📍 Rumah Ananta – 08.34 WIB


Hampir dua jam lebih Abian membawa mobilnya menembus jalanan kota Jakarta. Akibat jam kerja yang membuat orang berbondong-bondong memenuhi jalan raya. Sekarang, mobilnya sudah terparkir sempurna dengan Ananta yang justru terpejam pulas.

”Bian, udah sampe ya?” tanya Sunny yang baru terbangun dari lelap.

Sedangkan Abian membalas dengan anggukan dan sedikit memutar tubuhnya agar duduk menghadap ke belakang.

**”Kayanya mobil yang bawa tas koper belum sampe, Yah. Kena macet.” Ucap Abian, memberitahu.

”Hm, gapapa. Yang penting kita udah sampe selamat.” Jawab Sunny seraya melirik ke arah sang putra.

CUP

”Tidur yang nyenyak ya, Nak? Ata aman di rumah. Ngga akan ada yang lukain Ata. Ayah janji, Sayang.” Bisik Sunny, seperti sebuah rapalan. Surai hitam Ananta diusap penuh sayang. Lalu keningnya diberi kecupan singkat.

Abian yang menyaksikan, sedikit terenyuh dan merasa sesak. Ia bisa merasakan bagaimana Sunny dan Davika, berusaha sebisa mungkin untuk menjaga sang putra dari segala macam bahaya yang bisa saja datang tanpa minta.

Pikirannya jadi melayang ke masa itu. Masa dimana kecerobohan Abian membawa malapetaka bagi Ananta.

Hufft… dadanya terasa sangat sesak. Bahkan, wajahnya ia tundukkan karena tak kuasa untuk menampilkan senyuman.

”Bian, kamu kenapa?” tanya Sunny yang melihat Abian menunduk dan terdiam.

”Eh, gapapa, Yah. Bian nggapapa.”

”Ayah mau turun atau gimana? Atanya tidur, kalo mau dibawa ke dalem, biar Bian aja yang gendong.” Tanya Abian, berusaha mengalihkan perhatian.

Sunny mengangguk, ”bawa aja ke dalem. Biar tidurnya lebih nyenyak.”

Abian mengangguk paham. Lalu mulai bangkit dan keluar, berpindah posisi menjadi berada di belakang.

Pintu mobilnya dibuka, lalu ia duduk di samping Ananta seraya mengusap lembut surai hitamnya.

”Bian gendong ya, Sayang? Kita pindah ke kamar.”

”Nghh…” Ananta sedikit melenguh, ketika tubuhnya terasa diangkat oleh seseorang.

Matanya mengerjap barang sesaat, sebelum mendapati Abian tengah menggendong tubuhnya dan membawa keduanya pergi menuju kamar.

”M-Mas Bian…” panggilnya, lirih. Dengan pipi menyandar pada bahu yang lebih tua.

**”Sebentar ya? Kita pindah ke kamar. Biar Ata tidurnya nyenyak, bisa bebas gerak karena kasurnya lebih besar. Oke?” Ucap Abian seraya menaiki satu persatu tangga rumah Ananta.

Ananta mengangguk, dengan manik sangat mengantuk. Ia menyender nyaman pada tubuh Abian seraya memejam dan membiarkan saja Abian menggendong tubuhnya.

CUP

Kening Ananta diberi kecup. Berhasil membuat Ananta merona semu. Ranumnya terlihat mengulum senyum dengan manik berbinar penuh akan rindu.

”M-Mas Bian cium terus…” lirihnya, malu-malu. Bahkan wajahnya, bersembunyi pada ceruk leher milik Abian.

CUP

Dikecup lagi kening Ananta. ”Kangen. Bian kangen.”

”Heu, malu.”

CUP

CUP

”Aaa Mas Biaaan!”

Sukses mengundang gelak tawa Abian karena Ananta kini bersembunyi manja pada ceruk lehernya. Wajahnya sempurna tenggelam di sana dan tangan kirinya yang bebas, melingkar erat pada leher Abian.

CKLEK

Nuansa kamar berwarna gold langsung menyapa Abian yang baru pertama kali memasuki kamar Ananta. Aroma harum khas pria manisnya juga langsung menyapa indera penciuman.

Begitu memabukkan dan Abian sangat suka.

Langkah kakinya pun ia bawa untuk mendekat, menuju sebuah kasur berukuran king size. Direbahkan tubuh Ananta dengan begitu pelan, sebelum membantu sang kekasih menyamankan posisinya. Ananta dibuat terduduk dengan tubuh menyandar nyaman. Kakinya diselonjorkan lalu ditutupi oleh selimut tebal.

”Udah nyaman, Sayang? Mau geser lagi? Bantalnya ketinggian ngga? AC? AC nya kedinginan ngga? Kalo kedinginan biar Bian naikkin suhunya. Selimutnya, kurang tebel ng—

”Mas Biaan, makasih banyak.” Potong Ananta cepat, seraya mengucapkan terimakasih karena Abian begitu perhatian.

”A-Ata udah nyaman kok, Mas Bian. ACnya juga ngga kedinginan.” Jawab Ananta, sedikit malu-malu karena ditatap lekat.

Abian pun tersenyum manis. Lalu membawa tubuhnya untuk duduk di samping sang kekasih. Diusapnya penuh sayang pipi chubby milik Ananta. Sebelum mendekatkan wajahnya dan menggesek hidung keduanya.

BLUSHH!

”Ata makin cantik! bisik Abian nakal, seraya mengecup ujung hidung Ananta hingga sang empu merona padam.

Ananta menundukkan wajah. Tak kuasa menatap Abian yang kini asik menggodanya. Jemarinya bahkan sampai meremat tangan Abian erat. Menyalurkan rasa gugup yang kini mendera perasaannya.

”Jangan tinggalin Bian lagi ya? Bian ngga mau pisah dari Ata.” Pinta Abian, yang kini terlihat berbicara serius dengan tatapan lekat.

”Taa, Bian tau. Ata mungkin terkadang masih mikir Bian di sini karena kasian sama Ata. Tapi Ata harus tau, Bian sama sekali ngga pernah berpikir untuk bertahan karena kasian sama Ata.”

”Buat apa, hm? Buat apa Bian mempertahankan hubungan cuma karena kasihan?” tanya Abian, seraya membawa dagu sang kekasih agar terangkat.

Manik keduanya bertemu tatap. Sudah ada bulir kristal yang terlihat menggenang di pelupuk Ananta.

”Bian ngga akan maksa Ata untuk percaya sama Bian sekarang. Tapi, kalo Bian minta Ata untuk tetep di sini dan ga pergi lagi ningalin Bian. Boleh ngga, Sayang?”

Ananta terdiam. Lidahnya kelu dan tak mampu berkata-kata. Air matanya luruh seiring dengan bibir bergetar.

Jemari yang semula digenggam oleh Abian, Ananta lepas dan kini memilih untuk menyentuh pipi kanan Abian.

Diusapnya penuh sayang. Dengan isak yang perlahan mulai terdengar.

”M-Mas Bian…” panggilnya, tak kuasa menahan getar.

”Apa, Sayang?” jawab Abian, seraya menggenggam tangan Ananta yang kini berada di pipi kanannya.

”A-Ata boleh nanya sesuatu?” sekuat tenaga, Ananta coba meredam isak. Meskipun pada akhirnya, bibir yang lebih muda tetap bergetar hebat.

”Boleh. Ata boleh nanya apapun sama Bian. Ata boleh nanya sebanyak yang Ata mau, supaya pikiran buruk yang gangguin Ata pergi dan ga dateng lagi menuhin pikiran Ata.” Jawab Abian, lembut.

”Ata mau nanya apa, Sayang?”

Sorot mata Abian yang penuh perhatian, semakin membuat Ananta tak kuasa untuk melontarkan satu pertanyaan yang selama ini selalu ia pikirkan.

Hatinya sesak, takut mendengar jawaban dari sang kekasih di hadapannya.

Ananta baru merasakan kembali sebuah kebahagiaan yang selalu ia damba. Lantas apakah jika ia melontarkan satu pertanyaan yang sudah lama dipendam, Ananta akan kehilangan kebahagiaannya?

Ananta menunduk. Mencoba menahan bimbang yang menyerang pikiran. Matanya memejam, berusaha menetralkan pikiran buruk yang menghantui Ananta setiap malam.

Di hadapannya, Abian terus menatap lekat seraya menampilkan senyuman. Jemarinya tak berhenti untuk digenggam. Bahkan kini mulai kembali dikecup agar Ananta merasa tenang.

**”Tarik nafas, Sayang. Is Okay. Bian ngga akan pergi ninggalin Ata. Apapun kondisi dan keadaannya, Bian bakal tetep di sini sama Ata.”

DEG

Sukses membuat Ananta mendongakkan wajah ketika kalimat itu terlontar dari belah bibir yang lebih tua. Secercah harapan seperti ada dalam genggaman. Ditambah sorot mata Abian yang tak menghadirkan kebohongan di sana.

Maka dengan satu tarikan nafas yang cukup panjang, Ananta mengangguk yakin dan berusaha tenang.

Sebelum kembali mengusap lembut pipi kanan Abian. Lalu ia keluarkan pertanyaan yang selama ini membuat Ananta enggan untuk kembali ke Indonesia.

”M-Mas Bian…” panggil Ananta, dengan bibir bergetar hebat.

”Iyaa, Sayaang. Ata mau nanya apa, hm?”

”A-Ata mau… A-Ata mau Mas Bian jawab jujur.”

Kening Abian mulai menampilkan kerutan. Meskipun senyumnya belum luntur dan tetap terangkat. Abian memang sedikit memiliki perasaan tidak enak. Tapi tak pantas jika ia menampilkannya di depan sang kekasih yang tengah khawatir dan menangis.

”Bian ngga akan bohong. Bian janji. Bian akan jawab jujur, semua pertanyaan Ata.”

”Ata mau nanya apa ke Bian? Hm?”

”K-Kalo Ata… K-Kalo Ata lumpuh s-selamanya hikss, M-Mas Bian bakal p-pergi ngga?”

DEG