Kamar Abian – 19.00 WIB
Abian meletakkan handuk basah yang baru saja digunakan untuk mengompres Ananta ke dalam baskom yang berisi air hangat. Ia berniat untuk kembali membilasnya sebelum sebuah suara dari yang lebih muda mengintrupsi kegiatannya.
“Om Bian…” lirihnya, sembari meraih ujung kaos Abian untuk digenggam.
“Kenapa, Ata? Pusing ya?” tanya Abian yang langsung memfokuskan diri ke pria manis dihadapannya.
Abian tangkup kedua pipi Ananta dengan lembut dan hati-hati. Ia tatap teduh manik Ananta, berusaha menenangkan yang lebih muda lewat sorot matanya.
“Ata mau sesuatu, hm?” sangat lembut, seolah jika nada bicaranya dinaikkan, Ananta akan kembali terluka.
Yang lebih muda terlihat menggelengkan kepala. Sudut matanya masih terlihat memiliki bekas air mata. Sorot maniknya sendu seolah menyuarakan isi hatinya. Sedangkan air mukanya, terlihat seperti orang yang sedang terluka.
Membuat Abian jadi bertanya-tanya, Apakah Anantanya trauma?
Abian mengusapkan ibu jarinya lembut pada kedua pipi gembil yang lebih muda, seraya bertanya untuk yang kesekian kalinya.
“Kenapa, Sayang? Hm?”
”Om…”
”Iya, Ananta? Kenapa?”
”A-Ata mau peluk.” ucapnya, dengan setetes air mata yang berhasil luruh.
Sukses membuat Abian segera merengkuh tubuh yang lebih muda, lalu mengajaknya untuk masuk kedalam dekapan.
Abian usap surai hitam yang lebih muda, sembari terus menepuk pelan punggung Ananta yang bergetar. Ia biarkan tangis Ananta tumpah pada ceruk leher miliknya.
”Is okay, i’m here, Sayang.”
”I’m here.”
”Om hikss…*”
”Gapapa, kalo mau nangis, nangis sepuasnya. Om Bian bakal temenin, Om Bian bakal peluk Ata sampai tenang. Ya?”
Anggukan pelan diberikan sebagai jawaban. Seiring dengan tubuh keduanya yang kian merapat. Usapan serta tepukan lembut tidak berhenti Abian berikan, sebelum pria didalam dekapnya kembali tenang.
Jujur, ada rasa khawatir jika Ananta mengalami trauma. Tapi ia berharap Ananta kuat, seandainya pria manis yang kini sedang menangis merasa takut dan kaget, gapapa. Wajar.
Tapi Abian memohon untuk tidak menghadirkan trauma yang begitu mendalam.
Karena ia tidak mau pria manisnya terluka.
Cukup lama Abian membiarkan tubuh keduanya saling mendekap erat, hingga tak lama Ananta kembali tenang. Punggung yang semula bergetar, kini berangsur diam. Isak tangis yang tadi memenuhi ruangan pun kini mulai mereda.
Cengkeraman tangan Ananta pada punggungnya juga sudah tidak terlalu kuat. Justru kini berganti dengan usapan abstrak seperti bocah yang sedang digendong oleh orangtuanya.
Membuat Abian yang tadi merasa sangat khawatir, mulai ikut merasakan tenang. Ia usap kembali surai hitam Ananta, sebelum memberi kecup pada puncak kepalanya.
Abian menunduk, mendekatkan ranumnya pada telinga Ananta.
”Udah tenang, Sayang?” anggukan pelan diberikan sebagai jawaban
”Tatap Om sebentar ya? Om mau ngajak ngobrol sedikit. Boleh?”
Awalnya Ananta diam, seperti tidak mau untuk melepas dekapan. Tapi, setelah menimbang-nimbang, Ananta akhirnya mau melepas dekapan dan membiarkan Abian menangkup kedua pipi gembilnya.
Dengan penuh sayang, Abian bersihkan air mata yang membasahi wajah Ananta. Sebelum manik yang lebih muda ia ajak untuk bertemu tatap.
”Ada yang sakit, hm?” gelengan diberikan, dengan bibir yang masih melengkung ke bawah.
”Kepalanya udah ngga pusing?”
”Sedikit…” lirihnya.
”Kerumah sakit mau? Tadi kan baru dibawa ke UKS aja. Mau ya?”
”Kalo besok aja, boleh ngga Om Bian? T-Tadi kan dokter bilang Ata kecapean aja.” lirihnya sembari menunduk.”**
Abian tersenyum sembari mengangguk pelan, ”Boleh, besok Om Bian anterin ya?”
”Huum.”
Suasana hening sempat menyelimuti keduanya sebentar. Abian sebenarnya ingin bertanya, tapi sedikit ragu jika Ananta tidak nyaman. Tapi kalo tidak ditanyakan, Abian justru semakin tidak tenang.
Alhasil, ia coba angkat dagu yang lebih muda.
Netra keduanya bertemu tatap.
Matanya saling menyorot dalam, sarat akan kasih sayang.
Hanyut sebentar dalam tatapan, sebelum Abian mulai mengeluarkan suara.
”Ananta.”
”Iya, Om Bian.”
”Are you okay? Hati Ata masih takut ngga?”
Begitu pertanyaan terlontar, keduanya terjebak dalam keheningan. Air mata terlihat menggenang pada kedua mata yang lebih muda. Bibirnya terlihat bergetar dengan tangan yang mencengkeram selimut dengan kuat.
Abian yang melihat, sudah pasrah dengan jawabannya. Hatinya nyeri, bahkan sebelum tahu apa jawabannya.
Lihatlah, Ananta bahkan menangis lagi karena pertanyaannya.
Ini sudah cukup membuktikan kan? Jika Ananta benar mengalami traum—
”Ata takut hikss…”
DEG
Hati Abian mencelos. Tak kuasa mendengar jawaban yang lebih muda dengan air mata mengalir deras. Bahkan, ia sampai menundukkan wajahnya. Merasa sangat gagal menjaga pria yang ia sayang.
”Tapi hikkss… Sekarang udah ngga takut, soalnya ada Om Bian. Om Bian pasti jagain Ata hikss… J-Jadi hikss… Ata ngga perlu takut. Iya kan, Om Bian?”
Sukses membuat Abian kembali mengangkat wajahnya.
Netranya berusaha mencari kebohongan dari manik cantik Ananta yang tengah diselimuti air mata. Tapi, nihil. Hanya ada sorot jujur dan penuh kasih. Ananta tidak berbohong dengan kalimatnya. Bahkan kini, ia melihat sudut bibir Ananta terangkat, berusaha tersenyum untuk menenangkan dirinya.
Lihat, bahkan Ananta begitu mempercayai Abian. Meskipun berulang kali pria yang lebih tua melakukan kesalahan. Hal itu nyatanya tidak mengurangi sedikitpun pandangan Ananta terhadap Abian.
Seriously, am i worthy?
Abian melihat Ananta menghapus jejak air matanya, sebelum kembali berbicara sembari menggenggam kedua tangan Abian yang semula menangkup lembut kedua pipinya.
”Om Bian khawatir ya sama Ata?” tanyanya dengan senyuman manis. Tentu dibalas anggukan oleh Abian.
Ananta terkekeh bercampur isak, seperti berusaha menghibur diri karena senang diperhatikan. Ia pun menarik nafas panjang, sebelum membawa netranya kembali bertemu tatap.
”Om Bian tau ngga? Waktu Ata tau Om Bian ngga ingkar janji lagi, Ata seneengggg banget.”
”Bahkan tadi waktu lagi diperiksa dokter, sakitnya udah ngga kerasa. Ata cuma bisa ngerasin seneng, karena Om Bian jemput Ata. Meskipun telat hehe.”
”Tapi Ata tau, Om Bian ngga sengaja telat jemput Atanya. Jadi, Ata ngga marah sama, Om Bian.”
Ada jeda sesaat untuk Ananta menghapus air mata yang mengalir tanpa permisi serta menarik nafas panjang karena dadanya sedikit terasa sesak.
”Tadinya, Ata takut. Takutt banget. Ata ngga pernah diperlakukan kaya gitu. Makannya daritadi Ata diem terus.”
”Tapi…
”Om Bian baik, mau kasih pelukan ke Ata. Om Bian peluk Ata sambil bilang sayang. Ata…
”Ata seneng, Om Bian. Hati Ata tenang karena pelukan dan perhatian, Om Bian.” ucapnya, pelan. Dengan mata yang menunduk dan air mata mengalir deras.
”Hehe, maaf ya Om Bian kalo Ata aneh, bisa tenang cuma karena dipeluk sama Om Bian. Tapi, Ata juga ngga tau kenapa bisa kaya gitu.”
”Ata ngerasa, ada dideket Om Bian, ada dipelukan Om Bian, diperhatikan Om Bian, semuanya jadi keliatan aman. Ata ngga ngerasa bakal ada bahaya yang dateng ngehampirin Ata.”
”Ata… Ata percaya sama, Om Bian.”
Berhasil menusuk hati Abian.
Lagi, kekehan pedih terdengar dari ranum yang lebih muda. Terdengar sangat dipaksakan dengan air mata yang mengalir deras.
”Ata sayang sama, Om Bian.”
”Tapi…
”Ata ngga tau, Om Bian masih…
”Om Bian masih sayang Ata atau ngga.”
**”Soalnya tadi, bibir Atau diciu—
”Gue sayang sama lo. Sampai kapanpun, gue sayang sama lo.” potong Abian cepat.
Ia tahu Ananta pasti akan membawa arah pembicaraannya kesini. Untuk itu, Abian segera menggenggam erat tangan keduanya yang sudah saling bertaut erat.
Abian berusaha meyakinkan Ananta lewat tatapannya.
”Gue sayang sama lo, Ananta.” lirihnya, sembari menatap teduh manik Ananta yang masih mengalirkan bulir bening cukup banyak.
”Apapun kondisi dan situasinya, gue tetep sayang sama lo. Apa yang terjadi hari ini, ngga ngurangin value lo sebagai manusia.”
”Dimata gue, lo tetep berharga. Sangat berharga sampai gue takut lo kenapa-kenapa.”
”Jangan mikir yang ngga-ngga ya?” tanya Abian penuh harap.
”Om Bian sayang Ata?” tanya yang lebih muda, dengan sorot mencari kejujuran.
”Gue sayang banget sama lo, Ananta.”
Sukses membuat Ananta menunduk dengan kedua tangan yang langsung menutupi wajah cantiknya.
”Ta—
”Om hikss…. heuu malu hikss…”
Demi Tuhan, Abian tak bisa menyembunyikan senyumnya. Pria manis dihadapannya sangatlah menggemaskan. Ia tahu kalimat itu hanya pengalih dari rasa senang karena jawaban yang diberikan sesuai dengan ekspektasinya.
Ia pun kembali merengkuh tubuh yang lebih muda untuk dibawa masuk ke dalam dekapannya.
”Om hikss…”
”Hm?”
”Sayang hikss… Sayang Ata kan, Om?”
”Sayang banget.”
”O-Om Bian hikss… Ngga jijik kan sama Ata? hikss.”
”Jangan ngomong kaya gitu, gue ngga suka.” ucap Abian pelan, bahkan terdengar sangat lembut.
”Hikss Om Biaaaan… Ata udah hikss takut hikss… Takut Om Bian ngga sayang Ata lagi hikss…”
Sudut bibir Abian terangkat mendengarnya.
”Gue selalu sayang sama lo.”
”Huhu jantung ada jedug-jedug hikss…”
Kekehan tak lagi bisa ditahan oleh belah bibir Abian. Ananta benar-benar menggemaskan sampai pelukannya semakin ia eratkan saking gemasnya.
”K-Kalo sekarang hikss… Boleh pacaran ngga, Om?”
“Hm?”
”Mau pacaran sama Om Bian hikss… Mau pacaran hikss.”
Abian tertawa renyah, sebelum menangkup pipi gembil Ananta dan mengajaknya bertemu tatap.
”Ayo Om Bian hikss… Mau pacaran hikss…”
Hening.
Abian tidak menjawab.
Bahkan hanya menatap dengan senyuman.
Sukses membuat hati Ananta bergegub tidak karuan.
”Om hikss… Boleh pacaran ngga? Hikss…”
Abian mengusap lembut pipi Ananta yang basah oleh air mata. Sebelum ranumnya kembali membuka suara.
”Om hikss… Jawab hikss…”
”Maaf, Om Bian ngga bisa pacaran sama Ata.”
Sukses membuat Ananta terdiam dengan tatapan tidak percaya. Abian terlihat serius dengan ucapannya. Tidak ada kebohongan di pancaran sorot iris kelam yang lebih tua.
Hatinya sakit.
Perasaannya hancur.
Ananta pun menunduk.
Menepis kedua tangan Abian yang berada dikedua pipinya. Lalu berusaha untuk kembali merebah sebelum Abian menahan dengan menyentuh kedua tangannya.
”Om Bian ngga bisa pacaran, bisanya tunangan.”
”Mau tunangan sama Om Bian?”
Mendengarnya, Ananta melemas ditempat.