain memohon untuk dilepaskan.

”Ngapain ngusap perut, hm? Kan udah keguguran.”

Sukses membuat KTP kian ketakutan.

”Bahkan, udah ga bisa hamil lagi ya?” sindirnya, sarkas.

”Glad to hear that the child was not born from the womb of someone like you.” ucapnya, sangat telak.

Berhasil menusukkan banyak belati pada hati KTP yang kini, perlahan melemaskan diri karena hatinya lebih tak sanggup mendengar untaian kata yang terus terlontar dari belah bibir Tuan Pradana.

”But, it's really sad to hear the news that you have HIV.”

”In fact, your body is more than dirty, KTP.”

”Hiks… Lepas hikss… Lepas…”

Bright melepaskannya. Membiarkan KTP meringkuk memeluk tubuhnya. Ia menangis sehancur-hancurnya.

Bright, pria yang baru ia temui hari ini. Justru menjadi satu-satunya pria yang berhasil membuatnya kembali merasa hina.

Bukan.

Bukan karena dirinya disetubuhi secara brutal.

Bukan karena dirinya dipakai beramai-ramai.

Bukan juga karena dirinya disewa untuk direndahkan sepuasnya.

Tapi justru hanya karena sebuah perkataan, yang kembali membuatnya sadar, dirinya sudah lebih dari sebuah kata hina.

KTP, hancur sejadi-jadinya.

”I know you're hurt. But sorry, I'm not the type of person who easily melts just because of tears.” tandas Bright final, sebelum melemparkan sebuah setelan pakaian, ke arah wajah KTP dengan cukup kasar.

”Pake. Sekarang.”

KTP tentu menggeleng cepat, berusaha tidak memakai karena ia tidak mau diberi hukuman. Dirinya berpikir jika telanjang, Bright pasti tidak bisa bergerak lebih.

Tapi, sekali lagi, Bright sedang berdiri tanpa perasaan.

Sudut bibirnya lantas terangkat, terkekeh remeh dan merendahkan. Ia pun merendahkan tubuhnya, menatap telak ke arah KTP, lalu menjambaknya agar mau terduduk dengan baik.

”Kamu pikir saya ngga berani?” tanya Bright, mengintimidasi.

”Yaudah, ngga usah dipake. Telanjang aja. Kali aja kamu mau main sama anak buah saya.” kekehnya, sarkas.

Bright pun melirik ke arah ereksi pria sialan di hadapannya, “Masih turn on, hm? Saya kasih waktu tiga puluh menit, cukup?”**

”Setelah itu, ikut saya.”

”Karena setiap tindakan kamu, berhak dapet reward dari saya.” tandasnya final.

Sukses membuat KTP membelalak dengan tubuh bergetar hebat.

Bright pun beranjak, menjauhi tubuh KTP yang membuatnya muak. Ia pandangi sekali lagi dengan tatapan remeh dan merendahkan. 
Sebelum akhirnya membalik tubuh dan pergi dengan kedua tangan di dalam saku celana.

Namun, saat langkahnya baru sampai ke depan pintu apartement KTP, Bright menghentikan langkahnya.

Pria itu sedikit menoleh ke belakang, seraya menyeringai sangat kejam.

”Orang pertama yang bakal ngehukum kamu. Suami saya.”

”Karena kamu lancang menyentuh saya.”

”Ngga parah kok, paling ditampar sampe puas.” Ucapnya, santai.

Setelahnya, Bright pergi.

Berhasil membuat KTP semakin panik tidak karuan. Ia tahu, Pradana selalu kejam ketika menyelesaikan sebuah masalah. Demi Tuhan, KTP ketakutan.

Setelah Bright pergi meninggalkan KTP sendirian, pria itu kelimpungan bukan main dan berusaha meminta bantuan.

Tapi, sekali lagi, keberuntungan KTP sudah mencapai limitnya. Karena begitu Bright pergi meninggalkannya, para bodyguard Pradana masuk dan mengintimidasi lewat tatapan.

”BRIGHT BRENGSEK!!!!!”*

Masa bodoh dengan Abian yang auranya tiba-tiba sangat menyeramkan. Hari ini, yang KTP tahu hanya satu, Abian menjadi miliknya.

Ia pun dengan segera beranjak ke atas ranjang. Dengan kaki yang kembali dibuka lebar. Bersiap untuk memberikan show terbaik untuk pria tampan di hadapannya.

Ya meskipun sangat seram, Abian benar-benar terlihat tampan. KTP bahkan jauh lebih bersedia digempur sampai tak bisa jalan, daripada harus melewati momen dirinya bersetubuh manja dengan sang pujaan hati di hadapannya hanya karena aura yang menyeramkan.

KTP memulai dengan mengulum telunjuknya, begitu nakal dan kelewat jalang. Setelah dirasa basah, ia memulai untuk memasukkannya ke dalam lubang yang…

Bright tau ada sesuatu yang bisa menjelaskan jika KTP benar-benar sering dipakai oleh orang banyak.

Pria yang dikenal sebagai Pradana, hanya berdiri dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Matanya menatap lurus, tapi sama sekali tidak terganggu.

Apa Bright terangsang? Tidak sama sekali.

Justru ia merasa mual, dan sangat ingin segera pergi.

KTP yang sudah terbuai dengan rangsangannya sendiri. Lama-lama memejamkan mata. Wajahnya kian terlihat seperti jalang dan kakinya semakin mengangkang lebar.

Sudah tidak peduli pada Bright yang kini mulai menampilkan gerak-gerik menyeramkan. KTP hanya tau, ”Sss, Ahh… Masshh nghh, enaak…”

Bodoh memang.

Bright mengambil langkah, satu persatu seiring dengan wajahnya yang kian terlihat suram. Aroma parfum yang dipakai oleh Bright, berhasil membuat KTP kembali membuka matanya.

DEG

KTP menghentikan gerakannya ketika Abian berada tepat di hadapan wajahnya. Bukan, bukan karena Abian mendekat.

Tetapi matanya… KTP mendadak takut melihatnya.

”M-Mas…”

”Lanjutin, Sayang.”

Demi Tuhan, KTP tidak tahu apa maksud Abian. Tapi, rasa bagaimana nafsunya sudah menutup mata dan hatinya, membuat KTP tidak peduli dan kembali merangsang lubangnya.

Dengan tiga jari.

Matanya kembali memejam. Lidahnya terjulur dengan desahan laknat yang memenuhi ruangan. Kakinya mengangkang sangat lebar. Belum lagi tiga jarinya yang bergerak sangat cepat.

Bright mual melihatnya.

Dalam pejamnya, KTP bisa merasakan jika Abian mulai mendekat. Terpaan nafasnya menyapu cuping telinga. Hingga saat sudut bibirnya terangkat karena senang, Abian justru mengeluarkan satu kalimat yang berhasil membuatnya membelalak tak terima.

”You really are a whore, Bitch.”

Hanya satu kalimat. Tapi cara bagaimana Abian bersuara, berhasil membuatnya sakit hingga ke titik paling terjaga.

”Already straddled for how many people, hm?”

”M-Mas…” tanpa sadar, tangannya mengepal kuat. Jemari yang semula tertanam dalam lubangnya, ia keluarkan lalu langsung meremat sprei dengan sangat kencang.

”Don't you feel disgusted at all?” bisiknya, penuh penekanan.

”Even when you're pregnant, you're implanting sperm from multiple men.”

”Don't you feel dirty?”

PLAKKK!

”MAKSUD LO NGOMONG GITU APA?!”

Satu tamparan mendarat sempurna pada pipi mulus milik Pradana. Menimbulkan rona merah dan kekehan sarkas yang terdengar merendahkan.

Sedangkan pria yang menampar, terlihat mengeluarkan air mata tanpa sadar. Tangannya meremat sprei sangat kuat. Terlihat marah dan kecewa.

”Why? You feel?” tanya Bright, dengan tangan terangkat, membelai pipi KTP yang sudah banjir oleh air mata.

”LO BRENGSEK!”

”Brengsek?” tanya Bright, dengan satu alis terangkat.

”Kalo gue brengsek…” ada jeda pada kalimatnya, seiring dengan jemari Bright yang turun ke daerah tulang selangka.

”Lo apa, Bangsat?” wajahnya datar, suaranya rendah, tetapi matanya —membunuh telak.

”LO —Nghh… M-Ma…ss…”

Bright mencekik kuat, leher KTP.

Tidak ada lagi kata main-main. Wajah Bright berubah drastis. Matanya melebihi tajamnya manik seekor elang. Ranumnya menyeringai menyeramkan. Tangannya sampai bergetar saking kuatnya mencekik KTP yang kini kelabakan sampai wajahnya memerah padam.

”Sakit, hm?” Tanya Bright, santai.

Sedangkan KTP di hadapannya, sudah sampai mengeluarkan air mata saking tak tahan dengan cengkeraman kuat dari tangan kekar Bright pada lehernya.

Bright yang semula sedikit menunduk, mulai menegak. Ia angkat leher KTP hingga pria itu berdiri sempurna.

Ditatap tajam seolah siap untuk membunuh mangsanya, sebelum memberi tamparan cukup keras, karena tadi berani menyentuh tubuhnya.

PLAKKK!

BRUKKK!

KTP jatuh tersungkur dalam keadaan telanjang bulat. Lehernya memerah bekas tangan Bright, sedangkan sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah. Irisnya terlihat ketakutan dengan air mata mengalir deras.

KTP benar-benar ingin kabur meski dalam keadaan tanpa busana.

Bright mendekat, seraya menyibakkan rambutnya ke belakang. Bahkan, dalam kondisi seperti ini, masih saja tebar pesona.

Ia bawa tubuhnya agar bisa sejajar dengan pria di hadapannya, seraya membawa tangan kekarnya untuk mencengkeram kuat dagu yang lebih muda.

”Kenapa nangis, hm?” tanya Bright, dingin.

KTP yang diperlakukan kasar, tentu hendak menjauhkan tangan Bright dari dagunya. Namun, apa daya, dirinya yang berniat menepis tangan pria di hadapannya, justru mendapat satu jambakan kuat hingga ringisannya terdengar nyaring memenuhi ruangan.

”AH!”

”M-Mas…”

”Mas? Who are you calling Mas, hm?”

”M-Mas… S-Sakit…”

”Oh, dijambak sakit?”

”BRENGSEK!”

Sebisa mungkin KTP membuat wajahnya terlihat memelas. Agar Abian di hadapannya mau melepas jambakan yang teramat kuat hingga dirinya merasa pusing tak karuan.

”M-Mas… Please… S-Sakit hikss…”

”Mau dilepas?”

”L-Lepas, Mas hikss… S-Sakit hikss…”

”Buat Ananta bangun, dan sehat lagi kaya semula.”

DEG

”If you can't, then i can't let you go.”

KTP memejamkan mata ketika mendengar penuturan dari pria yang lebih tua. Emosinya membuncah. Dadanya bergemuruh hebat. Tangannya mengepal kuat, dengan bibir bergetar karena tak terima.

Lagi-lagi, Ananta yang dibela.

Dengan kekuatan yang hadir karena dendam di hatinya, secepat kilat KTP melayangkan satu bogeman mentah, tepat di pipi sebelah kanan milik Bright.

BUGH!

Lalu ia duduk, tepat di atas perut Bright dengan berlinang air mata.

”LO PIKIR GUE BAKAL NGALAH GITU AJA BIAN?!”

”NGGA! LO SAMA ANJINGNYA KAYA ORANG-ORANG! LO CUMA BELAIN ATA!!! LO NGGA PERNAH TAU RASANYA JADI GUE!!! LO NGGA PERNAH TAU BIAN!!! NGGA PERNAH!!!”

”Hm, lagian… siapa yang mau ngerasain jadi jalang?”

BUGH!

”LO DIEM YA ANJING!!! LO KESINI CUMA MAU NGEWE SAMA GUE!!! BUKAN MAU BACOT DAN NYALAHIN GUE!!!” Pekiknya tak terima, seraya berusaha melucuti Abian di bawahnya.

Tapi, sayang beribu sayang, KTP terlalu gegabah hingga berhasil membangunkan singa dalam diri Brighrt secara sempurna.

Secepat kilat, ia tampar wajah KTP dengan lebih keras dari sebelumnya. Sampai darah dari sudut bibir KTP, mengalir cukup banyak.

PLAKKK!

Bright bangkit, mencekik KTP lalu menghempaskannya ke atas ranjang. Ia cengkeram kuat lehernya, seraya diberi tatapan membunuh hingga KTP memohon ampun untuk dilepaskan.

”Can't you guess who i am, hm?”

”Do you really think that i am Abian?”

Sukses membuat KTP terdiam barang sesaat.

”I am Bright. Mr. Pradana.”

DEG

Mendengarnya, KTP lemas seketika. Matanya terkejut bukan main. Bahkan kali ini ia berusaha sekuat tenaga kabur dari seorang pria bermarga Pradana.

No.

Jika dirinya berhasil tertangkap oleh Pradana, semuanya hancur.

KTP hancur.

Pradana pasti akan menghukumnya.

Bukan, bukan membawa ke jalur meja hijau.

Bright pasti akan menggunakan cara lain agar dirinya merasa dihukum oleh semesta.

Namun, sayang seribu sayang. Kekuatannya tak bisa mengalahkan satu tangan Bright yang kini masih mencengkeram lehernya —bahkan semakin kuat.

Jangankan kabur, bernafas saja KTP susah. Saliva sampai keluar membasahi pipinya, karena tak sanggup dengan siksaan dari pria seram di hadapannya.

”You know? I'm a sadistic man.”

”If Abian still has feelings to hurt you, then i don't at all, KTP.” Ucapnya, santai. Seraya menatap remeh, ke arah KTP yang mati-matian memohon agar tak disakiti terlalu jauh.

Bahkan, tangannya terangkat, mengusap perut ratanya, seolah mencari keringanan karena dirinya sedang mengandung seorang anak.

Tapi, Bright tahu.

Sudah sedari lama, KTP keguguran.

Lagipula, janin mana yang bisa bertahan jika KTP melayani banyak pria lebih dari empat orang dalam waktu sehari penuh?

Seandainya ada, apa kau bisa membayangkannya, hm?

Maka yang dilakukan Bright sekarang adalah tertawa sarkas. Puas membuat KTP tak mampu berbuat apa-apa, selain memohon untuk dilepaskan.

”Ngapain ngusap perut, hm? Kan udah keguguran.”

Sukses membuat KTP kian ketakutan.

”Bahkan, udah ga bisa hamil lagi ya?” sindirnya, sarkas.

”Glad to hear that the child was not born from the womb of someone like you.” ucapnya, sangat telak.

Berhasil menusukkan banyak belati pada hati KTP yang kini, perlahan melemaskan diri karena hatinya lebih tak sanggup mendengar untaian kata yang terus terlontar dari belah bibir Tuan Pradana.

”But, it's really sad to hear the news that you have HIV.”

”In fact, your body is more than dirty, KTP.”

”Hiks… Lepas hikss… Lepas…”

Bright melepaskannya. Membiarkan KTP meringkuk memeluk tubuhnya. Ia menangis sehancur-hancurnya.

Bright, pria yang baru ia temui hari ini. Justru menjadi satu-satunya pria yang berhasil membuatnya kembali merasa hina.

Bukan.

Bukan karena dirinya disetubuhi secara brutal.

Bukan karena dirinya dipakai beramai-ramai.

Bukan juga karena dirinya disewa untuk direndahkan sepuasnya.

Tapi justru hanya karena sebuah perkataan, yang kembali membuatnya sadar, dirinya sudah lebih dari sebuah kata hina.

KTP, hancur sejadi-jadinya.

”I know you're hurt. But sorry, I'm not the type of person who easily melts just because of tears.” tandas Bright final, sebelum melemparkan sebuah setelan pakaian, ke arah wajah KTP dengan cukup kasar.

”Pake. Sekarang.”

KTP tentu menggeleng cepat, berusaha tidak memakai karena ia tidak mau diberi hukuman. Dirinya berpikir jika telanjang, Bright pasti tidak bisa bergerak lebih.

Tapi, sekali lagi, Bright sedang berdiri tanpa perasaan.

Sudut bibirnya lantas terangkat, terkekeh remeh dan merendahkan. Ia pun merendahkan tubuhnya, menatap telak ke arah KTP, lalu menjambaknya agar mau terduduk dengan baik.

”Kamu pikir saya ngga berani?” tanya Bright, mengintimidasi.

”Yaudah, ngga usah dipake. Telanjang aja. Kali aja kamu mau main sama anak buah saya.” kekehnya, sarkas.

Bright pun melirik ke arah ereksi pria sialan di hadapannya, “Masih turn on, hm? Saya kasih waktu tiga puluh menit, cukup?”**

”Setelah itu, ikut saya.”

”Karena setiap tindakan kamu, berhak dapet reward dari saya.” tandasnya final.

Sukses membuat KTP membelalak dengan tubuh bergetar hebat.

Bright pun beranjak, menjauhi tubuh KTP yang membuatnya muak. Ia pandangi sekali lagi dengan tatapan remeh dan merendahkan. 
Sebelum akhirnya membalik tubuh dan pergi dengan kedua tangan di dalam saku celana.

Namun, saat langkahnya baru sampai ke depan pintu apartement KTP, Bright menghentikan langkahnya.

Pria itu sedikit menoleh ke belakang, seraya menyeringai sangat kejam.

”Orang pertama yang bakal ngehukum kamu. Suami saya.”

”Karena kamu lancang menyentuh saya.”

”Ngga parah kok, paling ditampar sampe puas.” Ucapnya, santai.

Setelahnya, Bright pergi.

Berhasil membuat KTP semakin panik tidak karuan. Ia tahu, Pradana selalu kejam ketika menyelesaikan sebuah masalah. Demi Tuhan, KTP ketakutan.

Setelah Bright pergi meninggalkan KTP sendirian, pria itu kelimpungan bukan main dan berusaha meminta bantuan.

Tapi, sekali lagi, keberuntungan KTP sudah mencapai limitnya. Karena begitu Bright pergi meninggalkannya, para bodyguard Pradana masuk dan mengintimidasi lewat tatapan.

”BRIGHT BRENGSEK!!!!!”*

Masa bodoh dengan Abian yang auranya tiba-tiba sangat menyeramkan. Hari ini, yang KTP tahu hanya satu, Abian menjadi miliknya.

Ia pun dengan segera beranjak ke atas ranjang. Dengan kaki yang kembali dibuka lebar. Bersiap untuk memberikan show terbaik untuk pria tampan di hadapannya.

Ya meskipun sangat seram, Abian benar-benar terlihat tampan. KTP bahkan jauh lebih bersedia digempur sampai tak bisa jalan, daripada harus melewati momen dirinya bersetubuh manja dengan sang pujaan hati di hadapannya hanya karena aura yang menyeramkan.

KTP memulai dengan mengulum telunjuknya, begitu nakal dan kelewat jalang. Setelah dirasa basah, ia mulai untuk memasukkannya ke dalam lubang yang…

Bright tau ada sesuatu yang bisa menjelaskan jika KTP benar-benar sering dipakai oleh orang banyak.

Pria yang dikenal sebagai Pradana, hanya berdiri dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Matanya menatap lurus, tapi sama sekali tidak terganggu.

Apa Bright terangsang? Tidak sama sekali.

Justru ia merasa mual, dan sangat ingin segera pergi.

KTP yang sudah terbuai dengan rangsangannya sendiri. Lama-lama memejamkan mata. Wajahnya kian terlihat seperti jalang dan kakinya semakin mengangkang lebar.

Sudah tidak peduli pada Bright yang kini mulai menampilkan gerak-gerik menyeramkan. KTP hanya tau, ”Sss, Ahh… Masshh nghh, enaak…”

Bodoh memang.

Bright mengambil langkah, satu persatu seiring dengan wajahnya yang kian terlihat suram. Aroma parfum yang dipakai oleh Bright, berhasil membuat KTP kembali membuka matanya.

DEG

KTP menghentikan gerakannya ketika Abian berada tepat di hadapan wajahnya. Bukan, bukan karena Abian mendekat.

Tetapi matanya… KTP mendadak takut melihatnya.

”M-Mas…”

”Lanjutin, Sayang.”

Demi Tuhan, KTP tidak tahu apa maksud Abian. Tapi, rasa bagaimana nafsunya sudah menutup mata dan hatinya, membuat KTP tidak peduli dan kembali merangsang lubangnya.

Dengan tiga jari.

Matanya kembali memejam. Lidahnya terjulur dengan desahan laknat yang memenuhi ruangan. Kakinya mengangkang sangat lebar. Belum lagi tiga jarinya yang bergerak sangat cepat.

Bright mual melihatnya.

Dalam pejamnya, KTP bisa merasakan jika Abian mulai mendekat. Terpaan nafasnya menyapu cuping telinga. Hingga saat sudut bibirnya terangkat karena senang, Abian justru mengeluarkan satu kalimat yang berhasil membuatnya membelalak tak terima.

”You really are a whore, Bitch.”

Hanya satu kalimat. Tapi cara bagaimana Abian bersuara, berhasil membuatnya sakit hingga ke titik paling terjaga.

”Already straddled for how many people, hm?”

”M-Mas…” tanpa sadar, tangannya mengepal kuat. Jemari yang semula tertanam dalam lubangnya, ia keluarkan lalu langsung meremat sprei dengan sangat kencang.

”Don't you feel disgusted at all?” bisiknya, penuh penekanan.

”Even when you're pregnant, you're implanting sperm from multiple men.”

”Don't you feel dirty?”

PLAKKK!

”MAKSUD LO NGOMONG GITU APA?!”

Satu tamparan mendarat sempurna pada pipi mulus milik Pradana. Menimbulkan rona merah dan kekehan sarkas yang terdengar merendahkan.

Sedangkan pria yang menampar, terlihat mengeluarkan air mata tanpa sadar. Tangannya meremat sprei sangat kuat. Terlihat marah dan kecewa.

”Why? You feel?” tanya Bright, dengan tangan terangkat, membelai pipi KTP yang sudah banjir oleh air mata.

”LO BRENGSEK!”

”Brengsek?” tanya Bright, dengan satu alis terangkat.

”Kalo gue brengsek…” ada jeda pada kalimatnya, seiring dengan jemari Bright yang turun ke daerah tulang selangka.

”Lo apa, Bangsat?” wajahnya datar, suaranya rendah, tetapi matanya —membunuh telak.

”LO —Nghh… M-Ma…ss…”

Tanpa sebuah peringatan, Bright mencekik kuat, leher KTP.

Tidak ada lagi kata main-main. Wajah Bright berubah drastis. Matanya melebihi tajamnya manik seekor elang. Ranumnya menyeringai menyeramkan. Tangannya sampai bergetar saking kuatnya mencekik KTP yang kini kelabakan sampai wajahnya memerah padam.

”Sakit, hm?” Tanya Bright, santai.

Sedangkan KTP di hadapannya, sudah sampai mengeluarkan air mata saking tak tahan dengan cengkeraman kuat dari tangan kekar Bright pada lehernya. Kedua tangannya berusaha menjauhkan tangan kanan Bright yang mencekik lehernya kuat.

Namun, tetap saja tidak berhasil.

Bright yang semula sedikit menunduk, mulai menegak. Ia angkat leher KTP hingga pria itu berdiri sempurna.

Ditatap tajam seolah siap untuk membunuh mangsanya, sebelum memberi tamparan cukup keras, karena tadi berani menyentuh tubuhnya.

PLAKKK!

BRUKKK!

KTP jatuh tersungkur dalam keadaan telanjang bulat. Lehernya memerah bekas tangan Bright, sedangkan sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah. Irisnya terlihat ketakutan dengan air mata mengalir deras.

KTP benar-benar ingin kabur meski dalam keadaan tanpa busana.

Bright mendekat, seraya menyibakkan rambutnya ke belakang. Bahkan, dalam kondisi seperti ini, masih saja tebar pesona.

Ia bawa tubuhnya agar bisa sejajar dengan pria di hadapannya, seraya membawa tangan kekarnya untuk mencengkeram kuat dagu yang lebih muda.

”Kenapa nangis, hm?” tanya Bright, dingin.

KTP yang diperlakukan kasar, tentu hendak menjauhkan tangan Bright dari dagunya. Namun, apa daya, dirinya yang berniat menepis tangan kekar Bright, justru mendapat satu jambakan kuat hingga ringisannya terdengar nyaring memenuhi ruangan dan kepalanya mendongak kesakitan.

”AH!”

”M-Mas…”

”Mas? Who are you calling Mas, hm?”

”M-Mas… S-Sakit…”

”Oh, dijambak sakit?”

”BRENGSEK!”

Sebisa mungkin KTP membuat wajahnya terlihat memelas. Agar Abian di hadapannya mau melepas jambakan yang teramat kuat hingga dirinya merasa pusing tak karuan.

”M-Mas… Please… S-Sakit hikss…”

”Mau dilepas?”

”L-Lepas, Mas hikss… S-Sakit hikss…”

”Buat Ananta bangun, dan sehat lagi kaya semula.”

DEG

”If you can't, then i can't let you go.”

KTP memejamkan mata ketika mendengar penuturan dari pria yang lebih tua. Emosinya membuncah. Dadanya bergemuruh hebat. Tangannya mengepal kuat, dengan bibir bergetar karena tak terima.

Lagi-lagi, Ananta yang dibela.

Dengan kekuatan yang hadir karena dendam di hatinya, secepat kilat KTP melayangkan satu bogeman mentah, tepat di pipi sebelah kanan milik Bright.

BUGH!

Lalu ia duduk, tepat di atas perut Bright dengan berlinang air mata.

”LO PIKIR GUE BAKAL NGALAH GITU AJA BIAN?!”

”NGGA! LO SAMA ANJINGNYA KAYA ORANG-ORANG! LO CUMA BELAIN ATA!!! LO NGGA PERNAH TAU RASANYA JADI GUE!!! LO NGGA PERNAH TAU BIAN!!! NGGA PERNAH!!!”

”Hm, lagian… siapa yang mau ngerasain jadi jalang?”

BUGH!

”LO DIEM YA ANJING!!! LO KESINI CUMA MAU NGEWE SAMA GUE!!! BUKAN MAU BACOT DAN NYALAHIN GUE!!!” Pekiknya tak terima, seraya berusaha melucuti Abian di bawahnya.

Tapi, sayang beribu sayang, KTP terlalu gegabah hingga berhasil membangunkan singa dalam diri Bright secara sempurna.

Secepat kilat, ia tampar wajah KTP lebih keras dari sebelumnya. Sampai darah dari sudut bibir KTP, mengalir cukup banyak.

PLAKKK!

Bright bangkit, mencekik KTP lalu menghempaskannya ke atas ranjang. Ia cengkeram kuat lehernya, seraya diberi tatapan membunuh hingga KTP memohon ampun untuk dilepaskan.

”Can't you guess who i am, hm?”

”Do you really think that i am Abian?”

Sukses membuat KTP terdiam barang sesaat.

”I am Bright. Mr. Pradana.”

DEG

Mendengarnya, KTP lemas seketika. Matanya terkejut bukan main. Bahkan kali ini ia berusaha sekuat tenaga kabur dari seorang pria bermarga Pradana.

No.

Jika dirinya berhasil tertangkap oleh Pradana, semuanya hancur.

KTP hancur.

Pradana pasti akan menghukumnya.

Bukan, bukan membawa ke jalur meja hijau.

Bright pasti akan menggunakan cara lain agar dirinya merasa dihukum oleh semesta.

Tapi, maaf. Kekuatannya tak bisa mengalahkan satu tangan Bright yang kini masih mencengkeram lehernya —bahkan semakin kuat.

Jangankan kabur, bernafas saja KTP susah. Saliva sampai keluar membasahi pipinya, karena tak sanggup dengan siksaan dari pria seram di hadapannya.

”You know? I'm a sadistic man.”

”If Abian still has feelings to hurt you, then i don't at all, KTP.” Ucapnya, santai. Seraya menatap remeh ke arah KTP yang mati-matian memohon agar tak disakiti terlalu jauh.

Bahkan, tangannya terangkat, mengusap perut ratanya, seolah mencari keringanan karena dirinya sedang mengandung seorang anak.

Tapi, Bright tahu.

Sudah sedari lama, KTP keguguran.

Lagipula, janin mana yang bisa bertahan jika KTP melayani banyak pria lebih dari empat orang dalam waktu sehari penuh?

Seandainya ada, apa kau bisa membayangkannya, hm?

Maka yang dilakukan Bright sekarang adalah tertawa sarkas. Puas membuat KTP tak mampu berbuat apa-apa, selain memohon untuk dilepaskan.

”Ngapain ngusap perut, hm? Kan udah keguguran.”

Sukses membuat KTP kian ketakutan.

”Bahkan, udah ga bisa hamil lagi, ya?” sindirnya, sarkas.

”Glad to hear that the child was not born from the womb of someone like you.” ucapnya, sangat telak.

Berhasil menusukkan banyak belati pada hati KTP yang kini, perlahan-lahan melemaskan diri karena hatinya lebih tak sanggup mendengar untaian kata yang terus terlontar dari belah bibir Tuan Pradana.

”But, it's really sad to hear the news that you have HIV.”

”In fact, your body is more than dirty, KTP.”

”Hiks… Lepas hikss… Lepas…” KTP tak sanggup. Ketika Bright mengatakannya. Rasanya lebih menyakitkan dibanding ketika dirinya sedang direndahkan beramai-ramai.

Ia tidak pernah merasa sakit hanya karena sebuah untaian kalimat dari orang lain.

Tapi, Bright berhasil membuatnya hancur berkeping.

Bisa dibayangkan, betapa menyeramkan gaya bicara Bright hingga mampu membuat KTP hancur sejadi-jadinya?

Bright pun melepaskannya. Membiarkan KTP meringkuk memeluk tubuh rampingnya. Ia menangis sehancur-hancurnya.

Bright, pria yang baru ia temui hari ini di apartementnya, justru menjadi satu-satunya pria yang berhasil membuatnya kembali merasa hina.

Bukan.

Bukan karena dirinya disetubuhi secara brutal.

Bukan karena dirinya dipakai beramai-ramai.

Bukan juga karena dirinya disewa untuk direndahkan sepuasnya.

Tapi justru hanya karena sebuah perkataan, yang kembali membuatnya sadar, dirinya sudah lebih dari sebuah kata hina.

KTP, hancur sejadi-jadinya.

”I know you're hurt. But sorry, I'm not the type of person who easily melts just because of tears.” tandas Bright final, sebelum melemparkan sebuah setelan pakaian, ke arah wajah KTP dengan cukup kasar.

”Pake. Sekarang.”

KTP tentu menggeleng cepat, berusaha tidak memakai karena ia tidak mau diberi hukuman. Dirinya berpikir jika telanjang, Bright pasti tidak bisa bergerak lebih luas.

Tapi, sekali lagi, Bright sedang berdiri tanpa perasaan.

Sudut bibirnya lantas terangkat, terkekeh remeh dan merendahkan. Ia pun menundukkan tubuhnya, menatap telak ke arah KTP, lalu menjambaknya agar mau terduduk dengan baik.

”Kamu pikir saya ngga berani?” tanya Bright, mengintimidasi.

”Yaudah, ngga usah dipake. Telanjang aja. Kali aja kamu mau main sama anak buah saya.” kekehnya, sarkas.

Bright pun melirik ke arah ereksi pria sialan di hadapannya, “Masih turn on, hm? Saya kasih waktu tiga puluh menit, cukup?”**

”Setelah itu, ikut saya.”

”Karena setiap tindakan kamu, berhak dapet reward dari saya.” tandasnya final.

Sukses membuat KTP membelalak dengan tubuh bergetar hebat.

Bright pun beranjak, menjauhi tubuh KTP yang membuatnya muak. Ia pandangi sekali lagi dengan tatapan sangat merendahkan. 
Sebelum akhirnya membalik tubuh dan pergi dengan kedua tangan di dalam saku celana.

Sangat santai, seperti seorang pria yang baru saja membuang sampah.

Namun, saat tungkainya baru sampai ke depan pintu apartement KTP, Bright menghentikan langkahnya.

Pria itu sedikit menoleh ke belakang, seraya menyeringai sangat kejam.

”Orang pertama yang bakal ngehukum kamu. Suami saya.”

”Karena kamu lancang menyentuh saya.”

”Ngga parah kok, paling ditampar sampe puas.” Ucapnya, santai.

Setelahnya, Bright pergi.

Berhasil membuat KTP semakin panik tidak karuan. Ia tahu, Pradana selalu kejam ketika menyelesaikan sebuah masalah. Demi Tuhan, KTP ketakutan.

Setelah Bright pergi meninggalkan KTP sendirian, pria itu kelimpungan bukan main dan berusaha meminta bantuan.

Tapi, sekali lagi, keberuntungan KTP sudah mencapai limitnya. Karena begitu Bright pergi meninggalkannya, para bodyguard Pradana masuk dan mengintimidasi lewat tatapan.

”BRIGHT BRENGSEK!!!!!”*

Seperti apa yang dikatakan Thana jika tubuh Abian ambruk dan demam. Bright melihat sendiri dengan mata kepalanya jika sang keponakan tengah memejam dengan alis menyatu dan dahi mengernyit, serta wajah sedikit pucat dan bibir pecah-pecah.

Huft… Bright menghela nafas panjang. Sepertinya garis keturunan dari nenek moyang keluarganya memang tertulis dan terpampang jelas jika kisah percintaan setiap anggota keluarga, akan mengalami terjal dan badai tak terkira.

Dulu, Bright yang mengalami kisah percintaan pelik dan menyakitkan. Sekarang, sang keponakan yang ikut merasakan.

Wisata masa lalu —begitu pikir Bright.

Bright pun berjalan mendekat. Lalu duduk di tepi ranjang. Dipandangi wajah Abian yang sangat gelisah, sebelum diusap surainya agar sedikit tenang.

“Nghh…”

Bermaksud menenangkan, Abian justru membuka mata karena terkejut ketika tubuhnya mendapat sentuhan. Abian langsung bangkit dan mendudukkan diri dengan nafas terengah.

Dan setelah mendapati orang yang menyentuh tubuhnya adalah Bright, Abian sedikit bernafas lega.

”K-Kaget…” lirih Abian, sembari menyentuh dada. Debarannya sampai terasa pekat, seiring dengan peluh yang mulai menetes dari pelipisnya.

Bright dengan tenang, meraih segelas air di atas meja. Diberikannya kepada Abian, tanpa mengeluarkan sepatah kata melainkan hanya menampilkan senyuman.

Abian hanya menerima, pun tanpa mengeluarkan kembali sebuah kata dari belah bibirnya. Diteguk habis air yang diberikan Bright. Sebelum menyandarkan tubuh pada kepala ranjang dan berusaha menetralkan rasa pusing di kepalanya.

”Udah makan?” tanya Bright, singkat. Sedangkan Abian hanya membalas dengan anggukan.

”Gimana perasaannya?”

”Sakit.”

Tanpa ada yang ditutupi, Abian menjawab sesuai dengan apa yang dirasakan hati. Ditemani air mata yang tiba-tiba menetes membasahi wajah. Dengan tangan kiri yang terlihat mulai mengepal —menahan isak.

Bright paham, memang sesakit itu rasanya jika berkaitan dengan orang yang disayang. Entah itu dengan status keluarga atau pasangan.

Bright pun mencoba ikut duduk bersandar di kepala ranjang. Menyamankan tubuh dan membuat suasana menjadi tidak canggung. Meskipun sempat ada sedikit kehendingan melanda, keduanya akhirnya dapat berbincang secara santai.

”Kenapa?” hanya satu kata, tapi memiliki banyak makna bagi Abian.

”Kangen Ata.” Singkat, jelas, padat.

”Gue brengsek banget ya, Mas? Sampe Ata milih buat pergi dan ngga ngasih tau gue ada dimana dia sekarang.”

”Padahal gue ngga akan maksa kalo Ata emang ngga mau ketemu gue untuk beberapa saat. Gue bakal sabar nunggu, sampe dia pulang ke pelukan.”

“Tapi kenapa dia milih pergi, Mas?”

”Karena dia tau Bian bukan orang yang kuat.”

DEG

Sukses membuat Abian membuka mata dan menoleh pada Bright yang sedang memejam.

”Ananta ngga pernah ngeraguin perasan Bian. Sampai kapanpun, ngga akan pernah. Ananta cuma lagi ngerasa, apa yang ada di diri dia, ngga pantas untuk Bian.”

”Dia ngerasa dirinya rendah, dia ngerasa ngga layak bersanding sama Bian. Dia ngerasa, sayang aja ga cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan. Makannya dia milih pergi untuk sementara.”

”Apa itu keliatan salah? Ngga Bian.”

Bright menjeda ucapannya barang sesaat. Ia ingin pembicaraan ini berjalan santai. Meskipun Abian di sampingnya sudah mulai banjir air mata.

Setidaknya suasana yang menyelimuti mereka tenang dan tidak penuh akan kekacauan.

”Dulu, Meta juga sering ngerasa dirinya rendah. Takut ditinggalin sama Mas, dan takut kalo dirinya ngga pantas bersanding sama Mas.”

”Mas pikir, sikap Mas yang bikin Meta ngerasa insecure terus-terusan. Tapi nyatanya ngga.”

”Kesayangan Mas emang saat itu belum bisa nerima seluruh yang ada di dalam dirinya. Entah itu kelebihan atau kekurangannya. Meta selalu ngerasa kecil, setiap ada dideket Mas.”

”Awalnya, Mas juga capek. Ngerasa semuanya ngga ngasih hasil.”

”Tapi setelah Mas nyoba untuk mengerti. Mas nyoba untuk mahamin. Meta emang cuma butuh waktu untuk ngerti. Kalo dirinya sendiri berharga dan sebanding sama Mas.”

”Bian tau gimana cara Meta untuk ngerti?”

Tidak ada sahutan, sepertinya Abian menggeleng pelan.

”Meta ngerti karena dia belajar untuk memahami. Dia berusaha untuk mencintai dirinya sendiri, sebelum berubah jadi suami yang lebih baik.”

”Dulu, keliatannya selalu Mas yang mendominasi setiap perhatian kecil untuk Meta. Karena itu tadi, Meta selalu ngerasa kecil.”

”Tapi seiring berjalannya waktu, Meta bisa ngerti. Karena dia akhirnya bisa mencintai dirinya sendiri, sampai dia berubah dan lebih dewasa kaya sekarang.”

”Mas tau, kondisinya beda. Meta ngga ninggalin Mas dan berjuang bareng sama Mas. Sedangkan Ananta milih pergi untuk berjuang sendirian.”

”Apa itu salah? Ngga.”

”Ananta pergi pasti ada alasannya, Bian.”

”Dan salah satu alesannya karena dia tau, Abiannya bahkan sampe masuk rumah sakit karena dilarang ketemu untuk beberapa waktu.”

”Sekilas memang keliatan sepele. Tapi buat Ananta yang lagi ada dititik terendah dalam hidupnya. Lagi di masa tertekan hebat atas apa yang dia alami sekarang. Itu bikin dia makin terluka Bian.”

”Ata semakin ngerasa kecil, karena bikin Bian sakit sampe dirawat.”

”Ananta mungkin awalnya udah mau ketemu sama Bian. Tapi karena tau Bian nyakitin diri sendiri, dia jadi mikir, kalo antara Ananta dan Bian, dua-duanya belum ada yang bisa mencintai diri sendiri.”

”Buktinya apa? Bian milih ngalihin rasa sakit dengan lembur di kantor sampe masuk rumah sakit. Sedangkan Ata, insecure dan ragu setiap kali ketemu Bian.”

”Bian mungkin ngga sadar, tapi kalo kaya gini caranya, itu artinya Bian juga ngga sayang sama diri sendiri.”

Lagi, Bright memberi jeda. Menghela nafas untuk beberapa saat. Perlahan, matanya mulai terbuka. Lalu berusaha menoleh ke samping, menatap Abian.

”Ananta pergi karena mau berusaha untuk mencintai dirinya sendiri. Ananta ngga akan bisa mencintai Abian dengan baik, kalo dia sendiri ngga bisa mencintai dirinya sendiri.”

”Begitupun Abian, Bian ngga bisa bertahan di dalam hubungan itu, kalo yang dipikirin sama Bian cuma Ananta. Sedangkan di satu sisi, Abian terus ga peduli sama diri Bian sendiri.”

”Gimana bisa kalian saling mencintai, sedangkan kalian menolak untuk mencintai diri sendiri?”

Sukses membuat Abian tercekat dan merasa sesak ketika mendengar satu pertanyaan tersebut, terlontar dari belah bibir Bright.

Mendapati raut terluka dari wajah Abian, Bright pun mengulurkan tangannya dan mencengkeram lembut bahu Abian.

”Ananta baik-baik aja, Bian. Bian harus percaya, kalo Ata di sana, lagi berusaha untuk mencintai dirinya sendiri sebelum pulang lagi ke pelukan Bian.”

”Dan Bian, juga harus melakukan hal yang sama. Bian harus belajar lebih mencintai diri sendiri sebelum nanti Ananta pulang.”

”Bian harus belajar apa itu ikhlas. Bian harus belajar apa itu ketulusan lewat perpisahan sementara yang lagi dijalanin Bian sama Ata.”

”Mas tau, ini ngga mudah. Sangat-sangat tidak mudah. Bahkan, butuh perjuangan tersendiri supaya bisa bangkit dan kuat.”

”Tapi, ngga mudah itu bukan berarti Bian ngga bisa. Bian bisa coba pelan-pelan. Sambil terus rapalin diri, kalo hubungan Ata dan Bian itu baik-baik aja.”

”Anggap aja, Bian lagi nunggu Ananta dirias saat mau menikah. Supaya Bian terus ngerasain debarannya, dan ngga ngerasa sakit saat ngejalaninnya.”

”Banyak yang dukung Bian, Nak. Banyak yang bakal bantu Bian. Termasuk nemuin keberadaan Ananta sekarang.”

Sukses membuat manik Abian, memancarkan harapan yang sempat redup untuk sementara.

”B-Bian bisa ketemu Ata?” tanya Abian, antusias. Bahkan, air matanya ia hapus sedikit kasar.

Bright mengangguk, mengiyakan ucapan Abian. ”Bian bisa ketemu Ata, saat kondisinya sudah lebih baik dari sekarang.”

”Ananta ngga pernah mutusin Bian. Dia cuma lagi mau istirahat barang sebentar. Makannya, Mas mau Bian ngga tepuruk dan bangkit untuk berjuang.”

”Gapapa kok berjuangnya LDR kaya gini. Yang penting, Bian tau, kalo Ananta sebenernya ngga pergi.”

”Dia masih di sini— Bright menunjuk dada Abian. Dengan tatapan sangat lekat, serta sorot mata penuh keyakinan dan perhatian.

—Ananta di sini, di hati Bian dan ngga pergi kemana-mana.”

”Mulai sekarang, Bian bangkit lagi ya? Berjuang lagi bareng Ananta. Meskipun kalian ngga bisa liat tubuh satu sama lain untuk sementara.

”Demi kebaikan hubungan kalian. Supaya bisa bersatu dengan perasaan yang sudah siap. Ya?

”Mau, Nak?”

Mendengarnya, Abian meneteskan air mata. Tapi tak lama, ia mengangguk penuh keyakinan.

”Kalo Bian bisa lebih cinta sama diri sendiri, Ananta juga bakal gitu kan, Mas?”

Bright mengangguk, dengan senyum terbaiknya.

”B-Berarti ini bukan putus kan, Mas? I-Ini… ini cuma healing aja buat kita berdua? I-Iya kan, Mas?”

Lagi, Bright mengangguk meyakinkan.

”M-Mas ngga bohong kan? A-Ata bakal pulang kan?”

”Bian boleh hajar Mas kalo Mas bohong ke Bian.”

Mendengarnya, Abian menundukkan kepala. Seraya menutup wajahnya dengan tangan. Lalu menangis sekencang yang ia bisa. Abian merasa seperti diberi secercah harapan untuk bangkit dan berubah.

Ada semangat kecil di hatinya untuk bertahan memperjuangkan Ananta. Meskipun raga keduanya terpisah oleh jarak. Namun, doa yang dipanjatkan tetap akan berada di langit yang sama kan?

Dalam benaknya, Abian merapalkan beberapa kalimat. Sebelum mengangguk yakin dan memeluk erat Bright.

”Mas janji Ta bakal lebih mencintai diri sendiri. Supaya pas Ata pulang, Mas udah bisa mencintai Ata dengan baik.”

”Kita berjuang bareng ya, Taa?”

”Mas Bian sayang, Ata.”

Seperti apa yang dikatakan Thana jika tubuh Abian ambruk dan demam. Bright melihat sendiri dengan mata kepalanya jika sang keponakan tengah memejam dengan alis menyatu dan dahi mengernyit, serta wajah sedikit pucat dan bibir pecah-pecah.

Huft… Bright menghela nafas panjang. Sepertinya garis keturunan dari nenek moyang keluarganya memang tertulis dan terpampang jelas jika kisah percintaan setiap anggota keluarga, akan mengalami terjal dan badai tak terkira.

Dulu, Bright yang mengalami kisah percintaan pelik dan menyakitkan. Sekarang, sang keponakan yang ikut merasakan.

Wisata masa lalu —begitu pikir Bright.

Bright pun berjalan mendekat. Lalu duduk di tepi ranjang. Dipandangi wajah Abian yang sangat gelisah, sebelum diusap surainya agar sedikit tenang.

“Nghh…”

Bermaksud menenangkan, Abian justru membuka mata karena terkejut ketika tubuhnya mendapat sentuhan. Abian langsung bangkit dan mendudukkan diri dengan nafas terengah.

Dan setelah mendapati orang yang menyentuh tubuhnya adalah Bright, Abian sedikit bernafas lega.

”K-Kaget…” lirih Abian, sembari menyentuh dada. Debarannya sampai terasa pekat, seiring dengan peluh yang mulai menetes dari pelipisnya.

Bright dengan tenang, meraih segelas air di atas meja. Diberikannya kepada Abian, tanpa mengeluarkan sepatah kata melainkan hanya menampilkan senyuman.

Abian hanya menerima, pun tanpa mengeluarkan kembali sebuah kata dari belah bibirnya. Diteguk habis air yang diberikan Bright. Sebelum menyandarkan tubuh pada kepala ranjang dan berusaha menetralkan rasa pusing di kepalanya.

”Udah makan?” tanya Bright, singkat. Sedangkan Abian hanya membalas dengan anggukan.

”Gimana perasaannya?”

”Sakit.”

Tanpa ada yang ditutupi, Abian menjawab sesuai dengan apa yang dirasakan hati. Ditemani air mata yang tiba-tiba menetes membasahi wajah. Dengan tangan kiri yang terlihat mulai mengepal —menahan isak.

Bright paham, memang sesakit itu rasanya jika berkaitan dengan orang yang disayang. Entah itu dengan status keluarga atau pasangan.

Bright pun mencoba ikut duduk bersandar di kepala ranjang. Menyamankan tubuh dan membuat suasana menjadi tidak canggung. Meskipun sempat ada sedikit kehendingan melanda, keduanya akhirnya dapat berbincang secara santai.

”Kenapa?” hanya satu kata, tapi memiliki banyak makna bagi Abian.

”Kangen Ata.” Singkat, jelas, padat.

”Gue brengsek banget ya, Mas? Sampe Ata milih buat pergi dan ngga ngasih tau gue ada dimana dia sekarang.”

”Padahal gue ngga akan maksa kalo Ata emang ngga mau ketemu gue untuk beberapa saat. Gue bakal sabar nunggu, sampe dia pulang ke pelukan.”

“Tapi kenapa dia milih pergi, Mas?”

”Karena dia tau Bian bukan orang yang kuat.”

DEG

Sukses membuat Abian membuka mata dan menoleh pada Bright yang sedang memejam.

”Ananta ngga pernah ngeraguin perasan Bian. Sampai kapanpun, ngga akan pernah. Ananta cuma lagi ngerasa, apa yang ada di diri dia, ngga pantas untuk Bian.”

”Dia ngerasa dirinya rendah, dia ngerasa ngga layak bersanding sama Bian. Dia ngerasa, sayang aja ga cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan. Makannya dia milih pergi untuk sementara.”

”Apa itu keliatan salah? Ngga Bian.”

Bright menjeda ucapannya barang sesaat. Ia ingin pembicaraan ini berjalan santai. Meskipun Abian di sampingnya sudah mulai banjir air mata.

Setidaknya suasana yang menyelimuti mereka tenang dan tidak penuh akan kekacauan.

”Dulu, Meta juga sering ngerasa dirinya rendah. Takut ditinggalin sama Mas, dan takut kalo dirinya ngga pantas bersanding sama Mas.”

”Mas pikir, sikap Mas yang bikin Meta ngerasa insecure terus-terusan. Tapi nyatanya ngga.”

”Kesayangan Mas emang saat itu belum bisa nerima seluruh yang ada di dalam dirinya. Entah itu kelebihan atau kekurangannya. Meta selalu ngerasa kecil, setiap ada dideket Mas.”

”Awalnya, Mas juga capek. Ngerasa semuanya ngga ngasih hasil.”

”Tapi setelah Mas nyoba untuk mengerti. Mas nyoba untuk mahamin. Meta emang cuma butuh waktu untuk ngerti. Kalo dirinya sendiri berharga dan sebanding sama Mas.”

”Bian tau gimana cara Meta untuk ngerti?”

Tidak ada sahutan, sepertinya Abian menggeleng pelan.

”Meta ngerti karena dia belajar untuk memahami. Dia berusaha untuk mencintai dirinya sendiri, sebelum berubah jadi suami yang lebih baik.”

”Dulu, keliatannya selalu Mas yang mendominasi setiap perhatian kecil untuk Meta. Karena itu tadi, Meta selalu ngerasa kecil.”

”Tapi seiring berjalannya waktu, Meta bisa ngerti. Karena dia akhirnya bisa mencintai dirinya sendiri, sampai dia berubah dan lebih dewasa kaya sekarang.”

”Mas tau, kondisinya beda. Meta ngga ninggalin Mas dan berjuang bareng sama Mas. Sedangkan Ananta milih pergi untuk berjuang sendirian.”

”Apa itu salah? Ngga.”

”Ananta pergi pasti ada alasannya, Bian.”

”Dan salah satu alesannya karena dia tau, Abiannya bahkan sampe masuk rumah sakit karena dilarang ketemu untuk beberapa waktu.”

”Sekilas memang keliatan sepele. Tapi buat Ananta yang lagi ada dititik terendah dalam hidupnya. Lagi di masa tertekan hebat atas apa yang dia alami sekarang. Itu bikin dia makin terluka Bian.”

”Ata semakin ngerasa kecil, karena bikin Bian sakit sampe dirawat.”

”Ananta mungkin awalnya udah mau ketemu sama Bian. Tapi karena tau Bian nyakitin diri sendiri, dia jadi mikir, kalo antara Ananta dan Bian, dua-duanya belum ada yang bisa mencintai diri sendiri.”

”Buktinya apa? Bian milih ngalihin rasa sakit dengan lembur di kantor sampe masuk rumah sakit. Sedangkan Ata, insecure dan ragu setiap kali ketemu Bian.”

”Bian mungkin ngga sadar, tapi kalo kaya gini caranya, itu artinya Bian juga ngga sayang sama diri sendiri.”

Lagi, Bright memberi jeda. Menghela nafas untuk beberapa saat. Perlahan, matanya mulai terbuka. Lalu berusaha menoleh ke samping, menatap Abian.

”Ananta pergi karena mau berusaha untuk mencintai dirinya sendiri. Ananta ngga akan bisa mencintai Abian dengan baik, kalo dia sendiri ngga bisa mencintai dirinya sendiri.”

”Begitupun Abian, Bian ngga bisa bertahan di dalam hubungan itu, kalo yang dipikirin sama Bian cuma Ananta. Sedangkan di satu sisi, Abian terus ga peduli sama diri Bian sendiri.”

”Gimana bisa kalian saling mencintai, sedangkan kalian menolak untuk mencintai diri sendiri?”

Sukses membuat Abian tercekat dan merasa sesak ketika mendengar satu pertanyaan tersebut, terlontar dari belah bibir Bright.

Mendapati raut terluka dari wajah Abian, Bright pun mengulurkan tangannya dan mencengkeram lembut bahu Abian.

”Ananta baik-baik aja, Bian. Bian harus percaya, kalo Ata di sana, lagi berusaha untuk mencintai dirinya sendiri sebelum pulang lagi ke pelukan Bian.”

”Dan Bian, juga harus melakukan hal yang sama. Bian harus belajar lebih mencintai diri sendiri sebelum nanti Ananta pulang.”

”Bian harus belajar apa itu ikhlas. Bian harus belajar apa itu ketulusan lewat perpisahan sementara yang lagi dijalanin Bian sama Ata.”

”Mas tau, ini ngga mudah. Sangat-sangat tidak mudah. Bahkan, butuh perjuangan tersendiri supaya bisa bangkit dan kuat.”

”Tapi, ngga mudah itu bukan berarti Bian ngga bisa. Bian bisa coba pelan-pelan. Sambil terus rapalin diri, kalo hubungan Ata dan Bian itu baik-baik aja.”

”Anggap aja, Bian lagi nunggu Ananta dirias saat mau menikah. Supaya Bian terus ngerasain debarannya, dan ngga ngerasa sakit saat ngejalaninnya.”

”Banyak yang dukung Bian, Nak. Banyak yang bakal bantu Bian. Termasuk nemuin keberadaan Ananta sekarang.”

Sukses membuat manik Abian, memancarkan harapan yang sempat redup untuk sementara.

”B-Bian bisa ketemu Ata?” tanya Abian, antusias. Bahkan, air matanya ia hapus sedikit kasar.

Bright mengangguk, mengiyakan ucapan Abian. ”Bian bisa ketemu Ata, saat kondisinya sudah lebih baik dari sekarang.”

”Ananta ngga pernah mutusin Bian. Dia cuma lagi mau istirahat barang sebentar. Makannya, Mas mau Bian ngga tepuruk dan bangkit untuk berjuang.”

”Gapapa kok berjuangnya LDR kaya gini. Yang penting, Bian tau, kalo Ananta sebenernya ngga pergi.”

”Dia masih di sini— Bright menunjuk dada Abian. Dengan tatapan sangat lekat, serta sorot mata penuh keyakinan dan perhatian.

—Ananta di sini, di hati Bian dan ngga pergi kemana-mana.”

”Mulai sekarang, Bian bangkit lagi ya? Berjuang lagi bareng Ananta. Meskipun kalian ngga bisa liat tubuh satu sama lain untuk sementara.

”Demi kebaikan hubungan kalian. Supaya bisa bersatu dengan perasaan yang sudah siap. Ya?

”Mau, Nak?”

Mendengarnya, Abian meneteskan air mata. Tapi tak lama, ia mengangguk penuh keyakinan.

”Kalo Bian bisa lebih cinta sama diri sendiri, Ananta juga bakal gitu kan, Mas?”

Bright mengangguk, dengan senyum terbaiknya.

”B-Berarti ini bukan putus kan, Mas? I-Ini… ini cuma healing aja buat kita berdua? I-Iya kan, Mas?”

Lagi, Bright mengangguk meyakinkan.

”M-Mas ngga bohong kan? A-Ata bakal pulang kan?”

”Bian boleh hajar Mas kalo Mas bohong ke Bian.”

Mendengarnya, Abian menundukkan kepala. Seraya menutup wajahnya dengan tangan. Lalu menangis sekencang yang ia bisa. Abian merasa seperti diberi secercah harapan untuk bangkit dan berubah.

Ada semangat kecil di hatinya untuk bertahan memperjuangkan Ananta. Meskipun raga keduanya terpisah oleh jarak. Namun, doa yang dipanjatkan tetap akan berada di langit yang sama kan?

Dalam benaknya, Abian merapalkan beberapa kalimat. Sebelum mengangguk yakin dan memeluk Bright erat.

”Mas janji Ta bakal lebih mencintai diri sendiri. Supaya pas Ata pulang, Mas udah bisa mencintai Ata dengan baik.”

”Kita berjuang bareng ya, Taa?”

”Mas Bian sayang, Ata.”

📍 Rumah Ananta – 08.34 WIB


Hampir dua jam lebih Abian membawa mobilnya menembus jalanan kota Jakarta. Akibat jam kerja yang membuat orang berbondong-bondong memenuhi jalan raya. Sekarang, mobilnya sudah terparkir sempurna dengan Ananta yang justru terpejam pulas.

”Bian, udah sampe ya?” tanya Sunny yang baru terbangun dari lelap.

Sedangkan Abian membalas dengan anggukan dan sedikit memutar tubuhnya agar duduk menghadap ke belakang.

**”Kayanya mobil yang bawa tas koper belum sampe, Yah. Kena macet.” Ucap Abian, memberitahu.

”Hm, gapapa. Yang penting kita udah sampe selamat.” Jawab Sunny seraya melirik ke arah sang putra.

CUP

”Tidur yang nyenyak ya, Nak? Ata aman di rumah. Ngga akan ada yang lukain Ata. Ayah janji, Sayang.” Bisik Sunny, seperti sebuah rapalan. Surai hitam Ananta diusap penuh sayang. Lalu keningnya diberi kecupan singkat.

Abian yang menyaksikan, sedikit terenyuh dan merasa sesak. Ia bisa merasakan bagaimana Sunny dan Davika, berusaha sebisa mungkin untuk menjaga sang putra dari segala macam bahaya yang bisa saja datang tanpa minta.

Pikirannya jadi melayang ke masa itu. Masa dimana kecerobohan Abian membawa malapetaka bagi Ananta.

Hufft… dadanya terasa sangat sesak. Bahkan, wajahnya ia tundukkan karena tak kuasa untuk menampilkan senyuman.

”Bian, kamu kenapa?” tanya Sunny yang melihat Abian menunduk dan terdiam.

”Eh, gapapa, Yah. Bian nggapapa.”

”Ayah mau turun atau gimana? Atanya tidur, kalo mau dibawa ke dalem, biar Bian aja yang gendong.” Tanya Abian, berusaha mengalihkan perhatian.

Sunny mengangguk, ”bawa aja ke dalem. Biar tidurnya lebih nyenyak.”

Abian mengangguk paham. Lalu mulai bangkit dan keluar, berpindah posisi menjadi berada di belakang.

Pintu mobilnya dibuka, lalu ia duduk di samping Ananta seraya mengusap lembut surai hitamnya.

”Bian gendong ya, Sayang? Kita pindah ke kamar.”

”Nghh…” Ananta sedikit melenguh, ketika tubuhnya terasa diangkat oleh seseorang.

Matanya mengerjap barang sesaat, sebelum mendapati Abian tengah menggendong tubuhnya dan membawa keduanya pergi menuju kamar.

”M-Mas Bian…” panggilnya, lirih. Dengan pipi menyandar pada bahu yang lebih tua.

**”Sebentar ya? Kita pindah ke kamar. Biar Ata tidurnya nyenyak, bisa bebas gerak karena kasurnya lebih besar. Oke?” Ucap Abian seraya menaiki satu persatu tangga rumah Ananta.

Ananta mengangguk, dengan manik sangat mengantuk. Ia menyender nyaman pada tubuh Abian seraya memejam dan membiarkan saja Abian menggendong tubuhnya.

CUP

Kening Ananta diberi kecup. Berhasil membuat Ananta merona semu. Ranumnya terlihat mengulum senyum dengan manik berbinar penuh akan rindu.

”M-Mas Bian cium terus…” lirihnya, malu-malu. Bahkan wajahnya, bersembunyi pada ceruk leher milik Abian.

CUP

Dikecup lagi kening Ananta. ”Kangen. Bian kangen.”

”Heu, malu.”

CUP

CUP

”Aaa Mas Biaaan!”

Sukses mengundang gelak tawa Abian karena Ananta kini bersembunyi manja pada ceruk lehernya. Wajahnya sempurna tenggelam di sana dan tangan kirinya yang bebas, melingkar erat pada leher Abian.

CKLEK

Nuansa kamar berwarna gold langsung menyapa Abian yang baru pertama kali memasuki kamar Ananta. Aroma harum khas pria manisnya juga langsung menyapa indera penciuman.

Begitu memabukkan dan Abian sangat suka.

Langkah kakinya pun ia bawa untuk mendekat, menuju sebuah kasur berukuran king size. Direbahkan tubuh Ananta dengan begitu pelan, sebelum membantu sang kekasih menyamankan posisinya. Ananta dibuat terduduk dengan tubuh menyandar nyaman. Kakinya diselonjorkan lalu ditutupi oleh selimut tebal.

”Udah nyaman, Sayang? Mau geser lagi? Bantalnya ketinggian ngga? AC? AC nya kedinginan ngga? Kalo kedinginan biar Bian naikkin suhunya. Selimutnya, kurang tebel ng—

”Mas Biaan, makasih banyak.” Potong Ananta cepat, seraya mengucapkan terimakasih karena Abian begitu perhatian.

”A-Ata udah nyaman kok, Mas Bian. ACnya juga ngga kedinginan.” Jawab Ananta, sedikit malu-malu karena ditatap lekat.

Abian pun tersenyum manis. Lalu membawa tubuhnya untuk duduk di samping sang kekasih. Diusapnya penuh sayang pipi chubby milik Ananta. Sebelum mendekatkan wajahnya dan menggesek hidung keduanya.

BLUSHH!

”Ata makin cantik! bisik Abian nakal, seraya mengecup ujung hidung Ananta hingga sang empu merona padam.

Ananta menundukkan wajah. Tak kuasa menatap Abian yang kini asik menggodanya. Jemarinya bahkan sampai meremat tangan Abian erat. Menyalurkan rasa gugup yang kini mendera perasaannya.

”Jangan tinggalin Bian lagi ya? Bian ngga mau pisah dari Ata.” Pinta Abian, yang kini terlihat berbicara serius dengan tatapan lekat.

”Taa, Bian tau. Ata mungkin terkadang masih mikir Bian di sini karena kasian sama Ata. Tapi Ata harus tau, Bian sama sekali ngga pernah berpikir untuk bertahan karena kasian sama Ata.”

”Buat apa, hm? Buat apa Bian mempertahankan hubungan cuma karena kasihan?” tanya Abian, seraya membawa dagu sang kekasih agar terangkat.

Manik keduanya bertemu tatap. Sudah ada bulir kristal yang terlihat menggenang di pelupuk Ananta.

”Bian ngga akan maksa Ata untuk percaya sama Bian sekarang. Tapi, kalo Bian minta Ata untuk tetep di sini dan ga pergi lagi ningalin Bian. Boleh ngga, Sayang?”

Ananta terdiam. Lidahnya kelu dan tak mampu berkata-kata. Air matanya luruh seiring dengan bibir bergetar.

Jemari yang semula digenggam oleh Abian, Ananta lepas dan kini memilih untuk menyentuh pipi kanan Abian.

Diusapnya penuh sayang. Dengan isak yang perlahan mulai terdengar.

”M-Mas Bian…” panggilnya, tak kuasa menahan getar.

”Apa, Sayang?” jawab Abian, seraya menggenggam tangan Ananta yang kini berada di pipi kanannya.

”A-Ata boleh nanya sesuatu?” sekuat tenaga, Ananta coba meredam isak. Meskipun pada akhirnya, bibir yang lebih muda tetap bergetar hebat.

”Boleh. Ata boleh nanya apapun sama Bian. Ata boleh nanya sebanyak yang Ata mau, supaya pikiran buruk yang gangguin Ata pergi dan ga dateng lagi menuhin pikiran Ata.” Jawab Abian, lembut.

”Ata mau nanya apa, Sayang?”

Sorot mata Abian yang penuh perhatian, semakin membuat Ananta tak kuasa untuk melontarkan satu pertanyaan yang selama ini selalu ia pikirkan.

Hatinya sesak, takut mendengar jawaban dari sang kekasih di hadapannya.

Ananta baru merasakan kembali sebuah kebahagiaan yang selalu ia damba. Lantas apakah jika ia melontarkan satu pertanyaan yang sudah lama dipendam, Ananta akan kehilangan kebahagiaannya?

Ananta menunduk. Mencoba menahan bimbang yang menyerang pikiran. Matanya memejam, berusaha menetralkan pikiran buruk yang menghantui Ananta setiap malam.

Di hadapannya, Abian terus menatap lekat seraya menampilkan senyuman. Jemarinya tak berhenti untuk digenggam. Bahkan kini mulai kembali dikecup agar Ananta merasa tenang.

**”Tarik nafas, Sayang. Is Okay. Bian ngga akan pergi ninggalin Ata. Apapun kondisi dan keadaannya, Bian bakal tetep di sini sama Ata.”

DEG

Sukses membuat Ananta mendongakkan wajah ketika kalimat itu terlontar dari belah bibir yang lebih tua. Secercah harapan seperti ada dalam genggaman. Ditambah sorot mata Abian yang tak menghadirkan kebohongan di sana.

Maka dengan satu tarikan nafas yang cukup panjang, Ananta mengangguk yakin dan berusaha tenang.

Sebelum kembali mengusap lembut pipi kanan Abian. Lalu ia keluarkan pertanyaan yang selama ini membuat Ananta enggan untuk kembali ke Indonesia.

”M-Mas Bian…” panggil Ananta, dengan bibir bergetar hebat.

”Iyaa, Sayaang. Ata mau nanya apa, hm?”

”A-Ata mau… A-Ata mau Mas Bian jawab jujur.”

Kening Abian mulai menampilkan kerutan. Meskipun senyumnya belum luntur dan tetap terangkat. Abian memang sedikit memiliki perasaan tidak enak. Tapi tak pantas jika ia menampilkannya di depan sang kekasih yang tengah khawatir dan menangis.

”Bian ngga akan bohong. Bian janji. Bian akan jawab jujur, semua pertanyaan Ata.”

”Ata mau nanya apa ke Bian? Hm?”

”K-Kalo Ata… K-Kalo Ata lumpuh s-selamanya hikss, M-Mas Bian bakal p-pergi ngga?”

DEG

📍 Rumah Ananta – 08.34 WIB


Hampir dua jam lebih Abian membawa mobilnya menembus jalanan kota Jakarta. Akibat jam kerja yang membuat orang berbondong-bondong memenuhi jalan raya. Sekarang, mobilnya sudah terparkir sempurna dengan Ananta yang justru terpejam pulas.

”Bian, udah sampe ya?” tanya Sunny yang baru terbangun dari lelap.

Sedangkan Abian membalas dengan anggukan dan sedikit memutar tubuhnya agar duduk menghadap ke belakang.

**”Kayanya mobil yang bawa tas koper belum sampe, Yah. Kena macet.” Ucap Abian, memberitahu.

”Hm, gapapa. Yang penting kita udah sampe selamat.” Jawab Sunny seraya melirik ke arah sang putra.

CUP

”Tidur yang nyenyak ya, Nak? Ata aman di rumah. Ngga akan ada yang lukain Ata. Ayah janji, Sayang.” Bisik Sunny, seperti sebuah rapalan. Surai hitam Ananta diusap penuh sayang. Lalu keningnya diberi kecupan singkat.

Abian yang menyaksikan, sedikit terenyuh dan merasa sesak. Ia bisa merasakan bagaimana Sunny dan Davika, berusaha sebisa mungkin untuk menjaga sang putra dari segala macam bahaya yang bisa saja datang tanpa minta.

Pikirannya jadi melayang ke masa itu. Masa dimana kecerobohan Abian membawa malapetaka bagi Ananta.

Hufft… dadanya terasa sangat sesak. Bahkan, wajahnya ia tundukkan karena tak kuasa untuk menampilkan senyuman.

”Bian, kamu kenapa?” tanya Sunny yang melihat Abian menunduk dan terdiam.

”Eh, gapapa, Yah. Bian nggapapa.”

”Ayah mau turun atau gimana? Atanya tidur, kalo mau dibawa ke dalem, biar Bian aja yang gendong.” Tanya Abian, berusaha mengalihkan perhatian.

Sunny mengangguk, ”bawa aja ke dalem. Biar tidurnya lebih nyenyak.”

Abian mengangguk paham. Lalu mulai bangkit dan keluar, berpindah posisi menjadi berada di belakang.

Pintu mobilnya dibuka, lalu ia duduk di samping Ananta seraya mengusap lembut surai hitamnya.

”Bian gendong ya, Sayang? Kita pindah ke kamar.”

”Nghh…” Ananta sedikit melenguh, ketika tubuhnya terasa diangkat oleh seseorang.

Matanya mengerjap barang sesaat, sebelum mendapati Abian tengah menggendong tubuhnya dan membawa keduanya pergi menuju kamar.

”M-Mas Bian…” panggilnya, lirih. Dengan pipi menyandar pada bahu yang lebih tua.

”Sebentar ya? Kita pindah ke kamar. Biar Ata tidurnya nyenyak, bisa bebas gerak karena kasurnya lebih besar. Oke?” Ucap Abian seraya menaiki satu persatu tangga rumah Ananta.

Ananta mengangguk, dengan manik sangat mengantuk. Ia menyender nyaman pada tubuh Abian seraya memejam dan membiarkan saja Abian menggendong tubuhnya.

CUP

Kening Ananta diberi kecup. Berhasil membuat Ananta merona semu. Ranumnya terlihat mengulum senyum dengan manik berbinar penuh akan rindu.

”M-Mas Bian cium terus…” lirihnya, malu-malu. Bahkan wajahnya, bersembunyi pada ceruk leher milik Abian.

CUP

Dikecup lagi kening Ananta. ”Kangen. Bian kangen.”

”Heu, malu.”

CUP

CUP

”Aaa Mas Biaaan!”

Sukses mengundang gelak tawa Abian karena Ananta kini bersembunyi manja pada ceruk lehernya. Wajahnya sempurna tenggelam di sana dan tangan kirinya yang bebas, melingkar erat pada leher Abian.

CKLEK

Nuansa kamar berwarna gold langsung menyapa Abian yang baru pertama kali memasuki kamar Ananta. Aroma harum khas pria manisnya juga langsung menyapa indera penciuman.

Begitu memabukkan dan Abian sangat suka.

Langkah kakinya pun ia bawa untuk mendekat, menuju sebuah kasur berukuran king size. Direbahkan tubuh Ananta dengan begitu pelan, sebelum membantu sang kekasih menyamankan posisinya. Ananta dibuat terduduk dengan tubuh menyandar nyaman. Kakinya diselonjorkan lalu ditutupi oleh selimut tebal.

”Udah nyaman, Sayang? Mau geser lagi? Bantalnya ketinggian ngga? AC? AC nya kedinginan ngga? Kalo kedinginan biar Bian naikkin suhunya. Selimutnya, kurang tebel ng—

”Mas Biaan, makasih banyak.” Potong Ananta cepat, seraya mengucapkan terimakasih karena Abian begitu perhatian.

”A-Ata udah nyaman kok, Mas Bian. ACnya juga ngga kedinginan.” Jawab Ananta, sedikit malu-malu karena ditatap lekat.

Abian pun tersenyum manis. Lalu membawa tubuhnya untuk duduk di samping sang kekasih. Diusapnya penuh sayang pipi chubby milik Ananta. Sebelum mendekatkan wajahnya dan menggesek hidung keduanya.

BLUSHH!

”Ata makin cantik! bisik Abian nakal, seraya mengecup ujung hidung Ananta hingga sang empu merona padam.

Ananta menundukkan wajah. Tak kuasa menatap Abian yang kini asik menggodanya. Jemarinya bahkan sampai meremat tangan Abian erat. Menyalurkan rasa gugup yang kini mendera perasaannya.

”Jangan tinggalin Bian lagi ya? Bian ngga mau pisah dari Ata.” Pinta Abian, yang kini terlihat berbicara serius dengan tatapan lekat.

”Taa, Bian tau. Ata mungkin terkadang masih mikir Bian di sini karena kasian sama Ata. Tapi Ata harus tau, Bian sama sekali ngga pernah berpikir untuk bertahan karena kasian sama Ata.”

”Buat apa, hm? Buat apa Bian mempertahankan hubungan cuma karena kasihan?” tanya Abian, seraya membawa dagu sang kekasih agar terangkat.

Manik keduanya bertemu tatap. Sudah ada bulir kristal yang terlihat menggenang di pelupuk Ananta.

”Bian ngga akan maksa Ata untuk percaya sama Bian sekarang. Tapi, kalo Bian minta Ata untuk tetep di sini dan ga pergi lagi ningalin Bian. Boleh ngga, Sayang?”

Ananta terdiam. Lidahnya kelu dan tak mampu berkata-kata. Air matanya luruh seiring dengan bibir bergetar.

Jemari yang semula digenggam oleh Abian, Ananta lepas dan kini memilih untuk menyentuh pipi kanan Abian.

Diusapnya penuh sayang. Dengan isak yang perlahan mulai terdengar.

”M-Mas Bian…” panggilnya, tak kuasa menahan getar.

”Apa, Sayang?” jawab Abian, seraya menggenggam tangan Ananta yang kini berada di pipi kanannya.

”A-Ata boleh nanya sesuatu?” sekuat tenaga, Ananta coba meredam isak. Meskipun pada akhirnya, bibir yang lebih muda tetap bergetar hebat.

”Boleh. Ata boleh nanya apapun sama Bian. Ata boleh nanya sebanyak yang Ata mau, supaya pikiran buruk yang gangguin Ata pergi dan ga dateng lagi menuhin pikiran Ata.” Jawab Abian, lembut.

”Ata mau nanya apa, Sayang?”

Sorot mata Abian yang penuh perhatian, semakin membuat Ananta tak kuasa untuk melontarkan satu pertanyaan yang selama ini selalu ia pikirkan.

Hatinya sesak, takut mendengar jawaban dari sang kekasih di hadapannya.

Ananta baru merasakan kembali sebuah kebahagiaan yang selalu ia damba. Lantas apakah jika ia melontarkan satu pertanyaan yang sudah lama dipendam, Ananta akan kehilangan kebahagiaannya?

Ananta menunduk. Mencoba menahan bimbang yang menyerang pikiran. Matanya memejam, berusaha menetralkan pikiran buruk yang menghantui Ananta setiap malam.

Di hadapannya, Abian terus menatap lekat seraya menampilkan senyuman. Jemarinya tak berhenti untuk digenggam. Bahkan kini mulai kembali dikecup agar Ananta merasa tenang.

**”Tarik nafas, Sayang. Is Okay. Bian ngga akan pergi ninggalin Ata. Apapun kondisi dan keadaannya, Bian bakal tetep di sini sama Ata.”

DEG

Sukses membuat Ananta mendongakkan wajah ketika kalimat itu terlontar dari belah bibir yang lebih tua. Secercah harapan seperti ada dalam genggaman. Ditambah sorot mata Abian yang tak menghadirkan kebohongan di sana.

Maka dengan satu tarikan nafas yang cukup panjang, Ananta mengangguk yakin dan berusaha tenang.

Sebelum kembali mengusap lembut pipi kanan Abian. Lalu ia keluarkan pertanyaan yang selama ini membuat Ananta enggan untuk kembali ke Indonesia.

”M-Mas Bian…” panggil Ananta, dengan bibir bergetar hebat.

”Iyaa, Sayaang. Ata mau nanya apa, hm?”

”A-Ata mau… A-Ata mau Mas Bian jawab jujur.”

Kening Abian mulai menampilkan kerutan. Meskipun senyumnya belum luntur dan tetap terangkat. Abian memang sedikit memiliki perasaan tidak enak. Tapi tak pantas jika ia menampilkannya di depan sang kekasih yang tengah khawatir dan menangis.

”Bian ngga akan bohong. Bian janji. Bian akan jawab jujur, semua pertanyaan Ata.”

”Ata mau nanya apa ke Bian? Hm?”

”K-Kalo Ata… K-Kalo Ata lumpuh s-selamanya hikss, M-Mas Bian bakal p-pergi ngga?”

DEG

📍 Rumah Ananta – 08.34 WIB


Hampir dua jam lebih Abian membawa mobilnya menembus jalanan kota Jakarta. Akibat jam kerja yang membuat orang berbondong-bondong memenuhi jalan raya. Sekarang, mobilnya sudah terparkir sempurna dengan Ananta yang justru terpejam pulas.

”Bian, udah sampe ya?” tanya Sunny yang baru terbangun dari lelap.

Sedangkan Abian membalas dengan anggukan dan sedikit memutar tubuhnya agar duduk menghadap ke belakang.

**”Kayanya mobil yang bawa tas koper belum sampe, Yah. Kena macet.” Ucap Abian, memberitahu.

”Hm, gapapa. Yang penting kita udah sampe selamat.” Jawab Sunny seraya melirik ke arah sang putra.

CUP

”Tidur yang nyenyak ya, Nak? Ata aman di rumah. Ngga akan ada yang lukain Ata. Ayah janji, Sayang.” Bisik Sunny, seperti sebuah rapalan. Surai hitam Ananta diusap penuh sayang. Lalu keningnya diberi kecupan singkat.

Abian yang menyaksikan, sedikit terenyuh dan merasa sesak. Ia bisa merasakan bagaimana Sunny dan Davika, berusaha sebisa mungkin untuk menjaga sang putra dari segala macam bahaya yang bisa saja datang tanpa minta.

Pikirannya jadi melayang ke masa itu. Masa dimana kecerobohan Abian membawa malapetaka bagi Ananta.

Hufft… dadanya terasa sangat sesak. Bahkan, wajahnya ia tundukkan karena tak kuasa untuk menampilkan senyuman.

”Bian, kamu kenapa?” tanya Sunny yang melihat Abian menunduk dan terdiam.

”Eh, gapapa, Yah. Bian nggapapa.”

”Ayah mau turun atau gimana? Atanya tidur, kalo mau dibawa ke dalem, biar Bian aja yang gendong.” Tanya Abian, berusaha mengalihkan perhatian.

Sunny mengangguk, ”bawa aja ke dalem. Biar tidurnya lebih nyenyak.”

Abian mengangguk paham. Lalu mulai bangkit dan keluar, berpindah posisi menjadi berada di belakang.

Pintu mobilnya dibuka, lalu ia duduk di samping Ananta seraya mengusap lembut surai hitamnya.

”Bian gendong ya, Sayang? Kita pindah ke kamar.”

”Nghh…” Ananta sedikit melenguh, ketika tubuhnya terasa diangkat oleh seseorang.

Matanya mengerjap barang sesaat, sebelum mendapati Abian tengah menggendong tubuhnya dan membawa keduanya pergi menuju kamar.

”M-Mas Bian…” panggilnya, lirih. Dengan pipi menyandar pada bahu yang lebih tua.

”Sebentar ya? Kita pindah ke kamar. Biar Ata tidurnya nyenyak, bisa bebas gerak karena kasurnya lebih besar. Oke?” Ucap Abian seraya menaiki satu persatu tangga rumah Ananta.

Ananta mengangguk, dengan manik sangat mengantuk. Ia menyender nyaman pada tubuh Abian seraya memejam dan membiarkan saja Abian menggendong tubuhnya.

CUP

Kening Ananta diberi kecup. Berhasil membuat Ananta merona semu. Ranumnya terlihat mengulum senyum dengan manik berbinar penuh akan rindu.

”M-Mas Bian cium terus…” lirihnya, malu-malu. Bahkan wajahnya, bersembunyi pada ceruk leher milik Abian.

CUP

Dikecup lagi kening Ananta. ”Kangen. Bian kangen.”

”Heu, malu.”

CUP

CUP

”Aaa Mas Biaaan!”

Sukses mengundang gelak tawa Abian karena Ananta kini bersembunyi manja pada ceruk lehernya. Wajahnya sempurna tenggelam di sana dan tangan kirinya yang bebas, melingkar erat pada leher Abian.

CKLEK

Nuansa kamar berwarna gold langsung menyapa Abian yang baru pertama kali memasuki kamar Ananta. Aroma harum khas pria manisnya juga langsung menyapa indera penciuman.

Begitu memabukkan dan Abian sangat suka.

Langkah kakinya pun ia bawa untuk mendekat, menuju sebuah kasur berukuran king size. Direbahkan tubuh Ananta dengan begitu pelan, sebelum membantu sang kekasih menyamankan posisinya. Ananta dibuat terduduk dengan tubuh menyandar nyaman. Kakinya diselonjorkan lalu ditutupi oleh selimut tebal.

”Udah nyaman, Sayang? Mau geser lagi? Bantalnya ketinggian ngga? AC? AC nya kedinginan ngga? Kalo kedinginan biar Bian naikkin suhunya. Selimutnya, kurang tebel ng—

”Mas Biaan, makasih banyak.” Potong Ananta cepat, seraya mengucapkan terimakasih karena Abian begitu perhatian.

”A-Ata udah nyaman kok, Mas Bian. ACnya juga ngga kedinginan.” Jawab Ananta, sedikit malu-malu karena ditatap lekat.

Abian pun tersenyum manis. Lalu membawa tubuhnya untuk duduk di samping sang kekasih. Diusapnya penuh sayang pipi chubby milik Ananta. Sebelum mendekatkan wajahnya dan menggesek hidung keduanya.

BLUSHH!

”Ata makin cantik!” bisik Abian nakal, seraya mengecup ujung hidung Ananta hingga sang empu merona padam.

Ananta menundukkan wajah. Tak kuasa menatap Abian yang kini asik menggodanya. Jemarinya bahkan sampai meremat tangan Abian erat. Menyalurkan rasa gugup yang kini mendera perasaannya.

”Jangan tinggalin Bian lagi ya? Bian ngga mau pisah dari Ata.” Pinta Abian, yang kini terlihat berbicara serius dengan tatapan lekat.

”Taa, Bian tau. Ata mungkin terkadang masih mikir Bian di sini karena kasian sama Ata. Tapi Ata harus tau, Bian sama sekali ngga pernah berpikir untuk bertahan karena kasian sama Ata.”

”Buat apa, hm? Buat apa Bian mempertahankan hubungan cuma karena kasihan?” tanya Abian, seraya membawa dagu sang kekasih agar terangkat.

Manik keduanya bertemu tatap. Sudah ada bulir kristal yang terlihat menggenang di pelupuk Ananta.

”Bian ngga akan maksa Ata untuk percaya sama Bian sekarang. Tapi, kalo Bian minta Ata untuk tetep di sini dan ga pergi lagi ningalin Bian. Boleh ngga, Sayang?”

Ananta terdiam. Lidahnya kelu dan tak mampu berkata-kata. Air matanya luruh seiring dengan bibir bergetar.

Jemari yang semula digenggam oleh Abian, Ananta lepas dan kini memilih untuk menyentuh pipi kanan Abian.

Diusapnya penuh sayang. Dengan isak yang perlahan mulai terdengar.

”M-Mas Bian…” panggilnya, tak kuasa menahan getar.

”Apa, Sayang?” jawab Abian, seraya menggenggam tangan Ananta yang kini berada di pipi kanannya.

”A-Ata boleh nanya sesuatu?” sekuat tenaga, Ananta coba meredam isak. Meskipun pada akhirnya, bibir yang lebih muda tetap bergetar hebat.

”Boleh. Ata boleh nanya apapun sama Bian. Ata boleh nanya sebanyak yang Ata mau, supaya pikiran buruk yang gangguin Ata pergi dan ga dateng lagi menuhin pikiran Ata.” Jawab Abian, lembut.

”Ata mau nanya apa, Sayang?”

Sorot mata Abian yang penuh perhatian, semakin membuat Ananta tak kuasa untuk melontarkan satu pertanyaan yang selama ini selalu ia pikirkan.

Hatinya sesak, takut mendengar jawaban dari sang kekasih di hadapannya.

Ananta baru merasakan kembali sebuah kebahagiaan yang selalu ia damba. Lantas apakah jika ia melontarkan satu pertanyaan yang sudah lama dipendam, Ananta akan kehilangan kebahagiaannya?

Ananta menunduk. Mencoba menahan bimbang yang menyerang pikiran. Matanya memejam, berusaha menetralkan pikiran buruk yang menghantui Ananta setiap malam.

Di hadapannya, Abian terus menatap lekat seraya menampilkan senyuman. Jemarinya tak berhenti untuk digenggam. Bahkan kini mulai kembali dikecup agar Ananta merasa tenang.

”Tarik nafas, Sayang. Is Okay. Bian ngga akan pergi ninggalin Ata. Apapun kondisi dan keadaannya, Bian bakal tetep di sini sama Ata.”

DEG

Sukses membuat Ananta mendongakkan wajah ketika kalimat itu terlontar dari belah bibir yang lebih tua. Secercah harapan seperti ada dalam genggaman. Ditambah sorot mata Abian yang tak menghadirkan kebohongan di sana.

Maka dengan satu tarikan nafas yang cukup panjang, Ananta mengangguk yakin dan berusaha tenang.

Sebelum kembali mengusap lembut pipi kanan Abian. Lalu ia keluarkan pertanyaan yang selama ini membuat Ananta enggan untuk kembali ke Indonesia.

”M-Mas Bian…” panggil Ananta, dengan bibir bergetar hebat.

”Iyaa, Sayaang. Ata mau nanya apa, hm?”

”A-Ata mau… A-Ata mau Mas Bian jawab jujur.”

Kening Abian mulai menampilkan kerutan. Meskipun senyumnya belum luntur dan tetap terangkat. Abian memang sedikit memiliki perasaan tidak enak. Tapi tak pantas jika ia menampilkannya di depan sang kekasih yang tengah khawatir dan menangis.

”Bian ngga akan bohong. Bian janji. Bian akan jawab jujur, semua pertanyaan Ata.”

”Ata mau nanya apa ke Bian? Hm?”

”K-Kalo Ata… K-Kalo Ata lumpuh s-selamanya hikss, M-Mas Bian bakal p-pergi ngga?”

DEG