📍Apartement Bright | 01:00 WIB
CUP
CUP
CUP
“Eungh…” Bright menggerakan kepalanya ke kanan dan kiri, merasa terganggu dengan aktivitas yang tengah dilakukan pada tubuhnya. Lagipula sudah jam berapa ini? Dini hari bukan? Tubuh Bright rasanya masih sangat lelah, bekerja seharian, menghadiri meeting yang tak ada henti semenjak seminggu terakhir. Keinginannya saat ini hanyalah tidur dengan tenang tanpa diganggu oleh siapapun.
SLURRPP
“Ah.” Bright tersentak kala merasakan kejantanannya dihisap begitu kuat. Tunggu —siapa pula yang berani menyentuh kejantanannya. Bukankah Metawin sedang tidur disamp—
“Astaga Awin.”
“Kamu ngapain, Sayang.”
Cup
“Awin abis sedot dedek Pibaii. Lihat, tadi dedek Pibaii nda bangun, sekarang jadi bangun hihihi.” ucapnya polos tanpa merasa bersalah sedikitpun. Bahkan wajahnya kini menampilkan senyum manis bak anak kecil yang baru saja kepergok memakan permen.
Sungguh, jika dirinya tidak lelah mungkin Bright sudah dengan sigap mencubit kencang kedua pipi gembil Metawin yang kini terlihat semakin chubby dengan dua gigi kelincinya yang menyembul lucu.
“Awin kamu ngapain astaga, udah sini tidur lagi. Masih jam satu, Sayang.” ucap Bright sembari membenarkan celananya yang tadi dibuka oleh Metawin. Tak lupa Ia tarik tunangannya untuk masuk ke dalam dekapannya. Malam ini Bright tidak memiliki gairah untuk melakukan apapun, Ia hanya ingin tidur.
Dengan posisi tidur menyamping, tangan kanan yang digunakan untuk bantalan kepala Metawin serta tangan kirinya yang dengan erat memeluk pinggang ramping sang tunangan. Bright membiarkan pria itu memainkan pipinya. Yang penting diam dan tidak merengek.
“Pibaii…” panggil Metawin sembari mengelus pipi yang lebih tua.
“Hm…” jawab Bright tentu dengan mata yang sudah sempurna memejam.
“Awin nda bisa bobo.”
“Merem coba.”
“Nda bisa. Pibaii lihat dedek Awin bangun. Awin nda bisa bobo, Pibaii. Awin sedot dedek Pibaii aja ya?” ucap Metawin dengan semangat yang entah darimana asalnya. Bahkan pria manis itu sudah hampir melepas kembali celana yang Bright kenakan.
“Hei Awin, Sayang. Sini-sini. Pibaii boboin aja dedek Awinnya. Sini.” ucap Bright sigap sembari menahan sang tunangan untuk kembali memainkan kejantanannya.
Bright berusaha bersabar, mungkin memang tunangannya sedang menginginkan hal itu. Maka, biarlah Ia bantu Metawin keluar sekali. Setelah itu? Tentu tidur. Bright lelah —Bright ingin tidur.
Dengan mata yang masih memejam, Bright mulai meraba kemaluan sang kekasih. Oh benar —Metawin sedang ereksi hebat. Tangannya menerobos masuk pada celana yang digunakan Metawin hingga kulit tangannya berhasil menyentuh penis Metawin yang ternyata sudah basah oleh precum.
Eh? Berapa lama pria manisnya bermain dengan penisnya tadi. Mengapa milik Metawin sudah banjir seperti ini?
“Ahh Pibaii…”
Tubuh Metawin yang semula menghadap kearah Bright, kini sudah berpindah menjadi telentang. Bermaksud memudahkan Bright yang kini tengah memijat lembut penisnya.
Bright terus memijat penis Metawin, mengurutnya dari atas-kebawah. Sesekali jempolnya Ia gunakan untuk mengusap sensual kepala penis sang tunangan yang tentu saja membuat tubuh Metawin menggelinjang tak karuan.
“AAHH PIBAII J-JANGAN ENAKH ENAKHH.”
“Hm?”
Tubuh Metawin terus bergerak kekanan dan kekiri, menyalurkan rasa nikmat yang tengah Bright berikan. Hingga tak sadar lututnya menendang pelan kemaluan Bright. Apakah Bright merasakan sakit? Tentu tidak. Tendangan tak sengaja itu justru membuat mata Bright yang tadi memejam menjadi terbuka lantaran sengatan listrik yang tiba-tiba masuk kedalam tubuhnya.
“Ahh Pibaiihh mmau dicepetinn hh…”
“Awinn -Ahh mau pipiss…”
Bright mempercepat tempo pergerakan tangannya, hingga dirasa penis Metawin semakin membesar. Hingga tak lama, Ia merasa ada cairan hangat yang membasahi tangannya.
“AHHH PIBAIIHHH.”
CROT
Tubuh Metawin menegang selepas orgasme nya yang pertama, nafasnya bahkan masih memburu. Peluh membasahi kening dan lehernya. Namun, satu yang sebenarnya sedang Bright khawatirkan saat ini.
Penis Metawin —masih bangun.
Tetapi tetap. Bright akan teguh akan pendiriannya. Kali ini Ia tidak akan melakukan lebih. Tidur. Bright mau tidur.
“Pibaii hhh.” panggil Metawin dengan nafas yang masih terengah.
“Hm?”
“Mau lagihh.” rengeknya sembari menggoyangkan lengan Bright, lantaran pria itu justru kembali memejamkan matanya.
“Tidur, Sayang.”
“Nda mau. Awin mau lagi. Pibaii mau lagi.” rengeknya semakin heboh.
“Pibaiiiiii…”
“Pibaii nanti Awin nangis nih.” rengeknya setengah kesal yang tak kunjung mendapat jawaban dari yang lebih tua.
Merasa dicueki, Metawin pun dengan sigap mendorong tubuh Bright agar posisinya telentang. Dan kemudian—
BRUKKK
“Awin astaga ngapain?”
“Pibaii, lubang Awin gatel Pibaii.”
“Pibaii tusuk-tusuk lubang Awin ya, Pibaii.”
“Pibaii AAAAA Awin mau banget ditusuk sekarang.”
DEG
Apa Bright kaget? Tentu saja kaget!
Ini pertama kalinya Metawin berani meminta seks kepada Bright. Oh jangan lupakan —Bright bahkan tak memancing sama sekali. Ini benar-benar permintaan Metawin.
Bright melongo sesaat dengan permintaan Metawin barusan. Hingga Ia disadarkan dengan gesekan yang cukup terburu-buru oleh pria diatasnya.
“Ah— Awin.”
“Pibaii gimana biar enak, Pibaii?” tanya Metawin dengan nafas yang tergesa pun gerak tubuh yang terkesan brutal.
Membuat Bright tak ayal merasa ngilu lantaran gesekannya tak beraturan. Ia pun dengan cekatan bangkit untuk duduk. Tak lupa memegang punggung sang tunangan agar tak terjatuh dari pangkuannya.
“Awin stop dulu -Ah. Ngilu, Sayang.”
“Pibaii kok nda enak ya? Awin lagi pengen yang enak kaya waktu itu, Pibaii.”
“Boleh kan, Pibaii?”
“Boleh ya? Sekali aja Awin janji. Ya Pibaii ya?” rengek Metawin tiada henti.
Membuat Bright yang bisa dibilang sudah tidak mengantuk pun bingung. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lantas kembali menatap pria manis dihadapannya yang tengah menatap dengan binar penuh harap akan permintaannya.
“Hei, lihat Pibaii dulu.” titah Bright sembari menangkup wajah yang lebih muda.
“Iya Pibaii, ini Awin tatap, Pibaii.” jawab Metawin patuh dan —sangat lucu.
“Awin kenapa kok minta kaya gitu?”
“Emang nya nda boleh ya, Pibaii?”
“Bukan ngga boleh, Sayang. Tapi kan Awin ngga pernah minta kaya gini sebelumnya. Kenapa tiba-tiba minta? Awin abis lihat sesuatu?” tanya Bright pelan, sembari mengusap lembut punggung Metawin.
“T-Tapi Pibaii janji ya nda marah sama, Awin?” cicit Metawin sembari memainkan kerah piyama yang tengah digunakan Bright.
“Janji.”
Mendengar Bright sudah berjanji, Metawin pun bangkit untuk mengambil sesuatu dimeja nakas.
Oh—mengambil ponsel.
Eh? Ponsel Bright?
Dengan cengiran yang tak henti-hentinya bertengger di ranum cantik sang tunangan, Metawin kembali kedalam pangkuan Bright.
Bright mengernyitkan dahinya kala memperhatikan Metawin dengan lincah menyentuh layar pintar pada ponsel miliknya. Ya memang —semenjak keduanya resmi bertunangan, Bright membiarkan Metawin tahu sandi ponselnya. Toh tidak ada yang perlu ditutupi juga.
Lagipula Metawin biasanya tetap akan meminta izin padanya jika akan menggunakan ponselnya. Tapi kali ini…sepertinya Bright kecolongan.
Setelah selesai mengotak-atik isi ponsel Bright, Metawin dengan mata berbinar pun menunjukkan apa yang Ia lihat diponsel miliknya. Dan—
“Awin lihat ada video orang lagi ngewe dihp, Pibaii. Eh—
“Pibaii bener kan namanya ngewe? Awin lupa. Soalnya orang yang di video bilangnya ngentot.”
Sial.
Belum selesai Bright terkejut karena kepergok menyimpan video tak senonoh, Metawin kembali membuat serangan pada jantungnya dengan mengatakan kata kotor. Apa tadi? N—Ngentot?
“Pibaii, kenapa mas mas yang di video pake baju lucu kaya kucing. Awin boleh pake kaya gitu juga nda, Pibaii?”
“Belinya dimana, Pibaii?”
Fuck.
Cepat buat Metawin diam atau pikirannya semakin berkelana liar mendengar celotehan Metawin yang justru berhasil membuat libido Bright meningkat.
“Aduh kok Awin banyak ngomong ya, Pibaii.”
“Yaudah ayo Pibaii kita ngewe. Awin masih pengen ditusuk-tusuk. Ayo Pibaii ngewe. Awin mau ngewe.” pinta Metawin heboh sembari menggerakkan kembali kejantanannya yang kini kembali mengeras. Oh—tapi kali ini tidak hanya miliknya saja. Melainkan—
“Yeay dedek Pibaii udah bangun lagi. Ayo Pibaii tusuk-tusuk lubang Awin. Biar enak kaya waktu itu.” celotehnya penuh semangat tanpa menyadari ada pria yang tengah mengatur kewarasannya.
“Awin, beneran mau ngewe?”
“Mau Pibaii mau. Ayo ngewe.”
“Ayo Pibaii, nanti Awin sedot dedek Pibaii. Eh—
“Awin lupa. Kalo lagi ngewe bilangnya kontol ya, Pibaii.”
“Ayo Pibaii tusuk lubang Awin pake kontol.”
“Bener nda, Pibaii?”
“Awin mau ditusuk lubangnya pak—
“Fuck, Metawin.”
BRUKKK
CUPP
Kelemahan Bright hanya satu —celotehan Metawin yang terdengar begitu kotor ditelinganya. Jika tadi Ia bisa menahan kala Metawin bermain dengan penisnya. Maka, jangan harap Bright akan tetap menahan diri kala sudah mendengar segala ucapan kotor dari belah bibir sang tunangan.
Dengan nafsu yang sudah memburu, Bright meraup rakus bibir sintal Metawin. Ia kungkung se-intim mungkin hingga tubuhnya kini tak berjarak sama sekali.
Ia lumat basah bibir yang sedari tadi berisik meminta untuk disetubuhi, pun Ia jelajahi segala isi dari rongga mulut Metawin yang tak pernah bosan untuk Ia jamah dan habisi.
“Eummphh.” desahan Metawin lolos.
Membuat Bright semakin memiringkan kepalanya, guna memperdalam pagutan panas yang kini tengah terjadi antara bibirnya dengan ranum sintal Metawin.
CUP
CUP
CUP
Bunyi kecipak pun menggelegar didalam kamar bernuansa hitam yang cukup besar. Seolah ikut meramaikan betapa panasnya pagutan mereka.
“Mmphh Pibaihh.”
“Udahh mmphh.”
Bright tahu Metawin sudah kehabisan nafas, namun dirinya masih belum mau menyudahi lumatan yang entah mengapa malam ini terasa —sangat nikmat.
Yang Ia lakukan hanya mengurangi tempo, supaya Metawin bisa bernafas melalui hidung.
“Nafas lewat hidung.”
CUP
Setelah mengatakannya, Bright kembali mencumbu Metawin. Namun, kali ini tangannya tak tinggal diam. Dengan cekatan, Ia lucuti satu persatu pakaian Metawin hingga tubuhnya kini —polos tanpa sehelai benang.
CUP
Bright menyudahi cumbuannya, dan langsung beralih ke leher jenjang milik Metawin. Ia kecup kemudian Ia hisap guna memberikan tanda kepemilikannya sebagai bukti bahwa hanya dirinya yang boleh menjamah Metawin.
SLURRPP
“Ahh Pibaihh…Awinn mauh -Ahh nafashh duluu.” keluh Metawin kala dirinya tak diberi izin untuk bernafas seusai pagutan panas yang dilakukan Bright padanya.
SLURRPP
CUP
“Ahh enakkh…Pibaiihh enakkh…Lehernyaa lagihh.”
Bright menurut. Ia kembali menjamah leher Metawin. Menghisapnya, menciumnya, menjilatnya —hingga tanda kemerahan kini memenuhi seluruh leher pria manis yang terengah dibawahnya. Lengkap dengan kilat basah akibat salivanya.
CUP
Bright bangkit untuk menatap Metawin. Oh—sangat kacau. Sial. Ia yang membuat kacau. Ia sendiri yang kelabakan.
Lihatlah, mata sayu, bibir bengkak, mulut terbuka, dengan leher yang penuh akan tanda darinya. Sungguh membuat kewarasan Bright hilang entah kemana.
“Pibaiihh kenapahh nda pelannh?”
“Awinh hh engaapp.” keluhnya dengan nafas yang masih terengah.
“Tapi enak?”
“Enakk, Pibaii.”
“Angkat kakinya, Sayang.”
“Pibaii, susu Awin nda disedot?” tanya Metawin lucu kala melihat Bright sepertinya akan memberikan —rimming.
Bright tersenyum miring, tunangannya sudah pandai meminta.
“Mau susunya atau lubangnya yang disedot, hm?” tanyanya sembari mengelus lubang berkedut milik Metawin dengan jarinya —bermaksud menggoda.
“Shh Ahh Pibaii gatel.”
“Hm? Pibaii nanya, mau susunya apa lubangnya?” semakin Bright bertanya —semakin lihai pula jemarinya menggoda lubang sang tunangan.
Metawin? Tentu kelabakan.
“Ahh Pibaiihh, j-jangannhh dielus-elus lubangnyahh.”
“Eung gatell -Ahh… Mau ditusuk ajahh.”
“Kok ditusuk? Kan Pibaii nawarinnya sedot, Sayang?” memang dasar Bright, hobi menggoda bayi kesayangannya.
“Ahhh Pibaiih, sedot lubang Awin, gat— AHH
SLURRPP
Tanpa aba-aba, Bright langsung memberikan rimming pada Metawin. Memainkan lidahnya dengan lihai disana, keluar-masuk menggoda lubang hangat Metawin yang sudah lama tak Ia jamah.
Oh —sempit.
SLURRPP
“AHH ENAKHH, PIBAIIHH LIDAHNYA AHH.”
Bright dapat merasakan Metawin mendorong kepalanya —bermaksud untuk memerintahkan Bright memasukkan lidahnya lebih dalam. Maka dengan senang hati Bright turuti kemauannya.
Tangannya terangkat untuk meremas dada padat milik Metawin, jarinya dengan lihai memilin, memutar, memijat lembut puting pink milik sang tunangan yang sudah mengeras hebat.
Diberi stimulus seperti ini tentu Metawin kelojotan. Tubuhnya bergerak gusar. Tangannya sibuk meremas rambut Bright. Kepalanya mendongak dengan mulut yang sedikit terbuka lengkap dengan desahan laknat yang terus terdengar.
“AHH ENAKKH HIKSS.”
“ENAKHH BANGETT HIKSS PIBAIIHH ENAKKHH.”
“LUBANG AWINNH KEENAKANN AHH.”
“PIBAIIHH MMAU PIPIS…”
“AWIN MAU PIPISS —AHHH
CROTT
CROTT
Metawin sampai pada pelepasan keduanya. Tubuhnya menegang. Cairan putihnya sedikit mengotori rambut Bright dan sisanya mengenai perutnya sendiri.
Bright bangkit.
Bermaksud memandangi sang kekasih yang kini terlihat sedikit tepar dengan nafas terengah.
Bright suka melihat Metawin takluk dibawah dominasinya.
Seperti sekarang —kala tubuhnya kembali merapat pada Metawin dengan kedua kaki sang tunangan yang diangkat keatas bahunya. Oh —gaya missionary.
Bright memperhatikan dari dekat wajah sang kekasih yang masih terengah, sebuah senyuman tulus pun tersungging. Ia bawa jemarinya untuk merapihkan beberapa anak rambut Metawin yang mengganggu penglihatan.
“Capek, Sayang?” tanya Bright lembut.
“Capek, Pibaii.” lirihnya sembari membawa kedua tangannya untuk melingkar manis pada leher jenjang milik Bright.
“Pibaii kok nda buka baju? Kenapa yang telanjang Awin aja?” tanyanya kala mendapati Bright masih lengkap dengan pakaiannya.
“Bukain, hm?”
Metawin mengangguk, tangannya mulai membuka kancing piyama Bright satu persatu, hingga menarik seluruh celana yang digunakan pria yang lebih tua.
Keduanya polos tanpa sehelai benang.
Bright kembali merapatkan tubuhnya pada Metawin. Menggesekkan penisnya pada lubang yang sedari tadi sudah ingin Ia terkam. Membuat si empu-nya kembali berceloteh gatal.
“Ahh Pibaii…”
“Hm?”
“G-Gatel…Lubang Awin -Ahh jangan digesek-gesek.”
“Maunya diapain?”
“Ditusuk kaya waktu itu sampe Awin keenakan, Pibaii.”
“Ditusuk gimana, hm?”
“Ahh aduhh Pibaii lubang Awin beneran gatel, j-jangan digesek-gesek.” rengeknya kala lubangnya terus saja digoda oleh penis sang tunangan.
“Mau diapain? Bilang dulu yang bener.” huh, Bright sepertinya sedang ingin mendengar Metawin berbicara kotor.
“Mau diewe. Mau ditusuk-tusuk pake kontol.” ucapnya polos —sesuai dengan apa yang Bright pernah ajarkan padanya.
CUP
“Pibaii ayoo, cium pipi Awin nya nanti ajaa.”
CUP
“Pibaii, Awin nda kuat. Pengen ditusuk.”
CUP
“Pibaii ish ayo ewe-in Awin.”
JLEBB
“AHHH.”
Tanpa aba-aba, Bright memasukkan dalam sekali hentak penisnya dalam lubang sempit Metawin. Membuat pria dibawahnya tentu meringis kesakitan. Tangan Metawin bergerak untuk mencengkeram bahu Bright, melampiaskan rasa sakit yang baru saja dirasakan tubuh bagian bawahnya.
“P-Pibaii hikss…Kenapa sakit hikss….”
“Sedot bibir Pibaii sini, Sayang. Biar ngga sakit.”
Bright melumat kembali ranum yang sudah membengkak. Tangannya pun tak tinggal diam. Ia mainkan kedua puting tegang milik Metawin guna mengalihkan rasa sakit yang tengah pria manis itu rasakan.
Bright sengaja melakukannya dalam sekali hentak, supaya rasa sakit yang dirasakan Metawin sebentar.
Seperti sekarang —lihatlah.
Pria manisnya sudah lebih rileks, bahkan pinggulnya sedikit bergoyang sendiri.
CUP
Bright menyudahi lumatannya —dan beralih menatap mata sayu Metawin yang basah akibat air mata.
“Pibaii, kontolnya besar. Lebih besar dari kemarin. Lubang -Awin nda muat.” celotehnya dengan isak tangis yang masih terdengar sedikit.
“Makin gede makin enak, Sayang.”
“Nda. Ini sakit. Nda enak.”
“Kalo ini enak ngga?”
BLESS
“AHHH PIBAII.”
“Enak, Sayang?” tanya Bright dengan seringainya. Puas melihat wajah keenakan Metawin padahal baru Ia tumbuk sekali.
“L-Lagih. Pibaii tusuk lagih.”
“Minta dulu pake kata-kata kotornya, Sayang.”
“Lubang Awin pengen di masukin kontol, Pibaii.”
“Ayo Pibaii tusuk-tusuk.”
“U-Udah…Udah Awin lebarin kakinya. Biar kontol Pibaii muat masuk lubang Awin.”
“Pibaii hikss nda kuat pengen ditusuk kontol, Pibaii.”
“Fuck.”
JLEBBB
AHHH
PLOKKK
PLOKKK
PLOKKK
“AAHHH ENAKKHH BANGETT HIKSS.”
Bright menghujam lubang kekasihnya dengan tempo yang langsung cepat. Maju-mundur, keluar-masuk, tepat mengenai prostat sang tunangan. Membuat Metawin kelojotan dibawahnya. Desahan nya pun semakin keras tak terkendali. Metawin selalu seperti ini —kewalahan jika diberi nikmat terlalu banyak.
“Ahh Pibaii…D-Dalem bangethh Ahh.”
“Enak -Ahh kamu, Sayang.”
Kali ini Bright ikut terlena dengan jepitan kuat dari lubang sang kekasih. Satu bulan tak dijamah semenjak first time mereka —lubang Metawin bisa menjadi sesempit ini. Menbuat penisnya benar-benar dimanjakan dengan cengkraman lubang hangat Metawin yang benar-benar memabukan.
PLOKKK
PLOKKK
PLOKKK
“Pibaiihh mmau pipiss -Ahh.”
“Keluarin, Sayang.”
“J-Janganh ditusuk duluhh -Ahh.”
JLEBBB
“AHHHH”
CROTTT
Metawin sampai pada pelepasannya yang ketiga. Namun, dasar Bright. Belum selesai cairan itu keluar dari penis Metawin, dengan lihainya Ia langsung menumbuk kembali lubang sang kekasih tanpa jeda.
PLOKKK
“Pibaihh nantihh Ahh…”
“Nantihh duluhh.”
“A-Awin pipiss duluhh…”
“PIBAIHH STOPPH DULUH.”
“AHH NANTIHH TUSUK-TUSUK LAGIHH.”
JLEBBB
“Ahh.”
Bright menyeringai menatap Metawin yang sangat kewalahan dibawahnya. Dengan penis yang masih berusaha mengeluarkan cairannya.
“Pibaihh, sabar -Ahh jangan digerakin dulu.”
“L-Lubang Awin nda kemana-mana, nanti Pibaii boleh tusuk-tusuk lagi.” lirihnya dengan nafas yang masih terengah.
Sambil memberi jeda pada Metawin, Bright memilih menghisap puting yang sedari tadi hanya dimainkan oleh jarinya —tanpa melepas penyatuan keduanya.
SLURRPP
“AHHH PIBAII.”
Metawin sangatlah sensitif. Apalagi setelah orgasmenya yang ketiga, disentuh putingnya saja Ia menggelinjang, apalagi ini dihisap.
Metawin yang seperti ini adalah favorite Bright, sensitif dan penuh desah. Suka —Bright sangat menyukainya.
Merasa sang tunangan sudah bisa melanjutkan kegiatannya, Ia pun kembali bergerak —namun dengan tempo lambat.
Berniat —menggoda.
BLESS
Bright memaju-mundurkan penisnya dengan lambat. Membuat prostat Metawin hanya kesenggol saja. Tidak sepenuhnya menabrak.
Hal ini tentu membuat Metawin gregetan. Ia bahkan mencoba menggerakkan sendiri pinggulnya supaya penis Bright bisa kembali menubruk prostatnya.
“Kenapa, kok gerak sendiri?” tanya Bright pura-pura tidak tahu.
Metawin membawa tangannya untuk menumpu pada bahu Bright, “Pibaii nda kena yang didalem, ini cuma kesenggol.” rengeknya.
“Masa sih?”
“I-Iyah Pibaii…Nda kena yang enak-enak itu”
“Pibaiih lubangnya jadi gatel banget huhu.” keluhnya lagi.
“Awin udah lebarin kakinya, Pibaii coba lagi yang kenceng. Awin mau yang enak.”
“Ini enak, Sayang.”
“Nda, lubang Awin gatel -Ahh. Gatel, nda kena. Pibaii kurang dalem.” ucapnya terdengar sedikit frustasi.
Bright yang puas pun menyeringai, melihat Metawin meminta dibawahnya membuat libido Bright meningkat. Penisnya masih dengan lambat keluar-masuk ke lubang Metawin.
Menikmati pijatan ketat yang disuguhkan lubang hangat sang kekasih, tanpa peduli ada Metawin yang sudah tak tahan ingin ditumbuk sekeras mungkin.
“Pibaiihh tolongin Awin, nda kuath hikss.”
“Mau ditusuk kaya tadii -Ahh.”
“Kontol Pibaii kenapa -Ahh.”
“Ayo Pibaii yang keras. Jangan pelan-pelan, gatel jad—
JLEBBB
AHHH
“Awin bawel.”
Tepat setelah mengatakan itu, Bright bawa kedua tangan Metawin untuk Ia letakkan disisi kanan dan kiri —bermaksud mengunci pergerakan sang kekasih.
Lalu dengan liar, mulai menumbuk brutal lubang hangat yang selalu menjadi candu bagi Bright. Menubruk telak pada prostat Metawin. Sampai membuat sang kekasih terkencing-kencing dibawahnya.
PLOKKK
PLOKKK
PLOKKK
CROOTTTT
Bukan. Itu bukan pelepasan Metawin —melainkan air kencing yang keluar karena pria manisnya kewalahan menerima kenikmatan yang tengah diberikan Bright.
“AHHH ENAKHH HIKSSS.”
“KONTOL PIBAIHHH -AHH.”
“AWIN PIPISS HUHU.”
“Keenakan sampe pipis huh?”
JLEBBB
“Iyaahh enakkhh -Ahh. Kontol Pibaii enakkhh.”
“Pibaihh lepasin tangan -Ahh Awin.”
“Awin pengen pegangan ke spreii.”
PLOKKK
PLOKKK
“AHHH J-Jangan dipegangin tangan Awin.”
“Nda kuatthhh.”
“Fuck enak banget, Sayang.”
“Iyahh enakk. Lubang Awin enak, Kontol Pibaii enakkhhh.”
“Semuaa enakhhh hikss. Awin nda kuathhhh.”
“Mau pipishh.”
Bright yang yang juga sudah ingin sampai pada pelepasannya pun semakin menumbuk brutal. Tumbukan yang belum pernah Metawin rasakan sebelumnya. Sampai benar-benar membuat Metawin mendesah keras karena nikmat yang terlalu banyak.
PLOKKK
CROTTT
Metawin sampai terlebih dahulu dengan tubuh yang sudah terkulai lemas. Membiarkan Bright diatasnya masih asik menyusu dan menumbuk lubangnya kasar. Metawin sudah tak ada tenaga —tersisa hanya untuk mendesah. Itupun tidak bisa sekeras tadi.
Tubuhnya terlonjak-lonjak keatas. Matanya memejam merima nikmat yang tak akan pernah Ia lupakan. Metawin suka.
“Pibaihhh -Ahhh.”
“Sebentar lagi.”
PLAKKK
“Ahh Pibaii.”
“Ketatin lubangnya.”
“G-Gimana, Pib—
PLAKKK
“Ketatin, Awin.”
PLOKKK
PLOKKK
Bright puas untuk yang kali ini. Metawin benar-benar mengetatkan lubangnya. Ini —benar-benar membuat Bright gila.
“Fuck.”
“Enak -Ahh.”
“Pibaihhh.”
Bright memeluk Metawin erat. Mengulum daun telinga sang kekasih, sebelum mengeluarkan benihnya pada lubang berkedut milik Metawin.
“Pibaihhh, Awin lemess -Ahh.”
“Enakhhh Pibaihh. Telinga Awin j-janganhh disedoth.”
“U-Udahh, Pibaihh…Geliih, telinga Awin geli.”
“I’m cum, Sayang.”
PLOKKK
PLOKKK
CROTTTT
Bright terengah usai pelepasan pertamanya. Tujuh semburan sperma berhasil memenuhi lubang sempit Metawin. Bahkan sampai tumpah-tumpah. Tubuhnya terkulai lemas. Sepertinya permainan kali ini terlalu —panas.
“Enakkhh.” ucap Metawin dengan tawa girangnya, padahal jelas nafasnya masih terengah.
“Hm?”
“Lubang Awin hangat, Pibaii.”
“Jangan dikeluarin dulu ya Pibaii kontolnya. Awin masih pengen kaya gini.” celotehnya sembari memeluk erat Bright yang masih menstabilkan nafas diatasnya.
“Kontol Pibaii enakk hihi.”
“Awin suka sekali.”
“Lubang Awin ditusuk-tusuk kaya tadi.”
“Terus dikasih hangat-hangat sama kontol Pibaii.”
“Enak enak enak.”
“Sst Awin, diem dulu sayang. Nafas dulu yang bener ya?” ucap Bright setengah stres.
Kepalanya mendadak pening.
Sejak kapan bayinya menjadi seperti ini, astaga.
Bahkan energi sang tunangan seolah mudah sekali kembali. Padahal dirinya masih berusaha bernafas dengan baik.
Hening sesaat.
Tepat ketika Bright akan bangkit, Metawin justru menahannya.
“Pibaii diem dulu. Lubang Awin masih pengen dimasukin kontol, Pibaii.”
DEG
Heh? Apa Metawin tidak pegal menopang tubuhnya?
Lagipula penisnya sudah tidak bangun.
Bright sudah lelah.
“Aw—
“Pibaii, lubang Awin udah dikasih sperma lagi sama kontolnya Pibaii.”
Bright memejam mendengar kata kotor itu.
“Kalo sekarang perut Awin ada dedeknya nda?”
Astaga.
“Kalo belum ada, kasih sperma lagi dong, Pibaii.”
Sial. Kekasihnya kenapa?!
“Awin udah siap ditusuk-tusuk lagi. Udah nda capek.”
Eh —bukan begitu konsepnya bayiku sayang.
“Awin mau punya dedek bayi hihi. Ayo ngewe lagi, Pibaii.”
Habis sudah riwayat Bright.
Doakan setelah ini Bright tidak jadi gila.
Sampai bertemu lagi.
Bright mau cuci muka —kepalanya pusing.
Babai đź–¤.