typingcntik

📍Apartement Bright | 01:00 WIB

CUP

CUP

CUP

“Eungh…” Bright menggerakan kepalanya ke kanan dan kiri, merasa terganggu dengan aktivitas yang tengah dilakukan pada tubuhnya. Lagipula sudah jam berapa ini? Dini hari bukan? Tubuh Bright rasanya masih sangat lelah, bekerja seharian, menghadiri meeting yang tak ada henti semenjak seminggu terakhir. Keinginannya saat ini hanyalah tidur dengan tenang tanpa diganggu oleh siapapun.

SLURRPP

“Ah.” Bright tersentak kala merasakan kejantanannya dihisap begitu kuat. Tunggu —siapa pula yang berani menyentuh kejantanannya. Bukankah Metawin sedang tidur disamp—

“Astaga Awin.”

“Kamu ngapain, Sayang.”

Cup

“Awin abis sedot dedek Pibaii. Lihat, tadi dedek Pibaii nda bangun, sekarang jadi bangun hihihi.” ucapnya polos tanpa merasa bersalah sedikitpun. Bahkan wajahnya kini menampilkan senyum manis bak anak kecil yang baru saja kepergok memakan permen.

Sungguh, jika dirinya tidak lelah mungkin Bright sudah dengan sigap mencubit kencang kedua pipi gembil Metawin yang kini terlihat semakin chubby dengan dua gigi kelincinya yang menyembul lucu.

“Awin kamu ngapain astaga, udah sini tidur lagi. Masih jam satu, Sayang.” ucap Bright sembari membenarkan celananya yang tadi dibuka oleh Metawin. Tak lupa Ia tarik tunangannya untuk masuk ke dalam dekapannya. Malam ini Bright tidak memiliki gairah untuk melakukan apapun, Ia hanya ingin tidur.

Dengan posisi tidur menyamping, tangan kanan yang digunakan untuk bantalan kepala Metawin serta tangan kirinya yang dengan erat memeluk pinggang ramping sang tunangan. Bright membiarkan pria itu memainkan pipinya. Yang penting diam dan tidak merengek.

“Pibaii…” panggil Metawin sembari mengelus pipi yang lebih tua.

“Hm…” jawab Bright tentu dengan mata yang sudah sempurna memejam.

“Awin nda bisa bobo.”

“Merem coba.”

“Nda bisa. Pibaii lihat dedek Awin bangun. Awin nda bisa bobo, Pibaii. Awin sedot dedek Pibaii aja ya?” ucap Metawin dengan semangat yang entah darimana asalnya. Bahkan pria manis itu sudah hampir melepas kembali celana yang Bright kenakan.

“Hei Awin, Sayang. Sini-sini. Pibaii boboin aja dedek Awinnya. Sini.” ucap Bright sigap sembari menahan sang tunangan untuk kembali memainkan kejantanannya.

Bright berusaha bersabar, mungkin memang tunangannya sedang menginginkan hal itu. Maka, biarlah Ia bantu Metawin keluar sekali. Setelah itu? Tentu tidur. Bright lelah —Bright ingin tidur.

Dengan mata yang masih memejam, Bright mulai meraba kemaluan sang kekasih. Oh benar —Metawin sedang ereksi hebat. Tangannya menerobos masuk pada celana yang digunakan Metawin hingga kulit tangannya berhasil menyentuh penis Metawin yang ternyata sudah basah oleh precum.

Eh? Berapa lama pria manisnya bermain dengan penisnya tadi. Mengapa milik Metawin sudah banjir seperti ini?

“Ahh Pibaii…”

Tubuh Metawin yang semula menghadap kearah Bright, kini sudah berpindah menjadi telentang. Bermaksud memudahkan Bright yang kini tengah memijat lembut penisnya.

Bright terus memijat penis Metawin, mengurutnya dari atas-kebawah. Sesekali jempolnya Ia gunakan untuk mengusap sensual kepala penis sang tunangan yang tentu saja membuat tubuh Metawin menggelinjang tak karuan.

“AAHH PIBAII J-JANGAN ENAKH ENAKHH.”

“Hm?”

Tubuh Metawin terus bergerak kekanan dan kekiri, menyalurkan rasa nikmat yang tengah Bright berikan. Hingga tak sadar lututnya menendang pelan kemaluan Bright. Apakah Bright merasakan sakit? Tentu tidak. Tendangan tak sengaja itu justru membuat mata Bright yang tadi memejam menjadi terbuka lantaran sengatan listrik yang tiba-tiba masuk kedalam tubuhnya.

“Ahh Pibaiihh mmau dicepetinn hh…”

“Awinn -Ahh mau pipiss…”

Bright mempercepat tempo pergerakan tangannya, hingga dirasa penis Metawin semakin membesar. Hingga tak lama, Ia merasa ada cairan hangat yang membasahi tangannya.

“AHHH PIBAIIHHH.”

CROT

Tubuh Metawin menegang selepas orgasme nya yang pertama, nafasnya bahkan masih memburu. Peluh membasahi kening dan lehernya. Namun, satu yang sebenarnya sedang Bright khawatirkan saat ini.

Penis Metawin —masih bangun.

Tetapi tetap. Bright akan teguh akan pendiriannya. Kali ini Ia tidak akan melakukan lebih. Tidur. Bright mau tidur.

“Pibaii hhh.” panggil Metawin dengan nafas yang masih terengah.

“Hm?”

“Mau lagihh.” rengeknya sembari menggoyangkan lengan Bright, lantaran pria itu justru kembali memejamkan matanya.

“Tidur, Sayang.”

“Nda mau. Awin mau lagi. Pibaii mau lagi.” rengeknya semakin heboh.

“Pibaiiiiii…”

“Pibaii nanti Awin nangis nih.” rengeknya setengah kesal yang tak kunjung mendapat jawaban dari yang lebih tua.

Merasa dicueki, Metawin pun dengan sigap mendorong tubuh Bright agar posisinya telentang. Dan kemudian—

BRUKKK

“Awin astaga ngapain?”

“Pibaii, lubang Awin gatel Pibaii.”

“Pibaii tusuk-tusuk lubang Awin ya, Pibaii.”

“Pibaii AAAAA Awin mau banget ditusuk sekarang.”

DEG

Apa Bright kaget? Tentu saja kaget!

Ini pertama kalinya Metawin berani meminta seks kepada Bright. Oh jangan lupakan —Bright bahkan tak memancing sama sekali. Ini benar-benar permintaan Metawin.

Bright melongo sesaat dengan permintaan Metawin barusan. Hingga Ia disadarkan dengan gesekan yang cukup terburu-buru oleh pria diatasnya.

“Ah— Awin.”

“Pibaii gimana biar enak, Pibaii?” tanya Metawin dengan nafas yang tergesa pun gerak tubuh yang terkesan brutal.

Membuat Bright tak ayal merasa ngilu lantaran gesekannya tak beraturan. Ia pun dengan cekatan bangkit untuk duduk. Tak lupa memegang punggung sang tunangan agar tak terjatuh dari pangkuannya.

“Awin stop dulu -Ah. Ngilu, Sayang.”

“Pibaii kok nda enak ya? Awin lagi pengen yang enak kaya waktu itu, Pibaii.”

“Boleh kan, Pibaii?”

“Boleh ya? Sekali aja Awin janji. Ya Pibaii ya?” rengek Metawin tiada henti.

Membuat Bright yang bisa dibilang sudah tidak mengantuk pun bingung. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lantas kembali menatap pria manis dihadapannya yang tengah menatap dengan binar penuh harap akan permintaannya.

“Hei, lihat Pibaii dulu.” titah Bright sembari menangkup wajah yang lebih muda.

“Iya Pibaii, ini Awin tatap, Pibaii.” jawab Metawin patuh dan —sangat lucu.

“Awin kenapa kok minta kaya gitu?”

“Emang nya nda boleh ya, Pibaii?”

“Bukan ngga boleh, Sayang. Tapi kan Awin ngga pernah minta kaya gini sebelumnya. Kenapa tiba-tiba minta? Awin abis lihat sesuatu?” tanya Bright pelan, sembari mengusap lembut punggung Metawin.

“T-Tapi Pibaii janji ya nda marah sama, Awin?” cicit Metawin sembari memainkan kerah piyama yang tengah digunakan Bright.

“Janji.”

Mendengar Bright sudah berjanji, Metawin pun bangkit untuk mengambil sesuatu dimeja nakas.

Oh—mengambil ponsel.

Eh? Ponsel Bright?

Dengan cengiran yang tak henti-hentinya bertengger di ranum cantik sang tunangan, Metawin kembali kedalam pangkuan Bright.

Bright mengernyitkan dahinya kala memperhatikan Metawin dengan lincah menyentuh layar pintar pada ponsel miliknya. Ya memang —semenjak keduanya resmi bertunangan, Bright membiarkan Metawin tahu sandi ponselnya. Toh tidak ada yang perlu ditutupi juga.

Lagipula Metawin biasanya tetap akan meminta izin padanya jika akan menggunakan ponselnya. Tapi kali ini…sepertinya Bright kecolongan.

Setelah selesai mengotak-atik isi ponsel Bright, Metawin dengan mata berbinar pun menunjukkan apa yang Ia lihat diponsel miliknya. Dan—

“Awin lihat ada video orang lagi ngewe dihp, Pibaii. Eh—

“Pibaii bener kan namanya ngewe? Awin lupa. Soalnya orang yang di video bilangnya ngentot.”

Sial.

Belum selesai Bright terkejut karena kepergok menyimpan video tak senonoh, Metawin kembali membuat serangan pada jantungnya dengan mengatakan kata kotor. Apa tadi? N—Ngentot?

“Pibaii, kenapa mas mas yang di video pake baju lucu kaya kucing. Awin boleh pake kaya gitu juga nda, Pibaii?”

“Belinya dimana, Pibaii?”

Fuck.

Cepat buat Metawin diam atau pikirannya semakin berkelana liar mendengar celotehan Metawin yang justru berhasil membuat libido Bright meningkat.

“Aduh kok Awin banyak ngomong ya, Pibaii.”

“Yaudah ayo Pibaii kita ngewe. Awin masih pengen ditusuk-tusuk. Ayo Pibaii ngewe. Awin mau ngewe.” pinta Metawin heboh sembari menggerakkan kembali kejantanannya yang kini kembali mengeras. Oh—tapi kali ini tidak hanya miliknya saja. Melainkan—

“Yeay dedek Pibaii udah bangun lagi. Ayo Pibaii tusuk-tusuk lubang Awin. Biar enak kaya waktu itu.” celotehnya penuh semangat tanpa menyadari ada pria yang tengah mengatur kewarasannya.

“Awin, beneran mau ngewe?”

“Mau Pibaii mau. Ayo ngewe.”

“Ayo Pibaii, nanti Awin sedot dedek Pibaii. Eh—

“Awin lupa. Kalo lagi ngewe bilangnya kontol ya, Pibaii.”

“Ayo Pibaii tusuk lubang Awin pake kontol.”

“Bener nda, Pibaii?”

“Awin mau ditusuk lubangnya pak—

“Fuck, Metawin.”

BRUKKK

CUPP

Kelemahan Bright hanya satu —celotehan Metawin yang terdengar begitu kotor ditelinganya. Jika tadi Ia bisa menahan kala Metawin bermain dengan penisnya. Maka, jangan harap Bright akan tetap menahan diri kala sudah mendengar segala ucapan kotor dari belah bibir sang tunangan.

Dengan nafsu yang sudah memburu, Bright meraup rakus bibir sintal Metawin. Ia kungkung se-intim mungkin hingga tubuhnya kini tak berjarak sama sekali.

Ia lumat basah bibir yang sedari tadi berisik meminta untuk disetubuhi, pun Ia jelajahi segala isi dari rongga mulut Metawin yang tak pernah bosan untuk Ia jamah dan habisi.

“Eummphh.” desahan Metawin lolos.

Membuat Bright semakin memiringkan kepalanya, guna memperdalam pagutan panas yang kini tengah terjadi antara bibirnya dengan ranum sintal Metawin.

CUP

CUP

CUP

Bunyi kecipak pun menggelegar didalam kamar bernuansa hitam yang cukup besar. Seolah ikut meramaikan betapa panasnya pagutan mereka.

“Mmphh Pibaihh.”

“Udahh mmphh.”

Bright tahu Metawin sudah kehabisan nafas, namun dirinya masih belum mau menyudahi lumatan yang entah mengapa malam ini terasa —sangat nikmat.

Yang Ia lakukan hanya mengurangi tempo, supaya Metawin bisa bernafas melalui hidung.

“Nafas lewat hidung.”

CUP

Setelah mengatakannya, Bright kembali mencumbu Metawin. Namun, kali ini tangannya tak tinggal diam. Dengan cekatan, Ia lucuti satu persatu pakaian Metawin hingga tubuhnya kini —polos tanpa sehelai benang.

CUP

Bright menyudahi cumbuannya, dan langsung beralih ke leher jenjang milik Metawin. Ia kecup kemudian Ia hisap guna memberikan tanda kepemilikannya sebagai bukti bahwa hanya dirinya yang boleh menjamah Metawin.

SLURRPP

“Ahh Pibaihh…Awinn mauh -Ahh nafashh duluu.” keluh Metawin kala dirinya tak diberi izin untuk bernafas seusai pagutan panas yang dilakukan Bright padanya.

SLURRPP

CUP

“Ahh enakkh…Pibaiihh enakkh…Lehernyaa lagihh.”

Bright menurut. Ia kembali menjamah leher Metawin. Menghisapnya, menciumnya, menjilatnya —hingga tanda kemerahan kini memenuhi seluruh leher pria manis yang terengah dibawahnya. Lengkap dengan kilat basah akibat salivanya.

CUP

Bright bangkit untuk menatap Metawin. Oh—sangat kacau. Sial. Ia yang membuat kacau. Ia sendiri yang kelabakan.

Lihatlah, mata sayu, bibir bengkak, mulut terbuka, dengan leher yang penuh akan tanda darinya. Sungguh membuat kewarasan Bright hilang entah kemana.

“Pibaiihh kenapahh nda pelannh?”

“Awinh hh engaapp.” keluhnya dengan nafas yang masih terengah.

“Tapi enak?”

“Enakk, Pibaii.”

“Angkat kakinya, Sayang.”

“Pibaii, susu Awin nda disedot?” tanya Metawin lucu kala melihat Bright sepertinya akan memberikan —rimming.

Bright tersenyum miring, tunangannya sudah pandai meminta.

“Mau susunya atau lubangnya yang disedot, hm?” tanyanya sembari mengelus lubang berkedut milik Metawin dengan jarinya —bermaksud menggoda.

“Shh Ahh Pibaii gatel.”

“Hm? Pibaii nanya, mau susunya apa lubangnya?” semakin Bright bertanya —semakin lihai pula jemarinya menggoda lubang sang tunangan.

Metawin? Tentu kelabakan.

“Ahh Pibaiihh, j-jangannhh dielus-elus lubangnyahh.”

“Eung gatell -Ahh… Mau ditusuk ajahh.”

“Kok ditusuk? Kan Pibaii nawarinnya sedot, Sayang?” memang dasar Bright, hobi menggoda bayi kesayangannya.

“Ahhh Pibaiih, sedot lubang Awin, gat— AHH

SLURRPP

Tanpa aba-aba, Bright langsung memberikan rimming pada Metawin. Memainkan lidahnya dengan lihai disana, keluar-masuk menggoda lubang hangat Metawin yang sudah lama tak Ia jamah.

Oh —sempit.

SLURRPP

“AHH ENAKHH, PIBAIIHH LIDAHNYA AHH.”

Bright dapat merasakan Metawin mendorong kepalanya —bermaksud untuk memerintahkan Bright memasukkan lidahnya lebih dalam. Maka dengan senang hati Bright turuti kemauannya.

Tangannya terangkat untuk meremas dada padat milik Metawin, jarinya dengan lihai memilin, memutar, memijat lembut puting pink milik sang tunangan yang sudah mengeras hebat.

Diberi stimulus seperti ini tentu Metawin kelojotan. Tubuhnya bergerak gusar. Tangannya sibuk meremas rambut Bright. Kepalanya mendongak dengan mulut yang sedikit terbuka lengkap dengan desahan laknat yang terus terdengar.

“AHH ENAKKH HIKSS.”

“ENAKHH BANGETT HIKSS PIBAIIHH ENAKKHH.”

“LUBANG AWINNH KEENAKANN AHH.”

“PIBAIIHH MMAU PIPIS…”

“AWIN MAU PIPISS —AHHH

CROTT

CROTT

Metawin sampai pada pelepasan keduanya. Tubuhnya menegang. Cairan putihnya sedikit mengotori rambut Bright dan sisanya mengenai perutnya sendiri.

Bright bangkit.

Bermaksud memandangi sang kekasih yang kini terlihat sedikit tepar dengan nafas terengah.

Bright suka melihat Metawin takluk dibawah dominasinya.

Seperti sekarang —kala tubuhnya kembali merapat pada Metawin dengan kedua kaki sang tunangan yang diangkat keatas bahunya. Oh —gaya missionary.

Bright memperhatikan dari dekat wajah sang kekasih yang masih terengah, sebuah senyuman tulus pun tersungging. Ia bawa jemarinya untuk merapihkan beberapa anak rambut Metawin yang mengganggu penglihatan.

“Capek, Sayang?” tanya Bright lembut.

“Capek, Pibaii.” lirihnya sembari membawa kedua tangannya untuk melingkar manis pada leher jenjang milik Bright.

“Pibaii kok nda buka baju? Kenapa yang telanjang Awin aja?” tanyanya kala mendapati Bright masih lengkap dengan pakaiannya.

“Bukain, hm?”

Metawin mengangguk, tangannya mulai membuka kancing piyama Bright satu persatu, hingga menarik seluruh celana yang digunakan pria yang lebih tua.

Keduanya polos tanpa sehelai benang.

Bright kembali merapatkan tubuhnya pada Metawin. Menggesekkan penisnya pada lubang yang sedari tadi sudah ingin Ia terkam. Membuat si empu-nya kembali berceloteh gatal.

“Ahh Pibaii…”

“Hm?”

“G-Gatel…Lubang Awin -Ahh jangan digesek-gesek.”

“Maunya diapain?”

“Ditusuk kaya waktu itu sampe Awin keenakan, Pibaii.”

“Ditusuk gimana, hm?”

“Ahh aduhh Pibaii lubang Awin beneran gatel, j-jangan digesek-gesek.” rengeknya kala lubangnya terus saja digoda oleh penis sang tunangan.

“Mau diapain? Bilang dulu yang bener.” huh, Bright sepertinya sedang ingin mendengar Metawin berbicara kotor.

“Mau diewe. Mau ditusuk-tusuk pake kontol.” ucapnya polos —sesuai dengan apa yang Bright pernah ajarkan padanya.

CUP

“Pibaii ayoo, cium pipi Awin nya nanti ajaa.”

CUP

“Pibaii, Awin nda kuat. Pengen ditusuk.”

CUP

“Pibaii ish ayo ewe-in Awin.”

JLEBB

“AHHH.”

Tanpa aba-aba, Bright memasukkan dalam sekali hentak penisnya dalam lubang sempit Metawin. Membuat pria dibawahnya tentu meringis kesakitan. Tangan Metawin bergerak untuk mencengkeram bahu Bright, melampiaskan rasa sakit yang baru saja dirasakan tubuh bagian bawahnya.

“P-Pibaii hikss…Kenapa sakit hikss….”

“Sedot bibir Pibaii sini, Sayang. Biar ngga sakit.”

Bright melumat kembali ranum yang sudah membengkak. Tangannya pun tak tinggal diam. Ia mainkan kedua puting tegang milik Metawin guna mengalihkan rasa sakit yang tengah pria manis itu rasakan.

Bright sengaja melakukannya dalam sekali hentak, supaya rasa sakit yang dirasakan Metawin sebentar.

Seperti sekarang —lihatlah.

Pria manisnya sudah lebih rileks, bahkan pinggulnya sedikit bergoyang sendiri.

CUP

Bright menyudahi lumatannya —dan beralih menatap mata sayu Metawin yang basah akibat air mata.

“Pibaii, kontolnya besar. Lebih besar dari kemarin. Lubang -Awin nda muat.” celotehnya dengan isak tangis yang masih terdengar sedikit.

“Makin gede makin enak, Sayang.”

“Nda. Ini sakit. Nda enak.”

“Kalo ini enak ngga?”

BLESS

“AHHH PIBAII.”

“Enak, Sayang?” tanya Bright dengan seringainya. Puas melihat wajah keenakan Metawin padahal baru Ia tumbuk sekali.

“L-Lagih. Pibaii tusuk lagih.”

“Minta dulu pake kata-kata kotornya, Sayang.”

“Lubang Awin pengen di masukin kontol, Pibaii.”

“Ayo Pibaii tusuk-tusuk.”

“U-Udah…Udah Awin lebarin kakinya. Biar kontol Pibaii muat masuk lubang Awin.”

“Pibaii hikss nda kuat pengen ditusuk kontol, Pibaii.”

“Fuck.”

JLEBBB

AHHH

PLOKKK

PLOKKK

PLOKKK

“AAHHH ENAKKHH BANGETT HIKSS.”

Bright menghujam lubang kekasihnya dengan tempo yang langsung cepat. Maju-mundur, keluar-masuk, tepat mengenai prostat sang tunangan. Membuat Metawin kelojotan dibawahnya. Desahan nya pun semakin keras tak terkendali. Metawin selalu seperti ini —kewalahan jika diberi nikmat terlalu banyak.

“Ahh Pibaii…D-Dalem bangethh Ahh.”

“Enak -Ahh kamu, Sayang.”

Kali ini Bright ikut terlena dengan jepitan kuat dari lubang sang kekasih. Satu bulan tak dijamah semenjak first time mereka —lubang Metawin bisa menjadi sesempit ini. Menbuat penisnya benar-benar dimanjakan dengan cengkraman lubang hangat Metawin yang benar-benar memabukan.

PLOKKK

PLOKKK

PLOKKK

“Pibaiihh mmau pipiss -Ahh.”

“Keluarin, Sayang.”

“J-Janganh ditusuk duluhh -Ahh.”

JLEBBB

“AHHHH”

CROTTT

Metawin sampai pada pelepasannya yang ketiga. Namun, dasar Bright. Belum selesai cairan itu keluar dari penis Metawin, dengan lihainya Ia langsung menumbuk kembali lubang sang kekasih tanpa jeda.

PLOKKK

“Pibaihh nantihh Ahh…”

“Nantihh duluhh.”

“A-Awin pipiss duluhh…”

“PIBAIHH STOPPH DULUH.”

“AHH NANTIHH TUSUK-TUSUK LAGIHH.”

JLEBBB

“Ahh.”

Bright menyeringai menatap Metawin yang sangat kewalahan dibawahnya. Dengan penis yang masih berusaha mengeluarkan cairannya.

“Pibaihh, sabar -Ahh jangan digerakin dulu.”

“L-Lubang Awin nda kemana-mana, nanti Pibaii boleh tusuk-tusuk lagi.” lirihnya dengan nafas yang masih terengah.

Sambil memberi jeda pada Metawin, Bright memilih menghisap puting yang sedari tadi hanya dimainkan oleh jarinya —tanpa melepas penyatuan keduanya.

SLURRPP

“AHHH PIBAII.”

Metawin sangatlah sensitif. Apalagi setelah orgasmenya yang ketiga, disentuh putingnya saja Ia menggelinjang, apalagi ini dihisap.

Metawin yang seperti ini adalah favorite Bright, sensitif dan penuh desah. Suka —Bright sangat menyukainya.

Merasa sang tunangan sudah bisa melanjutkan kegiatannya, Ia pun kembali bergerak —namun dengan tempo lambat.

Berniat —menggoda.

BLESS

Bright memaju-mundurkan penisnya dengan lambat. Membuat prostat Metawin hanya kesenggol saja. Tidak sepenuhnya menabrak.

Hal ini tentu membuat Metawin gregetan. Ia bahkan mencoba menggerakkan sendiri pinggulnya supaya penis Bright bisa kembali menubruk prostatnya.

“Kenapa, kok gerak sendiri?” tanya Bright pura-pura tidak tahu.

Metawin membawa tangannya untuk menumpu pada bahu Bright, “Pibaii nda kena yang didalem, ini cuma kesenggol.” rengeknya.

“Masa sih?”

“I-Iyah Pibaii…Nda kena yang enak-enak itu”

“Pibaiih lubangnya jadi gatel banget huhu.” keluhnya lagi.

“Awin udah lebarin kakinya, Pibaii coba lagi yang kenceng. Awin mau yang enak.”

“Ini enak, Sayang.”

“Nda, lubang Awin gatel -Ahh. Gatel, nda kena. Pibaii kurang dalem.” ucapnya terdengar sedikit frustasi.

Bright yang puas pun menyeringai, melihat Metawin meminta dibawahnya membuat libido Bright meningkat. Penisnya masih dengan lambat keluar-masuk ke lubang Metawin.

Menikmati pijatan ketat yang disuguhkan lubang hangat sang kekasih, tanpa peduli ada Metawin yang sudah tak tahan ingin ditumbuk sekeras mungkin.

“Pibaiihh tolongin Awin, nda kuath hikss.”

“Mau ditusuk kaya tadii -Ahh.”

“Kontol Pibaii kenapa -Ahh.”

“Ayo Pibaii yang keras. Jangan pelan-pelan, gatel jad—

JLEBBB

AHHH

“Awin bawel.”

Tepat setelah mengatakan itu, Bright bawa kedua tangan Metawin untuk Ia letakkan disisi kanan dan kiri —bermaksud mengunci pergerakan sang kekasih.

Lalu dengan liar, mulai menumbuk brutal lubang hangat yang selalu menjadi candu bagi Bright. Menubruk telak pada prostat Metawin. Sampai membuat sang kekasih terkencing-kencing dibawahnya.

PLOKKK

PLOKKK

PLOKKK

CROOTTTT

Bukan. Itu bukan pelepasan Metawin —melainkan air kencing yang keluar karena pria manisnya kewalahan menerima kenikmatan yang tengah diberikan Bright.

“AHHH ENAKHH HIKSSS.”

“KONTOL PIBAIHHH -AHH.”

“AWIN PIPISS HUHU.”

“Keenakan sampe pipis huh?”

JLEBBB

“Iyaahh enakkhh -Ahh. Kontol Pibaii enakkhh.”

“Pibaihh lepasin tangan -Ahh Awin.”

“Awin pengen pegangan ke spreii.”

PLOKKK

PLOKKK

“AHHH J-Jangan dipegangin tangan Awin.”

“Nda kuatthhh.”

“Fuck enak banget, Sayang.”

“Iyahh enakk. Lubang Awin enak, Kontol Pibaii enakkhhh.”

“Semuaa enakhhh hikss. Awin nda kuathhhh.”

“Mau pipishh.”

Bright yang yang juga sudah ingin sampai pada pelepasannya pun semakin menumbuk brutal. Tumbukan yang belum pernah Metawin rasakan sebelumnya. Sampai benar-benar membuat Metawin mendesah keras karena nikmat yang terlalu banyak.

PLOKKK

CROTTT

Metawin sampai terlebih dahulu dengan tubuh yang sudah terkulai lemas. Membiarkan Bright diatasnya masih asik menyusu dan menumbuk lubangnya kasar. Metawin sudah tak ada tenaga —tersisa hanya untuk mendesah. Itupun tidak bisa sekeras tadi.

Tubuhnya terlonjak-lonjak keatas. Matanya memejam merima nikmat yang tak akan pernah Ia lupakan. Metawin suka.

“Pibaihhh -Ahhh.”

“Sebentar lagi.”

PLAKKK

“Ahh Pibaii.”

“Ketatin lubangnya.”

“G-Gimana, Pib—

PLAKKK

“Ketatin, Awin.”

PLOKKK

PLOKKK

Bright puas untuk yang kali ini. Metawin benar-benar mengetatkan lubangnya. Ini —benar-benar membuat Bright gila.

“Fuck.”

“Enak -Ahh.”

“Pibaihhh.”

Bright memeluk Metawin erat. Mengulum daun telinga sang kekasih, sebelum mengeluarkan benihnya pada lubang berkedut milik Metawin.

“Pibaihhh, Awin lemess -Ahh.”

“Enakhhh Pibaihh. Telinga Awin j-janganhh disedoth.”

“U-Udahh, Pibaihh…Geliih, telinga Awin geli.”

“I’m cum, Sayang.”

PLOKKK

PLOKKK

CROTTTT

Bright terengah usai pelepasan pertamanya. Tujuh semburan sperma berhasil memenuhi lubang sempit Metawin. Bahkan sampai tumpah-tumpah. Tubuhnya terkulai lemas. Sepertinya permainan kali ini terlalu —panas.

“Enakkhh.” ucap Metawin dengan tawa girangnya, padahal jelas nafasnya masih terengah.

“Hm?”

“Lubang Awin hangat, Pibaii.”

“Jangan dikeluarin dulu ya Pibaii kontolnya. Awin masih pengen kaya gini.” celotehnya sembari memeluk erat Bright yang masih menstabilkan nafas diatasnya.

“Kontol Pibaii enakk hihi.”

“Awin suka sekali.”

“Lubang Awin ditusuk-tusuk kaya tadi.”

“Terus dikasih hangat-hangat sama kontol Pibaii.”

“Enak enak enak.”

“Sst Awin, diem dulu sayang. Nafas dulu yang bener ya?” ucap Bright setengah stres.

Kepalanya mendadak pening.

Sejak kapan bayinya menjadi seperti ini, astaga.

Bahkan energi sang tunangan seolah mudah sekali kembali. Padahal dirinya masih berusaha bernafas dengan baik.

Hening sesaat.

Tepat ketika Bright akan bangkit, Metawin justru menahannya.

“Pibaii diem dulu. Lubang Awin masih pengen dimasukin kontol, Pibaii.”

DEG

Heh? Apa Metawin tidak pegal menopang tubuhnya?

Lagipula penisnya sudah tidak bangun.

Bright sudah lelah.

“Aw—

“Pibaii, lubang Awin udah dikasih sperma lagi sama kontolnya Pibaii.”

Bright memejam mendengar kata kotor itu.

“Kalo sekarang perut Awin ada dedeknya nda?”

Astaga.

“Kalo belum ada, kasih sperma lagi dong, Pibaii.”

Sial. Kekasihnya kenapa?!

“Awin udah siap ditusuk-tusuk lagi. Udah nda capek.”

Eh —bukan begitu konsepnya bayiku sayang.

“Awin mau punya dedek bayi hihi. Ayo ngewe lagi, Pibaii.”

Habis sudah riwayat Bright.

Doakan setelah ini Bright tidak jadi gila.

Sampai bertemu lagi.

Bright mau cuci muka —kepalanya pusing.

Babai đź–¤.


Abian meletakkan handuk basah yang baru saja digunakan untuk mengompres Ananta ke dalam baskom yang berisi air hangat. Ia berniat untuk kembali membilasnya sebelum sebuah suara dari yang lebih muda mengintrupsi kegiatannya.

“Om Bian…” lirihnya, sembari meraih ujung kaos Abian untuk digenggam.

“Kenapa, Ata? Pusing ya?” tanya Abian yang langsung memfokuskan diri ke pria manis dihadapannya.

Abian tangkup kedua pipi Ananta dengan lembut dan hati-hati. Ia tatap teduh manik Ananta, berusaha menenangkan yang lebih muda lewat sorot matanya.

“Ata mau sesuatu, hm?” sangat lembut, seolah jika nada bicaranya dinaikkan, Ananta akan kembali terluka.

Yang lebih muda terlihat menggelengkan kepala. Sudut matanya masih terlihat memiliki bekas air mata. Sorot maniknya sendu seolah menyuarakan isi hatinya. Sedangkan air mukanya, terlihat seperti orang yang sedang terluka.

Membuat Abian jadi bertanya-tanya, Apakah Anantanya trauma?

Abian mengusapkan ibu jarinya lembut pada kedua pipi gembil yang lebih muda, seraya bertanya untuk yang kesekian kalinya.

“Kenapa, Sayang? Hm?”

”Om…”

”Iya, Ananta? Kenapa?”

”A-Ata mau peluk.” ucapnya, dengan setetes air mata yang berhasil luruh.

Sukses membuat Abian segera merengkuh tubuh yang lebih muda, lalu mengajaknya untuk masuk kedalam dekapan.

Abian usap surai hitam yang lebih muda, sembari terus menepuk pelan punggung Ananta yang bergetar. Ia biarkan tangis Ananta tumpah pada ceruk leher miliknya.

”Is okay, i’m here, Sayang.”

”I’m here.”

”Om hikss…*”

”Gapapa, kalo mau nangis, nangis sepuasnya. Om Bian bakal temenin, Om Bian bakal peluk Ata sampai tenang. Ya?”

Anggukan pelan diberikan sebagai jawaban. Seiring dengan tubuh keduanya yang kian merapat. Usapan serta tepukan lembut tidak berhenti Abian berikan, sebelum pria didalam dekapnya kembali tenang.

Jujur, ada rasa khawatir jika Ananta mengalami trauma. Tapi ia berharap Ananta kuat, seandainya pria manis yang kini sedang menangis merasa takut dan kaget, gapapa. Wajar.

Tapi Abian memohon untuk tidak menghadirkan trauma yang begitu mendalam.

Karena ia tidak mau pria manisnya terluka.


Cukup lama Abian membiarkan tubuh keduanya saling mendekap erat, hingga tak lama Ananta kembali tenang. Punggung yang semula bergetar, kini berangsur diam. Isak tangis yang tadi memenuhi ruangan pun kini mulai mereda.

Cengkeraman tangan Ananta pada punggungnya juga sudah tidak terlalu kuat. Justru kini berganti dengan usapan abstrak seperti bocah yang sedang digendong oleh orangtuanya.

Membuat Abian yang tadi merasa sangat khawatir, mulai ikut merasakan tenang. Ia usap kembali surai hitam Ananta, sebelum memberi kecup pada puncak kepalanya.

Abian menunduk, mendekatkan ranumnya pada telinga Ananta.

”Udah tenang, Sayang?” anggukan pelan diberikan sebagai jawaban

”Tatap Om sebentar ya? Om mau ngajak ngobrol sedikit. Boleh?”

Awalnya Ananta diam, seperti tidak mau untuk melepas dekapan. Tapi, setelah menimbang-nimbang, Ananta akhirnya mau melepas dekapan dan membiarkan Abian menangkup kedua pipi gembilnya.

Dengan penuh sayang, Abian bersihkan air mata yang membasahi wajah Ananta. Sebelum manik yang lebih muda ia ajak untuk bertemu tatap.

”Ada yang sakit, hm?” gelengan diberikan, dengan bibir yang masih melengkung ke bawah.

”Kepalanya udah ngga pusing?”

”Sedikit…” lirihnya.

”Kerumah sakit mau? Tadi kan baru dibawa ke UKS aja. Mau ya?”

”Kalo besok aja, boleh ngga Om Bian? T-Tadi kan dokter bilang Ata kecapean aja.” lirihnya sembari menunduk.”**

Abian tersenyum sembari mengangguk pelan, ”Boleh, besok Om Bian anterin ya?”

”Huum.”

Suasana hening sempat menyelimuti keduanya sebentar. Abian sebenarnya ingin bertanya, tapi sedikit ragu jika Ananta tidak nyaman. Tapi kalo tidak ditanyakan, Abian justru semakin tidak tenang.

Alhasil, ia coba angkat dagu yang lebih muda.

Netra keduanya bertemu tatap.

Matanya saling menyorot dalam, sarat akan kasih sayang.

Hanyut sebentar dalam tatapan, sebelum Abian mulai mengeluarkan suara.

”Ananta.”

”Iya, Om Bian.”

”Are you okay? Hati Ata masih takut ngga?”

Begitu pertanyaan terlontar, keduanya terjebak dalam keheningan. Air mata terlihat menggenang pada kedua mata yang lebih muda. Bibirnya terlihat bergetar dengan tangan yang mencengkeram selimut dengan kuat.

Abian yang melihat, sudah pasrah dengan jawabannya. Hatinya nyeri, bahkan sebelum tahu apa jawabannya.

Lihatlah, Ananta bahkan menangis lagi karena pertanyaannya.

Ini sudah cukup membuktikan kan? Jika Ananta benar mengalami traum—

”Ata takut hikss…”

DEG

Hati Abian mencelos. Tak kuasa mendengar jawaban yang lebih muda dengan air mata mengalir deras. Bahkan, ia sampai menundukkan wajahnya. Merasa sangat gagal menjaga pria yang ia sayang.

”Tapi hikkss… Sekarang udah ngga takut, soalnya ada Om Bian. Om Bian pasti jagain Ata hikss… J-Jadi hikss… Ata ngga perlu takut. Iya kan, Om Bian?”

Sukses membuat Abian kembali mengangkat wajahnya.

Netranya berusaha mencari kebohongan dari manik cantik Ananta yang tengah diselimuti air mata. Tapi, nihil. Hanya ada sorot jujur dan penuh kasih. Ananta tidak berbohong dengan kalimatnya. Bahkan kini, ia melihat sudut bibir Ananta terangkat, berusaha tersenyum untuk menenangkan dirinya.

Lihat, bahkan Ananta begitu mempercayai Abian. Meskipun berulang kali pria yang lebih tua melakukan kesalahan. Hal itu nyatanya tidak mengurangi sedikitpun pandangan Ananta terhadap Abian.

Seriously, am i worthy?

Abian melihat Ananta menghapus jejak air matanya, sebelum kembali berbicara sembari menggenggam kedua tangan Abian yang semula menangkup lembut kedua pipinya.

”Om Bian khawatir ya sama Ata?” tanyanya dengan senyuman manis. Tentu dibalas anggukan oleh Abian.

Ananta terkekeh bercampur isak, seperti berusaha menghibur diri karena senang diperhatikan. Ia pun menarik nafas panjang, sebelum membawa netranya kembali bertemu tatap.

”Om Bian tau ngga? Waktu Ata tau Om Bian ngga ingkar janji lagi, Ata seneengggg banget.”

”Bahkan tadi waktu lagi diperiksa dokter, sakitnya udah ngga kerasa. Ata cuma bisa ngerasin seneng, karena Om Bian jemput Ata. Meskipun telat hehe.”

”Tapi Ata tau, Om Bian ngga sengaja telat jemput Atanya. Jadi, Ata ngga marah sama, Om Bian.”

Ada jeda sesaat untuk Ananta menghapus air mata yang mengalir tanpa permisi serta menarik nafas panjang karena dadanya sedikit terasa sesak.

”Tadinya, Ata takut. Takutt banget. Ata ngga pernah diperlakukan kaya gitu. Makannya daritadi Ata diem terus.”

”Tapi…

”Om Bian baik, mau kasih pelukan ke Ata. Om Bian peluk Ata sambil bilang sayang. Ata…

”Ata seneng, Om Bian. Hati Ata tenang karena pelukan dan perhatian, Om Bian.” ucapnya, pelan. Dengan mata yang menunduk dan air mata mengalir deras.

”Hehe, maaf ya Om Bian kalo Ata aneh, bisa tenang cuma karena dipeluk sama Om Bian. Tapi, Ata juga ngga tau kenapa bisa kaya gitu.”

”Ata ngerasa, ada dideket Om Bian, ada dipelukan Om Bian, diperhatikan Om Bian, semuanya jadi keliatan aman. Ata ngga ngerasa bakal ada bahaya yang dateng ngehampirin Ata.”

”Ata… Ata percaya sama, Om Bian.”

Berhasil menusuk hati Abian.

Lagi, kekehan pedih terdengar dari ranum yang lebih muda. Terdengar sangat dipaksakan dengan air mata yang mengalir deras.

”Ata sayang sama, Om Bian.”

”Tapi…

”Ata ngga tau, Om Bian masih…

”Om Bian masih sayang Ata atau ngga.”

**”Soalnya tadi, bibir Atau diciu—

”Gue sayang sama lo. Sampai kapanpun, gue sayang sama lo.” potong Abian cepat.

Ia tahu Ananta pasti akan membawa arah pembicaraannya kesini. Untuk itu, Abian segera menggenggam erat tangan keduanya yang sudah saling bertaut erat.

Abian berusaha meyakinkan Ananta lewat tatapannya.

”Gue sayang sama lo, Ananta.” lirihnya, sembari menatap teduh manik Ananta yang masih mengalirkan bulir bening cukup banyak.

”Apapun kondisi dan situasinya, gue tetep sayang sama lo. Apa yang terjadi hari ini, ngga ngurangin value lo sebagai manusia.”

”Dimata gue, lo tetep berharga. Sangat berharga sampai gue takut lo kenapa-kenapa.”

”Jangan mikir yang ngga-ngga ya?” tanya Abian penuh harap.

”Om Bian sayang Ata?” tanya yang lebih muda, dengan sorot mencari kejujuran.

”Gue sayang banget sama lo, Ananta.”

Sukses membuat Ananta menunduk dengan kedua tangan yang langsung menutupi wajah cantiknya.

”Ta—

”Om hikss…. heuu malu hikss…”

Demi Tuhan, Abian tak bisa menyembunyikan senyumnya. Pria manis dihadapannya sangatlah menggemaskan. Ia tahu kalimat itu hanya pengalih dari rasa senang karena jawaban yang diberikan sesuai dengan ekspektasinya.

Ia pun kembali merengkuh tubuh yang lebih muda untuk dibawa masuk ke dalam dekapannya.

”Om hikss…”

”Hm?”

”Sayang hikss… Sayang Ata kan, Om?”

”Sayang banget.”

”O-Om Bian hikss… Ngga jijik kan sama Ata? hikss.”

”Jangan ngomong kaya gitu, gue ngga suka.” ucap Abian pelan, bahkan terdengar sangat lembut.

”Hikss Om Biaaaan… Ata udah hikss takut hikss… Takut Om Bian ngga sayang Ata lagi hikss…”

Sudut bibir Abian terangkat mendengarnya.

”Gue selalu sayang sama lo.”

”Huhu jantung ada jedug-jedug hikss…”

Kekehan tak lagi bisa ditahan oleh belah bibir Abian. Ananta benar-benar menggemaskan sampai pelukannya semakin ia eratkan saking gemasnya.

”K-Kalo sekarang hikss… Boleh pacaran ngga, Om?”

“Hm?”

”Mau pacaran sama Om Bian hikss… Mau pacaran hikss.”

Abian tertawa renyah, sebelum menangkup pipi gembil Ananta dan mengajaknya bertemu tatap.

”Ayo Om Bian hikss… Mau pacaran hikss…”

Hening.

Abian tidak menjawab.

Bahkan hanya menatap dengan senyuman.

Sukses membuat hati Ananta bergegub tidak karuan.

”Om hikss… Boleh pacaran ngga? Hikss…”

Abian mengusap lembut pipi Ananta yang basah oleh air mata. Sebelum ranumnya kembali membuka suara.

”Om hikss… Jawab hikss…”

”Maaf, Om Bian ngga bisa pacaran sama Ata.”

Sukses membuat Ananta terdiam dengan tatapan tidak percaya. Abian terlihat serius dengan ucapannya. Tidak ada kebohongan di pancaran sorot iris kelam yang lebih tua.

Hatinya sakit.

Perasaannya hancur.

Ananta pun menunduk.

Menepis kedua tangan Abian yang berada dikedua pipinya. Lalu berusaha untuk kembali merebah sebelum Abian menahan dengan menyentuh kedua tangannya.

”Om Bian ngga bisa pacaran, bisanya tunangan.”

”Mau tunangan sama Om Bian?”

Mendengarnya, Ananta melemas ditempat.

Rumah Sakit Amara

Apa yang baru saja terlontar dari belah bibir sang putra, tentu membuat Davika sukses menegak. Wajah yang semula terlihat lembut tanpa beban, kini berganti menjadi terkejut dan tak menyangka.

Jika benar apa yang dikatakan Ananta, maka KTP sudah keterlaluan. Ini sudah bukan perkara suka tidak suka, atau kenakalan remaja biasa.

Rencana mencelakai? Tindakan kriminal kan?

Davika tentu langsung menggenggam kedua tangan Ananta agar sang putra mau kembali menceritakan hal yang disimpan rapat sendirian. Karena untuk yang ini, Davika harus tau, apalagi Abian.

”Sayan—

”Bunda maaf karena Ata ngga cerita,” lirihnya, dengan wajah menunduk dan sorot mata yang terlihat sendu.

”Ata cuma mikir, kalo Ata minta maaf duluan, KTP ngga sakit hati lagi terus rencana sama Mas Iannya batal.”

”Makannya Ata selalu maksa Om Bian untuk minta maaf. Kalaupun Om Bian ngga mau, Ata selalu berusaha sendirian, karena Ata ngga mau Om Bian kenapa-kenapa.”

”Kata bunda, jaman sekarang orang kalo sakit hati bisa bertindak melampaui batas. Ata takut KTP sakit hatinya banyak terus ngelukain Om Biannya banyak.”

”Lagipula minta maaf duluan ngga selalu karena kita yang salah kan bunda?”

”Ata… Ata cuma ngga mau Om Bian kenapa-kenapa.”

”Ata ngga tau kalo cara yang Ata pake justru bikin Om Bian marah. Tapi niat Ata ngga belain KTP bunda. Ata minta maaf.”

Davika langsung menggeleng cepat, lalu menangkup kedua pipi putra satu-satunya agar mau menatap ke arahnya.

”Sayang, Ata kenapa ngga cerita sama Om Bian? Kenapa ngga jelasin yang sebenarnya, hm?”

”Ata takut Om Bian semakin marah, terus malah kasar lagi ke KTP kaya waktu itu. Nanti kalo Om Bian bikin KTP sakit hati lagi, Ata takut KTP makin berbuat jahat.”

Mendengarnya, Davika menghela nafas berat. Ia pun menarik sang putra untuk masuk ke dalam dekapnya. Rasa takut jika putranya kembali dilukai, semakin bertambah besar. Davika tidak mau berlian satu-satunya harus dirusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Sama sekali tidak mau.

“Sayang, anak bunda. Sekarang Ata ngerti kan nak kenapa bunda kurang suka sama temen-temen Ata?”

”Sekarang Ata paham kan nak kekhawatiran bunda?”

”Paham bunda, Ata minta maaf.”

Davika mengangguk cepat, sembari mengecupi puncak kepala sang putra. Ia tangkup kembali kedua pipi Ananta, sembari diusap penuh sayang dengan sorot mata khawatir dan teduh menenangkan.

”Kalo gitu sekarang berhenti ngejar KTP ya? Berhenti untuk minta maaf ke KTP. Ya? Kalo Ata khawatir sama Om Bian, cerita sama Om Bian, kasih tau semuanya. Biar Om Bian bisa jaga diri, ya?”

”Tapi kalo Om Bian tambah marah gimana?”

”Kalo gitu Ata jelasin ke Om Bian kalo Ata ngga mau Om Bian gegabah. Ata ceritain semua yang Ata takutin selama ini. Biar Om Bian paham, biar Om Bian tau maksud Ata apa.”

”Kalo Ata simpen semuanya sendirian, Om Bian ngga akan paham, Sayang.”

”Ya? Mau Ata cerita sama Om Bian?”

”Mau. Tapi, bunda…

”Kenapa nak? Hm?”

”Om Bian lagi marah sama Ata. Tadi Ata ditinggalin lagi sama Om Bian, Om Bian ngga mau ketemu Ata.”

”Cara Ata ngasih taunya gimana bunda? Om Bian udah marah banget ke Ata.”

”Om Bian pasti ngga mau bales chat Ata…”

Mendengarnya, pria bertubuh tinggi yang berada di dekat pintu kamar Ananta, sontak memejam rapat. Kedua tangannya mengepal kuat, dengan ponsel yang tak lagi terhubung dengan panggilan suara. 
Emosinya kembali memuncak, tapi diiringi dengan rasa bersalah karena tak bisa lebih baik lagi berbicara dengan Ananta.

”Emang brengsek lo KTP.” batinnya, dengan rasa kesal yang tak lagi dapat dibendung dalam hatinya.

Setelah menarik nafas panjang dan yakin jika keputusannya tepat. Abian pun langsung memilih untuk membawa tungkainya, menemui dua manusia yang masih saling berbincang lekat.

CKLEK

”Om Bian…”

”Ceritain ke gue semuanya, Ta. Gue mau tau dan gue perlu tau.”

TING NONG!

KTP mendecak sebal ketika mendengar bel apartemen nya terus-terusan dibunyikan. Pasalnya, KTP benar-benar merasa lemas tidak karuan. Bahkan, saat ini dirinya sedang terbaring lemas seperti tidak memiliki tulang. 
Belum lagi kepalanya yang terasa sangat pusing dengan rasa mual yang belum menghilang. Sukses membuat KTP kesal bukan main tapi di satu sisi, ingin menangis karena tak tahan.

Ia pun akhirnya mencoba bangkit guna mencari tahu siapa yang datang di pagi buta seperti ini. Tidak tahukah kalau ini jam istirahat? Bisa-bisanya bertamu sepagi ini!

Dengan langkah gontai, KTP mendekati pintu apartementnya.

CKLEK

”KTP.”

”Mas Brian?”

Brian mengangguk, dengan wajah khawatir dan peluh yang sedikit membasahi pelipisnya. Sepertinya pria itu berlari dari lantai satu, karena apartementnya berada di lantai empat.

”Ngapain kesin—

”Are you okay?”

”Ngga usah sok peduli!”

”Saya beneran peduli. Saya minta maaf tentang pertanyaan saya yang tadi. Ya?” ucapnya terdengar tulus, dengan sorot khawatir yang terpancar jelas di manik hitamnya.

”Okay gapapa. Gapapa kalo kamu mau marah ke saya. Tapi izinin saya masuk ya? Muka kamu pucet dan badan kamu lemes kaya gitu. Saya temenin, ya?”

KTP memutar bola mata malas. Jujur ia masih sangat sebal dengan pria di hadapannya. Tapi, bagaimana tubuhnya terasa begitu ringkih dan lemas, membuat KTP akhirnya memilih untuk mengizinkan. Dirinya tak sanggup jika nanti ada sesuatu yang terjadi tapi tak ada satupun orang yang akan menolongnya.

Lagipula Brian baik, KTP percaya itu.

”Boleh ya?” tanya Brian sekali lagi.

KTP