Apartement KTP – 01.30 WIB

TING NONG!

KTP mendecak sebal ketika mendengar bel apartemen nya terus-terusan dibunyikan. Pasalnya, KTP benar-benar merasa lemas tidak karuan. Bahkan, saat ini dirinya sedang terbaring lemas seperti tidak memiliki tulang. 
Belum lagi kepalanya yang terasa sangat pusing dengan rasa mual yang belum menghilang. Sukses membuat KTP kesal bukan main tapi di satu sisi, ingin menangis karena tak tahan.

Ia pun akhirnya mencoba bangkit guna mencari tahu siapa yang datang di pagi buta seperti ini. Tidak tahukah kalau ini jam istirahat? Bisa-bisanya bertamu sepagi ini!

Dengan langkah gontai, KTP mendekati pintu apartementnya.

CKLEK

”KTP.”

”Mas Brian?”

Brian mengangguk, dengan wajah khawatir dan peluh yang sedikit membasahi pelipisnya. Sepertinya pria itu berlari dari lantai satu, karena apartementnya berada di lantai empat.

”Ngapain kesin—

”Are you okay?”

”Ngga usah sok peduli!”

”Saya beneran peduli. Saya minta maaf tentang pertanyaan saya yang tadi. Ya?” ucapnya terdengar tulus, dengan sorot khawatir yang terpancar jelas di manik hitamnya.

”Okay gapapa. Gapapa kalo kamu mau marah ke saya. Tapi izinin saya masuk ya? Muka kamu pucet dan badan kamu lemes kaya gitu. Saya temenin, ya?”

KTP memutar bola mata malas. Jujur ia masih sangat sebal dengan pria di hadapannya. Tapi, bagaimana tubuhnya terasa begitu ringkih dan lemas, membuat KTP akhirnya memilih untuk mengizinkan. Dirinya tak sanggup jika nanti ada sesuatu yang terjadi tapi tak ada satupun orang yang akan menolongnya.

Lagipula Brian baik, KTP percaya itu.

”Boleh ya?” tanya Brian sekali lagi.

KTP yang sudah kembali merasa tak nyaman dengan tubuhnya pun mengangguk. Ini bukan waktu yang tepat untuk marah, dirinya lebih butuh untuk diperhatikan lalu istirahat.

Persoalan lainnya, biarlah menjadi urusan nanti. KTP sekarang hanya ingin istirahat.

”Mas…” panggil KTP dengan suara yang mulai melirih.

”Kenapa, hm? Kamu kenapa?”

”Anterin ke kamar. Aku, aku lemes banget. Kepala aku pus— MAS!”

”Saya gendong biar cepet. Muka kamu pucet banget.” ucap Brian dengan gerakan yang sangat lembut ketika membawa KTP untuk masuk ke dalam gendongannya.

Sedangkan yang digendong hanya bisa menghela nafas pasrah. Dirinya sudah tidak punya energi untuk menolak apalagi mendebat. Rasa mualnya kembali menyeruak diikuti rasa pusing yang menjalar cepat.

Tubuhnya lemas dan pinggangnya terasa sangat sakit seperti baru saja diinjak. Demi Tuhan, KTP tidak tahu dirinya kenapa.

Dengan gerakan lembut, Brian pun merebahkan tubuh KTP di atas kasurnya. Ia tarik selimut KTP hingga sebatas leher, lalu mematikan lampu kamar agar pria yang lebih muda bisa beristirahat.

”Istirahat ya?”

”Saya di sini, ngga kemana-mana” ucapnya, dengan tangan terangkat mengusap lembut surai hitam milik pria di hadapannya.

”Mas, pusing.”

”Mau ke dokter?” gelengan tentu diberikan oleh yang lebih muda.

”Kamu punya obat? Atau tadi udah minum obat?”

”Udah, aku udah minum obat. Tapi, pusing banget Mas. Aku mual, aku lemes. Aku… aku hikss, pengen nangis hikss…”

Brian yang melihat KTP menangis tentu sedikit terkejut hingga tubuhnya sukses dibuat menegak. Ini kali pertama, dirinya melihat sisi lemah seorang KTP yang biasanya terlihat, kuat.

Dirinya pun mencoba untuk menunduk, mencengkram lembut kedua tangan KTP, lalu ditatap lekat kedua matanya guna memberikan sorot teduh agar pria yang lebih muda merasa lebih baik.

”Hey, pusing banget, hm?” tanya Brian lembut, dengan sorot mata yang begitu serius tapi teduh.

”Pusing hikss… aku mual, Mas. Mual banget, perut aku ngga enak, hikss…”

Sungguh, Brian semakin yakin jika pria di hadapannya memang sedang isi. Ini bukan gejala penyakit biasa. Jika mendengar dari keluhannya, tentu semua orang pun akan menyimpulkan jika KTP sedang hamil.

Maka yang dilakukan Brian sekarang, adalah menyingkap selimut pria di hadapannya. Lalu mendaratkan tangan kanannya tepat di atas perut yang lebih muda.

“Ma—

”Saya usap ya perutnya? Saya ngga tau kamu kenapa. Saya mau panggil dokter, tapi kamu ngga mau.”

”Saya juga ngga tau ini berpengaruh atau ngga ke sakitnya kamu. Tapi biar saya bantu usap perut kamu ya?”

”Mungkin mualnya ngga langsung hilang, tapi barangkali kamu jadi lebih tenang. Ya?”

Mendengarnya, KTP menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba ia merasa diperhatikan, bahkan seperti di hargai sedemikian besar.

Hatinya menghangat, rasa nyaman itu kembali datang. Sepertinya sudah lama dirinya tidak diberi kehangatan seperti ini. Sudah lama juga dirinya tidak di hargai sedemikian tinggi.

Makannya, ketika Brian memperlakukannya dengan begitu lembut, dirinya jadi semakin cengeng. Bahkan kini bulir bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya, luruh begitu deras seperti tidak lagi memiliki hambatan.

”Mas hikss…”

”Iya, saya di sini. Saya ngga kemana-mana.”

”Kamu mau apa, hm? Barangkali bisa saya bantu. Bilang sama saya, mau apa?”

”Mas hikss…”

”Iya, mau apa KTP?”

”Mau dipeluk hikss… Mas peluk aku hikss, sebentar, sebentar aja hikss…”

Tidak ada alasan untuk menolak, Brian langsung beringsut merebahkan diri di sebelah KTP. Lalu menarik pria yang lebih muda agar masuk ke dalam dekapnya.

”Mas hikss… pinggang aku sakit hikss…”

Brian mengangguk, dengan tangan yang bergerak mengusap pinggang KTP sembari sesekali sedikit di tekan bermaksud memberi pijatan agar sakitnya berkurang meskipun tidak terlalu banyak.

”Tidur ya? Tidur. Biar sakitnya hilang. Is okay, ada saya. Bilang ke saya enaknya kamu kaya gimana. Kalo saya bisa kabulin, saya kabulin.”

”Asal kamu tenang, dan bisa tidur. Okay?”

”Mas hikss…”

”Kenapa, hm?”

”Aku takut hikss…”

”Takut? Takut apa? Ada saya, KTP. Gapapa kamu aman. Saya ngga akan pulang kalo kamu memang mau saya stay sampai pagi.”

”Bukan hikss… bukan itu.” lirihnya, dengan gelengan cepat dan dekapan yang kian mengerat.

Sedangkan Brian yang kini sedang sibuk mengusap pinggang serta punggung KTP, sedikit mengernyitkan dahinya karena tak paham.

”Kamu takut apa, KTP?”

”Aku takut hikss…”

”Aku takut hamil, Mas hikss.”